Kelaparanpun Melanda Koloni Lebah

Hari itu matahari bersinar cerah dan langit biru menghiasi awan di bagian Barat Lombok. Hamparan sawah menguning seakan menyambut ketika saya memasuki desa Tepos di kaki Gunung Sasak. Petani, baik yang perempuan maupun yang pria, sibuk memanen hasil tanamnya; sementara sebagian kecil dari mereka membakar batang-batang padi . Di sisi lain dari hamparan sawah cantik itu, seorang pria melemparkan ikatan bibit-bibit padi dari belakang mobil pick-upnya. Pemandangan hari itu sungguh elok, membuat senyum tersungging dari bibir.

Begitu saya duduk dan mengobrol dengan komunitas petani di sana, saya jadi tahu bahwa gunung Sasak tak seindah yang saya deskripsikan; daerah ini ternyata menyimpan segudang masalah, dari air hingga kesuburan tanah. Penggundulan hutan, walaupun hanya hutan kecil, menyisakan dua dari enam mata air. Erosi, kekeringan dan tanah longsor mengancam mereka kapan saja. Sementara, kualitas tanaman garapan mereka juga menurun. Yang menyedihkan, beberapa ton bantuan kompos tak dijamah karena mereka lebih menyukai menggunakan urea. Jika menanam dengan urea, dalam seminggu saja tanaman akan tumbuh. Walah petani pun nampaknya lebih menyukai yang instant.

Lebih sedih lagi ketika tahu bahwa para petani yang juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai apiarist, tak bisa meningkatkan skala produksi madunya. Rumah lebah yang berjajar di depan kediaman mereka hanya menghasilkan sekitar 700 ml madu per tahunnya, padahal potensi rumah lebah itu 1.5 liter per tahun. Masalahnya sederhana: tak ada makanan untuk lebah. Hutannya gundul, lebahnya ‘kelaparan’.

Berbicara tentang madu tak bisa lepas dari fakta bahwa kita, manusia ‘mencuri’ madu, persediaan makanan para lebah. Para lebah ini sudah pakannya menipis, masih pula dirampok. Cara pengambilannya pun cukup kejam, sarang mereka diperas. Padahal, di sarang ini banyak larva yang merupakan generasi masa depan para lebah. Larvanya mati dan sarah lebah pun rusak. Butuh setidaknya tiga bulan bagi para lebah untuk bisa membangun rumah lagi (lalu dirampok lagi). Btw, di Malang ada juga kekejaman lain terhadap sarang lebah tawon; di sana sarang tawon  lengkap dengan larva-larvanya djadikan botok *bukan untuk mengencangkan kulit, tapi untuk mengencangkan perut*.

Bee Flow

Bee flow hive; metode baru memanen madu. Photo courtesy of honeyflow.com

Dari Sasak, saya bergeser ke Bantul, menemui apiarist juga. Kali ini sang apiarist punya teknik yang lebih bagus untuk mencuri memanen madu. Para lebah diasapi, kemudian sarangnya dimasukkan ke dalam alat yang akan melepas madu, tanpa merusak sarang lebah. Biarpun tekniknya bagus, si Bapak apiarist juga tetap ditinggal minggat lebahnya. Lagi-lagi, ketiadaan pakan menjadi sumber masalah. Saking berdedikasi pada alam dan lebah, si Bapak membeli ribuan bibit pohon kaliandra untuk ditanam demi memakani lebah; pohon ini rupanya berbunga terus menerus dan hanya istirahat selama 1,5 bulan.

Dari si Bapak, saya belajar bahwa apiarist itu harus halus hatinya. Lebah-lebah itu rupanya tidak bisa dikasari.  Jika dikasari mereka akan menyengat. Si Bapak juga berbaik hati membukakan kotaknya supaya saya bisa melihat koloni-koloni lebah itu. Madu Bantul ini memang larva-friendly, tapi sayang harganya tidak bisa tinggi. Satu botol sirup dijual dengan harga 80 ribu saja,  sementara di Lombok 200 ribu. Perbedaan harga ini karena Lombok terkenal dengan madu, sementara Bantul lebih terkenal dengan gaplek geplak & kekeringan.

image

Dari perjalanan itu saya mempelajari banyak hal tentang madu, lebah serta dampak ekonomi yang dibawanya. Kesimpulannya, kita, manusia, berhutang dan bergantung banyak pada lebah. Menurut saya, jika lebah punah, maka kita akan terkena dampak kelaparan. Jadi, yang punya  lahan kosong, mari membayar hutang pada lebah dengan menanami pohon yang berbunga atau bunga-bungaMari memastikan bahwa lebah-lebah dan juga kita sama-sama tidak kelaparan.

Gimana, mau menanam bunga-bunga? *diucapkan dengan gaya Syahrini*
xx,
Tjetje