Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol dengan seorang diaspora tentang saham sebagai bagian dari kompensasi ketika bekerja. Di beberapa perusahaan, di Irlandia, kompensasi itu dibagi-bagi, ada gaji tahunan, aneka asuransi, jatah untuk belajar, jatah untuk wellbeing, lalu kadang-kadang, ada saham, atau yang lebih tepatnya disebut sebagai RSU (Restricted Stock Unit).

Jual saham dulu buat naik business class.

Jadi yuk ngomongin ribetnya saham sebagai kompensasi!

Pertama-tama mari kenalan dulu dengan yang namanya RSU. RSU ini bisa dianalogikan sebagai janji perusahaan memberi kita saham. Saya melihat ini sebagai cara perusahaan “mengikat” pegawai supaya gak kemana-mana, terutama ketika keahlian mereka unik dan susah dicari.

Di sebagian dunia kerja, RSU ini biasanya diberikan pada saat mulai tanda tangan kontrak sebagai signing bonus, ketika performa bagus, dan juga sebagai bagian dari kompensasi tahunan. Duduk manis aja tiap tahun dapat saham. Tapi ini dengan catatan ya, konsepnya janji, jadi gak langsung diberi. Kita harus nunggu dulu dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya, pas tanda-tangan kontrak, sebagai signing bonus, dikasih RSU seribu unit. Tapi harus divesting selama empat tahun. Jadi angka seribu ini dibagi-bagi. Tahun pertama vesting 100, tahun kedua, 200, tahun ketika 300, baru tahun terakhir 400. Selama jangka empat tahun itu, kalau bisa jangan resign, karena kalau resign unit yang belum divesting ini bakalan hangus.

Nanti ketika sudah melewati masa tunggu ini, kita baru bisa jual. Tapi mau jual pun juga gak gampang. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan. Pertama soal nilai, namanya juga saham, kadang naik melesat, kadang anjlok.

Kedua soal timing. Sebagai buruh, kita tak bisa semena-mena menjual saham kapan aja semau kita. Ada rentang waktu yang sudah disetujui untuk penjualan dan ada masa blackout ketika kita dilarang untuk bertransaksi, contohnya saat perusahaan akan rilis laporan keuangan.

Ketiga soal jumlah unit yang bisa dijual, ini tergantung aturan dengan perusahaan. Pada contoh di atas, di tahun pertama ada 100 unit yang sudah vesting, ini bukan berarti 100 unit itu bisa dijual langsung ya. Tiap perusahaan aturannya beda-beda.

Pajak

Ngomongin saham juga harus ngomongin pajak. Di Irlandia, urusan saham itu pajaknya dua, gak cuma satu. Pertama pajak penghasilan. Saham itu ketika vesting dianggap sebagai penghasilan (ini banyak catatan kecilnya, berlaku hanya ketika perusahaannya publik dan ceritanya akan lain kalau perusahaannya private). Kebayang kan, baru vesting, itu saham masih duduk manis, kita mesti setor pajak.

Pajak penghasilan di sini angkanya mulai 0% (kalau gaji di bawah 13k/ tahun) hingga 52% (untuk gaji di atas 70k/ tahun). Tapi pada intinya, di negeri ini, makin tinggi penghasilannya, akan makin tinggi pajaknya.

Yang kedua Capital Gain Tax, sebesar 33%. Jadi ini pajak yang harus kita bayarkan ketika kita dapat untung dari modal yang kita punya (gak cuma saham ya). Misalnya, waktu kita beli, harga saham total 10k, lalu kita jual, nilainya naik jadi 50k dan untungnya 40k. Nah ini kita mesti bayar pajak 33% atas keuntungan 40k ini. Di Irlandia, 1270 euro pertama itu bebas CGT, tapi abis itu mesti bayar.

Penutup

Gimana pusing bacanya?

Tulisan ini muncul karena ada diaspora yang sangat perlu validasi lalu menggunakan saham sebagai sebuah instrumen untuk memberikan kesan prestisius. Persis kayak kingkong membusungkan dada: “Orang penting nih sampai dikasih saham sama perusahaan”. Lalu flexing ke diaspora lainnya. Flexing boleh kok, tapi gak perlu pakai merendahkan mereka yang gak diberi saham juga.

Konon nilai saham yang diflex ini bisa digunakan untuk beli properti senilai satu juta Euro. Saya pun tak tahan pengen ngakak gegulingan. Kalau mau ngibul soal keuangan di negeri ini, kita mesti tahu betapa kompleksnya perpajakan.

Kalau nilainya satu juta Euro, bersih, artinya perusahaan harus memberikan saham kotor senilai 2,2 juta. Ini kompensasi saham doang. 🙃


Emang gak bisa dapat kompensasi segede itu? Kalau di Amerika mah ini memungkinkan. Tapi ini Irlandia, yang kompensasinya tak setinggi Amerika. Tapi ini bukan berarti gak mungkin, mungkin aja, tapi dengan banyak catatan. Misalnya, punya degree dan kualifikasi, pengalaman eksekutif, bekerja di perusahaan besar dengan level C-suite.

Kalau kualifikasi pendidikan aja gak punya, lalu ngarang bebas dapat saham satu juta Euro; Mak, situ siapa? Zuckerberg?

xoxo,
Tjetje


Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: