Nostalgia Kereta Ekonomi

Bulan Januari empat tahun yang lalu, saya dan teman-teman yang tergabung dalam Couchsurfing memutuskan jalan-jalan ke Badui. Kami mengambil kereta api kelas ekonomi jurusan ke Rangkasbitung yang biayanya 2000 rupiah saja. Saat itu, saya melanggar “sumpah” untuk tidak naik kereta api ekonomi tanpa AC lagi. “Sumpah” itu sendiri timbul setelah saya dan teman-teman naik kereta api murah meriah ke Bogor dan terpaksa mandi sauna diiringi suara teriakan pedagang minuman yang mendorong trolleynya di tengah kepadatan penumpang kereta. Konon, kalau pedagang minuman ini masih bisa mendorong trolley minumannya, maka kereta belum penuh.

Stasiun Kereta Api Rangkas Bitung

Anak kecil bersepeda di dekat rel kereta api di Rangkasbitung

Kembali lagi ke cerita kereta menuju Rangkasbitung, kereta ini tenyata berbeda dengan kereta lainnya. Keretanya sih sama-sama bau, panas tanpa AC, tapi orang-orang di dalamnnya membuat suasana kereta ini menjadi berbeda. Belum sampai lima menit saya masuk ke kereta, sudah ada mas-mas yang menawarkan tempat duduknya kepada saya dan seorang teman. *iya serius nggak boong!!*. Tak sampai lima belas menit menikmati duduk di kereta yang panas, diiringi music dangdut super kencang, saya berdiri memberikan tempat duduk saya untuk seorang kakek. Malu hati. Tapi kurang dari 30 menit kemudian, saya mendapatkan kursi lagi, kali ini dari seorang perempuan. Si Mbak ngotot ingin memberikan kursinya dan hendak berdiri, karena kepanasan dan ingin berdiri, menikmati semilir angin dari jendela kereta. Oh indahnya kebersamaan dalam kereta, seandainya penumpang TransJakarta bis seperti mereka, Jakarta akan berbeda. *boro-boro kursi, tiang untuk pegangan saja terkadang dikuasai sendiri, kalau sudah begitu saya rasanya ingin teriak memaki: bekas penari telanjang yang nari-nari di tiang ya Mbak? Tiang aja dimonopoli sendiri*

Dua orang pengamen anak-anak, yang seorang perempuan berusia sekitar 7-8 tahun, duduk manis, dengan speaker di pangkuannya, sedangkan sang adik yang berusia sekitar 5 tahun duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, jika tidak sedang menyanyi, si adik kecil ini mengunyah tahu, salak atau meminum minuman yang dijajakan pedagang asongan. Mereka duduk dengan manisnya  dan terus menerus menerima uang tanpa perlu berjalan-jalan. Setelah satu lagu diputar, digantilah kasetnya dengan kaset lainnya. Tangan kirinya memegang microphone sembari menyanyi, sedangkan tangan kanannya sibuk memegang tutup bolpen dan memutar pita kaset. Perempuan kecil itu menyanyi, bergantian dengan adiknya, terkadang beberapa pria juga ikut menyanyi.

Seorang pria yang duduk di samping adik kecil, tampak sibuk mengigiti bagian bawah sebuah kantong plastik, lalu menuangkan minuman berwarna merah tua tersebut ke dalam sebuah gelas plastik. Setelah itu, diberikannya gelas plastik tersebut kepada segerombolan pria yang sibuk bermain kartu domino. Tak lama, gelas tersebut dikembalikan lagi pada pria dengan plastik itu, diisi kembali, lalu diedarkan untuk dihabiskan. Rupanya, aktivitas yang sedang saya lihat adalah perdagangan anggur merah di atas kereta api, tentunya bukan Red Wine Australia, South Africa apalagi Bordeaux. Jangan bayangkan ada banyak gelas, hanya ada satu gelas yang berpindah dari satu bibir ke bibir yang lain. Dari pengamatan saya, anggur tersebut dijual seharga dua ribu rupiah, tidak per gelas, tapi untuk 1/6 bagian. Sang pedagang anggur ini cukup ‘dermawan’, ia membagi sebagian uangnya untuk adik kecil pengamen.

Konsumen dari perdagangan anggur ini adalah segerombolan pria muda yang sibuk bermain kartu domino. Kegiatan ini melibatkan tak hanya uang sebagai taruhannya, tetapi juga topi di kepala dan pakaian yang melekat di badan. Gerombolan tersebut bukan satu-satunya, di sisi yang lain, juga terdapat sekelompok pria yang lebih berumur dan sibuk bermain domino. Kertas koran menjadi alas permainan agar kartu-kartu tersebut tidak tercecer. Tetapi tidak ada uang yang menjadi taruhannya, apalagi pakaian, ataupun topi. Mungkin juga uangnya tak terlihat.

Di tengah padatnya kereta, pedagang tahu sibuk berteriak-teriak menjual dagangannya, bersaing dengan pedagang salak. Semakin mendekati tujuan kami, harga yang ditawarkan tidak berubah, masih sama, tapi kuantitas yang diberikan semakin tinggi. Hingga mencapi 5000 rupiah untuk 40 buah tahu. Begitu juga dengan buah salak. Bahkan seorang pedagang alpukat bersedia menjual seluruh dagangan sisanya yang berjumlah sekitar 7 buah seharga 5000 rupiah saja. Oh, kereta api, sungguh murah meriah dan dipenuhi dengan aneka rupa perilaku manusia!

Tulisan yang pernah saya muat di Multiply saya empat tahun lalu tentunya tidak relevan untuk menggambarkan kondisi perkeretapian kita hari ini, yang katanya jauh lebih baik. Tetapi, pengalaman ini punya ruang khusus di hati saya, mungkin karena saat itu saya bisa memuaskan mata melihat aneka rupa perilaku manusia. Pada saat yang sama saya juga sedih melihat orang kecil berjudi, pedagang alkohol berjualan di depan anak kecil dan tentunya lebih sedih lagi melihat dua anak kecil berjuang menghadapi hidup anak-anak jalanan, tanpa orang tua yang melindungi mereka. Kendati ekonomis, penumpang kereta itu hatinya tak ekonomis. Mereka yang lelah, tetap mau berbagi duduk, baik kepada perempuan maupun maupun lawan jenis. Sungguh pemandangan yang jauh berbeda dari gerbong komuter khusus perempuan, yang konon sangat kejam, tanpa hati. Semoga kita, terutama para perempuan-perempuan yang kerap dituduh lebih kejam (kalau urusan kursi di kereta), bisa belajar untuk lebih baik dari para penumpang ekonomi dua ribuan itu.

xx,
Tjetje
Advertisements

Menyalahkan Korban

Beberapa waktu yang lalu saya menulis dua hal aneh yang saya dengar di dalam satu minggu, di postingan itu saya menuliskan tentang perempuan asing yang dilecehkan ketika sedang menikmati sebuah pantai di Timur Indonesia Indonesia. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini. Kebiasaan saya ketika menulis adalah menyebarkan tulisan saya ke sosial media i.e facebook dan twitter. Komentar-komentar yang saya dapatkan di facebook kadang lebih seru daripada komentar di blog; entah kenapa.

VictimBlaming1_printsize-1

Salah seorang kenalan saya berkomentar bagaimana perempuan tersebut tidak menghormati aturan setempat, untuk tidak berbikini. Benarkah ada aturan untuk tidak boleh berbikini di sebuah pulau kecil yang jauh di Ambon? Cottagenya pribadi, pulaunya secluded, masak iya dilarang berbikini? Sayangnya setelah saya tanyakan kebeberapa orang, informasi ini tidak bisa diverifikasi. Jikalaupun ada aturan yang melarang orang berbikini, apakah kemudian perempuan ini berhak dilecehkan hanya karena mengenakan bikini di pantai?

Sebagai perempuan, ketika mendengar perempuan lainnya dilecehkan, saya tak hanya bersimpati tapi juga berempati. Perempuan manapun, tak hanya perempuan, manusia manapun, termasuk pria maupun transjender, saya yakin tak mau menjadi korban pelecehan.

Dalam ilmu psikologi memang ada sebuah gejala menyalahkan korban. Baik itu korban kemiskinan, korban pemerkosaan, pelecehan maupun korban kriminal lainnya. Perilaku menyalahkan korban ini, buat saya tidak menyelesaikan masalah dan tidak memberikan solusi, karena selalu dimulai dengan kata ‘Jika’. Jika hari itu perempuan itu mengenakan karung beras sekalipun, tidak akan bisa dijamin bahwa dia tidak akan dilecehkan. Mereka akan tetep datang, tetep minta foto, tetep nyolek-nyolek dan tetep menembakkan senjata ke udara. My point, pelecehan perempuan itu tidak bergantung pada apa yang dikenakannya, tapi terletak pada niatan dari para pelaku pelecehannya.

