Sekali lagi, Tradisi Natal di Irlandia

Kendati baru dua tahun di Irlandia, Natal ini menjadi Natal ke empat saya di sini. Selama empat kali Natal di sini, saya melihat begitu banyak tradisi yang menarik dan setiap tahunnya ada saja sesuatu yang baru.

View this post on Instagram

Good morning from Henry Street #Dublin.

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Penyalaan Lampu

Tradisi sederhana untuk pergi ke kota dan melihat lampu hiasan Natal dinyalakan. Jalanan-jalanan utama di kota Dublin dipenuhi para peminat lampu ini. Pemerintah tentunya membuat acara ini jauh lebih meriah dengan aneka penampilan. Bagi saya sendiri tradisi ini engga banget, karena cuaca yang sangat dingin. Lagipula ketika lampu sudah dinyalakan, kita masih bisa melihat meriahnya kota.

Tapi bagi mereka yang sudah memiliki anak, tradisi ini menjadi tradisi penting, untuk mengenalkan “keajaiban Natal” bagi anak-anak.

Jendela toko

Ini tradisi saya, tiap tahun saya melihat jendela dua toko besar di Dublin, Brown Thomas dan Arnott’s yang memasang jendela edisi Natal. Jendela toko-toko ini menarik banget dan dipenuhi dengan ornament-ornamen khas Natal ataupun manekin dengan pakaian yang meriah.

Tiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk melihat jendela-jendela ini, karena ingin tahu ide-ide para tim kreatif. Kadang sambil iseng lihat jendela ini, saya sambil ngitung berapa biaya yang dikeluarkan toko-toko tersebut, ah tapi toh semuanya akan terbayar ketika profit melejit tajam.

Misa Tengah Malam & Misa anak-anak

Tiap tahun, menjadi tradisi di keluarga pasangan saya untuk pergi ke gereja di tengah malam. Misa Tengah malam ini sangat syahdu dan berlangsung sekitar satu jam. Tak seperti di Indonesia dimana orang berdandan cantik untuk datang ke rumah ibadah, di sini orang-orang yang pergi misa mengenakan pakaian kasual saja dan membungkus diri dengan jaket tebal karena hawa yang dingin.

Misa anak sendiri saya hadiri untuk pertama kalinya tahun kemarin. Saat misa ini sang pastor banyak berinteraksi dengan anak-anak dan tentunya membahas Santy Klaus (Santa) dan hadiah yang akan dia bawa. Tentunya sang Pastur mengingatkan esensi Natal sebagai sebuah hari keagamaan.

Late Late Toy Show

TVRInya Irlandia itu bernama RTE dan menjelang Natal mereka selalu memutar episode khusus tentang mainan. Episode ini paling dinanti oleh satu Irlandia, karena anak-anak ini luar biasa lucunya, apalagi mereka yang tinggal di pedesaan.

Acara ini juga suka memberi kejutan. Menariknya, reaksi anak-anak yang diberi kejutan ini seringkali bikin ketawa. Dari bengong doang sampai reaksi mengharukan. Saya sendiri baru empat Natal di Irlandia, jadi belum punya banyak favorite. Tapi edisi kejutan dari Ed Sheeran dan kejutan Bapak yang pulang dari penugasan di Afrika jadi favorit saya.

Ada yang spesial dari Late Late Toy Show tahun ini. Tahun ini untuk pertama kalinya Angklung dan dua anak Indonesia, yang juga kembar, ikut dalam acara ini. Sebagai orang Indonesia (dan komunitas Indonesia di sini kecil), saya rasanya bangga luar biasa. Silahkan di klik video di bawah ini untuk melihat angklung:

 

Penutup

Natal tahun ini, untuk pertama kalinya saya akan terlibat dalam urusan dapur, biasanya saya tak pernah masak apapun dan tahu beres. Tahun ini saya akan menyajikan gado-gado. Di samping gado-gado, saya juga berambisi menyajikan kroket serta risoles untuk snack. Panganan ini setidaknya tak terlalu kaya bumbu dan semoga cocok dengan keluarga besar. Mungkin lebih tepatnya, semoga saya berhasil membuat dan menyajikannya. #Ambisius. Nanti kalau berhasil fotonya akan saya upload di Instagram ya.

Bagaimana dengan kalian, punya rencana apa di liburan Natal tahun ini?

xx,
Tjetje

Advertisements

Menengok Rumah Mewah Russborough House

Masih ingat dengan postingan saya beberapa waktu lalu tentang hutan kecil di Russborough house? Jika tak ingat, boleh ditengok di sini. Nah, akhir pekan ini, matahari bersinar sangat cerah. Wohoooo, jemuran pun bisa dibawa keluar dan ditinggal jalan-jalan dulu. #tetepYangDipikirJemuran

Memenuhi janji saya pada Mama yang kebetulan sedang liburan di Irlandia, saya pun membawa mama mengunjungi Rusbborough House. Rumahnya dikunjungi, tapi hutan  yang dipenuhi fairy doors kelupaan ditengok. Russborugh House ini merupakan rumah terpanjang di Irlandia dengan gaya Palladian yang dibangun 275 tahun yang lalu. Rumah yang super besar ini menghadap gunung Wicklow dan Blessington Lakes. Wicklow mountain terkenal sebagai tempat shooting film PS. I Love You, sementara Blessington Lakes yang juga tempat shooting film yang sama dan juga Braveheart, merupakan sebuah desa yang ditenggelamkan untuk menyediakan air minum bagi warga Dublin.

Rumahnya kepanjangan jadi hanya bisa difoto tengahnya saja.

Ada tiga keluarga yang pernah tinggal di rumah ini. Yang pertama keluarga Earls of Milltown (pada tahun 1740 – 1930), lalu rumah tersebut dibeli oleh keluarga Colonel & Maeb Daly (1931- 1951) seharga 9000 pound sterling. Lalu tahun 1952, Sir Alfred & Lady Beit yang punya bisnis berlian di Afrika Selatan membeli rumah ini. Mereka tinggal di rumah ini hingga tahun 2005, ketika ajal menjemput. Rumah ini sendiri sekarang dibuka untuk umum dan biaya pemeliharaannya didapatkan melalui The Alfred Beit Foundation.

Rumah yang memiliki 9 kamar tidur ini dibangun dengan batu granit lokal selama 10 tahun. Sementara langit-langit rumah ini sendiri dibangun selama 14 tahun. Langit-langit di rumah ini memang luar biasa kerennya dan hasil ukir-ukiran. Salah satu langit-langitnya bisa dilihat disini:

Ukir-ukiran dari langit-langit yang bulat seperti kubah ini desain untuk ruangan musik yang dilengkapi dengan dua buah piano yang kayunya pun didesain secara khusus. Uniknya, langit-langit ini didesain untuk bisa menciptakan gema suara yang tepat ketika penyanyi berdiri di tengah ruangan. Pemandu kami kemarin mempraktekkan hal tersebut, dan saya pun terbengong-bengong tak habis pikir bagaimana bisa mereka menciptakan hal tersebut.

Ruang makan super mewah. Piringnya dilukis hadiah dari Prince Wales (entah Prince Wales tahun keberapa), sementara di tengah-tengah keramiknya hadiah dari Madame Du Barry (dan ada logo sang Madame). Konon, sir Alfred Beit tertarik beli rumah ini karena lihat perapian mewah tersebut di sebuah majalah.

Rumah ini dilengkapi dengan dua wings, sisi barat dan sisi timur. Pada jamannya dulu, sayap-sayap ini digunakan untuk para pelayan. Satu sisi untuk pelayan pria dan satu sisi untuk pelayan perempuan. Pelayan pria sendiri lebih sering melayani, sementara pelayan perempuan harus membuang mukanya ketika bertemu dengan tuan rumah.

Sama seperti rumah-rumah orang kaya pada umumnya, rumah ini dihiasi dengan banyak tas Hermes lukisan. Nah salah satu ruang favorit saya adalah drawing room yang dilengkapi dengan empat lukisan karya pelukis Perancis, Claude Joseph Vernet. Lukisan berjudul, ‘Morning’, ‘Midday’, ‘Sunset’, dan ‘Night’ ini secara khusus dilukis pada sekitar tahun 1750an dan sudah berada di rumah ini selama 260 tahun terakhir.

Salah satu sudut di reading room. Di ujung, di bawah sebuah lukisan terdapat pintu yang tersembunyi. Can you spot it?

Dua hal menarik yang saya temukan disini adalah kursi tamu yang digunakan pada saat penobatan Raja George VI (Ini raja yang difilmkan di King’s Speech). Rupanya, pada saat penobatan Raja Inggris itu kursinya bisa dibawa pulang saudara-saudara. Selain itu ada juga satu set alat untuk mempelajari serangga. Alat tersebut rupanya merupakan hadiah pengantin untuk Marie Antoinette. Rupanya, Marie Antoinette itu suka mempelajari tentang serangga. Bagi saya ini menarik karena Marie Antoinette sering digambarkan sebagai perempuan yang kurang cerdas.

Perpustakaan dengan aneka rupa koleksi buku-bukunya. Konon, ruangan ini dulunya dipenuhi dengan lukisan. Pada jamannya lukisan itu menjadi simbol kekayaan sebuah keluarga.

Rumah ini sendiri sudah bolak-balik mengalami kecurian lukisan dan lukisan-lukisan yang dicuri memang bisa diambil kembali. Banyak dari lukisan tersebut kemudian didonasikan ke Galeri Nasional Irlandia. Nah, nampaknya saya harus kembali ke Galeri Nasional untuk mencari satu persatu lukisan hasil curian tersbut.

Peratan melihat serangga yang jadi hadiah perkawinan Marie Antoinette. Di atas alat ini (tak tampak di foto) ada topi yang khusus di buatkan untuk anjing! Horang kaya, anjing pun dikasih topi khusus.

Yang menyedihkan, yayasan yang berkewajiban mencari dana untuk rumah ini setiap tahunnya selalu defisit sekitar setengah juta dolar. Nampaknya, tiket masuk sebesar 12 Euro per orang, acara tahunan Russborough by candlelight serta sumbangan dari pencinta seni tak bisa mendongkrak pemasukan rumah ini. Akibatnya, beberapa lukisan dari rumah ini terpaksa dilelang dan publik Irlandia pun sudah bolak-balik ribut tapi pemerintahnya tak juga mau mendengarkan.

Salah satu sudut yang dipenuhi dengan plaster ukiran.

Oh ya Russborough by candlelight ini merupakan event tahunan dimana semua lilin-lilin dinyalakan dan kita bisa melihat sendiri betapa megahnya rumah ini di malam hari. Saya sangat ingin kembali ke rumah tersebut pada saat acara ini, karena penasaran dengan sebuah jam dinding. Jam dinding di rumah ini semuanya berasal dari Perancis dan ada sebuah jam (mungkin lebih tepatnya semacam termometer) yang khusus menunjukkan cuaca. Kemarin saat saya berkunjung, “jam” tersebut menunjukkan beau temps. Konon, jam ini memang terlihat lebih indah ketika ada lilin-lilin di bawahnya.

Suvenir: kursi. Ini bisa jadi inspirasi buat orang kaya di Indonesia. Kalau kawinan, kasih saja kursi sebagai suvenir. Biar macam raja ratu Inggris lah.

Sayangnya, tur mengelilingi Russborough House ini hanya selama satu jam saja. Bagi saya, tur tersebut tak cukup. Jika diperkenankan saya bisa menghabiskan seharian untuk memeloti semua benda-benda seni berharga yang tak ternilai harganya. Selain itu, saya juga pengen bertemu dengan hantu yang tinggal di rumah tersebut. Hantu tersebut konon sering berpindah-pindah dari kamar nomor satu hingga nomor sembilan. Jadi penasaran.

Bagaimana akhir pekan kalian?

xx,
Tjetje

Cerita menarik tentang rumah ini juga bisa ditengok di sini sementara galerinya bisa ditengok di sini.

Game of Thrones dan Irlandia Utara

Jika Irlandia terkenal dengan romantisme dan keindahan à la P.S I Love you (Braveheart, Star Wars dan sederet film lainnya) Irlandia Utara lebih dikenal sebagai rumahnya Game of Thrones. Kendati tak menggemari Game of Thrones (karena banyaknya kekerasan di dalam seri ini) kami nekat mengikuti tur khusus Game of Thrones karena tak bisa menolak iming-iming mengunjungi sudut-sudut cantik di Irlandia Utara. Seperti dark hedges ini:

IMG_7934

Deretan pohon-pohon beech ini ditanam oleh keluarga Stuart pada abad ke 18. Pada saat itu, pohon-pohon ini ditujukan untuk memukai para tamu yang akan melewati pintu masuk mansion mereka yang bergaya Georgia. Mansion ini sendiri diberi nama Gracehill House yang sayangnya tidak kami kunjungi. Sudut yang pernah dipakai shooting ini menjadi tempat favorit para turis, akibatnya jalanan ini dipenuhi turis-turis yang selfie di tengah jalan, sementara kendaraan yang akan lewat harus merayap. Coba saja kalau tempat ini ada di Indonesia, dipastikan diujung-ujung jalan ada anak-anak muda membawa tempat sampah, meminta uang kontribusi serelanya. Sementara disini: GRATIS.

Kenekatan kami dan juga Aling (celeb twitter yang dipopulerkan oleh ceritaeka.com dengan hashtag #JodohUntukAling)  mengakibatkan kami tak nyambung dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Tapi ya bodo amat, yang penting lokasi-lokasi yang kami kunjungi cantik walaupun agak muram durja, karena cuaca yang kurang bagus. Saking muramnya, perhentian pertama tempat Ned Stark mengeksekusi entah siapa yang dieksekusi, terpaksa dilewati karena kabut yang terlalu tebal.

Tur seharian yang dipatok seharga lebih dari 50 Euro ini dipandu oleh salah satu pemain figuran Game of Thrones yang sedang libur shooting. Kendati libur shooting, ia tetap memanjangkan janggutnya, karena janggut ini adalah aset yang berharga. Menariknya, di salah satu tempat kami bertemu dengan pemain figuran lain yang juga berjanggut panjang. Saya menduga-duga, semua pria berjanggut di Irlandia Utara adalah figuran Game of Thrones.

IMG_7941

Andrew, guide kami menunjukkan scene dimana dia jadi pemain figuran

Selain dibawa mengunjungi dark hedges, kami juga dibawa mengunjungi rope bridge. Bagi orang yang takut ketinggian seperti saya, jembatan ini jadi satu tantangan tersendiri, apalagi cuaca yang tak jelas dan berangin, rasanya badan seperti akan tersapu angin. Ternyata jembatannya tak terlalu mengerikan, yang mengerikan justru turun dari tangga menuju jembatan tersebut.

Ada batasan maksimal 8 orang yang diperkenankan untuk menyeberang bersamaan, dan tentunya tak boleh ambil selfie di jembatan ini. Nekat selfie bisa kena semprit petugas, tapi sayangnya petugas hanya nyemprit aja. Akibatnya banyak orang yang masih tetap ambil selfie dan menghambat puluhan orang lain yang akan menyeberang. Btw, di bawah jembatan ini juga dikenal sebagai kuburan kamera dan hp. Banyak orang yang kameranya jatuh dan tak terselamatkan lagi.

Belfast -1

Karena ikut tur, waktu kami untuk keliling tak begitu banyak. Jalan pun harus cepat-cepat dan tentunya tak bisa mengambil 1000 selfie #BuatApaCoba.  Saat keluar dari area ini, dua orang dari rombongan kami, termasuk satu orang Indonesia terpaksa ditinggal ke pub lokal untuk makan siang, karena mereka terlambat muncul kembali. Mereka tentu saja dijemput kembali.

Belfast -4

Makan siang tak termasuk dalam harga tur, masih harus rogoh kocek sekitar 8 – 10 pounds untuk pub food. Pub food itu makanan-makanan seperti fish and chips, guinness stew atau chicken goujon. Harga yang ditawarkan sendiri harga normal, tak ada pemalakan seperti di Indonesia. Seusai makan siang, kami dibawa kembali ke area rope bridge, tapi ke sisi yang berlawanan. Rupanya, ada tiga titik yang digunakan untuk shooting GoT. Salah satunya Larrybane yang menjadi lokasi camp King Renly Baratheon’s camp. Lokasi ini sendiri sekarang menjadi lapangan parkir kendaraan-kendaraan turis yang ke rope bridge.

Belfast -3

Dari sini, kami dibawa ke Ballintoy Harbour. Serunya, kami semua diperkenankan untuk menggunakan kostum-kostum sambil terus dijelaskan cerita-cerita dibalik pembuatan GoT dan dipertontonkan cuplikan-cuplikan GoT yang diambil di tempat tersebut. Sayangnya tak semua orang kebagian kostum, apalagi mereka-mereka yang bertubuh besar.

Kendati tempat ini sudah terkenal sebagai tempat shooting GoT, bahkan oleh pemerintah lokal diberi banyak papan-papan yang menjelaskan adegan yang diambil, jalan-jalan di wilayah ini dengan kostum tetap membuat kami jadi bahan tontonan. #KibasRambutBerasaArtis

Belfast -2

Nah kalau ini lokasi tempat pembabtisan Theon. Cakep ya?

Belfast

Selain mengunjungi tempat di atas, kami juga diajak menuju Dunluce castle. Sayangnya kami hanya dibawa melihat dari jauh sambil dijelaskan bagaiaman CGI merubah Dunluce Castle. Bonus tambahan di tour ini adalah jalan-jalan ke Giant Causeway, yang di dalam bahasa Irish dikenal sebagai Clochán an Aifir or Clochán na bhFomhórach. Aduh jangan tanya bagaimana melafalkan kata tersebut. Giant Causeway sendiri merupakan area dengan 40 ribu basalt columns. Bebatuan dengan bentuk hexagon yang terbentuk dari proses pendinginan lava basaltik.

Dengan kondisi yang dingin, berangin serta gerimis, area ini jadi sangat licin. Beberapa petugas berjaga untuk mengamankan orang-orang yang nekat naik ke bagian atas. Seperti biasa, peluit jadi modal untuk mengingatkan mereka. Tapi tak selamanya sistem ini berhasil, banyak juga yang masih nekat naik-naik ke atas.

Saya kemudian ngobrol dengan petugas, menanyakan berapa orang yang jatuh dan mati di Giant Causeway. Tak ada angka yang disebutkan petugas. Tapi yang jelas, banyak kejadian jatuh terpleset atau tersapu ombak karena KEBODOHAN. Obsesi selfie nampaknya menjadi salah satu alasan mereka mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, pencarian harus dilakukan dengan mengerahkan helikopter serta kapal. Menariknya, menurut sang petugas fotografer atau penghobi foto menjadi salah satu kelompok yang paling susah diberitahu dan paling nekat.

Di akhir perjalanan, saat saya akan naik bis kembali ke tempat parkir (disini bis dipatok dengan harga 1 pounds, sebagai alternatif bisa jalan, tapi jaaaaaaauh) saya bertemu dengan rombongan turis Cina yang tentunya tak bisa antri dan asal serobot sana sini. Duh!

Selamat berakhir pekan kawan-kawan. Apa rencana kalian akhir pekan ini?

Menjadi Au Pair di Irlandia

Akhir-akhir ini saya seringkali mendapatkan email dan pertanyaan-pertanyaan tentang menjadi au pair di Irlandia. Saya sebetulnya tak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Irlandia dan hidup di Irlandia jika saya tahu topik yang ditanyakan. Membantu mencari tahu pun akan saya lakukan jika saya tertarik dan tentunya jika saya punya waktu. Tapi dari banyak email yang saya terima ada satu garis besar yang bikin saya gondok: kebanyakan yang pengen jadi au pair ke Irlandia itu gak riset dulu tentang banyak hal, bahkan yang paling mendasar dan asal nanya aja. Mintanya disuapin diberikan petunjuk secara jelas bagaimana menjadi au pair di Irlandia. Daripada saya pusing dan emosi menghadapi orang-orang seperti ini, maka saya putuskan sekalian aja ditulis biar gak ada lagi yang nanya.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita perjelas dulu arti au pair. Au pair yang diambil dari bahasa Perancis ini merupakan orang dari negara asing yang tinggal dan menjadi bagian dari sebuah keluarga dan biasanya membantu mengurusi anak serta sedikit pekerjaan rumah. Sebagai kompensasi, au pair biasanya menerima uang saku dan seringkali diikutkan kursus. Au pair biasanya dibatasi hingga usia-usia tertentu saja. Perlu dicatat, au pair tidaklah sama dengan pengasuh, atau yang lazim disebut sebagai nanny, karena au pair biasanya tidak memiliki kualifikasi khusus.

Sebagai warga negara non-Eropa, menjadi au pair di Irlandia itu ribet. Keribetan utama tentunya urusan visa yang memang tak mudah. Banyak yang bertanya pada saya, visa apa yang digunakan jika ingin jadi au pair di Irlandia? Berhubung saya gak pernah kerja di imigrasi ataupun kedutaan Irlandia, saya pun tak tahu. Tapi saya google dong, karena saya anak rajin dan tak malas #NyinyirModeOn. Dari hasil googling saya, visa yang digunakan seharusnya visa kerja. Dampak dari memberikan visa kerja ini berbuntut panjang pada kewajiban memberikan upah yang layak dan tentunya merembet hingga ke urusan pajak. Untuk informasi saja, upah minimum di Irlandia itu berkisar sekitar 9 Euro per jam.  Jangan dibayangin uang banyak ya, karena ada pajak yang bisa sesak napas kalau lihat hitung-hitungannya. Nah jangan heran kalau host sudah mundur teratur ketika mendengar kata visa dan birokrasi. Kendati sedikit lebih baik dari di Indonesia, birokrasi disini gak kalah ribet.

