
Bicara soal orang-orang narsistik tak akan bisa lepas dari gaslighting. Sebuah bentuk manipulasi psikologi yang belakangan ini makin populer karena banyak dibahas dimana-mana. Termasuk di lagunya Taylor Swift, All Too Well.
Definisi
Secara sederhana, gaslighting saya rangkum sebagai manipulasi psikologi oleh orang-orang narsistik untuk bikin korbannya meragukan dan menyalahkan diri sendiri. Inti dari gaslighting ini, emosi, kata-kata dan pengalaman korban diputarbalikan. Akibatnya si korban jadi menyalahkan diri sendiri.
Gaslighting bisa terjadi dimana-mana, termasuk di tempat kerja, keluarga, pasangan, atau bahkan dengan teman. Bentuknya macam-macam, bisa kebohongan, penyangkalan, atau dalam bentuk hal-hal bahaya lain yang destruksif dan kejam. Saya bilang kejam karena dampaknya secara psikologi cukup dalam dan panjang.
Tujuannya utama dari gaslighting ini satu, untuk bikin korban diam. Gaslighting sendiri teman dekat banget dengan silent treatment, sebuah mekanisme untuk menghukum dan mempermalukan korban narsisme yang pernah saya bahas di sini.
Contoh gaslighting
“Aduh maaf ya kalau kamu berpikir aku menyakiti kamu”.
“Kamu sih terlalu sensitif”.
Contoh pertama kejadian dimana-mana, termasuk waktu Zara dapat backlash soal promosinya yang gak sensitif (no pun intended). Alih-alih mengakui kesalahan, atau minta maaf, yang salah adalah pikiran korban. Sementara, di contoh kedua, yang salah adalah perasaan korban. Intinya, yang salah si korban.
Patut diingat, para tukang gas narsis ini empatinya rendah atau bahkan gak ada. Berdiri di depan kaca sambil evaluasi diri sendiri pun tak bisa, apalagi minta maaf. Aware dengan diri sendiri itu bagi orang-orang ini sangat menyakitkan, kenapa? Karena mereka mesti mengakui kesalahan. Sementara balik lagi ke nilai orang narsis, mereka menggambarkan diri sebagai orang-orang yang sempurna.
Nekat keluar dari lingkaran setan ini juga gak mudah. Ambil contoh nekat mengakhiri hubungan beracun seperti ini. Biasanya gaslighter ini akan dibela oleh sesamanya (fellow gaslighter), yang mempertanyakan kenekatan keluar, lalu menyalahkan korban karena keluar dari hubungan dan tentunya menyalahkan korban karena tak menyelesaikan masalah. Padahal biasanya si korban didiemin (silent treatment) dan diisolasi. Ketika mau menjaga kewarasan digaslight lagi. Lingkaran setan.
Lalu, untuk menyempurnarkan gaslighting, disuruh let it go.
“As one of my interviewees put it: gaslighting breathes on isolation.”
Paige Sweet, PhD
Penutup
Manusia itu kompleks dan gak harus cocok dengan manusia lainnya. Wajar kalau manusia berkonflik, dengan diri sendiri pun kadang berkonflik. Tapi diinget-inget ya, gaslighting bukan bentuk konflik. Ini bentuk kontrol atau manipulasi orang lain. It’s sickening.
Kalau kalian mengalami gaslighting, segera cari jalan keluar. Lari sekencang-kencangnya karena dampak gaslighting (apalagi ditambah dengan isolasi dan pengucilan) sekali lagi panjang dan bermacam-macam. Yang jelas menciptakan luka dan trauma mendalam, berdampak pada kesehatan jiwa, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk berhubungan dengan manusia lainnya. Sekejam itu.
Kalau kalian pelakunya, basically tukang bully, who the hell hurt your head? Damn, go get a help!
Selamat berakhir pekan, semoga kalian semua dikaruniai hubungan yang sehat dan tidak melibatkan silent treatment, isolasi apalagi gaslighting.
xoxo,
Tjetje
pernah nemu mahluk kayak gini di salah satu kantor lama. Iya, gaslighting itu nempel dengan tipe kepribadian narsistik, jadi semua kesalahan di dunia ini selalu terjadi di luar tanggung jawab sang narsis. Karena konteksnya di kantor, narsisnya makin menjadi2 karena dikasih makan tindakan cari muka dari para bawahan.
Nah ini dia ahlinya sudah berbicara. Aku sekali nemu di kantor, ampun Tuhan, bikin stress.