Taksi Pujaan Hati: Blue Bird

[Bukan postingan berbayar]

Selain Kopaja, moda transportasi andalan saya di Jakarta adalah taksi. Taksi di Jakarta, tak seperti di belahan lain di bumi ini, relatif ‘murah’ dan mudah didapatkan. Nggak selamanya mudah sih, kalau Jakarta abis diguyur hujan, buruh pulang demo ataupun menjelang libur, alamat cari taksi di Jakarta bakalan susah.

Demi kenyamanan hati, saya cenderung memilih taksi burung biru atau kalau lagi kepepet (dan punya duit) naik taksi burung perak. Naik taksi perak itu nyaman, tapi suka sakit hati. Bukan argonya (sok nyombong), tapi beberapa pengemudinya suka komentar: “Ibu ini taksi argonya dimulai dari dua belas ribu ya, ga papa ya Bu?”. “Ibu, ini taksi minimalnya enam puluh ribu, yakin gak papa?”. Mungkin maksud pengemudinya sih baik supaya saya yang rambutnya gak disasak dan suka pakai sandal jepit ini nggak terjebak bayar mahal, tapi kok jadi kayak ngenyek sih.

Sebagai pengguna setia taksi Jakarta, saya mencoba membandingkan keunggulan taksi burung biru ketimbang taksi-taksi lain di Jakarta. Selain kenyamanan dan keamanan (konon tak selamanya aman lho ya), burung biru juga terkenal mau mendengarkan protes penumpang. Menariknya, protes soal layanan oleh manajemen burung biru benar-benar ditanggapi jika disampaikan lewat telepon atau email. Kalau lewat social media, lupakan aja. Cuma hal-hal baik yang diretweet, sementara hal kurang baik dicuekin.

Ahok_bluebird

Taksi Blue bird khusus difabel, bisa didapat di RSPP atau Siloam Jakarta. Cuma ada 5 armada dan tarifnya bukan tarif premium. Foto punya berita77.com

Di tengah hutan beton Jakarta ini, burung biru menawarkan jasa yang jarang ditemukan di tempat lain: mengembalikan barang ketinggalan. Dengan catatan barang kita nggak diambil penumpang selanjutnya. Kasus barang ketinggalan paling unik menurut saya adalah kasus air dalam kemasan yang sudah diminum. Oleh pengemudi botol tersebut dibuang. Siapa sih yang mau nyari botol bekas? Tak diduga, botol ini dicari oleh sang empunya. Rupanya air dalam kemasan itu merupakan air dari Mbah Dukun. Penumpang merana karena harus balik ke dukun lagi, sementara pengemudia merana poinnya harus dipotong.

Tak seperti taksi lain, pengemudi burung biru jarang ‘nyolot’ kalau kita hanya bepergian jarak dekat. Coba di taksi sebelah, jarak dekat atau menuju lokasi yang macet pasti sukses dipelototi atau disuruh turun. Menurut aturan, taksi burung biru dilarang menolak penumpang jika sudah berhenti. Pengemudi juga tidak boleh menanyakan tujuan sampai penumpang masuk ke dalam taksi. Jika pengemudi bertanya tujuan sebelum kita masuk dan menolak mengantar, maka penumpang berhak protes. Pihak manajemen biasanya akan melakukan pemotongan poin.

Beberapa tahun lalu, ketika sedang hujan, saya bersama teman-teman masuk ke dalam taksi, tapi kemudian pengemudi tak mau mengantar kami karena harus berputar dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Saya pun komplain dan beberapa hari kemudian saya diberi kabar bahwa pengemudinya dipecat. Kaget setengah mati, karena komplain gitu aja bikin pengemudi dipecat. Ternyata sang pengemudi sudah berulang kali melakukan hal tersebut, tak heran poinnya habis dan pengemudi harus dipecat. Konon kalau poinnya habis, pengemudi bisa masuk kembali setelah beberapa bulan. Sejak itu saya kapok komplain.

Bagi saya, taksi burung biru terkesan ‘dipaksa’ untuk memasang tarif atas, sementara taksi lain yang jenis kendaraannya sama memasang tarif bawah. Herannya tarif atas dan tarif bawah ini ditentukan oleh Pemerintah (kesepakatan bersama dengan pengusaha taksi sih), padahal tujuh tahun lalu (kalau memori tidak salah merekam), tak ada perbedaan. Konon, taksi lain tak bisa bersaing dengan burung biru karena layanan mereka yang lebih unggul. Lha herannya, bukannya kualitas ditingkatkan supaya bisa bersaing kok malah kualitas dibiarkan asal-asalan, tapi harga diturunkan. Ya hukum pasar sih, tapi saya gemes aja. Anyway, tanggal 15 besok tarif taksi biru akan dinaikkan, sementara tarif taksi lain sudha pada naik duluan. Ada yang bilang tarif buka pintu akan 7500, ada yang bilang 8500. Berapapun naiknya, ongkos taksi ini akan jauh lebih murah dibandingkan ongkos taksi di negeri lain. Jadi jangan protes yah.

Sembari menunggu tarif naik, saya akan melanjutkan hobi ngobrol dengan pengemudi untuk nanya-nanya cerita lucu. Dari soal tamu dari negara tertentu yang jujur (jujur karena bayarnya sesuai argo, gak lebih gak kurang), sampai soal hantu anak UI yang hobinya naik taksi burung biru.

Punya pengalaman menarik dengan taksi?

 xx,
Tjetje