Waktu perayaan 17 Agustus di Dublin kemarin, saya disamperin dan ditanya tentang kejadian terdamparnya anak-anak band metal di Irlandia karena ditipu promotor. Ada satu komentar yang gak cuma nyalahin korban, tapi juga penuh dengan entitlement.

“Salah satu dari mereka kan kaya dan bisa bayarin?”

Jadi, mari kita berbicara soal kekayaan dan persepsi kita terhadap aset orang lain. Saya melihat ini sebagai sebuah isu yang cukup kronis, yang muncul dimana-mana, baik IRL, maupun di dunia online. Ada banyak orang yang beranggapan orang-orang (yang dianggap) kaya itu, berkewajiban menyelesaikan masalah hidup orang lain dan WAJIB menolong orang kesusahan.

Perlu dicatat, biar gak melebar kemana-mana, kita gak ngomongin kaya tujuh turunan, atau level kaya yang udah sampai bisa kirim roket ke luar bumi ya. Ultra mega rich itu mah, lain cerita. Scopenya kita batasi pada mereka yang dianggap kaya.

Menganggap orang lain kaya

Otak kita seringkali melabeli orang lain itu kaya dari asumsi dan titik-titik yang dibuat oleh otak kita sendiri. Asumsi ini muncul dari simbol-simbol kekayaan yang dilihat. Padahal simbol ini tak sepenuhnya benar. Beberapa contoh yang pernah saya dengar:

“Dia kan kawin sama bule, penghasilannya Euro, otomatis kaya.”

“Dia kan artis ngetop, pasti kaya.”

Terus yang paling konyol, kepemilikan terhadap benda-benda tertentu juga selalu identik dengan kaya. Handphonenya iphone, bukan android. Punya mobil, gak naik motor. Jalan-jalannya ke luar negeri terus, gak pernah di luar negeri. Padahal siapa yang tahu kalau semua ini hasil pinjol, cicilan 0% BCA, atau bahkan diberi.

Dengan logika berpikir seperti ini, apakah kemudian mereka yang tak punya kendaraan dan tak punya benda-benda yang dianggap melambangkan kekayaan ini tak kaya? Apakah mereka yang jalan-jalannya ke daerah pedalaman di ujung Indonesia tak kaya?

Lalu, apa gunanya kita mengelompokkan orang-orang ini pada kelompok orang kaya?


Orang kaya wajib menolong

Menganggap orang lain kaya itu sah-sah saja, namanya juga persepsi kita. Otak kita bisa menciptakan aneka label pada orang lain. Nah yang berbahaya dan bikin saya gedeg adalah entitlement. Merasa berhak atas harta dan kekayaan orang lain.

Dalam kamus saya, ini saya labeli sebagai “berhak morotin orang kaya, hanya karena mereka dianggap kaya”.

Dia kan duitnya banyak, masak bantuin gini doang gak bisa?
Dia itu kan kaya, masak ada saweran ngasihnya cuma [lalu sebut angka sumbangan].

Orang yang dianggap kaya seringkali tiba-tiba diberi kewajiban untuk menyelesaikan masalah keuangan orang lain. Kadang, bukan cuma satu dua orang, tapi banyak. Contohnya, dimintain ngasih modal, disuruh nyekolahin anak orang, sampai diberi kewajiban memberi pinjaman.

Ketika mereka tak mampu atau bahkan tak mau, akan muncul rasa culas yang dikombinasi dengan kecurigaan lalu menuduh ini itu. Tak jarang juga ada tuduhan pelit.

Gak cuma dilimpahin tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah keuangan orang lain, ada pula sinisme yang menganggap orang yang dianggap mampu itu tak bisa kesusahan dan selalu punya solusi. Lalu muncullah tekanan-tekanan pada mereka yang dianggap kaya. Beban hidup kemudian dilimpahkan ke pundang orang lain begitu saja.

Penutup

Jadi orang yang sukses secara finansial, baik karena kesempatan, bakat, dan juga keberuntungan, gak serta-merta membuat kesuksesan ini sebagai “emergency fund“, atau bahkan ATM bagi orang lain.

Saya paham, di negeri kita ada budaya kolektivis yang kuat, yang suka memunculkan tekanan untuk menolong kelompok ketimbang individu atau bahkan diri sendiri. Budaya ini makin diperkuat dengan lebarnya kesenjangan sosial di negeri kita. Yang ekonominya dianggap lebih tinggi, harus menolong orang yang tak punya sebagai bentuk keadilan sosial. Tak jarang kewajiban ini sangat dipaksakan.

Jadi kesimpulannya? Butuh bantuan itu manusiawi, minta tolong juga hak semua orang. Tapi menuntut dan merasa berhak itu beda cerita. Gak usah berasumsi ini itu atas harta orang lain. Dan yang paling penting, Gak usah merasa berhak memiliki harta orang lain. Cuma orang pajak yang boleh begini!

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina. Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: