Di bulan ke sembilan saya bekerja di Irlandia, saya diberi promosi, tanpa meminta. Saat itu ada anak muda dari Spanyol yang melihat keahlian saya memberikan training. Dia lalu menghadap Direktur perusahaan dan langsung meminta saya (serta satu orang lain dari Jerman) sebagai anggota tim yang lagi dia bentuk. Kami kemudian membabat hutan, mendirikan tim untuk pertama kalinya.

Yang paling epic, saya gak kenal dengan anak muda ini. Dia menarik saya untuk berada dalam timnya murni karena potensi saya. Dari dia saya belajar soal tarik-menarik orang-orang, referral, menarik orang-orang dengan potensi dan keterampilan yang mumpuni untuk bekerja bersama.

Tarik-menarik ini terjadi lagi menjelang lockdown di tahun 2020, dua orang perempuan Afrika mengelilingi seluruh lantai di kantor saya. Mereka berdua memutari tiap lantai! Ketika mereka menemukan saya, mereka teriak girang. Lalu, mereka meminta nomor hape dan juga CV saya.

Rupanya, mereka mendapat misi penting, dari seorang bekas kolega yang sudah pindah ke perusahaan lain. Lagi-lagi, saya tak kenal dengan si pemberi misi ini. Tapi dia pernah melihat saya beraksi dan terpukau dengan cara saya kerja. Lalu, ketika ia pindah ke sebuah perusahaan yang baru mulai beroperasi di Dublin, dia berambisi merekomendasikan saya untuk bekerja di perusahaan tempat dia bekerja. Dan saya pun pindah kerja, menjadi orang pertama yang membabat hutan.

Pemandangan dari salah satu kantor saya


Industri yang saya geluti ini lingkupnya cukup kecil dan orangnya itu-itu saja. Begitu saya pindah, saya mulai bergerilya, menarik orang-orang yang pernah bekerja bersama saya. Saya tak hanya memberikan rekomendasi, tapi juga duduk bersama mereka untuk menyiapkan mereka menghadapi proses wawancara yang panjang. Ada orang Swedia, Italia, Albania, Romania, Belanda dan juga Irlandia. Sayangnya tak ada orang Indonesia yang bisa saya tarik.

Mereka semua harus melalui proses wawancara yang tak melibatkan saya. Tapi dengan semua kemampuan, keterampilan, serta pengalaman, mereka kemudian bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan saya. Pendeknya, kalau saya tahu track record mereka bagus, saya tak segan untuk menarik mereka ke dalam lingkungan kerja saya.

Penutup

Jangan tanya bagaimana hangatnya hati saya, ketika dicari orang untuk ditawari pekerjaan. Apalagi mereka ini bukan orang-orang terdekat saya. Sayangnya, saya tak punya pengalaman yang sama dengan sesama diaspora dari Indonesia.

Ketika saya melamar di sebuah perusahaan, ada orang Indonesia yang mengetahui saya sedang dalam proses wawancara. Boro-boro ngasih tips untuk wawancara, ngucapin kata-kata pendukung seperti “Good luck ya” atau “Sukses ya” aja tidak. Ketika mulut dia dibuka, yang keluar kata-kata sinis dan pedas yang jauh dari konsep mendukung. Saat itu, justru satu orang Irlandia yang menghabiskan waktu hampir satu jam dengan saya untuk mempersiapkan saya untuk menghadapi wawancara.

Satu pengalaman busuk dengan diaspora Indonesia tak berarti semua diaspora busuk ya. Tapi crab mentality itu nyata, ada dimana-mana. Mereka tak malu untuk menjegal orang lain dan menunjukkan ketidaksukaan ketika melihat diaspora Indonesia lainnya sukses.

Di sisi lain, ada pula kelompok-kelompok orang yang tak segan untuk membukakan pintu lebar-lebar, meletakkan tangga, lalu menggandeng kita untuk naik tangga kesuksesan. Saya pribadi memilih untuk membukakan pintu bagi individu lain, apapun kewarganegarannya. Gak ada yang susah dari bukain pintu untuk orang lain, apalagi ketika orang-orang tersebut punya potensi!

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: