Menyindir Polisi Indonesia

Pada suatu malam, saya dan seorang teman dihentikan Polisi di sekitar Senayan City. Kami berada di jalur yang salah, makanya kami dihentikan dan akan ditilang. Berhubung kami tahu dan sadar bahwa kami bersalah, kami nggak menolak ditilang. Syaratnya, kami minta slip tilang warna biru. Menurut hasil baca sana-sini kalau tidak berniat membela diri dan mengaku salah, bisa meminta slip tilang biru. Dalam slip ini jumlah angka tilang akan diputuskan dan tinggal ditransfer lewat BRI. Kalau merasa tak bersalah dan ingin membela diri sih bisa minta slip merah muda untuk menghadap ke hakim. Ada gak sih yang pernah diputuskan tak bersalah ketika menggunakan slip merah muda ini?

Berbekal hasil membaca ini saya berkata dengan elegan kepada Polisi yang menilang:

“Boleh pak, silahkan ditilang, kami memang bersalah. Tapi minta slip biru ya Pak.”

Malam itu, Pak Polisi yang menilang lagi gemes lihat mbak-mbak elegan, jadi Pak Polisi menjawab:

“Mohon maaf Ibu, kami sudah tidak bekerjasama lagi dengan dengan BRI.”

Mbak-mbak sok elegan langsung pasang muka kaget sambil bilang:

“Hah masak sih pak? Sejak kapan? Saya kerja di BRI kok gak pernah tahu?”

Berhubung Polisinya pas SMA nggak pernah ikut ekstra kurikuler teater, mukanya udah gak bisa bohong lagi. Kaget dengan jawaban saya. Si Polisi langsung ngacir menghadap komandannya, laporan. Polisi tersebut tak pernah kembali lagi, dia mengirim Polisi lain yang meminta kami untuk segera pergi. “Kami bantu Ibu malam ini.” Bantu dari langit? Wong kita mau ngasih tambahan kas ke negara kok malah disuruh pulang.

Bukan sekali ini saja Polisi tak tegas dalam menindak kesalahan. Beberapa waktu lalu di jalan tol, pengemudi kami dihentikan dan diomeli. Setelah diomelin, pengemudi kami mengucapkan kata sakti: “Ambon Demak”. Pak Polisi pun tambah marah karena dia sudah terlanjur ngomel-ngomel, malu hati rupanya karena mencari-cari kesalahan. Saya tak melewatkan kesempatan untuk mengorek kode-kode, ternyata ada kode ajaib macam Ambon Demak, Ambon Lombok hingga Ambon Umar untuk ‘menyelamatkan diri dari tilang’. Tak cuma kata-kata sakti, pengemudi di kantor lama saya  juga menggunakan kode dengan klakson dan lampu supaya tidak dihentikan oleh Polisi.

Mengapa Polisi gak berdaya? Menurut saya karena Polisinya gak jujur (gak semua lho ya), mengada-ada bikin aturan sendiri menghapuskan slip biru. Coba kalau dia langsung kasih slip biru kan kas negara langsung bertambah. Tapi masyarakat kita juga banyak yang menolak menjadi disiplin karena punya kekuasaan. Kalau nggak, mana kode-kode itu. Polisi, yang punya keluarga dan anak untuk dikasih makan juga pada ketakutan kali kalau ‘bermasalah’ dengan pemegang kuasa. Bisa-bisa karir terhambat, dimutasi ke tempat yang ‘tak bahasa’ dan takut lainnya. Makanya, mereka pun menciptakan kode-kode khusus biar sama-sama tak dapat masalah.

Gak cuma masyarakat yang nggak disiplin, Polisi sekali lagi nggak semua lho ya, juga banyak yang tak disiplin. Hampir setiap hari saya melewati jembatan Semanggi untuk menuju kantor. Uniknya, hampir setiap hari juga saya bertemu Polisi yang melanggar aturan. Pemandangan Polisi, baik dengan kendaraan dinas maupun scooter maticnya, melintas di jalur cepat Sudirman menjadi hal yang biasa. Padahal, hampir setiap sore saya amati, polisi menilang sepeda motor yang nekat melintas di Sudirman. Jangan heran kalau peraturan lalu lintas di Indonesia belum bisa ditegakkan. Wong yang menegakkan saja belum bisa disiplin.

image

Saya jadi berpikir, sebenarnya di Indonesia, siapa sih yang berhak menghukum Polisi? Bisa nggak masyarakat melaporkan ? Terus kalau ngelapor bakalan ditindaklanjuti gitu ? Ah entahlah, saya bisanya cuma ngambil foto sama nyindir-nyindir aja.

Selamat berakhir pekan dan semoga weekend ini tak ada yang kena tilang!

xx
Tjetje
Gak pernah kerja di BRI