Di Irlandia, pekerjaan itu tidak mendefinisikan kita, atau nilai kita sebagai manusia. Nggak penting banget, karena bekerja itu ya cuma biar bisa bayar tagihan, KPR dan pensiun. Sebegitu gak pentingnya, sampai pada satu akhir pekan panjang di sebuah perkawinan, tak ada satu orangpun yang bertanya apa pekerjaan kami berdua. Gak dihakimi dan ditanya karena pekerjaan itu rasanya menyenangkan.
Ini tentunya jauh berbeda dengan kultur di Indonesia, di mana pekerjaan sangat mendefinisikan nilai sebagai manusia. Lingkungan akan memberi poin banyak ketika seseorang berhasil bekerja di perusahaan bagus, jadi PNS, atau jadi dokter. Lalu sukses ini makin divalidasi dengan penghasilan besar yang disimbolisasi dalam hal-hal materi yang mencolok mata.
Nah, pada satu hari, di sudut kota Dublin, saya mendengarkan percakapan gila ini:
❓”What do you do for living?”
🤡 “I work in IT”
Saya sebut percakapan gila, karena si badut kerjanya bukan di IT, dan pekerjaan dia pun bukan pekerjaan teknis terkait IT. Percakapan ini tak hanya terjadi sekali, tapi berulang kali. Tiap kali saya dengar, saya melipir sambil geleng-geleng kepala.
Bekerja di Perusahaan Teknologi
Saya adalah buruh perusahaan teknologi. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan, yang mana ini sangat jarang terjadi, saya tak pernah ngaku “I work in tech“. Ada aturan tak tertulis tech itu orang-orang yang skillnya teknis, seperti engineer, developer, data scientist.
Pelabelan yang tepat bagi saya, yang bukan orang teknis adalah “Tech support“.
Seringkali jika ditanya, saya tak menyebut industri dan langsung menyebut nama perusahaan tempat saya bekerja. Nah kalau pas ngobrol dengan orang Amerika, dan ini kejadian beberapa kali, mereka pasti akan mengklarifikasi lebih lanjut:
“Oh are you on the tech side or the support?“
Kenapa mesti pura-pura ngaku kerja di IT atau tech?
Dugaan saya sih sederhana, tak pede dengan diri sendiri dan pencapaian hidup. Plus, pengen dapat validasi dari orang lain. Pastinya kalau orang lain terpukau, dopamine akan naik dan diri akan ceria, karena orang berpikir aneka hal tentang pencapaian hidup kita.
Di Irlandia sendiri, industri teknologi adalah industri besar. Banyak perusahaan teknologi punya HQ di negeri ini karena kebijakan pajak yang bersahabat untuk perusahaan.
Industri ini sendiri memang tak mudah ditembus, selain keahlian dan pengalaman, referral menjadi senjata ampuh untuk bisa masuk. Industri ini identik dengan gaji yang besar, dan aneka perks yang tak umum, dari sarapan, makan siang, makan malam, saham perusahaan, bonus di luar angka pasar, cuti di atas aturan pemerintah, hingga aneka asuransi, pensiun, proteksi penghasilan, gym, hingga kolam renang di dalam kantor.
Alhasil, ada kesan bahwa bisa memasuki industri ini adalah sebuah pencapaian luar biasa yang membuat orang langsung terpukau.

Penutup
Contoh di atas bukanlah satu-satunya interaksi saya dengan orang-orang yang mencoba mendapatkan kekaguman orang lain, agar orang lain terkesan dan “wow”. Orang-orang yang haus validasi melalui identitas profesional ini ada banyak, termasuk mereka yang bekerja sebagai kontraktor perusahaan teknologi.
Untuk konteks, perusahaan teknologi seringkali mempekerjakan perusahan lain, yang lazim disebut sebagai business process outsourcing, untuk mengerjakan tugas mereka. Secara kontrak, pekerja ini bukanlah pegawai teknologi. Mereka berkontribusi pada ekosistem perusaan teknologi, karena tugas mereka seringkali terkait dengan perusahaan teknologi. Tapi tentunya, mereka tak bisa mengaku sebagai pekerja teknologi. Tragisnya, ini tak cuma diceritakan secara verbal, tapi juga ditulis dalam CV dan juga LinkedIn.
Anyway, gak perlu nggak pede lah dengan pekerjaan. Pada akhirnya, pekerjaan kita itu sangat tidak mendefinisikan nilai diri sebagai manusia. Dengan melakukan hal seperti ini, secara gak langsung, juga pelaku 🤡 mengirimkan pesan bahwa pekerjaan mereka ini bukan pekerjaan bagus, sampai harus malu dan harus secara sadar misleading orang biar kelihatan cool.
Kalau sudah begitu, coba tanya ke diri sendiri, kenapa mesti bohong dan menipu demi validasi? Are you okay hun?
xoxo,
Tjetje
Bukan anak IT






Show me love, leave your thought here!