Melihat Gili Dari Kacamata Sosial

Lima tahun lalu di Gili Trawangan saya bersumpah jika kembali lagi tak akan mau naik Cidomo. Ketika itu, kuda kecil yang disewa oleh penyelenggara jalan-jalan, harus mengangkut beberapa orang melintasi beberapa sudut pulau yang tertutup pasir. Jalan di atas pasir itu susah, apalagi menarik manusia. Cidomo sangat populer tak hanya di Lombok, tapi juga di Gili Air, Meno dan Trawangan yang tak punya kendaraan umum. Pengunjung Gili, yang kebanyakan turis asing, biasanya berkeliling pulau dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Hanya orang Indonesia yang rajin keliling naik Cidomo, mungkin malas jalan. Sementara orang lokal menggunakan sepeda listrik sebagai alat transportasi.

image

Akhir tahun kemarin, saya kembali ke Gili, kali ini Gili Air. Statistik menunjukkan Gili Air memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi ketimbang Gili Trawangan, tapi faktanya, Gili Air jauh lebih tenang dari Gili Trawangan. Seperti Gili Trawangan, Gili Air juga memiliki masalah dengan listrik dan air bersih. Listrik di pulau ini rajin mati. Jalanannya pun masih banyak yang gelap tak tersentuh lampu, tak heran banyak turis berjalan-jalan dengan lampu di kepalanya. Di siang hari sumber listrik dari daerah ini berasal pembangkit tenaga surya sedangkan di malam hari dipasok dari Lombok.

Berbicara tentang air, air di kamar mandi dan di kolam renang hotel yang saya tempati rasanya asin. Bahkan, air kolam renang yang asin ini dicampur dengan kaporit, alhasil kalau kena mata bikin ngumpat-ngumpat. Menurut staff hotel yang saya tempati, air tawar di pulau ini harus didatangkan dari Lombok melalui pipa bawah laut. Untungnya pulau ini hanya enam menit saja dari pelabuhan Bangsal di Lombok, jadi pipa dalam lautnya gak panjang-panjang banget.

Bawah laut Gili tidak menawarkan karang-karang indah. Bahkan menurut saya, koral di Pulau Tunda dan pulau Seribu (serius ini) jauh lebih cakep dari di daerah Gili. Karang-karang keras di area ini sudah hancur berantakan dan hanya menyisakan karang lunak. Ikannya sih cantik-cantik, tapi tak banyak karena koralnya rusak. Menurut tukang kapal, kehancuran bawah laut ini disebabkan nelayan yang rajin memasang bom untuk mencari ikan. Walaupun hancur, bawah laut Gili masih bisa menawarkan berenang di bawah laut dengan penyu. Saya beruntung bisa menghabiskan waktu dengan penyu hijau, chelonia mydas, yang umurnya saya prediksi ratusan tahun.

image

Positive thinking: itu jarum suntikan buat nyuntik tinta printer atau buat nyuntik kuda.

Kendati tinggal di Gili Air, saya justru lebih banyak mendapatkan cerita tentang Gili Trawangan dari seorang juru masak sebuah grup resort di Lombok. Tak seperti di tempat lain, di Gili magic mushroom dan obat-obatan terlarang bisa didapatkan dengan mudah. Selama tak dikonsumsi di dalam pulau, obat-obatan ini bisa bebas digunakan. Kemana para aparat penegak aturan? Lagi party kali.

Dari hasil google, lebih mudah menemukan cerita tentang cocktail bercampur dengan methanol ketimbang cerita tentang obat terlarang dengan harga murah. Methanol tak hanya menyebabkan kebutaan tapi juga bisa menyebabkan kematian. Seorang remaja Australia dua tahun lalu meninggal di Gili Trawangan. Yang menyedihkan, tak ada yang ditangkap dalam kasus ini. Di Gili, alcohol memang lebih mudah ditemukan dan surprisingly harganya tidak terlalu mahal. Tapi perlu dicatat bahwa di Gili tak ada RS, mereka hanya punya dokter. Jadi kalau mau ‘terbang’ mendingan di tempat lain aja yang dekat RS, biar bisa cepet-cepet diselamatkan kalau terbangnya kebebasan.

Bagi yang pernah lihat foto maling diarak keliling Gili, saya kemaren menanyakan kebenarannya. Ternyata, maling di Gili tak hanya  diarak, mereka juga diserahkan ke pihak berwenang dan dilarang masuk kembali ke Gili. Konon dulu para maling juga dipukul ramai-ramai dan kepalanya dimasukkan ke dalam air pantai. Mengerikan.

Banyak hal yang menyenangkan dari Gili termasuk kesetaraan antara semua manusia. Di Pulau kecil ini, pegawai kantoran, pelajar dan bahkan pengangguran bisa berpesta bersama kusir cidomo. Tak ada satpam yang akan mengusir tamu hanya karena kita berdandan gembel dan mengenakan sandal jepit  . Viva sandal jepit! Tapi dibalik keindahannya, Gili menyimpan banyak masalah, dari kesenjangan sosial, masalah obat-obatan yang tak saya jelaskan secara gamblang disini (gak enak sama mafianya), tapi menariknya, prostitusi bukanlah masalah di tempat ini.

Selamat Tahun Baru rekan-rekan semua, semoga tahun 2015 ini membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kita semua.

 

Xx,
Tjetje

PS: foto-foto Gili bisa ditengok di IG saya @binibule. Favorite saya video seorang adik kecil menari di atas meja dengan hebohnya.

Advertisements

Galeri Komunitas Borobudur

Harusnya saya posting tentang gallery ini minggu lalu, tapi karena kesibukan ditambah sakit (akibat makan tahu gejrot dipinggir jalan; udah tahu perutnya priyayi masih suka nyoba-nyoba) akhirnya tulisan ini terbengkalai.

20141205_132919

Borobudur dari kejauhan

Beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi galeri komunitas Borobudur yang terletak di desa Karanganyar. Ini galeri terletak di antara rumah penduduk serta hamparan sawah di sekitaran Borobudur. Kalau menurut saya sih letaknya tak jauh dari Borobudur, tapi mungkin ini karena kami sukses nyasar kemana-mana. Pengemudi kami tak hanya nyasar, tapi juga kesulitan memberi tahu pengemudi lain. Tahu sendiri di daerah, patokan yang digunakan balai desa, perempatan, lapangan kosong. Untung masih ada timur, barat, selatan dan utara, jadi arahnya lebih jelas.

Saya sempat bertanya mengapa galeri ini diletakkan jauh dari Borobudur. Nampaknya ini salah satu strategi supaya terjadi pemerataan pendapatan. Bahkan ada peta lucu yang sudah dibuat untuk pemetaan potensi desa-desa di sekitar Borobudur. Niat baik ini nampaknya harus disempurnakan dengan pemasangan penunjuk arah supaya banyak yang tahu eksistensi Galeri ini. Promosi besar-besaran juga perlu dilakukan. Mungkin pihak manajemen galeri bisa ngundang blogger lokal ataupun bikin kuis berhadiah di Twitter.

Apa yang ditawarkan oleh galeri ini?

Keramik cantik yang didesain oleh Jenggala dengan tema Borobudur. Keramik ini cuma ada di Galeri ini dan harganya tak semahal Jenggala. Desain-desain keramik ini tak hanya bertema Borobudur tapi meurut saya  agak kejepang-jepangan. Produknya dari tatakan sumpit, wadah sake, magnet, tempat garam dan merica, cangkir espresso, gelas, tempat kartu nama, hingga mangkok-mangkok wadah nasi yang mirip stupa di Borobudur. Harganya sendiri dari belasan hingga puluhan ribu, tak sampai ratusan ribu rupiah, kecuali kalau borong. Buat saya sih murah, tapi saya nggak berani bilang murah, nanti kena marah. Di atas kereta Pramek saya pernah berujar bahwa ongkos dari Yogya ke Solo itu murah banget, hanya 6000. Mbak-mbak sebelah negur dong, katanya buat orang Yogya dan Solo itu mahal. Indikator biaya di Solo, Yogya dan Jakarta memang berbeda, jadi definisi murahnya pun berbeda.

20141205_130036

Bikin keramik (camera: samsung galaxy camera)

Selain keramik, mereka juga memproduksi selai. Resep dari selai ini diambil dibeli dari sebuah toko selai yang terkenal di Monkey Forest Ubud sana. Sayang saya nggak sempat wawancara nanya-nanya rasa selai yang ditawarkan, apalagi nanya harganya.  Magelang hari itu lembab banget, jadi otak dan mood saya udah ikutan lembab, alhasil gak banyak tanya. Setahu saya, daerah sekitar Borobudur itu kaya dengah buah local seperti papaya serta buah naga Semoga saja buah-buahan yang digunakan untuk selainya merupakan buah-buahan yang diproduksi oleh petani lokal di daerah itu dan bukan buah import dari Cina.

20141205_125307

Harganya OK kan? Btw itu wadah kartu nama ada di kiri.

Selain menawarkan suvenir, galeri ini juga menawarkan kursus kilat membuat keramik, ongkosnya hanya 25 ribu rupiah termasuk keramik buatan sendiri. Tapi keramiknya tak bisa langsung jadi karena harus dibakar. Tak hanya itu, bagi yang kepanasan dan kelaparan, mereka juga menawarkan makan siang untuk rombongan yang tentunya harus pesan terlebih dahulu. Menu saya hari itu tempe goreng dan aneka rupa jamur, dari sate jamur, oseng jamur serta sayur asem. Rasanya lebih enak dari restoran jamur terkenal itu dan yang paling penting, habis makan saya nggak pusing-pusing karena overdosis MSG. Makan siang di galeri ini tak kalah dengan makan siang di Amanjiwo lho, sama-sama bisa melihat Borobudur dari kejauhan.  Nikmat bener deh makan di pinggir sawah sambil mendengarkan alunan musik Jawa.

Map borobodur

Peta potensi di sekitar Borobudur

Saya membawa sedikit oleh-oleh dari galeri ini, tempat kartu nama berbentuk stupa Borobudur yang akan saya berikan kepada salah satu orang yang beruntung. Fotonya ada di atas ya. Perlu dinyatakan dulu, oleh-oleh ini dari saya, bukan hasil sponsor dari Galeri. Berhubung keramik ini rentan pecah, maka saya hanya akan mengirim ke alamat yang ada di Indonesia aja. Caranya sih gampang, tinggal jawab aja pertanyaan di bawah ini dan perlu dicatat gak ada jawaban salah atau benar, karena saya cuma penasaran apakah orang mau ke galeri ini walaupun lokasinya jauh. Saya tunggu sampai tanggal 2 Januari 2015 ya.

Galeri ini agak jauh dari Borobudur, tapi kalau ke Borobudur kalian bakalan meluangkan waktu ke galeri ini nggak? Kenapa?

Xx,

Tjetje

PS: Petanya boleh didownload disini.

Taksi Pujaan Hati: Blue Bird

[Bukan postingan berbayar]

Selain Kopaja, moda transportasi andalan saya di Jakarta adalah taksi. Taksi di Jakarta, tak seperti di belahan lain di bumi ini, relatif ‘murah’ dan mudah didapatkan. Nggak selamanya mudah sih, kalau Jakarta abis diguyur hujan, buruh pulang demo ataupun menjelang libur, alamat cari taksi di Jakarta bakalan susah.

Demi kenyamanan hati, saya cenderung memilih taksi burung biru atau kalau lagi kepepet (dan punya duit) naik taksi burung perak. Naik taksi perak itu nyaman, tapi suka sakit hati. Bukan argonya (sok nyombong), tapi beberapa pengemudinya suka komentar: “Ibu ini taksi argonya dimulai dari dua belas ribu ya, ga papa ya Bu?”. “Ibu, ini taksi minimalnya enam puluh ribu, yakin gak papa?”. Mungkin maksud pengemudinya sih baik supaya saya yang rambutnya gak disasak dan suka pakai sandal jepit ini nggak terjebak bayar mahal, tapi kok jadi kayak ngenyek sih.

Sebagai pengguna setia taksi Jakarta, saya mencoba membandingkan keunggulan taksi burung biru ketimbang taksi-taksi lain di Jakarta. Selain kenyamanan dan keamanan (konon tak selamanya aman lho ya), burung biru juga terkenal mau mendengarkan protes penumpang. Menariknya, protes soal layanan oleh manajemen burung biru benar-benar ditanggapi jika disampaikan lewat telepon atau email. Kalau lewat social media, lupakan aja. Cuma hal-hal baik yang diretweet, sementara hal kurang baik dicuekin.

Ahok_bluebird

Taksi Blue bird khusus difabel, bisa didapat di RSPP atau Siloam Jakarta. Cuma ada 5 armada dan tarifnya bukan tarif premium. Foto punya berita77.com

Di tengah hutan beton Jakarta ini, burung biru menawarkan jasa yang jarang ditemukan di tempat lain: mengembalikan barang ketinggalan. Dengan catatan barang kita nggak diambil penumpang selanjutnya. Kasus barang ketinggalan paling unik menurut saya adalah kasus air dalam kemasan yang sudah diminum. Oleh pengemudi botol tersebut dibuang. Siapa sih yang mau nyari botol bekas? Tak diduga, botol ini dicari oleh sang empunya. Rupanya air dalam kemasan itu merupakan air dari Mbah Dukun. Penumpang merana karena harus balik ke dukun lagi, sementara pengemudia merana poinnya harus dipotong.

Tak seperti taksi lain, pengemudi burung biru jarang ‘nyolot’ kalau kita hanya bepergian jarak dekat. Coba di taksi sebelah, jarak dekat atau menuju lokasi yang macet pasti sukses dipelototi atau disuruh turun. Menurut aturan, taksi burung biru dilarang menolak penumpang jika sudah berhenti. Pengemudi juga tidak boleh menanyakan tujuan sampai penumpang masuk ke dalam taksi. Jika pengemudi bertanya tujuan sebelum kita masuk dan menolak mengantar, maka penumpang berhak protes. Pihak manajemen biasanya akan melakukan pemotongan poin.

Beberapa tahun lalu, ketika sedang hujan, saya bersama teman-teman masuk ke dalam taksi, tapi kemudian pengemudi tak mau mengantar kami karena harus berputar dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Saya pun komplain dan beberapa hari kemudian saya diberi kabar bahwa pengemudinya dipecat. Kaget setengah mati, karena komplain gitu aja bikin pengemudi dipecat. Ternyata sang pengemudi sudah berulang kali melakukan hal tersebut, tak heran poinnya habis dan pengemudi harus dipecat. Konon kalau poinnya habis, pengemudi bisa masuk kembali setelah beberapa bulan. Sejak itu saya kapok komplain.

Bagi saya, taksi burung biru terkesan ‘dipaksa’ untuk memasang tarif atas, sementara taksi lain yang jenis kendaraannya sama memasang tarif bawah. Herannya tarif atas dan tarif bawah ini ditentukan oleh Pemerintah (kesepakatan bersama dengan pengusaha taksi sih), padahal tujuh tahun lalu (kalau memori tidak salah merekam), tak ada perbedaan. Konon, taksi lain tak bisa bersaing dengan burung biru karena layanan mereka yang lebih unggul. Lha herannya, bukannya kualitas ditingkatkan supaya bisa bersaing kok malah kualitas dibiarkan asal-asalan, tapi harga diturunkan. Ya hukum pasar sih, tapi saya gemes aja. Anyway, tanggal 15 besok tarif taksi biru akan dinaikkan, sementara tarif taksi lain sudha pada naik duluan. Ada yang bilang tarif buka pintu akan 7500, ada yang bilang 8500. Berapapun naiknya, ongkos taksi ini akan jauh lebih murah dibandingkan ongkos taksi di negeri lain. Jadi jangan protes yah.

Sembari menunggu tarif naik, saya akan melanjutkan hobi ngobrol dengan pengemudi untuk nanya-nanya cerita lucu. Dari soal tamu dari negara tertentu yang jujur (jujur karena bayarnya sesuai argo, gak lebih gak kurang), sampai soal hantu anak UI yang hobinya naik taksi burung biru.

Punya pengalaman menarik dengan taksi?

 xx,
Tjetje

Jejak Richard Gere di Borobudur

Beberapa kali mengunjungi Borobudur, bahkan sampai dilamar disana, saya tak pernah tertarik menyewa pemandu untuk menjelaskan cerita tentang Borobudur. Khas turis Indonesia, kalau ke suatu tempat alih-alih belajar dan membaca informasi tentang sejarah malah repot foto-foto, tapi saya jamin saya nggak repot selfie sampai overdosis.

20141205_102030

Relief tentang bergunjing

Berapa banyak dari kita yang sebenarnya tahu kapan Borobudur dibangun? Saya mengetahui abad pembuatan Borobudur justru ketika mengunjungi kawasan Angkor di Kamboja. Borobudur dibangun pada abad ke 9, lebih dahulu ketimbang Angkor yang dibangun di abad 12. Boro sendiri berarti temple, sedangkan budur (dari beduhur) berarti monastery yang berada di atas. Bagi pemeluk Hindu dan Budha, tempat pemujaan memang diletakkan di atas supaya dekat dengan yang maha kuasa. Besakih & Candi Cetho merupakan contoh tempat pemujaan lain yang ‘dekat dengan langit’.

Ada dua juta batu di Borobudur yang dipasangkan tanpa semen, apalagi putih telur. Bebatuan itu dipasangkan seperti potongan puzzle, baru kemudian dipahat. Diperkirakan ada seribu orang yang membangun Borobudur, tapi ini hanya perkiraan saja. Sama seperti di Thailand, Tangga-tangga Borobudur sengaja dibuat tinggi, supaya orang-orang yang akan memuja sedikit merunduk. Maksud hati sih biar nunduk, tapi dengkul pasti sakit menahan beban tubuh yang berlebihan.

Gloomy Borobudur

Salah satu bangunan cantik ini terpaksa dikikis

Melihat relic Borobudur sebaiknya dari arah Timur menuju Selatan, Barat, baru ke Utara, searah jarum jam. Tujuannya, penghormatan kepada hidup. Relief Borobudur sendiri dibagi menjadi tiga, Kamadhatu, Rupadhatu serta Arupadhatu. Kamadhatu di bagian bawah bercerita tentang napsu manusia. Lapisan kedua Arupadhatu menceritakan pembebasan manusia dari keterikatan dengan napsu, ada cerita reinkarnasi juga. Sedangkan di lapisan terakhir, tak ada relief, kosong, karena kesempurnaan telah tercapai.

Sekitar abad ke ke 14, Borobudur terkubur letusan Merapi dan mulai ditinggalkan masyarakat disekitarnya yang pindah ke Jawa Timur. Agama Islam saat itu sudah mulai masuk dan konversi sudah mulai dilakukan. Menariknya, sejak penemuan kembali Borobudur oleh Sir Raffles di tahun 1814,  Tak ada belum ada bukti yang menunjukkan rumah-rumah masyarakat di sekitar Borobudur. Diduga masyarakat tinggal di rumah dari kayu dan bambu; hanya tempat ibadah yang dibangung megah.

Borobudur_Dec2014

Jika diperhatikan, banyak sudut-sudut Borobudur yang warnanya putih kekuningan. Rupanya dulu Pemerintah Belanda mencoba melindungi batu dengan bahan yang tidak cocok untuk negara tropis. Bukannya terlindungi, batu-batu itu malah berubah warna akibat dari salinasi. Tak hanya proses ‘coba-coba’ saja yang merusak Borobudur, air hujan, abu Merapi, tangan-tangan nakal merupakan ancaman-ancaman bagi Borobudur. Untuk mengatasi air hujan, ada saluran-saluran air yang dibuat, bahkan dipasang meteran untuk mengukur jumlah air yang masuk dan keluar di candi. Abu merapi sendiri berbahaya karena mengandung sulfur yang merusak batu.

20141205_102447

saluran air

Kenakalan manusia macam-macam, selain memanjat mereka juga hobi memasukkan tangan ke dalam stupa untuk menyentuh Patung Budha. Soal menyentuh patung Budha, ternyata itu hanyalah mitos yang dibuat para pekerja di Borobudur demi mendapatkan rupiah. Setelah menyentuh, para pencari keberuntungan harus memasukkan uang ke dalam stupa. Saat candi ditutup, uang yang dimasukkan ke dalam stupa pun diambil. Suatu ketika, ada ibu-ibu yang mencoba menyentuh patung Budha, anaknya yang masih kecil meniru perbuatan ibunya. Alhasil, kepala si anak terjepit di antara stupa itu. Apa yang kemudian dilakukan? Ya Stupanya harus dikikis perlahan-lahan demi mengeluarkan kepala. Rusaklah karya agung anak manusia. Mestinya ibu itu didenda karena menyebabkan kerusakan.

20141205_102135

Di belakang guide terdapat tumpukan batu penopang yang menopang candi supaya tidak roboh. Sayangnya penopang itu menutupi banyak relief candi.

Demi mengurangi aksi panjat-memanjat yang merusak bagian yang fragile, sekarang dibagikan kain panjang sebelum masuk Borobudur. Konon kalau pakai sarung, agak susah untuk memanjat. Tapi prakteknya, sarung-sarung itu banyak yang berakhir di kepala untuk menghindari dari panas dan juga menjadi syal.

Kalau saya tak salah mendengar, sebuah patung Budha di Borobudur juga sempat ditukarkan dengan patung gajah dari Thailand, yang sekarang ada di depan Museum Nasional Jakarta. Anyway, Borobudur pernah dikunjungi oleh Richard Gere. Seperti kita tahu, Richard Gere adalah pengikut ajaran Budha. Ketika ke Borobudur di tahun 2011 (dan sayangnya ga mampir buat minum teh di kantor kami), Richard Gere meninggalkan jejak hijau, sebuah pohon. Pohon kanthil tepatnya. Jika ingin bertemu peninggalan Richard Gere, datanglah ke arah Barat Laut Candi dan carilah satu pohon Richard Gere. Udah deh peluk cium aja pohonnya, pasti berasa Richard Gere.

image

Photo punya abang Mikel

Xx, 
Tjetje
Cerita lain tentang Borobudur bisa dibaca di sini dan juga di sini.

Tentang Disabilitas

Adik dari Eyang saya (yang juga saya panggil Eyang) memiliki seorang putra yang menyandang disabilitas. Sedari kecil, Eyang saya tidak pernah menyembunyikan Oom saya. Saat akhir pekan Oom saya bersama Eyang saya itu akan beraktifitas jalan pagi ke rumah kami. Oom saya terekspos dengan aktifitas sehari-hari dan bertemu banyak orang.  Oom saya bukan satu-satunya penyandang disabilitas yang saya tahu sejak kecil, ada Anto, teman antar jemput saya (kami sama-sama satu antar jemput di masa SD dan rumahnya tak jauh dari rumah saya). Anto merupakan penyandang disabilitas intelektual yang sekolahnya, sebuah SLB, terletak nun jauh di sisi lain kota. Setiap kali saya pulang ke Malang dan berpapasan dengan Anto, ia akan bersemangat bertanya tentang kabar saya juga kabar adik saya. Sementara temen saya yang lain lain boro-boro nyapa, bales sms aja ogah. Eh.

Oom saya dan juga Anto tidak disembunyikan, mereka berinteraksi dengan orang lain. Tak heran saya kaget luar biasa ketika salah satu guru les saya menyembunyikan anaknya yang menyandang disabilitas. Si anak hanya boleh berada di bagian belakang rumah saja dan tak boleh terlihat orang lain (tapi satu hari saya tak sengaja melihatnya). Padahal usia guru saya ini tidaklah muda, terus kalau beliau meninggal apa yang akan terjadi? Mestinya kan anak tersebut diajarkan bersosialisasi dengan orang.

Indonesia  boleh berbangga hati karena sudah meratifikasi Konvensi Penyandang Disabilitas di tahun 2011, harus bangga lho karena ternyata Irlandia belum melakukan hal tersebut. Tapi menyembunyikan penyandang disabilitas di negeri ini masih banyak terjadi. Alasannya malu ataupun takut dengan stigma dan label buruk dari orang lain. Parahnya, yang sering menyembunyikan penyandang disabilitas justru orang tua dari si anak.

Masyarakat kita juga punya andil besar mendiskriminasi dan juga mengolok-olok penyandang disabilitas. Makanya, masih banyak PR yang harus dilakukan oleh Indonesia. Negeri ini tak hanya perlu menghentikan stigma dan diskriminasi tapi juga perlu berbenah untuk menyediaakan pendidikan inklusif, pembangunan fasilitas yang akses, penyediaan lapangan pekerjaan, akses kesehatan yang layak. Dan masih banyak lagi PRnya yang terkait disabilitas. Ayo Pak Jokowi!

Sebagai individu, apa yang bisa lakukan? Paling gampang, kalau ada penyandang dengan disabilitas, nggak usah dilihatin dari ujung rambut sampai ujung jempol. Saya rasa, cuma Syahroni yang nyaman dilihatin dari atas dari bawah, manusia lain, termasuk penyandang disabilitas nggak nyaman dilihatin seperti itu. Jangan pula menghina dan mengolok-olok, karena dengan atau tanpa disabilitas, kita ini sama-sama manusia.

Penggunaan kata yang tepat juga penting untuk dilakukan. Penggunaan kata cacat misalnya, walaupun UU di Indonesia masih UU cacat (UU no. 4 tahun 1997), kata cacat tidak tepat lagi. Lebih tepat menggunakan penyandang disabilitas. Jangan pula mengatakan kita normal dan penyandang disabilitas tidak normal, lebih baik mengatakan kita adalah orang tanpa disabilitas. Idiot, tolol, lambat juga sebaiknya diganti dengan penyandang disabilitas intelektual atau orang dengan disabilitas dalam belajar.

Hari ini, 3 Desember diperingati sebagai hari internasional disabilitas. Penting bagi kita untuk tahu tentang disabilitas, karena semua orang bisa menjadi penyandang disabilitas kapan saja. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Saya bagi infografik  WHO tentang disabilitas. Sebenarnya versi Indonesianya sudah ada, tapi saya nggak sempat motret *padahal cuma di ujung kubikel*.

Disability

Tahukan kamu kalau dari setiap 100 orang yang dipekerjakan, perusahaan wajib memperkerjakan 1 orang penyandang disabilitas? Ini diatur UU lho. Hayo silahkan hitung jumlah manusia di kantornya masing-masing!

xx,
Tjetje

Sekilas tentang HIV/AIDS

Words you should know about HIV AIDS

courtesy of healthline.com.

Hari ini, 1 Desember, diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Mumpung momennya pas (walaupun setiap saat sebenarnya adalah saat yang tepat untuk berbagi infomasi tentang HIV/AIDS), saya ingin berbagi secuil informasi tentang mitos dan fakta yang berkaitan dengan HIV/AIDS:

HIV/AIDS hanya ditemukan pada homoseksual atau pengguna obat terlarang

HIV/AIDS tidak mendiskriminasi manusia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, apapun orientasi seksualnya, bisa. Penyebaran HIV/AIDS terjadi karena percampuran cairan tubuh dan juga darah. Hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah dan dari ibu ke anak (kelahiran) merupakan cara penularannya.

Di Indonesia, penyebaran tertinggi terjadi pada padangan heteroseksual, bukan pada pasangan homoseksual. Statistik menunjukkan bahwa banyak Ibu Rumah Tangga yang terkena HIV/AIDS. Masih menurut statistik, penyebaran tertinggi di Indonesia terjadi di Papua, padahal penduduk Papua hanya 1% dari penduduk Indonesia. Penyebabnya, hubungan seksual beresiko.

Jabat tangan dan berpelukan menularkan HIV/AIDS

Mungkin mitos ini timbul karena kita tidak diperkenankan dekat-dekat dengan orang sakit. Air liur dan keringat tidak menularkan HIV/AIDS. Jadi jabat tangan dan berpelukan pun tak akan menularkan. Dibutuhkan setidaknya 8 liter air liur untuk menularkan HIV/AIDS (ya bow minum air 3 liter aja udah mual, apalagi air liur 8 liter). Perlu diatat, ciuman juga tak menularkan HIV/AIDS,  kecuali kalau ciumannya terlalu heboh sehingga ada luka terbuka. Bagaimana dengan nyamuk? Jangan bingung sama Demam Berdarah Dengue ya, nyamuk tak ikut menularkan.

Kondom dan HIV/AIDS

Mengulang postingan saya, kondom mengurangi resiko HIV/AIDS, mengurangi lho ya. Jadi ibu-ibu kalau suaminya ditengarai tak setia, modalin dengan kondom. Ajarin juga untuk memasang kondom dengan baik dan benar. Bagi pasangan yang sudah sama-sama terinfeksi, penggunaan kondom juga diperlukan supaya tidak terinfeksi ulang (re-infection).

Belum ada obat untuk HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDs biasanya diberikan antiretroviral therapy (ART), tapi ini bukan obat untuk membunuh virus. ART berfungsi untuk melambatkan pertumbuhan dan perkembangan HIV.

Singapura mendiskriminasi penderita HIV/AIDS

Ini fakta, bukan mitos. Orang-orang yang terkena HIV/AIDS tidak diperkenankan untuk masuk ke Singapura, bahkan bisa banyak yang dideportasi. Hanya mereka yang memiliki pasangan WN Singapura lah yang boleh tetap tinggal di Singapura.

image

Stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS tidak akan menyembuhkan mereka. Malah semakin membebani mereka. Supaya kita tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang mendiskriminasi orang lain, mari sama-sama belajar. Silahkan klik disini untuk mendapatkan informasi tentang kata-kata yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Baca juga ini dan juga ini serta follow twitter UNAIDS.

xx,
Tjetje 

Menyindir Polisi Indonesia

Pada suatu malam, saya dan seorang teman dihentikan Polisi di sekitar Senayan City. Kami berada di jalur yang salah, makanya kami dihentikan dan akan ditilang. Berhubung kami tahu dan sadar bahwa kami bersalah, kami nggak menolak ditilang. Syaratnya, kami minta slip tilang warna biru. Menurut hasil baca sana-sini kalau tidak berniat membela diri dan mengaku salah, bisa meminta slip tilang biru. Dalam slip ini jumlah angka tilang akan diputuskan dan tinggal ditransfer lewat BRI. Kalau merasa tak bersalah dan ingin membela diri sih bisa minta slip merah muda untuk menghadap ke hakim. Ada gak sih yang pernah diputuskan tak bersalah ketika menggunakan slip merah muda ini?

Berbekal hasil membaca ini saya berkata dengan elegan kepada Polisi yang menilang:

“Boleh pak, silahkan ditilang, kami memang bersalah. Tapi minta slip biru ya Pak.”

Malam itu, Pak Polisi yang menilang lagi gemes lihat mbak-mbak elegan, jadi Pak Polisi menjawab:

“Mohon maaf Ibu, kami sudah tidak bekerjasama lagi dengan dengan BRI.”

Mbak-mbak sok elegan langsung pasang muka kaget sambil bilang:

“Hah masak sih pak? Sejak kapan? Saya kerja di BRI kok gak pernah tahu?”

Berhubung Polisinya pas SMA nggak pernah ikut ekstra kurikuler teater, mukanya udah gak bisa bohong lagi. Kaget dengan jawaban saya. Si Polisi langsung ngacir menghadap komandannya, laporan. Polisi tersebut tak pernah kembali lagi, dia mengirim Polisi lain yang meminta kami untuk segera pergi. “Kami bantu Ibu malam ini.” Bantu dari langit? Wong kita mau ngasih tambahan kas ke negara kok malah disuruh pulang.

Bukan sekali ini saja Polisi tak tegas dalam menindak kesalahan. Beberapa waktu lalu di jalan tol, pengemudi kami dihentikan dan diomeli. Setelah diomelin, pengemudi kami mengucapkan kata sakti: “Ambon Demak”. Pak Polisi pun tambah marah karena dia sudah terlanjur ngomel-ngomel, malu hati rupanya karena mencari-cari kesalahan. Saya tak melewatkan kesempatan untuk mengorek kode-kode, ternyata ada kode ajaib macam Ambon Demak, Ambon Lombok hingga Ambon Umar untuk ‘menyelamatkan diri dari tilang’. Tak cuma kata-kata sakti, pengemudi di kantor lama saya  juga menggunakan kode dengan klakson dan lampu supaya tidak dihentikan oleh Polisi.

Mengapa Polisi gak berdaya? Menurut saya karena Polisinya gak jujur (gak semua lho ya), mengada-ada bikin aturan sendiri menghapuskan slip biru. Coba kalau dia langsung kasih slip biru kan kas negara langsung bertambah. Tapi masyarakat kita juga banyak yang menolak menjadi disiplin karena punya kekuasaan. Kalau nggak, mana kode-kode itu. Polisi, yang punya keluarga dan anak untuk dikasih makan juga pada ketakutan kali kalau ‘bermasalah’ dengan pemegang kuasa. Bisa-bisa karir terhambat, dimutasi ke tempat yang ‘tak bahasa’ dan takut lainnya. Makanya, mereka pun menciptakan kode-kode khusus biar sama-sama tak dapat masalah.

Gak cuma masyarakat yang nggak disiplin, Polisi sekali lagi nggak semua lho ya, juga banyak yang tak disiplin. Hampir setiap hari saya melewati jembatan Semanggi untuk menuju kantor. Uniknya, hampir setiap hari juga saya bertemu Polisi yang melanggar aturan. Pemandangan Polisi, baik dengan kendaraan dinas maupun scooter maticnya, melintas di jalur cepat Sudirman menjadi hal yang biasa. Padahal, hampir setiap sore saya amati, polisi menilang sepeda motor yang nekat melintas di Sudirman. Jangan heran kalau peraturan lalu lintas di Indonesia belum bisa ditegakkan. Wong yang menegakkan saja belum bisa disiplin.

image

Saya jadi berpikir, sebenarnya di Indonesia, siapa sih yang berhak menghukum Polisi? Bisa nggak masyarakat melaporkan ? Terus kalau ngelapor bakalan ditindaklanjuti gitu ? Ah entahlah, saya bisanya cuma ngambil foto sama nyindir-nyindir aja.

Selamat berakhir pekan dan semoga weekend ini tak ada yang kena tilang!

xx
Tjetje
Gak pernah kerja di BRI