Desember 2015 lalu, RTÉ, saluran televisi Irlandia (macam TVRI-lah kalau di negeri kita) membuat dokumenter tentang kondisi au pair di Irlandia yang posisinya lemah karena tidak dilindungi oleh undang-undang. Ketidakadaan regulasi ini membuat au pair seringkali dieksploitasi hingga harus bekerja dalam waktu yang panjang, dengan uang saku seadanya dan tak sesuai dengan upah minimum. Kasus-kasus au pair menuntut pemberi kerja karena perlakukan yang tak baik juga tak sedikit, bahkan ada  yang memenangkan kasus dan mendapatkan kompensasi hingga 10.000 Euro. Dari dokumenter itu dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian dari 10.000 au pair disini diperlakukan sebagai budak modern. Tapi orang-orang tak gentar, masih saja mau menjadi au pair dan banyak keluarga masih mau menjadi tuan rumah.

Tak usah heran jika au pair sangat diminati banyak keluarga di Irlandia. Harga penitipan anak di sini luar biasa mahalnya. Menitipkan dua anak selama empat hari kerja saja bisa mencapai 2000 Euro sendiri, ini empat hari kerja lho ya, gak lima hari. Maka tak heran au pair menjadi alternatif penitipan anak yang lebih murah.

Having said that, bukan berarti harus mundur menjadi au pair di Irlandia. Silahkan saja kalau memang benar-benar berniat dan siap tempur dengan birokrasi. Nah daripada ribet ngurusin visa kerja, lebih baik daftar kursus bahasa Inggris saja di Irlandia. Sang host bisa diminta membayari kursus yang kira-kira harganya 3000 – 5000 Euro per tahunnya. Lalu setelah daftar kursus bisa mengajukan visa pelajar ke Irlandia. Ingat ya, cari kursusnya dulu, daftar dulu baru mengajukan visa. Bukan ngajuin visa dulu baru nyari sekolah. Saya jamin visa bakalan ditolak kalau salah urutan.

Model menjadi pelajar bahasa Inggris ini banyak sekali dipakai oleh mereka yang berasal dari Amerika Latin, seperti Brasil. Mereka kemudian belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun dan bekerja sampingan di kedai kopi ataupun restauran-restauran. Satu hal yang perlu dicatat, pelajar di Irlandia hanya diperbolehkan bekerja selama 20 jam saja, tak bisa lebih. Selain itu, bolos kelas juga ada hitungannya tak boleh terlalu rajin membolos. Kalau kerajinan bolos, bisa-bisa seperti anak kos saya yang mendapatkan panggilan penuh cinta dari imigrasi dan disuruh pulang dengan paksa ke negerinya. Jadi, jika menjadi au pair dengan model ini, ada baiknya jadwal bekerja menjaga anak dibicarakan terlebih dahulu supaya tetap bisa menghadiri kelas bahasa Inggris.

Nah sudah jelas kan urusan ribetnya jadi au pai dan cara mengakalinya? Kalau belum jelas, silahkan di google saja, karena saya tak pernah menjadi au pair seumur hidup saya, apalagi jadi au pair di Irlandia. Jadi memberikan jawaban yang spesifik dan teknis akan sangat susah bagi saya. Sekian curhatan di hari Jumat ini dan selamat berakhir pekan!

xx,
Tjetje

Menyusuri Jejak Titanic di Belfast

Beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa museum Titanic itu jelek, tak ada apa-apanya. Tapi saya bersikukuh ingin mengunjungi museum ini, supaya si Aling, turis Indonesia yang lagi di Irlandia ini bisa menemukan cinta, seperti Jack menemukan Rose di atas kapal Titanic.

Berlian abal-abal yang bisa ditemukan di toko suvenir di Museum Titanic. Foto milik Aling, sang turis Indonesia

Kami memilih hari yang salah ke Museum ini, karena hari itu ada Belfast marathon dan jalanan ditutup. Sementara mencari taksi di Belfast itu tak mudah, harus memesan lewat telepon. Alhasil, kami harus berjalan cukup jauh dari perhentian bis. Tak jauh dari museum ini saya melihat papan petunjuk yang bertuliskan “Titanic Museum, 1 m”. Wah girangnya saya karena tinggal semeter lagi. Saking girangnya, saya gak mikir ngapain juga repot-repot pasang petunjuk jika tinggal satu meter lagi. Sampai kemudian suami berkata bahwa itu satu miles, alias 1609 meter lagi. Ah beginilah kalau satu pulau menggunakan dua satuan yang berbeda.

Museum megah ini mematok biaya masuk sebesar 17.50 poundsterling, sementara headset disewakan sebesar 2.50 pounds. Pemesanan bisa dilakukan secara daring ataupun mengantri di loket yang pada saat itu tak terlalu padat. Soal headset, ternyata  semua informasi yang ada di headset tersedia dalam bentuk tulisan asalkan kita tak malas membaca.

IMG_8042

Yang mengesalkan, saat akan naik ke tempat pameran, kami diwajibkan untuk antri dan berfoto terlebih dahulu di studio dengan latar belakang Titanic. Foto yang bisa diambil di akhir tur ini tentunya bukan barang gratisan dan tak murah. Bagi saya, pemaksaan untuk untuk berfoto terlebih dahulu sungguh buang-buang waktu, apalagi ketika harus menunggu belasan orang lain diambil fotonya satu persatu.

Museum ini sendiri dibagi menjadi beberapa lantai. Pameran di lantai pertama, bercerita tentang bagaimana kondisi ekonomi Belfast saat itu dan mengapa industri perkapalan berkembang. Secara singkat, industri perkapalan selain berkembang untuk menyokong perekonomian juga banyak menyokong imigran yang pada saat itu mengadu nasib ke negeri Paman Sam. Nah menariknya, penghasilan terbesar dari kapal-kapal ini bukan dari para orang kaya yang menyewa kamar-kamar ekslusif, tetapi justru dari penumpang kelas ekonomi, seperti Jack itu.

IMG_8007

Peluncuran Titanic yang bikin heboh satu kota Belfast

Selain menceritakan kondisi ekonomi, diceritakan juga bagaimana proses pembangunan Titanic saat itu. Yang menyedihkan, para buruh yang membangun kapal ini selain dibayar dengan upah tak layak juga tak dipikirkan keselamatannya. Para pekerja ini bekerja di atas scaffolding tanpa pengamanan, persis seperti para buruh bangunan di Indonesia yang menari-nari di atas bilah-bilah bambu sembari tertepa angin. Sama persis dengan di Indonesia, kasus pekerja yang meninggal karena jatuh dari ketinggian tidaklah banyak. Untuk merasakan betapa tingginya scaffolding ini, pengunjung juga disediakan replika scaffolding. Tentu saja tak setinggi aslinya, hanya seperempatnya saja. Para pengunjung juga diberi kesempatan menuruni ketinggian untuk melihat dan merasakan suasana kerja pada saat itu. Turunnya menggunakan kereta gantung yang bisa memuat empat penumpang.

Di salah satu sudut museum juga diperlihatkan kamar-kamar untuk penumpang dari kelas-kelas yang berbeda. Jika penumpang kelas utama mendapatkan kamar mandinya sendiri penumpang kelas terendah harus berbagi kamar mandi, konon hanya ada 2 bath tub untuk 700 penumpang. Air yang digunakan untuk mandi pun air asin. Tak hanya itu, ada ruang 3 dimensi yang membawa pengunjung menyusuri masa lalu dan melihat bebera sudut Titanic. Megah sekali.

Seperti kita tahu, Titanic berakhir naas. Lebih dari 1500 orang yang terdiri dari awak kapal dan penumpangnya tewas di balut dinginnya laut Atlantik Utara. Yang lebih mengenaskan, keluarga yang ditinggal tak mendapatkan kompensasi layak dari perusahaan. Bahkan para pemain musik yang bermain musik hingga detik-detik terakhir tenggelamnya kapal ini harus membayar kompensasi kepada perusahaan atas hilangnya seragam. Sadis banget.

IMG_8016

Pesan terakhir dari Titanic

Dari ngobrol-ngobrol dengan petugas yang terobsesi dengan Titanic, pada saat investigasi ada seorang guru yang selamat yang mengatakan Titanic terbelah dua. Tapi pengakuan tersebut tak pernah diindahkan dan White Star Line mengklaim bahwa kejadian ini merupakan kecelakaan yang tak terhindarkan. Akibatnya, keluarga korban tak bisa menuntut banyak kompensasi. Selain itu mereka juga dipaksa menandatangani surat pernyataan tak akan menuntut. Jadi ketika ada teknologi yang membawa manusia melihat ke kedalaman 3800 meter untuk melihat Titanic yang terbelah (dan di museum ini kita bisa melihat rekamannya) mereka sudah tak bisa menuntut lagi. Parahnya, orang-orang kaya yang naik Titanic mendapatkan kompensasi yang lebih besar atas kehilangan barang-barang bawaan mereka yang mungkin jauh lebih berharga dari nyawa penumpang kelas ekonomi. Salah satu barang bawaan yang selamat dari tragedi ini adalah berlian merah muda dari Tiffany, bukan kalung berlian biru milik Ross.

IMG_7995

SS Nomadic, kapal buatan White Star Line yang jadi kapal pengumpan penumpang ke Titanic

Di seberang museum ini terdapat satu kapal kecil, namanya SS Nomadic. Kapal kecil ini merupakan kapal pengumpan yang bertugas untuk mengantar penumpang menuju Titanic dan merupakan kapal terakhir buatan While Line Star yang masih tertinggal. Setelah sempat terbelangkai di Sungai Rheine di Perancis, kapal ini kembali pulang ke Belfast pada tahun 2006. Bagian dalamnya kemudian direstorasi dan kapal ini pun dibuka untuk umum. Harga tiket yang saya sebut di atas sudah termasuk harga tiket masuk ke dalam kapal ini.

IMG_8036

Samson and Goliath; lifting crane yang mencolok untuk membangun kapal.

Satu hal penting yang perlu dilakukan jika berada di museum ini adalah naik wee train seharga 5 pounds. Kereta ini membawa kita menuju beberapa titik penting dari Titanic, dari mulai dry dock dimana Titanic dibangun, hingga hingga Samson and Goliath, landmark kota Belfast berwarna kuning yang cukup mencolok. Berada di komplek Titanic tanpa melihat  landmark ini rasanya seperti makan sayur tanpa garam, kurang  sempurna!

Bagaimana, berminat melihat mengunjungi Belfast?

Makan Pagi di St. George Market Belfast

Seperti pernah saya tulis di postingan ini, Irlandia dibagi menjadi dua. Bagian Utara merupakan bagian Inggris, sementara bagian Selatan, yang lebih lazim disebut sebagai Republik, merupakan negara independen. Jika Republik Irlandia beribukota di Dublin dengan penduduk lebih dari 700ribu jiwa, Belfast, ibukota Irlandia Utara, relatif lebih kecil, hanya berpenduduk 350ribu jiwa. Kecil, kalau menurut standar Indonesia. Perjalanan saya ke Belfast ini sebenarnya dalam rangka membawa turis Indonesia yang ngetop di jagat twitter, dengan hestek #JodohUntukAling. Hestek yang dipopulerkan salah satu travel blogger Indonesia Cerita Eka.

IMG_7636

Belfast sebenarnya tak jauh, hanya 2 jam saja dari Dublin, atau 2.5 jika salah mengambil bis non-express Tak ada perbatasan antara Irlandia Utara dan Selatan, akibatnya saya tak tahu kapan saya sudah masuk di bagian Utara. Satu-satunya informasi yang saya dapat dari telepon genggam yang tiba-tiba berteriak-teriak roaming…roaming…. Internet di dalam bus pun tiba-tiba ngadat. Mungkin ikutan roaming. Cara lain untuk mengetahui saya sudah berada di Utara adalah mencari tahu penggunakan satuan imperial seperti miles, karena di Irlandia menggunakan satuan metrik, seperti kilometer. Sayangnya, saya tak bisa menemukan papan-papan penunjuk ini.

Ada beberapa tempat turistik yang perlu dikunjungi di Belfast, dari mulai museum Titanic, City Hall, Museum Science, lokasi-lokasi pengambilan gambar Film Game of Thrones hingga pasar. George’s Market, pasar akhir pekan yang menawarkan interaksi dengan para seniman lokal dengan karya-karyanya, juga wisata kuliner. Pasar bergaya Victoria ini   ini tak hanya bisa ditemukan di Belfast, tapi juga di Cork, sebuah kota ‘besar’ di Irlandia.

Begini suasana George’s Market di Sabtu pagi itu:

IMG_7628

Dari atas terlihat sangat sibuk, terutama stand makanan. Tak hanya stand makanan, pedagang ikan, lilin, dan aneka rupa pernak-pernik pun juga sibuk menjajakan dagangannya. Bagi orang Indonesia, pasar ini mungkin terlihat tak terlalu sibuk, karena tak terlalu padat tak bisa senggol-senggolan, tapi bagi orang Irlandia pasar ini sudah cukup sibuk.

IMG_7630

Pasar ini sendiri dibangun pada tiga tahap, di antara tahun 1890 hingga 1896. Kendati berusia lebih dari seratus, bangunannya masih kokoh dan megah. Adapun nama bangunan, diambil dari nama sebuah gereja yang terletak tak jauh dari pasar ini.  Pada saat perang dunia kedua, pasar ini juga dipakai untuk menampung jenasah, saat itu tercatat 255 korban dibawa ke pasar ini untuk diidentifikasi. Wah kalau saja pasar ini ada di Indonesia, pasti sudah ada yang menawarkan tur gaib.

IMG_7606

Matahari sedang cantik, langit pun membiru

Tak seperti pasar-pasar di Indonesia, disini menggesek kartu ketika berbelanja sangat dimungkinkan, bahkan tanpa biaya tambahan 3%. Cocok untuk orang Indonesia yang hobi membeli oleh-oleh untuk encing, babah di kampung. Setelah berbelanja oleh-oleh saya sangat merekomendasikan untuk makan di pasar. Kami sendiri memutuskan untuk memesan menu sarapan, walaupun waktu menunjukkan saat makan siang.

Seperti saya tulis di postingan ini, menu sarapan di Utara tidaklah sama dengan di Selatan. Dan karena saya sudah terlalu terbiasa dengan sarapan Selatan, saya tak menyukai sarapan Irlandia Utara. Roti Kentang yang menjadi bagian dari sarapan ini bagi saya bikin tenggorokan sakit, karena kandungan minyak yang rasanya cukup tinggi. Tak hanya membandingkan roti, tapi juga membandingkan rasa sosis. Ya jelasnya rasanya tak akan sama wong yang masak pun tak sama. Kendati sarapannya tak sesuai dengan lidah saya, ada satu hal yang bagi saya jawara, minumannya yang bernama Black Velvet, percampuran prosecco dan Guinness. Rasanya enak dan menyegarkan, sayang porsinya kurang banyak. Eh tapi kalau banyak-banyak nanti dimarahin Uni karena pagi-pagi sudah minum alkohol.

IMG_1839

Sarapan saya yang terdiri dari sosis, pudding, roti kentang, bacon, serta telur setengah matang dan juga black velvet, perpaduan Guinness dan prosecco.

Yang perlu diketahui tentang St. George’s Market:

  • Hari Jumat pasar ini buka pada pukul 6 pagi hingga 2 siang. Fokusnya aneka rupa ikan dari Atlantik. Ada juga barang-barang antik serta  buah.
  • Hari Sabtu, yang saya datangi, pasar buka pada pukul 9 pagi hingga pukul 3, fokusnya makanan dari berbagai belahan dunia, serta kerajinan tangan.
  • Hari Minggu, pasar buka pada pukul 10 – 4, masih menjual kerajinan, makanan dan juga barang-barang antik.
  • Ada bis gratis setiap 20 menit dari pusat kota. Bis berangkat jam 8 pagi  pada hari Jumat dan pada pukul 9 di hari Minggu.

Jadi sarapan apa tadi pagi?

xx,
Tjetje

Santy Claus

Di Irlandia, negara yang mayoritas penduduknya Katolik ini, perayaan Natal selalu meriah. Pusat-pusat kota dihiasi dengan lampu-lampu cantik sehingga membuat musim dingin yang kelabu menjadi sedikit lebih menyenangkan. Tak hanya dipenuhi dengan undangan untuk belanja hadiah-hadiah Natal bagi mereka yang terkasih, Natal juga menjadi ajang berbagi bagi yang kurang mampu. Pusat kota dipenuhi dengan sukarelawan dari berbagai organisasi, dari yang fokus pada anjing hingga gelandangan. Tak hanya membawa kotak-kotak permintaan sumbangan banyak dari mereka juga menyanyikan lagu-lagu Natal untuk menarik sumbangan.

Selain berbagi, tradisi lain yang sangat kental di Dublin adalah melihat boks bayi yang menggambarkan kelahiran Yesus, dari yang statis hingga yang bisa bergerak sendiri. Tradisi ini, kendati terdengar kuno, masih dijalankan oleh banyak keluarga. Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menengok Dublin moving crib.

View this post on Instagram

I visited that famous #Dublin #Movingcrib

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Selain berbagi, Natal juga identik dengan Santa Claus. Di Irlandia, Santa berubah nama menjadi Santy Claus. Urusan perubahan nama ini tak penting, karena toh Santa, atau Santy hanya ada dalam imajinasi anak-anak. Bicara tentang  imajinasi, disini (dan juga di banyak negara) orang tua dan juga institusi resmi menanamkan dengan kuat keberadaan Santy. Dalam bahasa saya sih: seluruh elemen di Irlandia bekerjasama bersama untuk membohongi anak-anak untuk mempercayai Santa hingga tak ada ruang untuk tidak mempercayai bahwa Santa tidak ada.

Kantor Pos Irlandia misalnya, meletakkan sebuah kotak pos di dekat pintu utamanya yang dikhususkan untuk Santa. Kotak pos yang diletakkan di depan pohon Natal ini setiap harinya dipenuhi dengan aneka rupa surat permohonan dari anak-anak di Irlandia. Entah berapa jumlahnya, tapi kalau saya mau ambil perkiraaan, satu persen saja dari jumlah anak-anak di Irlandia, maka setidaknya ada 10ribu surat untuk Santa. (Catatan: 25% penduduk Irlandia adalah anak-anak; jumlah mereka tahun 2011 lebih dari 1 juta jiwa dan Irlandia merupakan negara dengan populasi anak tertinggi di Eropa). Jangan dibahas lagi berapa banyak kertas yang terlibat, apalagi pohon yang tertebang.

Bagi saya kotak pos itu sangat mencengangkan. Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang kenalan dari Amerika Latin (yang sama kagetnya dengan saya), Menteri di Irlandia pun pernah ikutan bohong tentang keberadaan Santa secara resmi. Menteri ini pada tahun 2013 meyakinkan anak-anak bahwa kementeriannya memastikan Santa akan datang ke Irlandia. Kementerian juga menambahkan bahwa Santa tidak akan dikenakan biaya kelebihan bagasi serta dibebaskan dari visa. Tak hanya Santa, logistik untuk Rudolph juga telah disiapkan. Berita ajaib ini dimuat di dalam koran dan bisa dibaca disini. Kenalan saya ini juga mengatakan bahwa radio di Irlandia menjelang Natal akan memutar suara kereta Santa untuk semakin meyakinkan kedatangan Santa pada saat Natal.

santa does not exist

Maka jangan heran jika jendela rumah di Irlandia dipenuhi ajakan dan hiasan bagi Santa untuk mampir. Beberapa poster kecil bahkan menuliskan nama anak-anak yang tinggal di rumah itu. Agak mengerikan bagi saya, karena penculik anak bisa dengan mudahnya mengetahui nama anak. Worth it kah kebohongan ini mengingat satu hari nanti, ketika anak-anak yang polos ini beranjak lebih besar, mengetahui bahwa Santa tak pernah ada. Mereka akan patah hati dan kecewa, karena imajinasi serta harapan-harapannya ternyata hanya tipuan orang tua dan institusi di sekitar mereka. Mereka akan mengetahui bahwa Guinness (di banyak tempat Santa diberi susu, tapi di beberapa rumah, Santa diberi Guinness!!!), kue kering serta wortel yang disiapkan untuk rombongan Santa ternyata dimakan oleh Bapaknya. Bahwa kekacauan disekitar cerobong asap disiapkan oleh ibunya. Dan tentunya hadiah-hadiah yang hanya boleh disentuh pada pukul tujuh pagi ternyata bukan dari Santa, tetapi dari orangtuanya.

Tapi konon, semua ini sepadan dan merupakan pembelajaran yang berarti, karena hidup pada dasarnya dipenuhi dengan imajinasi, patah hati, kebohongan dan kekecewaan. Dan saat yang tepat untuk belajar tentang ini semua ya pada usia dini. Yang jelas, bagi sebagian besar orang tua, kebohongan ini sangat berguna karena bulan ini, mereka dengan mudahnya bisa membuat anak mereka menurut. Jika tak menurut, mereka cukup  mengancam tidak akan ada hadiah dari Santa untuk  anak nakal. Hanya pada bulan Desember saja, karena setelah Natal, anak-anak bisa kembali tidak menurut.

Pernah percaya Santa?

Xx,

Tjetje

Lagi repot lihat Santa Tracker