Istri Kedua

Istri kedua adalah perempuan yang biasanya dinikahi secara agama oleh pria yang masih memiliki istri sah dan belum (atau bahkan tidak mau) bercerai dari istri yang sah secara hukum. Status mereka sangat lemah & dapat ditinggalkan kapan saja. Istri kedua ini sering menjadi musuh bersama, musuh dari keluarga istri pertama, musuh dari keluarga pria, hingga jadi musuh mulut pedas netijen.

Para istri kedua banyak mendapat label tak indah. Dari pelakor, pencuri laki orang, hingga tuduhan sebagai perempuan materialistis. Menuduh mereka mencuri laki-laki, menurut saya tak tepat karena para lelaki ini tak perlu dicuri, seringkali mereka menyerahkan diri. Bahkan tak sedikit yang menyerahkan diri, hati serta harta kekayaan.

Cheers untuk istri kedua yang mentalnya baja

Tuduhan perempuan materialistis sendiri datang karena istri kedua seringkali berlimpah harta, diberi rumah mewah hingga dibekali tabungan fantastis yang cukup untuk beberapa keturunan. Ya itu kalau dapat anak presiden.

Tapi, tak semua istri kedua bermandikan harta mewah. Ada istri kedua yang hanya dimodali rumah kontrakan, diberi uang saku bulanan yang hanya cukup untuk makan nasi dengan sayap ayam, bahkan disuruh kerja keras mencari penghasilan tambahan.

Tak hanya soal beban tinggi, mereka yang memilih menjadi istri kedua juga seringkali dianggap tak punya standar tinggi, tak menghargai diri sendiri dan ada yang dituduh merendahkan martabat para perempuan.

Tak mudah jadi istri kedua. Sudah diberi aneka label, hatipun masih bergulat, gundah tak karuan ketika tahu pasangan menghabiskan waktu dengan istri pertama. Apalagi kalau berkelahi dan yang dibela istri pertama. Masyarakat bela istri pertama, di rumah pun pasangan bela istri pertama.

Bicara soal susahnya jadi istri kedua, saya jadi teringat istri kedua yang tak bisa mengucapkan perpisahan ketika pasangan sakit dan berada di ambang kematian. Istri pertama dan keluarga menutup akses hingga si sakit meninggal dan dikuburkan. Susah ya!

Adu Rayu

Kompetisi tak bisa dilepaskan dari dunia istri kedua. Tentunya ini hanya berlaku bagi mereka yang berjiwa kopetitif. Semua aspek bisa jadi bahan kompetisi. Kompetisi liburan, rebutan liburan ke luar negeri. Rebutan mengirim anak untuk dapat pendidikan terbaik. Rebutan untuk dapat perhatian dan tentunya rebutan uang saku, bahkan mengatur berapa uang yang harus didapatkan oleh istri pertama dan anak-anaknya. Duh ini sih kebangetan.

Tak semua orang kompetitif. Mereka yang yang memiliki jiwa penyayang, bisa berakhir memiliki hubungan manis dan mendapatkan kerabat baru dengan istri pertama. Dalam bahasa Inggris istilahnya sister-wife.

Saya sendiri menggambarkan ini sebagai para istri dari seorang laki-laki yang hidup dengan rukun dan damai, bahkan saling tolong-menolong. Super lho mereka ini, bahkan gak perlu bayar pengasuh karena bisa nitip anak dari satu istri ke istri lain.

Penutup

Fenomena istri kedua itu tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Bahkan sampai ada reality shownya. Menariknya, dimana-mana urusan punya banyak istri ini pasti jadi bahan omongan, apalagi dunia ini kecil. People talk dan perkawinan kedua yang seringkali jadi rahasia, atau bahkan ditutupi sebagai perkawinan sah, bocor kemana-mana.

Pada akhirnya, pilihan, nilai dan standar hidup orang itu berbeda-beda. Ada yang memilih untuk harus jadi istri pertama, ada yang berpuas diri menjadi istri kedua. Ada yang harus dapat rumah di belakang Plaza Senayan, tapi ada juga yang berpuas diri dapat rumah kontrakan.

Ya namanya udah dewasa, tentunya bisa memilih yang terbaik bagi diri sendiri. Toh kita sendiri yang bisa menilai, seberapa berharganya diri kita. Sekali lagi, cuma diri kita yang tahu yang terbaik, termasuk baiknya jadi istri kedua saja, karena gak layak jadi istri pertama. #eh

Punya cerita apa tentang istri kedua?

xoxo,
Tjetje

1 thought on “Istri Kedua

  1. Mb saya ada kenal beberapa wanita dewasa, dan masalah mereka sama. Ada yang sudah cerai dan sedang dalam pemikiran (beda kota) tapi masalah sama.
    Gaji suami full mutlak di minta ibu mertua, dengan alasan orang tua sudah habis-habisan membiayai anak lelakinya sehingga berhasil.

    Yang pertama, sudah divorce beberapa bulan setelah anak tunggal laki-lakinya berusia 7 bulan. Padahal si istri sudah rela lakukan apa yang harus istri lakukan dalam kehidupan keluarga. Tapi sudah di jatah harian secukupnya, merangkap ART, di omeli, di cctv. beliau tidak tahan dan pilih berpisah dan hidup berdua anak nya sampai hari ini.

    Yang kedua supir Grab, juga menceritakan hal yang sama.
    Saya berpikir bagaimana harusnya ya orang tua dan anak belajar memahami, bagaimana hubungan orang tua dan anak yang sudah berumah tangga,

Leave a reply to Linda Taslim Cancel reply