Menyalahkan Korban

Beberapa waktu yang lalu saya menulis dua hal aneh yang saya dengar di dalam satu minggu, di postingan itu saya menuliskan tentang perempuan asing yang dilecehkan ketika sedang menikmati sebuah pantai di Timur Indonesia Indonesia. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini. Kebiasaan saya ketika menulis adalah menyebarkan tulisan saya ke sosial media i.e facebook dan twitter. Komentar-komentar yang saya dapatkan di facebook kadang lebih seru daripada komentar di blog; entah kenapa.

VictimBlaming1_printsize-1

Salah seorang kenalan saya berkomentar bagaimana perempuan tersebut tidak menghormati aturan setempat, untuk tidak berbikini. Benarkah ada aturan untuk tidak boleh berbikini di sebuah pulau kecil yang jauh di Ambon? Cottagenya pribadi, pulaunya secluded, masak iya dilarang berbikini? Sayangnya setelah saya tanyakan kebeberapa orang, informasi ini tidak bisa diverifikasi. Jikalaupun ada aturan yang melarang orang berbikini, apakah kemudian perempuan ini berhak dilecehkan hanya karena mengenakan bikini di pantai?

Sebagai perempuan, ketika mendengar perempuan lainnya dilecehkan, saya tak hanya bersimpati tapi juga berempati. Perempuan manapun, tak hanya perempuan, manusia manapun, termasuk pria maupun transjender, saya yakin tak mau menjadi korban pelecehan.

Dalam ilmu psikologi memang ada sebuah gejala menyalahkan korban. Baik itu korban kemiskinan, korban pemerkosaan, pelecehan maupun korban kriminal lainnya. Perilaku menyalahkan korban ini, buat saya tidak menyelesaikan masalah dan tidak memberikan solusi, karena selalu dimulai dengan kata ‘Jika’. Jika hari itu perempuan itu mengenakan karung beras sekalipun, tidak akan bisa dijamin bahwa dia tidak akan dilecehkan. Mereka akan tetep datang, tetep minta foto, tetep nyolek-nyolek dan tetep menembakkan senjata ke udara. My point, pelecehan perempuan itu tidak bergantung pada apa yang dikenakannya, tapi terletak pada niatan dari para pelaku pelecehannya.

Dari hasil baca-baca sekilas, orang-orang yang menyalahkan korban itu merasa dirinya tidak sama dengan korban dan merasa hal itu tidak akan pernah bisa terjadi kepadanya.  Kalau bahasa kerennya sih, bad things happen to bad people, while good things happen to good people. Parahnya, perilaku menyalahkan korban membuat korban malas mengaku atau melaporkan tindakan kriminal pada pihak berwajib. Kalau sudah begini, kriminal akan tetap berlangsung karena pelakunya melenggang bebas tanpa ada yang melaporkan.

Apa yang harus kita lakukan jika berhadapan dengan orang yang menyalahkan korban? Lawan dan jelaskan. Orang-orang yang menyalahkan korban itu tak tahu bahwa perilakunya salah dan punya dampak yang tidak baik. Jika kebetulan mereka menyalahkan korban di depan si korban, jelaskan juga pada korban bahwa kejadian tersebut bukan karena kesalahan korban.

Punya tips lain untuk tidak menyalahkan korban?

Advertisements

16 thoughts on “Menyalahkan Korban

  1. Masalahnya terletak pada culture, mau di sini, mau di Asia, dari dulu perempuan yang emang suka disalahkan kalau kena kejadian. Susah untuk merubah prejudice itu sih. Ya yang di Arab udah pake burqa aja masih diperkosa, jadi kan mau pake rok mini atau burqa memang nggak ngefek.

    Tapi sudah lumayan lah banyak campaign yang bilang bahwa suruh laki2 untuk tidak memperkosa, bukan suruh perempuan untuk menutup badan.

  2. Ai, aku pernah ngalamin pelecehan seksual. Ceritanya aku jalan didepan rumah (surabaya) berdua dengan temen. Waktu itu kita mau ke minimarket (aku baru selesai operasi 10 hari). Tiba2 ada cowok nanyain jalan naik motor. Pas kita jawab dia megang kemaluan aku dan langsung kabur. Waktu itu aku cuman shock dan teriak-teriak tapi gak bisa lari karena baru operasi. Temen aku ngejer dia tapi gak dapat karena dia naik motor. Jalannya gelap. Mau dilaporin kepolisi lah kita juga bingung gimana ngelaporinnya karena orangnya gak keliatan 😦 dan kita gak inget sama sekali. Pas kejadian aku juga shock banget. Temen aku yang lain pernah juga ngalamin yang sama di jl. kayun (surabaya) dan dia dipegang toketnya. yang megang kabur gitu tanpa dia sempet sadari. Alhasil emang gak pernah kita laporin karena gak ngerti gimana ngasih tau pelakunya. Btw….pas kejadian itu kita semua pake baju ketutup loh alias t’shirt gombrong + celana training. Temen aku malah baru pulang kantor dan sama sekali gak pake baju sexy.

    • Aku pernah ngalamin hal serupa, pas Smp dadaku dipegang orang lewat. Nggak bisa ngapa2in apalagi lapor, wong kejadiannya cepet. Pas itu aku pakai seragam sekolah. Sadly, cuma bisa nyumpah2in dan semoga sumpahku didengar Tuhan.

      Semoga kita dijauhkan dari hal2 yang tidak baik ya Non.

      • Amin.
        Kurang ajar banget emang orang itu. Akku masih inget rasa shock dan sedihnya waktu itu. Berasa “kotor” banget. Serius ini nulisnya jadi esmoni lagi. Aku juga nyumpah2in. Pokoknya gak bakalan aku maafinlah.
        Sekarang si Matt gak bolehin jalan kaki sendirian di tempat2 sepi cuman yah kadang2 jalan juga 😦 Aku sempet kemana2 bawa payung loh Ai hehe sama semprotan merica

      • Pas kejadian itu aku nyesel banget dulu setiap dipaksa ikutan karate gak mau. COba kalau ikutan, paling gak kan reaksi aku bisa lebih cept tapi emang perut aku sakit banget juga sih hahaha *abis dibelek*

      • Ya ampun…. Kejadian nya hampir sama ama aku, waktu kuliah aku juga pernah di pegang toketku waktu nyebrang di dpn rumah lg, dan di siang hari bolong, cuma bisa jerit jerit, orangnya nyengir waktu kabur, dia naek motor

  3. Emang susah ya, aku gak punya ide tips lain. Mestinya sih harus punya empati, jadi gak asal nyalahin korban. Coba kalo dirinya di posisi yg jadi korban, pasti gak mau juga kalo disalah2in. Numpang cerita, dulu aku pernah jadi korban jambret, tasku ilang, aku jatuh dari motor sampe berdarah2 (karena tasku ditarik sama penjahatnya), eh masih ada aja yg bilang “kamu sih gak ati2, penampilan gak usah nyolok2 biar gak menarik maling”. Aku marah banget waktu itu. Aku udah babak belur berdarah2 masih aja dibilang aku yg salah. Lagian gimana mau tampil menyolok wong pulang kuliah naik motor pake jaket butut juga tetep dijambret kok, jambretnya aja apes wong dalem tasku ga ada apa2 selain buku kuliah.

  4. Memakai baju yang tertutup, sopan, atau tidak mencolok hnya sebagian dari antisipasi untuk menghindarkan diri dari tindak kejahatan, jadi tidak menjamin juga.
    Itu hanya antisipasi, mungkin bisa ditambah kemampuan beladiri, dan bawa spray merica buat nambah kecil resikonya.
    Support korban untuk tidak takut melaporkan hal ini, hukum juga harus berpihak pada korban karena trauma pelecehan itu potensi dampak buruknya sama dengan tindak kejahatan berat lain (bahkan korban juga berpotensi menjadi pelaku).

  5. Buat yang ini saya no comment, Mbak. Takut salah :hehe :peace
    Moga-moga semua pihak bisa belajar dari kejadian-kejadian ini jadi di masa depan yang aneh-aneh begitu bisa diminimalisasi :))

  6. 😦 emang kasihan banget…
    And yang kayak gitu bukan cmn laki2 doang yah, tp cewe juga.
    Dulu gw pernah di-stalk sama orang lewat telepon, komen bbrp kenalan cewe gw “Makanya jangan suka post2 foto di Facebook…” -___-“

  7. Duh kalau udah masalah culture emang susah. Jangankan perempuan, temenku laki2 aja dilecehkan oleh supir taksi laki2 ketika naik taksi di Arab Saudi sana. Si supir pegang-pegang alat kelaminnya gitu katanya. Hiiiii…serem ….

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s