Beberapa waktu lalu, atas nama publik Irlandia, saya buka GoFundMe (GFM) untuk tiga band metal yang terdampar di Irlandia. Pembukaan GFM ini sendiri gak kilat, karena band-band ini menolak, tapi atas desakan publik Irlandia, akhirnya bisa terbuka. Di saat publik Irlandia semangat membantu mereka, sebagian publik Indonesia justru menghujamkan komentar pedas.
Tulisan ini sendiri tak akan fokus pada mereka-mereka yang nyinyir dan gak punya Euro untuk membantu. Tapi saya akan membahas kultur GoFundMe di Irlandia. Sebuah kultur, yang mungkin sedikit bertabrakan dengan kultur di Indonesia.

Go Fund Me dan Irlandia
Saat tulisan ini dibuat, GFM hanya tersedia di 20 negara. Indonesia tidak termasuk di dalamnya. GoFundMe itu adalah situs penggalangan dana di mana orang-orang bisa bikin aneka kampanye penggalangan dana. Di Indonesia juga ada situs serupa namanya Kita Bisa. Konsepnya sama, tapi targetnya berbeda. GFM ini internasional, Kita Bisa fokus di Indonesia.
Sekilas saya membaca, GFM mematok ongkos 0% untuk penggalangan dana, tapi mengenakan biaya transaksi sekitar 2.9%, ini ongkos transaksi dari bank karena kita menggunakan kartu. Pendonor sendiri bisa memilih memberi sedikit biaya untuk GFM, tapi ini pilihan kita sebagai pendonor. Sementara Kita Bisa yang mengambil biaya 5% dari dana kampanye.
Di Irlandia sendiri GFM sangat-sangat populer dan sudah menjadi bagian dari kultur. Kalau ada orang yang tertimpa musibah atau perlu bantuan, GFM adalah solusinya. Dan masalah yang dialami pun macam-macam. Ambil contoh, jaman Covid dulu, salah satu kontraktor Meta di Irlandia (waktu itu namanya masih Facebook), tak punya meja dan kursi untuk kerja dari rumah. Ironisnya, dia bikin kampanye untuk beli kursi dan meja sebesar 1000 dolar Amerika di GFM, bukan di Facebook fundraiser.
Contoh lainnya, tahun 2023 lalu, ada anak-anak TK yang ditusuk oleh pencari suaka di Irlandia. Lalu, ada satu tukang antar makanan, seperti GoFood, di sini namanya Deliveroo yang menghentikan penusukan ini. Namanya Caio Beinico, dia intervensi penusukan ini dengan mukulin pelaku pakai helm. Sungguh sebuah aksi heroik yang sangat dihargai publik. Lalu, salah satu dari mereka buka kampanye untuk beliin Caio minum. “Buy him a pint”. Dalam sekejap uang yang masuk di kampanye ini mencapai 370ribu Euro, yang jika dirupiahkan dengan kurs hari ini lebih dari 7,5 milyar rupiah.
Pada saat tulisan ini saya buat, publik Irlandia lagi rame bikin GFM untuk korban kecelakaan di salah satu jalan tol di sini. Target awalnya 110ribu saja, tapi ketika saya membuat tulisan ini, sudah ada lebih dari 700k yang masuk. Yang nyumbang beragam, dari publik yang memberikan recehan, sampai klub olahraga yang memberikan ribuan Euro. Jangan kaget juga kalau lihat target kampanye naik, karena fitur GFM sendiri otomatis menaikkan target.
Media, GoFundMe dan Publik Irlandia
Ketika saya bikin kampanye kemarin, salah satu pegawai GFM mengirim saya email. Dia menawarkan untuk boosting kampanye ini ke media-media di Irlandia. Tapi, untuk melakukan ini, mereka harus membagikan kontak saya ke media, dan saya mesti bersedia diwawancara oleh media. Terus terang, ini sebuah strategi yang perlu saya kasih jempol, karena sebagai perusahaan mereka usaha banget untuk bantu supaya kampanye ini lancar dan sukses.

Publik di Irlandia sendiri reaksinya juga sangat manis. Salah satu radio bahkan kontak kami dan memuji-muji inisiatif ini. Bukannya saya gila pujian ya, cuma reaksi publik di sini berbanding terbalik dengan reaksi sebagian masyarakat Indonesia. Gak cuma media yang rame, ibu-ibu diaspora yang gak kenal metal, bahkan di luar Irlandia juga sibuk nanyain link GFM. Bahkan, mama mertua saya yang sudah sangat sepuh juga ikutan nanya. Semanis itu!
Penutup
Sebagai penduduk Irlandia, saya belajar banyak dari kultur GFM ini. Masyarakat Irlandia ngajarin kalau mau membantu itu gak perlu debat kusir dan gak perlu nyinyir atau bahkan mempertanyakan ini itu. Kalau ada yang kesusahan, ya bantu aja, sekecil apapun dan tanpa pandang bulu. Kalau kemudian tak punya uang untuk membantu, ya cukup sebar link saja. Makin banyak yang tahu, makin banyak yang tergerak membantu.
Prinsipnya sangat sederhana, mereka yang sedang memikul beban berat, kalau bisa bebannya kita ringankan. Jangan sampai beban ini ditanggung sendiri dan kemudian mereka tak kuat. GFM juga tak hanya soal beban, tapi soal apreasiasi. Ada kalanya kita perlu mengapresiasi hal-hal baik yang dilakukan orang lain untuk humanity, contonya ya aksi heroik tukang Deliveroo itu. Karena aksi dia menyelamatkan orang, masyarakat Irlandia memastikan dia gak perlu beli pints seumur hidup!
xoxo,
Tjetje






Show me love, leave your thought here!