Dari hasil baca-baca sekilas, orang-orang yang menyalahkan korban itu merasa dirinya tidak sama dengan korban dan merasa hal itu tidak akan pernah bisa terjadi kepadanya.  Kalau bahasa kerennya sih, bad things happen to bad people, while good things happen to good people. Parahnya, perilaku menyalahkan korban membuat korban malas mengaku atau melaporkan tindakan kriminal pada pihak berwajib. Kalau sudah begini, kriminal akan tetap berlangsung karena pelakunya melenggang bebas tanpa ada yang melaporkan.

Apa yang harus kita lakukan jika berhadapan dengan orang yang menyalahkan korban? Lawan dan jelaskan. Orang-orang yang menyalahkan korban itu tak tahu bahwa perilakunya salah dan punya dampak yang tidak baik. Jika kebetulan mereka menyalahkan korban di depan si korban, jelaskan juga pada korban bahwa kejadian tersebut bukan karena kesalahan korban.

Punya tips lain untuk tidak menyalahkan korban?

Hukuman Mati

Tahun 2008 yang lalu saya pernah menulis tentang hukuman mati di blog multiply. Ketika itu, Sumiarsih dan Sugeng, pelaku pembunuhan satu keluarga di Surabaya dieksekusi mati. Sumiarsih serta anaknya, Sugeng, melakukan pembuhan karena urusan hutang piutang yang hanya puluhan juta; mereka menghabisi sebuah keluaga, termasuk bayi di dalam kandungan, kecuali seorang anak yang kebetulan sedang mengikuti pendidikan militer. Tak hanya melibatkan anaknya, Sumiarsih juga melibatkan suami serta mantunya; saya nggak habis pikir gimana sebuah keluarga bisa merencakana pembunuhan? gimana ngobrolnya? Di Malang, kasus ini menjadi terkenal karena korban pembunuhan dibuang di Songgoriti, sebuah area di daerah Batu; jaman itu Batu masih merupakan bagian dari Malang. Setiap kali melewati belokan tempat pembuangan jenasah, mobil-mobil selalu membunyikan klakson dua kali. Makanya kasus ini lengket banget di kepala saya.

Balik lagi ke postingan saya, Ketika itu saya menuliskan ketidaksetujuan terhadap hukuman mati; apapun bentuknya, baik yang dianggap hukuman mati ‘terbaik’ hingga hukuman mati terburuk. Ada banyak bentuk hukuman mati yang masih dipertahkan diberbagai belahan dunia, dari ditembak, disuntik dipancung hingga dilempar batu. Mungkin hukuman mati yang dijalankan di jaman sekarang dianggap ‘lebih baik’ karena tak ada lagi metode hukuman mati diinjak gajah, metode kursi kejam Spanyol atau metode Inggris hang, drawn and quartered.

Apapun caranya, menurut saya, hukuman mati tak ada yang friendly dan tak ada yang terbaik, semuanya kejam. Karena kekejaman itulah dan pastinya karena penghormatan pada hak asasi manusia yang tercatat pada UN Declaration of Human Rights, terutama atas hak hidup dan hak untuk tidak disiksa, kebanyakan negara-negara maju di Eropa telah menghapus hukuman mati. Sayangnya, Amerika, Asia serta daerah negara-negara Arab masih menerapkan hukuman mati.  Menurut riset saya (baca: googling) Asia justru tercatat sebagai negara yang banyak menjalankan hukuman mati; Indonesia, Cina, Bangkok, Jepang, Malaysia adalah beberapa negara di Asia yang menerapkan hukuman mati.

Kebanyakan orang menganggap hukuman mati menjadi layak ketika pelakunya saat itu terbukti melakukan dosa besar seperti pembunuhan maupun mengedarkan narkoba; di negeri ini korupsi belum atau tidak dikategorikan sebagai dosa besar. Bagi sebagian orang, serta bagi hukum di negeri ini, pelaku kejahatan tersebut layak dihukum mati karena sistem keadilan tak dapat mengampuni mereka (atau karena Presidennya tak mau mengampuni mereka). Berbeda dengan mereka, saya memiliki cara lain melihat hukuman mati. Bagi saya negara sebagai penyedia sistem keadilan tidak berhak menghukum mati, apapun alasannya.

against-death-penalty

Selain itu, hukuman mati adalah siksaan kejam karena orang disiksa secara psikologis untuk menunggu kematian. Dari hari diputuskan bersalah dan dihukum mati hingga hari eksekusi pelaku kejahatan sudah tersiksa dengan ketakutan eksekusi. Kekejaman ini masih ditambah dengan cara eksekusi yang kadang-kadang salah. Silahkan digoogle cerita suntikan mati yang gagal membunuh dengan cepat seorang terpidana hukuman mati di Amerika.

Pengedar narkoba memang kejam begitu juga dengan pembunuh 42 orang, tapi apakah negara perlu berlaku sama kejamnya dengan mereka? Ketimbang menghukum mati, negara harusnya memberikan kesempatan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan untuk berubah dan bertobat. Bukankah manusia layak mendapatkan kesempatan kedua? Kalau mau dilihat secara lebih rumit lagi, pengedar narkoba, misalnya, adalah korban dari kegagalan negara untuk menyediakan pekerjaan dan pendidikan yang layak. Banyak Ada kurir narkoba yang mau menjadi pembawa narkoba karena tidak tahu (karena bodoh) dan juga karena miskin. Kemiskinan, menurut saya adalah dosa negara.

Kelemahan lain dari hukuman mati adalah hukuman mati tak bisa ditarik kembali jika ada novum atau bukti baru. Apa jadinya jika seseorang yang sudah dieksekusi di kemudian hari terbukti tidak bersalah karena ada teknologi baru yang bisa membuktikan? Negara tentunya tak akan mungkin membangunkan orang yang sudah dieksekusi dari dalam tanah kubur. Ini pernah kejadian lho.

Hukuman mati selalu dilihat sebagai bagian dari konsep ‘an eye for an eye’, orang yang mengambil nyawa orang lain pantas dicabut nyawanya. Tapi bagi saya, ketika seseorang terbukti melakukan ‘dosa besar’, tidak selayaknya negara melakukan dosa yang sama, hanya demi ‘keadilan’. Gandhi pernah berkata an eye for an eye will make the whole world blind; saya setuju dengan Gandhi. Kamu setujukah dengan Gandhi?

 

Xx

Tjetje

Milih Jokowi, Dibully

Pemilu sudah lama selesai, hasilnya sudah diumumkan dan pemerintah yang baru sudah mulai menjalankan tugasnya. Tapi bagi sebagian orang kehebohan dan drama paska pemilu masih harus dilanjutkan dengan membully para pemilih Jowoki, karena keputusan mereka untuk memilih Jokowi. Sekarang, saat kondisi politik sedang bergejolak merupakan waktu yang paling tepat untuk membully para pemilih Jokowi.

Saya tak akan membahas politik dan kebijakan-kebijakan Jokowi karena blog ini bukan blog politik.  Yang akan saya bahas adalah perilaku manusia yang suka menyalahkan orang lain karena menjalankan hak dan kewajiban politiknya untuk memilih Presiden.

Setiap manusia yang sudah cukup umur di negeri ini bebas memilih siapapun yang dirasa pantas dan layak menjadi pemimpin negara. Sekali lagi, bebas memilih siapa saja. Hak politik ini dilindungi dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Sayangnya, tak semua orang memahami konsep kebebasan ini. Bagi sebagian orang, menyalahkan orang lain karena pilihannya tak sesuai dengan pilihan mereka merupakan suatu hal yang patut dilakukan.  Tak cuma menyalahkan, tapi juga menghina, menertawakan serta membodoh-bodohkan. Situasi ini bagi saya menyedihkan, karena manusia satu merasa lebih cerdas dan lebih benar daripada manusia lain hanya karena pilihan politik. Disisi lain, ini tandanya belum ada kedewasaan dari sebagian pemilih untuk menghargai pilihan orang lain.

Lucunya, mereka yang memilih Jokowi seakan-akan dilarang mengkritisi keputusan dan kebijakan Jokowi. Lha kalau orang pacaran aja boleh saling mengkritik, mengapa pendukung Jokowi tak boleh mengkritik Jokowi? Kalau menurut saya justru pendukung Jokowi harus menjadi pengkritik yang paling pedas, karet lima.

Saya mencoba menerka-nerka mengapa orang menyalahkan dan bahkan membully pemilih Jokowi? Pertama tentunya karena mereka adalah target empuk dan target paling mudah untuk disalahkan ketika kebijakan Jokowi nyeleneh. Sosial media juga membuat bully-mebully menjadi hal yang mudah.  Kedua, saya melihat adanya amarah yang masih belum juga selesai, grudge, karena pemimpin terpilih adalah pemimpin yang tak sesuai kata hati mereka. Kekesalan ini terpendam dan siap meletup pada saat yang dirasa tepat. Hanya disaat yang mereka anggap tepat; saat kebijakannya tepat dan sesuai, jangan harap mereka akan melempar pujian.

Menurut saya, kepuasan pribadi karena berhasil menyalahkan orang lain adalah hal yang dicari dari membully orang. Ada ego pribadi yang secara tak langsung berkata, I am right while you are wrong. Padahal belum tentu juga mereka benar, tapi tetep mereka harus merasa benar demi kepuasan dan egonya. Apakah itu berarti mereka tak puas dalam kehidupan pribadinya? Mungkin saja, silahkan dilakukan riset bagi yang berminat.

Bagi saya, orang-orang yang punya waktu untuk membully orang lain adalah orang-orang yang patut dikasihani, karena itu berarti mereka punya banyak waktu yang bisa disia-siakan. Padahal waktu mereka bisa digunakan dengan baca hal-hal positif seperti melaukan pekerjaan, mengerjakan hobi atau bahkan berdoa. Coba kalau mereka punya pekerjaan yang membuat mereka sibuk, atau mungkin punya orang tersayang yang membuat mereka repot dengan hal-hal romantis, mereka gak akan membuang waktu dengan melakukan bullying kan?

regret

picture from coolnsmart.com

Bagaimanakah bereaksi terhadap pelaku bully? Reaksi terbaik adalah cuek karena orang-orang yang hobby membully ini punya banyak waktu yang bisa dibuang. Perlu dicatat juga mereka menginginkan perhatian dan reaksi balik. Ketimbang repot-repot menanggapi orang-orang kesepian dan butuh perhatian, lebih baik menghabiskan waktu yang lebih menyenangkan untuk membaca, ngurusi blog, atau bahkan hura-hura bersama Syahrince. Teorinya sih begitu, tapi prakteknya saya gak segan melawan bullying yang ga sehat, dari teman atau bahkan saudara sekalipun.

Berbeda pendapat dan berbeda pilihan itu wajar karena hal tersebut merupakan bagian dari demokrasi. Tapi kalau sudah sampai pada tahap tak menghormati pilihan orang, menghina-dina, bullying, rasanya komunikasi dan bahkan hubungan pertalian lebih baik dihentikan daripada tak sehat bagi diri sendiri. Nggak worth it. 

Jadi siapa yang pernah dibully gara-gara Pemilu?

 

xx,

Tjetje

Cerita Hujan

Dulu jaman sekolah kita diajarkan bahwa hujan akan mengguyur Indonesia di bulan-bulan yang berakhiran “Ber” seperti September, Oktober, November dan Desember. Itu dulu, sekarang, hujan di Indonesia tak bisa diprediksi. Bulan November dan Desember diwarnai sedikit atau bahkan tanpa hujan, sementara bulan January dan February selalu diguyur hujan deras.

Hujan bagi sebagaian orang yang berprofesi sebagai petani adalah berkah. Petani bukan satu-satunya orang yang bersyukur jika hujan tiba, adik-adik penjaja jasa sewa payung, atau yang biasa kita sebut ojek payung juga dengan riang gembira menyambut hujan. Sementara, di sudut Jakarta lainnya pemilik gerobak bersorak gembira ketika hujan semakin lebat dan air mulai menggenang, atau bahkan banjir. Hujan membawa rejeki bagi mereka.

Sebaliknya, mereka yang tinggal di daerah rawan banjir menganggap hujan sebagai musibah. Ancaman air bah bisa datang kapan saja untuk menyapu harta benda mereka. Banjir juga datang dengan aneka rupa penyakit, termasuk leptospirosis. Pegawai kantoran di Jakarta, seperti saya, juga melihat hujan sebagai sumber masalah. Tak hanya membuat rencana makan siang gagal, akibat hujan yang rajin datang menjelang makan siang, hujan juga menyebabkan kemacetan luar biasa. Sebenarnya, hujan tak menyebabkan kemacetan, hanya menyebabkan genangan air di beberapa titik. Genangan inilah yang bikin kendaraan berjalan lebih pelan dan menyebabkan kemacetan. Area kemacetan tak hanya berada di sekitaran genangan air tapi juga di bawah jembatan, karena jembatan dipenuhi oleh pengendara sepeda motor yang berteduh. Tak hanya mereka yang naik sepeda motor yang sengsara, pengguna taksi macam saya juga kesulitan mencari taksi. Antrian taksi bisa mencapai ratusan lebih jika Jakarta diguyur gerimis sekitar jam lima sore.

jakarta

Cantiknya Jakarta kalau kering

Profesi-profesi unik yang berkaitan dengan hujan tak hanya ojek payung dan gerobak banjir saja, tapi ada jasa menghentikan hujan, alias pawang hujan. Beberapa tahun lalu, ketika mengadakan acara di kawasa Nusa Dua Bali, saya menggunakan jasa pawang hujan agar acara berlangsung lancar. Menariknya, pawang hujan yang saya pesan melalui hotel memberikan garansi uang kembali jika hujan turun. Di kasawan Nusa Dua, jasa pawang hujan boleh ditawarkan, tak seperti daerah suburb Australia Kuta yang melarang penggunaan pawang hujan.

Menurut pegawai hotel di Nusa Dua, ada dua cara menghentikan hujan, tradisional dan modern. Cara tradisional dilakukan dengan upacara kecil dan  memberikan sesajian, sementara cara modern dilakukan dengan menembakkan laser ke awan untuk memecah awan. Dampaknya memang tak ada hujan di wilayah acara, tapi mungkin hujannya bergeser ke arah lain.

Naifnya, saya berpikir bahwa jasa penghentian hujan ini bisa dipesan dimana saja. Makanya ketika menyiapkan pesta di Irlandia, saya minta jasa penghentian hujan supaya kami masih bisa melakukan acara di luar hotel. Bukannya dapat pawang hujan, saya malah diketawain oleh pegawai hotel.

Selain menggunakan jasa pawang hujan, konon kita bisa menghentikan hujan sendiri bermodalkan celana dalam. Konon celana dalam ini cukup di lempar di atas genteng dan hujan akan berhenti. Ada juga teknik lain yang lebih murah karena hanya memerlukan bawang merah, cabe serta sapu lidi. Sapu lidi dibalik menghadap ke atas, lalu cabe dan bawangnya diletakkan di atas sapu lidi. Teknik ini pernah saya coba ketika ada acara di rumah dan berhasil. Tapi apakah keberhasilan itu dikarenakan si sapu lidi? Kemungkinan besarnya sih tidak, karena saya tak sesakti itu.

Have a nice week everyone and please stay dry!

xx,

Tjetje

Belanja di Lotte Duty Free Jakarta

Terminal Internasional Bandara Soekarno-Hatta tak punya banyak toko bebas pajak, atau lazim disebut Duty Free, seperti di Dubai. Walaupun tokonya sedikit tak banyak dari kita yang benar-benar bisa belanja dengan puas karena kita (atau jangan-jangan cuma saya) selalu berkejaran dengan waktu. Waktu yang seharusnya bisa dihabiskan untuk berbelanja à la Syahrini terpaksa habis untuk menembus macetnya Jakarta. Tak hanya habis di jalanan, waktu juga banyak terbuang untuk menunggu antrian pada saat check-in maupun pemeriksaan imigrasi. Jadi jangan heran kalau toko-toko bebas pajak di bandara relatif sepi ketimbang di negara lain.

Mungkin ini sebabnya Lotte Avenue, sebuah mall milik konglomerat Korea Selatan yang terletak di Mega Kuningan, menawarkan Duty Free di tengah kota. Tak perlu berkejar-kejaran dengan waktu dan bisa bebas belanja apapun selama kantong dan tangan kuat. Kantong kuat membayar dan tangan kuat mengangkat belanjaan.

Lotte

Bagi warna negara Indonesia, jika ingin belanja di Lotte tak perlu membawa uang sepeserpun, cukup berbekal passport dan copy ticket (atau tiket elektronik). Kita juga gak perlu repot-repot dandan cantik dan menyasak rambut sampai setinggi langit supaya bisa dilayani dengan baik dan ramah. Pengalaman pribadi membuktikan pegawai Lotte Duty Free tetap melayani dengan baik bahkan melempar senyum kendati saya masuk toko ini mengenakan sandal gunung dengan rambut setengah basah sambil memanggul tas gym yang super besar. Coba masuk mall lain, alamat gak bakal dilirik.

WNI tak bisa langsung berbelanja di Lotte Duty Free dan hanya bisa melakukan pemesanan. Semua barang yang dipesan baru bisa diambil dan dibayar di terminal 2E bandara Soekarno-Hatta; layanan pengambilan barang hanya ada di terminal 2E dan tak tersedia di terminal 3.

Standar harga di Lotte Duty Free adalah dollar, tapi tapi untuk pembayaran bisa dengan rupiah, sesuai nilai tukar mereka di hari pembayaran. Barang-barang di Lotte tak selamanya lebih murah daripada di mall Jakarta, kadang bisa lebih mahal, tergantung nilai tukar rupiah. Tetapi ada juga barang yang sekuat-kuatnya nilai tukar rupiah, akan tetap lebih mahal. Lipstick MAC contohnya; harga di Lotte Duty Free selalu lebih mahal daripada harga di counter Plaza Senayan (PS).  Tapi, MAC di di Lotte menawarkan warna-warna lipstick yang tak ada di counter PS. Kalau MAC Indonesia gak pernah memberikan diskon, MAC Lotte Avenue pernah mendiskon sebagian kecil produknya hingga 50%.

Selain menawarkan kosmetik, Lotte Duty Free juga punya barang fashion, termasuk merek-merek Korea. Pilihan merek fashionnya nggak sebanyak komestik dan koleksinya agak ketinggalan. Koleksi yang ketinggalan trend ini sayangnya tak dibarengi dengan harga yang bersahabat. Jatuhnya suka lebih mahal daripada sista-sista online yang jualan barang ori dari Amerika. Hanya ketika diskon gila-gilaan, 50-70%,  Duty Free ini berasa seperti Duty Free pakai banget.

Perlu dicatat, kita selambat-lambatnya hanya bisa belanja tiga sampai empat jam sebelum jadwal penerbangan karena barang pesanan selalu diantar dari Mega Kuningan ke Bandara. Dipikir-pikir gak efisien juga, mereka kan punya toko di Bandara, kenapa gak ambil stok dari bandara aja ya? Lha kalau ada yang order lipstick sebatang, untungnya bakalan abis untuk bayar biaya antar ke bandara dong ya?

Bagi yang suka plin-plan, proses membatalkan barang bisa dengan mudah dilakukan, tinggal bilang batal atau barangnya gak usah dibayar. Tapi, kalau pengen membatalkan satu barang di dalam struk yang berisi beberapa pesanan nggak bakalan bisa. Either batalin semua, atau bayar semua. Jadi kalau ragu-ragu, sebaiknya pesanan dibagi-bagi menjadi beberapa struk. Biar mudah kalau pengen membatalkan.

Gimana, berminat belanja disini?

Tjetje

Nggak lagi buzzing lotte avenue

Melihat Gili Dari Kacamata Sosial

Lima tahun lalu di Gili Trawangan saya bersumpah jika kembali lagi tak akan mau naik Cidomo. Ketika itu, kuda kecil yang disewa oleh penyelenggara jalan-jalan, harus mengangkut beberapa orang melintasi beberapa sudut pulau yang tertutup pasir. Jalan di atas pasir itu susah, apalagi menarik manusia. Cidomo sangat populer tak hanya di Lombok, tapi juga di Gili Air, Meno dan Trawangan yang tak punya kendaraan umum. Pengunjung Gili, yang kebanyakan turis asing, biasanya berkeliling pulau dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Hanya orang Indonesia yang rajin keliling naik Cidomo, mungkin malas jalan. Sementara orang lokal menggunakan sepeda listrik sebagai alat transportasi.

image

Akhir tahun kemarin, saya kembali ke Gili, kali ini Gili Air. Statistik menunjukkan Gili Air memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi ketimbang Gili Trawangan, tapi faktanya, Gili Air jauh lebih tenang dari Gili Trawangan. Seperti Gili Trawangan, Gili Air juga memiliki masalah dengan listrik dan air bersih. Listrik di pulau ini rajin mati. Jalanannya pun masih banyak yang gelap tak tersentuh lampu, tak heran banyak turis berjalan-jalan dengan lampu di kepalanya. Di siang hari sumber listrik dari daerah ini berasal pembangkit tenaga surya sedangkan di malam hari dipasok dari Lombok.

Berbicara tentang air, air di kamar mandi dan di kolam renang hotel yang saya tempati rasanya asin. Bahkan, air kolam renang yang asin ini dicampur dengan kaporit, alhasil kalau kena mata bikin ngumpat-ngumpat. Menurut staff hotel yang saya tempati, air tawar di pulau ini harus didatangkan dari Lombok melalui pipa bawah laut. Untungnya pulau ini hanya enam menit saja dari pelabuhan Bangsal di Lombok, jadi pipa dalam lautnya gak panjang-panjang banget.

Bawah laut Gili tidak menawarkan karang-karang indah. Bahkan menurut saya, koral di Pulau Tunda dan pulau Seribu (serius ini) jauh lebih cakep dari di daerah Gili. Karang-karang keras di area ini sudah hancur berantakan dan hanya menyisakan karang lunak. Ikannya sih cantik-cantik, tapi tak banyak karena koralnya rusak. Menurut tukang kapal, kehancuran bawah laut ini disebabkan nelayan yang rajin memasang bom untuk mencari ikan. Walaupun hancur, bawah laut Gili masih bisa menawarkan berenang di bawah laut dengan penyu. Saya beruntung bisa menghabiskan waktu dengan penyu hijau, chelonia mydas, yang umurnya saya prediksi ratusan tahun.

image

Positive thinking: itu jarum suntikan buat nyuntik tinta printer atau buat nyuntik kuda.

Kendati tinggal di Gili Air, saya justru lebih banyak mendapatkan cerita tentang Gili Trawangan dari seorang juru masak sebuah grup resort di Lombok. Tak seperti di tempat lain, di Gili magic mushroom dan obat-obatan terlarang bisa didapatkan dengan mudah. Selama tak dikonsumsi di dalam pulau, obat-obatan ini bisa bebas digunakan. Kemana para aparat penegak aturan? Lagi party kali.

Dari hasil google, lebih mudah menemukan cerita tentang cocktail bercampur dengan methanol ketimbang cerita tentang obat terlarang dengan harga murah. Methanol tak hanya menyebabkan kebutaan tapi juga bisa menyebabkan kematian. Seorang remaja Australia dua tahun lalu meninggal di Gili Trawangan. Yang menyedihkan, tak ada yang ditangkap dalam kasus ini. Di Gili, alcohol memang lebih mudah ditemukan dan surprisingly harganya tidak terlalu mahal. Tapi perlu dicatat bahwa di Gili tak ada RS, mereka hanya punya dokter. Jadi kalau mau ‘terbang’ mendingan di tempat lain aja yang dekat RS, biar bisa cepet-cepet diselamatkan kalau terbangnya kebebasan.

Bagi yang pernah lihat foto maling diarak keliling Gili, saya kemaren menanyakan kebenarannya. Ternyata, maling di Gili tak hanya  diarak, mereka juga diserahkan ke pihak berwenang dan dilarang masuk kembali ke Gili. Konon dulu para maling juga dipukul ramai-ramai dan kepalanya dimasukkan ke dalam air pantai. Mengerikan.

Banyak hal yang menyenangkan dari Gili termasuk kesetaraan antara semua manusia. Di Pulau kecil ini, pegawai kantoran, pelajar dan bahkan pengangguran bisa berpesta bersama kusir cidomo. Tak ada satpam yang akan mengusir tamu hanya karena kita berdandan gembel dan mengenakan sandal jepit  . Viva sandal jepit! Tapi dibalik keindahannya, Gili menyimpan banyak masalah, dari kesenjangan sosial, masalah obat-obatan yang tak saya jelaskan secara gamblang disini (gak enak sama mafianya), tapi menariknya, prostitusi bukanlah masalah di tempat ini.

Selamat Tahun Baru rekan-rekan semua, semoga tahun 2015 ini membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kita semua.

 

Xx,
Tjetje

PS: foto-foto Gili bisa ditengok di IG saya @binibule. Favorite saya video seorang adik kecil menari di atas meja dengan hebohnya.