Ribetnya Urusan Ranjang

Judulnya sangat clickbaity

Menjadi dewasa itu menuntut banyak waktu untuk belajar terus-menerus. Dari belajar yang penting banget hingga belajar yang penting. Salah satu bagian dari menjadi orang dewasa adalah belajar mengenai hal-hal kecil di dalam rumah, dari mulai mengenali suara burung yang mematuki atap hingga soal bagaimana mengatur ranjang, dari mulai memilih sprei, bantal hingga duvet yang tepat. Merekalah yang membuat ranjang jauh lebih nyaman.

Dulu, jaman saya di Jakarta, memilih sprei itu mudah. Tinggal jalan ke mal Ambassador atau kalau rajin dikit ke Mangga Dua. Colek-colek kain dan pilih sprei sesuai pilihan dan tentunya sesuai anggaran. Pilihannya pun lumayan banyak. Setelah itu, keluarkan ilmu tawar-menawar supaya harga turun sedikit. Di Jakarta, sprei ini biasanya satu set, termasuk selimut, sarung bantal dan sarung guling. Tak seperti di sini, selimut yang dibeli tak bisa berganti sarung. Sementara di sini, sarung selimut bisa berganti-ganti. Mereka menyebutnya duvet.  

Pilihan sprei tak terbatas pada membeli, tapi juga dengan menjahitkan. Beberapa sprei yang saya punya dulu hasil menjahitkan. Bahannya tinggal pilih dari toko kain dan hasilnya lebih personal. Sesuai selera kita.

Begitu pindah ke Irlandia, saya dihadapkan dengan realita sprei yang sebenarnya. Memilih sprei tak semudah dulu lagi. Masalah pertama tentunya ukuran. Ukuran tempat tidur di Irlandia ternyata tak seperti di negeri lain, ada Irish standard. IKEA pun menyesuaikan dengan Irish standard dan punya dua standar, Irish dan non-Irish.

Saya juga dihadapkan dengan keribetan duvet. Tapi ternyata duvet ini tak susah, cukup pilih tog (tingkat kehangatan) sesuai musim. Untuk musim panas 4,5 dan musim dingin 13,5 tog. Urusan bulu bebek atau non-bulu bebek, selera masing-masing dan sesuai kantong masing-masing.

Selain duvet,  saya juga dihadapkan dengan pilihan tipe sprei yang dimau, mau flat atau mau fitted. Fitted pun ada pilihan deep fitted. Sprei flat sendiri merupakan sprei yang “lepasan”, biasanya digunakan untuk tambahan di bawa selimut. Pengalaman saya, pemilihan tipe sprei yang tak tepat bisa berakibat fatal, dari mulai cepat lepas, kasur tak seindah tahu (karena sprei tak pas) hingga sprei robek karena terlalu sempit.

Selanjutnya urusan thread. Thread terkait dengan bahan sprei dan jumlah benang yang digunakan dan berkorelasi dengan tingkat kelembutan kain. Setelah banyak membaca dan merasakan banyak kain, saya mengambil kesimpulan, semakin tinggi thread maka akan semakin nyaman spreinya. Harganya pun tak bohong, semakin mahal. Saya juga jadi ngeh, sprei di hotel itu bisa nyaman karena threadnya yang sangat tinggi, setidaknya di atas 400.

Hal lain yang pokok adalah bahan sprei. Ada begitu banyak bahan yang saya temui di label. Saya bahkan pernah mencatat bahan-bahan ini, hasil dari melototin label di toko, untuk mencari tahu perbedaannya. Beberapa hasil catatan saya:

  • bambu: Bambu ini boleh dibilang jadi alternatif bahan sprei yang kepopulerannya terus meningkat karena ramah lingkungan. Bahannya sendiri cenderung ringan.
  • katun: tak seperti bambu yang ramah lingkungan, pemprosesan katun melibatkan bahan-bahan kimia. Tapi kelembutannya, kalau menurut saya, jawara.

Nah katun ternyata  masih dibagi-bagi jadi aneka rupa & hasil belajar saya seperti ini:

  • Egyptian cotton: Ini katun terbaik, lembut dan biasanya threadnya tinggi. Tapi karena permintaan yang tinggi, banyak produk berlabel Egyptian kualitasnya tak oke punya lagi. Saking terkenal (dan mahalnya) Egyptian cotton ini sampai punya asosiasi untuk melindungi nama baik Egyptian cotton. Warbiyasak.
  • Pima/ Supima cotton: Amerika punya, halus dan berkualitas tinggi.
  • Katun mewah (luxury cotton): bilang aja bukan Egyptian cotton.
  • Enriched with cotton: dicampur- campur katun. Engga asli kalau gitu.
  • Organic cotton: engga ketahuan dari mana asalnya, tapi organik. Penting buat mereka yang memilih gaya hidup organik.

Pada akhirnya, urusan sprei ini saya selesaikan dengan beberapa elemen, anggaran, minimal thread dan yang paling penting tangan saya. Sprei yang saya beli harus lolos inspeksi colek-coleh dulu. Kalau berasa enak di kulit, baru di beli.

Urusan sprei beres, eh ternyata saya masih harus dihadapkan dengan salah beli ukuran duvet cover, alhasil duvet saya yang berukuran super king harus dilipat ujungnya karena sarung yang saya beli kekecilan. Tak cukup di sana, masih ada lagi keribetan soal sarung bantal, dilema antara housewives atau oxford. Bedanya? Cuma kelebihan kain lima centimeter. Ya ampun, sarung bantal aja ribet. Sama ribetnya dengan throw pillows.

Kalau begini, saya jadi pengen manggil Mbak Emoy, bekas pekerja rumah tangga yang dulu jadi andalan saya. Mbak Emoy ini jawara banget, kemampuan menata tempat tidur dan bersih-bersih sekelas mereka yang kerja di hotel. Rahasianya: peniti.

Kamu, seribet apa dalam menata ranjang?

Xx,
Ailtje

Advertisements

23 thoughts on “Ribetnya Urusan Ranjang

  1. Polosan saja klo soal sprei. Dan warnanya krem2 gitu. Alasannya: karpet udah bermotif, dinding kamar warnanya oranye hangat. Klo spreiku masih harus bermotif macem2, kuatir mataku sakit, wkwkkwkw. Eh ini cm berlaku untuk kamarku sendiri ya; kamar orang lain mah bhebassss

  2. Ga ribet Ail. Urusan ranjang kupercayakan pada suami haha. Dia yang tugasnya ganti sprei, sarung2 bantal dan sarung2 selimut (2 buah karena kami pakai selimut terpisah). Suami kalau pasang seprei bener2 kencang dan rapi. Puaslah kayak di hotel2 berbintang. Aku tahu diri kemampuan pasang sepreiku tak bagus, makanya biarkan ahlinya yang bekerja 😅

  3. Sampe sekarang aku juga belom lulus dalam masalah seprai mbak. Disini juga ribet banget, udah harus pake beberapa lapis, udah gitu ukuran kasur aku gampang lupa. Terus kalo mau kasur se fancy yang di katalog2 ternyata bukan cuma butuh seprai, selimut dan bantal doang. Masih ada throw blanket, thermal blanket dll…

  4. Masalah ukuran itu memang nyebelin banget. Aku pernah beli sarung bantal yang ternyata ukuran sarungnya agak kekecilan dikit. Masih muat sih kalau bantalnya dipaksain masuk, tapi ya jadinya kelihatan “gembul” dan nggak rapi gitu kan. Ah tapi nggak papa lah kan di rumah sendiri juga, hahaha 😛 .

  5. Howaaaa asli ribet banget ya disana, mba. Bacanya aja udah macem baca artikel WikiHow atau tips 101 ngurus kasur 😀
    Sebagai penjual bed untuk luar Indonesia, saya juga cukup diribetkan dengan ukuran matras per negara yang berbeda. Di Australia, ada 5-6 tipe ukuran matras. Lain hal di Hongkong ataupun Taiwan. Gak kebayang kalo pritilannya juga lebih banyak lagi yang harus diurusin.
    Kembali ke rumah tangga sendiri, kebetulan saat ini lagi meninmbang perkara ukuran matras yang bakal dipake di kamar baru. Plus jadi belajar juga, tipe springbed itu macem2. Kalo seprei, saya tipe praktis beli jadi; kebetulan kado nikahan juga sudah banyaaaak banget sepreinya.
    Selamat memilih2 perangkat pritilan kasur, mba!

  6. Huwaaa.. ribet ngets.. tapi aku pun punya kendala sih, ukuran kasurku tanggung jadi gak bisa minjem kamar sebelah, hasilnya sering maksain sprei yang gede disisip2in plus peniti! haaha..

  7. 1 lagi ya mbak Ailsa..
    Segitu berlapis lapis printilan ranjang..apa kabar dengan debu ya..? Oh, rumahnya pake air filter ya jadi kamarnya ga ada debu..?

  8. yg dirumah skrg, dpt ranjang dikasih kk ipar, merk ikea, ukurannya semacam king size mirip ranjang indonesia nah masalahnya standar ranjang orang lokal itu lbh kecil..bawa seprei pas pindahan seringnya tuh semua seprei nya ga bisa nutup kasur, mungkin solusinya bukan di seprei tapi ganti ranjang aja lah:D krn nyari yang ukuran besar susah. ada harga ada kualitas disini jg sama. kalau orang sini biasa pake yorgan*selimut tebal* maupun bantal dr bulu domba. kalau bulu angsa harganya ya lumayan juga..nah jeleknya bulu domba kalau ga di jemur..suka bau, jd sering banget disini pas summer..byk orang jemur isi yorgan sama bantalnya..bulu2 domba. didepan apartemen. saya sih ga mau ribet beli yang praktis aja lah

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s