Belakangan ini saya sering melihat aneka perdebatan dan kemarahan yang tak penting karena panggilan “Mbak”. Saya tak memahami kemarahan dan bentuk pikiran terhadap panggilan ini.
Sebagai perempuan yang lahir dan besar di Jawa, panggilan Mbak bagi saya adalah sebuah bentuk penghormatan kepada orang yang usianya sedikit lebih tua. Ini bentuk konstruksi sosial, karena di lingkungan kita, memanggil nama secara langsung kepada yang lebih tua itu tak pantas.
Di lingkungan Jawa sendiri juga ada bentuk serupa untuk mereka yang usianya lebih mudah, “Jeng” dari kata “Diajeng”.
Kenapa Marah?
Seperti biasa, saya selalu bertanya “kenapa?” Asumsi saya, kemarahan ini muncul karena ketidakpahaman akan kultur Jawa, yang kemudian dicampur dengan classism, serta sedikit insecurity.
Kepala mereka yang penuh dengan amarah ini rupanya mengasosiasikan kata “Mbak” dengan pekerja rumah tangga. Pekerja rumah tangga ya, bukan pembantu apalagi asisten. Mereka adalah pekerja!
Ada penolakan, tak mau disamakan dengan pekerja rumah tangga. Padahal, pekerja rumah tangga itu hanyalah sebuah pekerjaan, tak menunjukkan kualitas diri sebagai manusia.
Ketakutan dipanggil Mbak ini juga menunjukkan betapa classist para penakut ini. Mereka menganggap pekerjaan ini pekerjaan rendah yang mengidentifikasi manusia. Kemudian insecurity mereka mendikte dagu untuk mendongak ke atas.
Perilaku classist! Merasa upper class, tapi tak pernah belajar konstruksi sosial. Padahal, orang-orang yang benar-benar upper class kebanyakan dididik untuk menghormati pekerja rumah tangga sejak usia dini.
Classists at its best!
Panggilan Pekerja Rumah Tangga
Argumen bahwa “Mbak” itu identik dengan pekerja rumah tangga juga bukan argumen yang tepat. PRT gak cuma dari Jawa aja, mereka hadir dari seluruh sudut nusantara. Dan “Mbak” sendiri bukanlah satu-satunya panggilan untuk pekerja rumah tangga.
Di hidup saya, ada juga yang dipanggil “Ibu”. Bu Nur, aku kangen ayam goreng bikinanmu! Lalu ada “Mak Nem”, yang galaknya tak karuan dan melarang saya berpacaran. Adik si “Mak Nem” ini juga bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Namanya “Yu Jum”. Yu sendiri berasal dari kata Mbakyu.
Saya tak pernah punya “Bibi”. Tapi tetangga sebelah rumah kami mempekerjakan “Bibi”. Kami semua tak tahu namanya, kami hanya tahu “Bibi”. Bibi yang selalu mengenakan kain panjang batik, jarit.
Tak cukup itu, ketika saya ngikut keluarga tinggal di Medan, pekerja rumah tangga di rumah pun kami panggil “Kakak”, karena dia orang Batak. Bukan orang Jawa.
Udah? Belum dong, karena pekerja rumah tangga dari Jawa Barat nggak dipanggil Mbak, tapi dipanggil “Teteh!”.

Penutup
Saya paham bahwa “Mbak” ini sangat Jawa sekali, sementara Indonesia itu beragam, tak cuma orang Jawa saja. Tapi penting juga untuk memahami bahwa “Mbak” ini adalah bentuk menghormati orang lain. Tak perlu kemudian diberi pengkastaan yang menganggap “Mbak” lebih rendah ketimbang “Kakak”, “Mbok”, “Neng”, “Teteh, “Sis” “Beb”, “Say” atau bahkan “Besti!”.
Anyway, kalau kemudian ada individu yang merasa direndahkan dengan panggilan ini, mungkin bisa tes kejiwaan. Konsultasi dengan ahlinya untuk menemukan alasan kenapa diri sangat insecure dan penuh amarah. Ketrigger cuma gara-gara kata “Mbak”.
Jadi, kalau gak mau dipanggil “Mbak” karena takut diasosiasikan dengan pekerja rumah tangga, maunya dipanggil apa? “Nyonya Besar”, “Nyai”, atau sekalian “Kanjeng Ratu”?
xoxo,
Mbak Tjetje






Show me love, leave your thought here!