Di media sosial saya melihat “keluhan” soal kebiasaan orang barat yang komplen ketika melihat harga-harga di Indonesia yang mahal. Keluhan ini kemudian diinvalidasi, dengan alasan gaji mereka besar, bukan rupiah. Jadi tak seharusnya mereka komplen. Padahal, berapapun gaji mereka, mereka berhak untuk komplen.

Bicara soal pemberangusan, saya menerima komentar tak boleh kebanyakan komplen ketika hotel di Paris tak punya AC. Padahal, saya bayar, dan sudah jelas-jelas meminta hotel dengan AC. Mulut saya diberangus dengan satu kata: “Gak usah kakean komplen“.

Saya anak Jawa Timur, yang blak-blakan dalam berbicara. Prinsip hidup saya, kita tak harus selalu nrimo dan bersyukur. Apalagi ketika terjadi tragedi dalam hidup atau ada hal-hal yang tak sesuai standar kita. Kita boleh komplen. Dan melarang orang untuk komplen, apalagi ketika komplen ini sangat valid, adalah sebuah toxic positivity yang harus dihindari.

Kultur Komplen

Kalau ada satu kesamaan antara Irlandia dan Perancis itu adalah kultur komplen. Mereka berdua sama-sama suka komplen tapi dalam level yang berbeda. Di Paris, dikasih air gratisan aja masih bisa komplen ketika airnya tak sesuai dengan kemauan hati. Ekpektasi di Perancis itu cukup tinggi untuk berbagai hal dan ini wajar, bahkan menjadi bagian dari keseharian. Dalam bahasa Perancis, ini namanya râler.

Di Perancis, komplen adalah sebuah hal yang wajar.

Di Irlandia, mereka tak komplen soal makanan. Tapi komplen soal cuaca. Hujan, badai, atau bahkan matahari bersinar sangat cerah, harus komplen. Ini memang bagian dari kultur dan merupakan cara mereka untuk berbasa-basi. Di sini, sangatlah wajar untuk berbicara dengan orang tak dikenal, strangers, dan cuaca selalu menjadi topik utama. Mengeluh dan komplen tak hanya soal cuaca saja, tapi juga soal berbagai aspek dalam hidup, dari mulai harga-harga yang terus naik, hingga soal politikus yang rakus.

Perlu dicatat, digarisbawahi dan juga dipertebal: komplen ini bukan bentuk ketidaksempurnaan karakter sebagai manusia. Ini adalah bagian dari kultur dan sebuah cara untuk berbasa-basi.

Kultur Nrimo

Sebaliknya, di Indonesia, dengan pengaruh agama, bersyukur itu menjadi kewajiban. Kecelakaan, kendaraan hancur, bersyukur karena masih hidup. Harga naik, bersyukur karena masih bisa bayar walaupun setengah mati. Kadang-kadang ketika berkeluh kesah pun, lawan bicara tak segan untuk mengingatkan dan tentunya membungkam.

“Hus jangan begitu, jadi orang itu harus bersyukur”.

Ini tak hanya kultur di Jawa saja ya. Di Bali pun kalau ada budaya koh ngomong, engga berbicara karena menghindari konflik dan tentunya karena ngomong dianggap tak akan mengubah apa-apa.

Penutup

Bagi saya, komplen, apalagi yang constructive, itu merupakan sebuah skill yang memerlukan analis dan evaluasi, kadang malah dari komplen lahirlah solusi-solusi kreatif. Secara psikologis pun komplen ini juga punya fungsi untuk membantu melepaskan tekanan emosi. Komplen juga membantu memproses emosi negatif, supaya emosi tidak terpendam lalu nantinya meledak.

Di Indonesia sendiri, pada sebagian orang dan sebagian dari society kita, komplen itu acap kali dilihat sebagai sebuah keburukan yang harus dibungkam. Sebagian orang memang masih bermental seperti Harmoko yang hobinya memberangus. Seakan-akan komplen ini tak ada fungsi positifnya sama sekali. Akibatnya, banyak dari kita yang cenderung pasif, tak mau memberikan masukan-masukan karena takut diberangus.

Padahal, dalam hidup orang bisa bersyukur atas sebuah hal dan juga bisa komplen tentang hal lain. Tentunya, ini komplen dalam jumlah yang tepat dan sehat ya. Tak terus-menerus hingga seperti kaset rusak.


Selain Irlandia dan Perancis, negara mana lagi yang penduduknya hobi komplen? 🤌

xoxo,
Tjetje
Tukang komplen

Show me love, leave your thought here!

Halo!

Selamat datang di binibule.com! Saya diaspora Indonesia yang bermukim di Irlandia. Blog ini diramaikan dengan tulisan bertema gado-gado yang dulu sering saya baca di majalah Femina.

Jangan sungkan tinggalin komen dan ngobrol ya! Siapa tahu dari komentar bisa jadi obrolan panjang atau malah jadi tulisan blog berikutnya!

Saya juga bisa ditemukan di sini: