Beberapa hari belakangan ini, timeline saya di Thread diwarnai dengan tema-tema kuliner di Malang, terutama kuliner lawas. Kuliner lama yang cuma anak-anak OG Malang yang tahu dan punya banyak kenangan.

Jawara ayam goreng di Malang: Ayam Tenes

Tentunya bukan kuliner ramen, sushi, bread salt dan entah apalah makanan kekinian jaman sekarang yang tak menandakan ciri khas kota Malang.

Buat saya, kuliner kota Malang itu ya sate komoh haji Ridwan di dalam Pasar Besar, rawon Ramelan di depan Pasar Dinoyo lama. Bakso bakar di depan SMP 9, ketika pertama kali keluar & dibuat oleh Pak Man. Bakso bakar ini lalu ditemani dengan es tape ketan. Dijual oleh dua kakek-kakek sepuh yang sungguh baik hati. Atau jajanan food court Mitra 1, ketika bagian depan belum dijajah oleh makanan cepat saji impor. Dari mulai cwimie Gang Djangkrik, soto Lamongan, nasi goreng merah, lumpia, hingga aneka gorengan.

Lalu nyebrang dikit dari Mitra 1, ada martabak Agung, di samping toko buku Siswa, yang sangat terkenal. Anak asli Malang pasti hapal muka si Bapak pembuat martabak ini. Membaca pembahasan soal martabak ini, kepala saya jadi teringat masa SMA.

Gado-gado Malang, porsi fine dining 🤣

Martabak Agung

Alkisah, ketika saya SMA dulu, seorang temen sekolah saya datang dari keluarga yang sangat kaya. Kaya banget yang level kayanya terpampang di koran. Orang tuanya ditulis sebagai salah satu orang terkaya di Malang, setiap tahun. Tapi anaknya ya biasa aja, baik dan gak yang sombong.

Kami pernah ngobrol dan bertukar cerita soal martabak Agung. Dia cerita, kalau beli beli martabak Agung, ya martabak Malvinas. Lalu, satu orang dikasih satu martabak. Bukan dibagi-bagi satu rumah. Ini cerita biasa ya, nadanya gak ada sombong sama sekali.

Bicara martabak Agung, di rumah kami agak berbeda. Satu martabak biasa, bukan martabak spesial, apalagi malvinas, dibagi untuk satu rumah. Rumah saya ketika itu diramaikan dengan eyang putri, mama dan adik. Makanan apapun di rumah kami, tak cuma martabak, selalu dibagi empat. Ini termasuk jajanan dari arisan.

Jaman itu, saya gak pernah iri, apalagi dengki dengan perbedaan ekonomi orang tua kami. Saya sudah cukup puas dengan martabak biasa itu. Dan tak ada keinginan untuk minta martabak malvinas. Penasaran? Engga. Biasa aja.

Sampai pada satu hari, saya meninggalkan Malang, lalu mudik sebentar. Tiap mudik, saya punya ritual untuk makan dengan mama. Lalu, kami pun memutuskan pergi beli martabak Agung, dan saya punya ide beli martabak Malvinas.

Begitu lihat proses martabak itu dibuat, yang pada intinya martabak dibalut martabak, kami pun saling bertukar pandang. Mampus, ini banyak bener telur dan isinya. Serius ini mau ngabisin berdua?

Gimana rasa martabak ini? Di lidah saya, rasanya sama saja dengan martabak biasa. Bahannya kan memang sama saja dengan martabak biasa. Yang membedakan tentunya ketebalan si martabak. Tebel banget.

Saya dan mama sukses tak bisa menghabiskan martabak ini. Kami bagi dengan seorang tante, yang kemudian menggunakan martabak itu untuk lauk di rumah. Gak bisa juga kami berambisi menghabiskan. Kolesterol bisa ngereog.

Warung Pojok Stasiun: Rujak Cingur

Rujak Warung Pojok. Porsi colek-colek

Kalau ngomongin makan di Malang, saya juga tak bisa melupakan warung pojok di depan stasiun kereta Malang. Detail cerita ini pun nempel di kepala saya.

Alkisah, pada satu hari Jumat siang di sekitar bulan Juni 1998, saya duduk berdua dengan seorang teman yang sekarang sudah berpulang. Kami berdua, berbagi satu piring rujak cingur. Entah kenapa kami memutuskan berbagi hari itu.

Di meja yang sama, seorang
teman sekolah almarhum juga ikutan makan dengan kami. Hari itu dia “dititipkan” untuk gaul bareng dengan kami. Biasanya dia bukan teman gaul kami. Anyway, dia memesan satu porsi sendiri.

Hari itu bukan cuma kami bertiga yang makan, ada beberapa teman-teman lain, di meja yang berbeda. Kami pun sibuk makan dan tentunya ngobrol. Namanya juga anak remaja, pastilah berisik tak karuan.

Tiba-tiba, makanan anak titipan ini habis. Sementara, saya dan almarhumah belum juga habis. Padahal kami berbagi satu porsi. Almarhumah teman saya kemudian berkomentar:

“Lho kamu kok cepet, makannya sudah habis?”

Komentar ini kemudian dijawab dengan nada halus, sangat halus tapi nyelekit.

“Kamu sih makannya pakai ngomong”.

Saya dan almarhumah pun berpandangan. Tanpa bertukar kata, hanya menggunakan kalbu, kami tahu di dalam hati, kami sama-sama mengumpat:

“Juancoooooook!”

Jangan tanya betapa panjangnya omelan almarhumah. Kami berdua memang makannya lama, karena menikmati makanan dan menikmati suasana. Sembari ngobrol seru tentunya.

Bertahun-tahun kemudian, cerita ini masih sering kami bahas, sambil misuh-misuh. Sampai tentunya dia berpulang.

Penutup

Tiap kali saya pulang, saya selalu menyempatkan diri makan rujak cingur itu. Sambil mengunyah, saya kemudian mengingat aneka cerita dengan almarhumah.

Buat saya, kota Malang dan kulinernya menyimpan banyak sekali cerita kenangan dengan teman-teman. Kenangan yang kalau kata Saras Dewi dengan Lembayung Balinya

Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu

xoxo,

Tjetje

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: