Tak terhitung berapa kali saya membaca pengguna media sosial yang pamer pencapaian karir di media sosial. Yang dipamerkan adalah perjalanan dinas! Kelas penerbangan hingga negara atau kota tujuan dipamerkan sebagai sebuah simbol kesuksesan dan pencapaian hidup.

Begini contohnya:


“Aku kerja corporate & dikirim dinas ke London, Berlin, New York, Singapore, Sabang, Merauke naik bisnis class”. (Babon pamer taring)

“Aku dulu di Indonesia kerja jadi anggap-aja-orang-penting, dikirim perjalanan dinas naik bisnis Garuda Indonesia, sampai mileage-ku level paling tinggi” (Kingkong gebuk-gebuk dada)

Tanya Kenapa?

Setiap membaca hal-hal seperti ini saya jadi bertanya-tanya:

  • Kenapa ada banyak individu di media sosial yang membawa perilaku LinkedIn Lunatics, mencari validasi dari sebuah perjalanan dinas?
  • Mengapa perjalanan dinas mendadak jadi simbol kesuksesan & diglamorisasi?
  • Apakah mereka yang tak pernah melakukan perjalanan dinas berarti tak sukses dan tak punya pencapaian yang harus dibanggakan?

Sebenarnya, cuma mereka yang pamer perjalanan dinas yang bisa jawab. Saya sendiri menduga-duga, perilaku pamer ini karena beberapa hal. Pertama, perlu validasi karena insecurity soal karir. Gak bisa dipungkiri di Indonesia kita masih sering dituntut sukses, punya uang banyak lalu memamerkan simbol-simbol kekayaan dan kesuksesan.

Di beberapa kelompok, perjalanan dinas ini kemudian jadi sebuah cara mudah menjelaskan pencapaian. Ada visual cantik, mondar-mandir di bandara, lalu berfoto di kota-kota yang berbeda. Secara visual, orang-orang yang tak paham dunia kantoran jadi digiring opininya untuk berpikir: “Orang penting, kerjaannya jalan-jalan terus”. Apalagi kalau perjalan dinasnya ke luar negeri yang seringkali tak terjangkau bagi kebanyakan orang.

Ada pula elemen merasa sangat bangga karena dipercaya perusahaan untuk pergi, merasa paling penting dan diperlukan kehadirannya di sudut lain. Padahal di dunia corporate, kita tahu ini tak sepenuhnya akurat. Ada kalanya yang pergi melakukan perjalanan dinas itu bukan pegawai terpenting, karena pegawai terpenting tak bisa atau bahkan menolak pergi.

Oh btw, zaman saya di Jakarta dulu, seluruh lapisan pegawai bisa pergi, dari OB sampai Project Manager. Tergantung kebutuhan dan bukan karena satu posisi lebih penting dari yang lain.

Realita Perjalanan Dinas

Lebih dari satu dekade lalu saya pernah membahas soal perjalanan dinas. Di beberapa kantor, perjalanan dinas ini sering jadi ajang rebutan dan alasan untuk cemburu dengan kolega lain. Dari mulai iri karena kesempatan, hingga iri karena urusan dana perjalanan dinas, apalagi dalam bentuk mata uang asing.

Padahal, perjalanan dinas ini tak jarang melelahkan dan mengganggu waktu tidur. Harus bangun pagi untuk pergi ke bandara, lalu di negara tujuan mesti bergulat dengan jetlag. Bagi yang sudah berkeluarga, perjalanan dinas juga berarti mengorbankan waktu berharga bersama keluarga.

Perjalanan dinas ini juga suka mengganggu anggaran bulanan, karena beberapa kantor menerapkan sistem reimbursement. Harus bayar biaya-biaya printilan macam makan, taksi, tips, bahkan kamar hotel terlebih dahulu. Angkanya mungkin tak seberapa, tapi ini bisa sangat mengganggu. Apalagi kalau perjalanan dinasnya terus-menerus. Back to back.

Jam kerja ketika perjalanan dinas itu sering kali berantakan. Kerjaan di tempat dinas harus dibereskan, sementara kadang pekerjaan di home base tak bisa menunggu. Kesibukan ini masih ditambah dengan acara-acara sosial seperti makan malam, karaoke, atau sekadar minum bersama di luar jam kerja. Konsep keseimbangan kerja pun jadi berantakan karena waktu kerja tak lagi 8 jam.

Penutup

Perjalanan dinas disambung jalan-jalan.

Sebagai pegawai kantor biasa-biasa saja, saya sudah dikirim ke banyak sudut Indonesia dari Sabang hingga Jayapura. Saya juga berkesempatan menjelajah beberapa kota besar di berbagai sudut dunia, dari Asia, Eropa, hingga Amerika, karena pekerjaan. Rasanya saya cukup punya pengalaman untuk bisa bilang:

Perjalanan dinas bukanlah ukuran sebuah kesuksesan dan pencapaian karir.

Kenapa saya berani bilang gitu?

Karena pegawai yang posisinya sudah aman dan nyaman tak jarang menolak perjalanan dinas. Ini privilese yang tak semua orang punya dan berani, apalagi ketika posisi masih junior dan masih mati-matian membuktikan diri. Alasan menolak pun macam-macam, dari mulai alasan visa, kesehatan hingga keluarga. Saya sendiri kerap menolak perjalanan dinas, apalagi perjalanan dinas internasional, karena capek lihat bandara terus.

Jadi nyari validasi lewat perjalanan dinas itu gak cocok, karena tak semua orang bisa melakukan perjalanan dinas. Perjalanan dinas itu soal siapa yang ketika diperlukan cukup fleksibel dan leluasa untuk pergi kapan saja. Bukan soal sukses apalagi pencapaian.

Bukan masalah perjalanan dinasnya, tapi hasilnya yang penting!

Terakhir, gak ada ceritanya employer yang akan nanya dalam sebuah wawancara udah perjalanan dinas kemana aja? Jadi gak perlu meninggikan diri karena diminta melakukan perjalanan dinas, apalagi sampai mengglorifikasi perjalanan dinas. Ada banyak pegawai yang sukses tanpa perlu melakukan perjalanan dinas, dan ada banyak yang menolak melakukan perjalan dinas dalam negeri dan luar negeri.

xoxo,
Tjetje

Baca juga tulisan lama saya tentang “Perjalanan Dinas” di sini.

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: