Pengemis

Jaman 2003, waktu saya masih kuliah, saya pernah memergoki ibu pengemis menukarkan recehan lima puluh ribu kepada abang penjaga fotocopy, padahal jam tangan baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Menurut si abang fotocopy, penghasilan segitu jam sepuluh pagi mah biasa. Mengangetkan, mengingat harga nasi lalapan ayam jaman tahun itu hanya tiga ribu rupiah per bungkus. Di Malang, pengemis tak hanya bertebaran di kampus, tapi juga di komplek-komplek perumahan. Pengemis datang ke rumah-rumah, terutama jika pintunya terbuka, berdiri di luar pagar sambil berteriak “Bu nyuwun……” (Ibu, minta). Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu tua.

Di Ibukota, pengemis ada dimana-mana dan dari berbagai usia. Sebelum menjadi anak kos dan rajin naik bis, saya selalu menyimpan susu ataupun penganan kecil di dalam tas. Maaf ya, jaman itu saya belum tahu bahwa susu adalah hal yang tak baik bagi perut. Sengaja saya siapkan, supaya ketika bertemu pengemis anak-anak, saya bisa memberi mereka penganan. Suatu hari di tahun 2007 saya merogoh tas, setelah berkutat lama, saya akhirnya menemukan makanan kecil untuk si adik kecil. Si adik tersenyum bahagia dan saya pun ikut bahagia melihat muka si adik kecil. Tapi si Ibu tersenyum busuk, sebal tak dapat uang. Gila ya, anaknya dikasih sesuatu bukannya ikut girang malah senyum busuk.

Kendati sudah tak rajin naik bis, saya masih rajin sering bertemu dengan pengemis. Di Jakarta, saya rajin bertemu ibu-ibu pengemis dengan anak-anak di bawah usia setiap hari Jumat, di sekitar Masjid di dekat kantor, diantara mobil-mobil yang parkir sembarangan, malang melintang bikin macet. Kenapa sih kalau hari Jumat mendadak pada gak disiplin?  Selain meminta uang kepada mereka yang akan menunaikan ibadah, para pengemis ini juga akan meminta makanan ke Bapak Penjual Gudeg. Si Bapak memang rajin menyisihkan sebagian makanannya bagi para pengemis. Jadi tak heran kalau para pengemis tak akan segan-segan antri meminta makan. Herannya, para pengemis ini juga rajin jajan. Lha?

Jakarta juga masih punya pengemis di perempatan jalan. Dua hari lalu, saat Jakarta diguyur hujan lebat, saya bertemu dengan adik kecil yang mengemis di perempatan Masjid Al Azhar. Sementara orangtuanya (atau mungkin koordinator mafianya), berteduh di bawah tenda plastik tak jauh dari perempatan itu. Brengsek banget kan?

Kasihan selalu menjadi alasan untuk memberi pengemis. Ajaran kebaikan untuk memberi yang tidak mampu juga menjadi landasan kuat untuk memberi. Bagi kacamata kita, memang kita melakukan kebaikan, karena memberi mereka. Tapi tidakkah itu memupuk kemalasan mereka dan membiasakan mereka untuk menengadahkan tangan? Saya pribadi kok melihat kebaikan orang itu sengaja dimanfaatkan dengan baik. Lihatlah deretan gerobak pengemis yang menjamur di Jakarta pada saat menjelang Lebaran. Mereka sengaja muncul untuk mengais rejeki dari para orang kaya Jakarta.

 

alms

Pengemis bukan hanya masalah orang Malang, Jakarta, Bali (cuma Bali yang saya perhatikan rajin merapikan pengemis di ruang publik), tapi juga masalah dunia. Irlandia yang sudah maju pun masih dihiasi pengemis-pengemis. Tanggung jawab membehani mafia pengemis bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui program penurunan angka kemiskinnnya, tapi juga merupakan tanggung jawab kita semua.  Kalau menurut saya, daripada menyuburkan pengemis, lebih baik uang sumbangan disalurkan ke organisasi-organisasi, badan-badan ataupun yayasan-yayasan yang programnya jelas. Atau, kalau mau ngasih langsung, lebih baik diberikan kepada para abang pedagang asongan atau para tukang becak yang kendati sudah mengayuh dengan sekuat tenaga, penghasilannya belum tentu setinggi pengemis di kampus saya dulu.

Masih rajin memberi uang pengemis?

xx,
Tjetje