Drama Multi Level Marketing (MLM)

Bukan rahasia lagi kalau kita tiba-tiba dikontak oleh teman lama, kita langsung parno sendiri. Seringkali mereka kalau tak pinjam uang, tiba-tiba ngajak bertemu untuk menawarkan peluang bisnis. Bisnis MLM tentunya.

MLM sendiri bukan barang asing bagi saya. Saya sudah mencoba aneka MLM sedari muda, dari yang jualan produk kecantikan, aneka produk “kesehatan” herbal, produk rumah tangga hingga MLM nomor satu di dunia. Selama berinteraksi dengan MLM ataupun orang-orang di MLM, saya menemukan banyak sekali masalah MLM, yang akan saya ulas di bawah.

Produk Mahadewa

Kecap nomor satu, yang lain nomor dua. Jualan MLM itu bagi saya seringkali berlebihan mengumbar kehebatan produk. Ya namanya juga jualan. Ambil contoh pembersih kacamata dari MLM Amerika yang seringkali diperagakan anti uap air panas. Ya kali, kalau beli produk ecek-ecek pun mereka juga anti uap air juga. Beda harga aja dan gak pakai embel-embel MLM nomor satu di dunia.

Soal kehebatan ini, produk MLM plastik juga ngeklaim garansi seumur hidup dan tak akan pernah rusak. Rumah saya dulu penuh dengan produk ini, dan tentunya plastik-plastik ini sukses rusak, tutupnya sobek ketika disentuh. Garansi penggantian tentunya BS semua. Cuma ilusi untuk mengiming-imigni orang membeli pastik yang katanya nomor satu dan mahal.

Yang paling epik adalah produk kesehatan. Seringkali mengklaim bisa menyembuhkan aneka penyakit yang tak bisa disembuhkan. Bahkan bisa mengobati Hepatitis C dan COVID 19. Sumbernya klaim ini bukan jurnal medis tentunya, tapi aneka testimono dari orang-orang yang membaik. Siapa yang tahu membaik karena dokter, doa, obat MLM, atau karena mbah dukun.

Salmonnya kakak?
Image by rjunqueira from Pixabay

Gak cukup ngeklaim aja, tapi ada tambahan mencela suplemen-suplemen dari dokter yang dianggap sampah dan tak berguna. Nah karena banyak orang takut ke dokter (belum lagi cerita dokter jualan obat), kemudian banyak yang memilih berobat alternatif. Target empuk deh untuk produk kesehatan mahadewa yang seringkali harganya selangit.

Jual Mimpi

Namanya manusia, pasti suka bermimpi. Nah MLM menggunakan ini dengan baik. Menjual aneka mimpi, dari mulai iming-iming kerja dari rumah, bisa jalan-jalan ke luar negeri, konferensi di berbagai belahan dunia, dibayarin ini itu, dapat mobil gratis, rumah gratis dan gaji puluhan juta tiap bulan. Caranya gampang, tinggal rekrut-rekrut dan jual produk. Nanti akhir bulan harus kejar poin sesuai target.

Mimpi itu sah-sah, tapi pada saat yang sama juga mesti realistis. Kalau poin gak ketutup, diuber-uber, salah ding, disemangati untuk bisa segera nutup. Kalau poin tak tertutup, nanti uplinenya tak dapat bonus. Berabe nanti sang upline tak jadi konferesi di negara antah-berantah. Gara-gara tekanan ini, bahkan banyak yang kemudian berakhir menumpuk barang di rumah demi menutup poin. Akhirnya mimpi jadi kaya-raya ini berakhir dengan masalah keuangan dan tentunya onggokan barang-barang jawara nomor satu yang tak terjual.

Tak hanya itu, demi mimpi, kemudian ada tekanan untuk melakukan perubahan gaya hidup. Produk yang digunakan “harus” diganti menjadi produk-produk dari MLM yang tak murah.  Biasanya pakai sabun buatan Indonesia, sekarang ganti sabun MLM luar negeri dengan harga tiga kali lipat.  Biasanya minum vitamin C dari apotek, sekarang pakai vitamin yang lebih mahal. Investasi katanya dan sah-sah aja kok. Tapi ya apa perubahan ini terjadi setelah adanya penambahan pendapatan secara signifikan, atau untuk memancing tambahan pendapatan? Kalaupun investasi, harus ada return of investment dong. Gak cuma ngabisin duit doang.

Etika

Ah kalau sudah soal etika ini, saya gak tahu deh harus mulai dari mana. Tapi perlu dicatat, gak semua agen MLM seperti ini. Yang santun, yang baik ada banyak. Salah satu yang cukup mencolok adalah jika ada yang sakit. Mereka yang sakit parah, terkadang dipenghujung hidup, tiba-tiba dijenguk teman lama. Tapi, jenguknya punya motif untuk menawarkan MLM. Alasannya “mau menolong”  yang menderita sakit cukup parah. Hitung-hitung menolong, lalu bisa tutup poin akhir bulan dari hasil penjualan obat mahadewa, dan tentunya memberikan secercah harapan bagi yang sakit.

Tak hanya teman lama, media sosial juga menjadi ajang berburu downline. Baru-baru ini,  saya ujug-ujug dikontak oleh orang tak dikenal di Instagram. Bukan follower, bukan teman, tak pernah ngobrol apapun, tak pakai basa-basi bertanya kabar (lagi pandemik pun gak mau usaha nanya kabar), lalu ia mengenalkan diri untuk menawarkan peluang bisnis internasional. Bah…baru dengar kata bisnis internasional aja saya udah langsung ngeh, pasti MLM. Daripada buang-buang waktu orang, saya langsung bilang, direct selling dan MLM bukan untuk saya.

Bisa diduga buntutnya? ngotot  ingin tahu kenapa, minta ngajak Zoom, lalu menjelaskan dia dulu juga begitu. Ini rasanya udah khas MLM banget, kalau ditolak maju terus karena merasa tertantang. Gak mau dengerin kalau tidak berarti tidak. Bagi saya sih gampang kalau ketemu yang model gini ya cuekin aja. Nah yang ribet kalau yang model begini ini keluarga atau teman dekat, pasti susah nolak keluarga, apalagi ditambah budaya gak enakan. Bubrah sudah hubungan hanya karena MLM.

Selain sosial media, pemburu downline juga merambah ke aplikasi Tinder. Seorang teman diajak bertemu Zoom. Nah ya kalau gini kan bikin GR dan semangat membara mau ketemu cowok, tau-taunya diajak bisnis MLM. Ah ya capek deh kalau gini yang jomblo mana bisa dating dengan nyaman.

MLM di Media

Di Netflix  ada (Un)Well yang mengulas tentang MLM minyak. Coba deh ditonton, ada kesaksian korbannya, baik dari korban keuangan sampai mereka yang menderita alergi dan harus terkena dampak fisik. Di Indonesia sendiri minyak ini cukup populer, kalangan menengah ke atas di Indonesia sekarang hobi beli, oles-oles dan bahkan minum minyak.

Judge Judy sendiri di salah satu sidangnya pernah pernah berkata bahwa MLM adalah skema piramid yang legal. Gak salah memang, skema MLM ini memang tak ubahnya piramid. Yang posisi rendahan bekerja keras supaya posisi upline tak terancam, dapat penghasilan jutaan tiap bulan dan bisa terus konferensi ke berbagai belahan dunia. Mereka yang di bawah juga bisa perlahan-lahan naik, tapi tentunya harus dibarengi dengan jumlah downline yang berfungsi menyokong posisi.

Banyak banget tulisan yang membahas soal ini. Pendeknya, MLM di media seringkali  digambarkan sebagai sebuah hal yang kurang positif.

Penutup

Menjadi bagian dari MLM itu adalah keputusan tiap individu. Satu hal yang penting sebelum memutuskan bergabung adalah melakukan riset terlebih dahulu untuk tahu kejelasan sistem dan produk yang akan dijual. Riset, riset dan riset. Jangan asal tergiur oleh iming-iming sukses, kaya, bisnis internasional, apalagi dari orang tak dikenal yang tak bisa dipercaya.

Yang pasti, ada banyak orang yang sukses membalik persepsinya tentang MLM dan sukses di MLM. Tetapi ada banyak juga yang hancur karena MLM, keuangan hancur, hubungan hancur, bahkan tubuh hancur.

Setelah melihat berbagai MLM, saya menyimpulkan, MLM bukan untuk saya. Jadi, gak usahlah buang-buang waktu nawarin saya beli produk MLM, atau bahkan nawarin saya jadi downline.

xoxo,
Ailtje

22 thoughts on “Drama Multi Level Marketing (MLM)

  1. Spot on utk ke semua poinnya kak! Btw, aku juga pernah jadi member MLM Amerika itu waktu baru2nya lulus kuliah. Diajak sama teman les IELTS. Di situ aku hanya jadi member 2 tahun tanpa 1x pun pernah membeli produknya atau attend seminarnya.

    Tambahan lagi. Biasanya mbak2 mentor itu juga gak asik diajak ngobrol apa aja. Selalu ujung2nya menggiring kita utk beli produk overpricednya, bahkan mereka juga cenderung memanfaatkan insecurity kita supaya jualannya laku.

    Pernah juga ku tanya: ada jurnal ilmiahnya gak? Terus si mbak mentor bilang: buat apa?, gitu kak. Berarti fix, red flags sudah walau nyadarnya agak telat 😅

      • Banget. Bahkan aku nyesel pernah ngajak temen join dan sekarang malah dia yg terperangkap karena dia ternyata tinggal satu komplek sama mbak mentor. Dia udah rugi bandar sebenarnya, beli2 tiket seminar dan sering mendadak berhalangan hadir. Dapet untung dari belanja produknya pun ngga. Tapi dia nampak seperti memuja2 si mbak mentor. Pengen aku bilangin, tapi gak enak ☹️

      • Iya, kalau diingatkan nanti dianggap over controlling. So far temenku dan si mbak mentor sih nampak senang2 aja, tapi aku jadi gak enak dan kasihan sama temanku karena dia bisa aja suatu waktu sadar kalau dia udah rugi bandar gara2 aku. Akunya juga yg dulu entah karena terlalu polos apa emang lagi desperate. Diprospekin bisa belanja kebutuhan dgn harga pabrik + ada voucher senilai sekian utk anggota baru, aku main percaya aja, walau sebenarnya aku ngerasa it sounds too good to be true

  2. Duh hooh banget nih. Gue pun termasuk yang kapok karena pernah nyoba, jatoh miskin dan kena tifes gara2 MLM amrika yg jualan jargon passive income. Sekarang mule2 keganggu sama banya banget kawan nawarin produk madu, dan baru2 ini produk kesehatan dari jepun. Lelah…

    • Sorry to hear your experience Jeng. Ya ampun passive income, udah lama banget guwe gak denger. Sejak pandemik ini jadi banyak yg MLM-an Jeng. Itu influencer2 pada banyak yg jualan MLM Jepun yg katanya manjur mengobati segala macam.

  3. Sejak kecil aku sudah “bergaul” dengan produk MLM. Ada tante yang demo Avon ke rumah, ada tante yang jualan Amway, dll, tanpa ada hasil. Akhirnya aku jadi gak percaya sama MLM sekarang. Terus akhir2 ini ada keluarga yang ikutan MLM produk kosmetik juga. Nggak tau deh dia jadi dijauhin apa nggak karena kanal medsosnya dipake buat promosi terus. Ada juga temen SMA dulu yang sekarang jualan minyak YL itu, posting IG di akun pribadinya apa-apa YL melulu.

      • Iya, aku liat testimonial pengikut mahzab minyak esensial diminum di serial UnWell itu. Kalo yang pake minyak esensial buat bikin tenang/bikin tidur nyenyak sih wajar ya, sudah banyak terbukti, lah yang minyak diminum itu kan masih kontroversial. Ada2 aja ya orang.

  4. MLM ini kembali ramai lagi ya karena produk minyak sama madu itu ya Mbak. Apalagi yang jualan suka promo via ig story.
    Aku pun termasuk pemakai produk MLM -Amway, tapi pemakai aja, ga mau terjun di bisnisnya meski diajakin terus 😀 . Ngerasa ga cocok aja sama model bisnisnya.
    Dulu juga pernah dikejer-kejer sama agennya Tianshi :)) , beneran agresif banget sih kalo itu sampe akhirnya aku block karena ganggu banget. Terakhir ada temen yang ga deket-deket banget tiba-tiba ngirim pesan wa yang ujung-ujungnya nawarin YLO .

  5. Bener banget ini Mba, aku ngalamin sendiri juga bulan Oktober tahun lalu. Tiba – tiba ada kenalan ngajak ketemu makan siang, bukan teman juga sih, karena hanya pernah ketemu karena urusan pekerjaan. Tadinya udah males aja mau ketemu, dan curiga mau nawarin MLM, ternyata bener. Dengan embel-embel passive income segala.

    Untuk YL di Malaysia juga rame banget Mba, aku pernah beli, dan dimasukin ke satu group support gitu, kalau baca obrolan WA mereka kadang geli sendiri, beranggapan semua penyakit bisa sembuh pakai oil ini. Yang jadi masalah harganya kan mahal ya, banyak teman dekat yang memang per bulan bisa keluar uang berjuta-juta hanya untuk minyak ini. Dan karena skema piramidnya, memang orang-orang yang diatas betulan kaya, ada teman udah bisa dapat lebih dari 50,000 RM per bulan, the passive income hehe.

  6. Waktu kuliah aku jadi MLM Oriflxxx, lumayan untungnya buat nambah uang jajan. Jualannya ga ngoyo, karena pasrah aja, mau beli syukur, ga beli ya udah 😁

  7. Pernah jadi anak MLM lumayan sih ilmu sales dan marketingnya berguna banget. MLM beneran bukan yang Ponzi. 😅 Tapi cara rekruitingnya pakai landing page sih jadi nggak terlihat agresif atau sampai merusak hubungan. Ya kayak jualan barang biasa.

Leave a Reply to may ~ 3 di bumi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s