Saya dirundung habis-habisan dari tahun kemarin. Pelakunya orang yang tak saya kenal, tak tinggal di Irlandia dan sangat terobsesi dengan saya. Hampir tiap minggu ia melontarkan kata-kata kasar dan mengancam keamanan saya. Ini salah satu (dari banyak) contohnya:

Postingan ini sudah diturunkan oleh IG karena perundungan.


Sebagai manusia biasa, ketika digempur hal-hal seperti ini, saya punya banyak reaksi. Marah tentunya, karena tuduhan-tuduhan yang tak benar. Secara alami, naluri saya untuk melawan dan melindungi diri juga muncul. Lalu timbul satu pertanyaan:

Seberapa jauh saya boleh dan bisa melawan serta membalas kekasaran mulut pelaku?

Tukang rundung ngomongin perundungan…

Batasan Melawan Pelaku Perundungan

Secara teknis, di media sosial ada banyak cara untuk melindungi diri dari perundungan. Dari mulai melaporkan, hingga blokir. Kalaupun punya energi lebih, kita juga bisa bikin klarifikasi publik atau bahkan melawan dengan fakta-fakta.

Tapi, bolehkan kita keroyokan melawan pelaku?
Bolehkah kita membandingan dia dengan hewan, contohnya dugong?
Bolehkah kita menertawakan kondisi fisik dia yang jauh dari sempurna?
Bolehkan kita menertawakan halusinasi dia, apalagi ketika ada dugaan gangguan mental?
Bolehkah kita ikutan kasar?
Haruskah saya cari orang tuanya supaya tahu kelakuan anaknya?
Perlukah saya cari alamat rumahnya untuk melabrak?

Kapankan melawan pelaku perundungan sebagai mekanisme melindungi diri ini berubah dari mekanisme perlindungan diri menjadi merundung balik?

Di Irlandia, nama chef restoran itu diumbar, sebagai bahan dagangan. Dia mengamuk ketika saya investigasi klaim dia yang mengaku punya suami chef di restoran berbintang Michelin.

Serang Kontennya, Bukan Orangnya

Prinsip saya, pelaku perundungan boleh diserang balik. Boleh banget, tapi dengan banyak catatan ya. Lawan perilaku dan ucapan-ucapannya. Tapi tak perlu menghina tubuh atau identitas, orientasi seksual, agama pelaku perundungan, ataupun kondisi kesehatannya, termasuk soal kesehatan jiwanya.

Di kasus saya, saya dikatain lonte, saya diam. Diancam dibinasakan, saya diam. Ketika dia menuduh saya tak dinikahi dan hanya kumpul kebo, tuduhan itu saya balik dengan fakta. Ternyata dia sendiri masih lajang. Jadi lajang itu gak salah, yang masalah adalah ketika dia mencoba merendahkan saya. Dia juga ngeyel saya tak di Irlandia, ini saya balik dengan realita bahwa dia tak bisa ditemukan di sudut manapun di Irlandia.

Sekali lagi, sebagai korban perudungan, saya (dan kalian yang juga jadi korban) boleh menyerang kebohongan, tuduhan, fitnah dan argumen ngaco. Mengumbar perilaku dan perkataan pelaku yang tak pantas juga boleh. TAPI, saya membatasi diri untuk tidak membandingkan pelaku dengan hewan. Sekasar apapun mulutnya.



Penutup

Satu hal yang masih perlu banyak belajar adalah soal kesehatan mental. Pada prinsipnya, kesehatan mental seseorang sama pentingnya dengan kesehatan fisik: dua-duanya tak seharusnya jadi bahan ejekan atau hinaan, karena ini memperkuat stigma terhadap kesehatan mental.

Tapi, pada praktiknya, kepleset di area ini sangatlah mudah. Ketika saya berhenti melawan dengan mantra “yang waras ngalah”, secara gak sadar saya menjadikan “waras” sebagai ukuran untuk merendahkan orang lain. Begitu pula ketika Stephanie Buntaran terus-menerus merundung, saya tak segan menyebutnya ‘edan’, yang juga bisa diartikan gila. Di banyak kesempatan, saya masih tak segan menyebut Dymphna “delulu” dan “halu”. Apalagi ketika ia rajin mengumbar aneka khayalan soal suami dan kehidupannya di Irlandia yang tak eksis.

Agaknya, sebagai korban perundungan, saya pun masih perlu belejar. Belajar membedakan mana yang merupakan pembelaan diri, mana yang merupakan bentuk perlawanan. Mana yang mengungkapkan fakta dan mana yang menjadi perundungan balik.

Ah ya kok sudah jadi korban perundungan, makan hati, masih harus belajar juga gimana menjaga amarah…


xoxo,
Tjetje
Blogger Kampung Irlandia

Halusinasi tingkat dewa, ngarang cerita kalau gw cari kerjaan…

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: