Reverse Culture Shock: Tantangan Pulang Kampung

Tiga belas bulan, tiga minggu sejak meninggalkan Jakarta, saya menjejak kembali ke tanah air. Sebelum pesawat mendarat, perasaan saya rasanya campur aduk, tapi didominasi dengan rasa senang dan semangat, dan tentunya sedikit kedongkolan, karena di pesawat toilet diwarnai dengan basah di sana-sini, khas orang Indonesia.

Menjejak di Soekarno Hatta, senyum dan sapaan selamat malam saya layangkan pada petugas imigrasi. Tapi ya, petugas imigrasi negara kita itu emang super ngebetein dan memasang kegalakan khas tentara. Padahal tentara Indonesia saja jauh lebih ramah. Mungkin petugas-petugas itu lelah, karena harus bekerja hingga malam, tapi tetep saja itu bukan alasan. Lalu saya mulai membandingkan dengan petugas imigrasi di Irlandia yang keramahan dan kebaikannya bikin saya merasa diterima dan tak terintimidasi.

Lokasi pengambilan bagasi sendiri masih semrawut, sementara ruangan itu begitu panas, karena ACnya kurang maksimal, mungkin karena ruangan itu begitu padat. Begitu kaki saya melangkah keluar, saya pun dihajar dengan panasnya Jakarta. Tak cukup itu, telinga saya juga disuguhi dengan suara klakson, padahal hari sudah malam. Setahun di Irlandia, saya tak pernah mendengarkan suara klakson sama sekali, lha disini, semuanya pencet klakson untuk hal-hal yang tak jelas.

Jalanan Jakarta Jumat tengah malam itu juga sangat macet. Mobil-mobil tak ada yang bisa berjalanan lurus, karena setiap mobil sibuk pindah dari satu lajur ke lajur lainya untuk mencari celah, konon supaya bisa cepat, tapi malah menghambat. Saya juga jadi memperhatikan bahwa kebanyakan orang yang menyetir kendaraan di Jakarta, kurang paham bagaimana menyesuaikan gigi dengan kecepatan, akibatnya saya banyak mendengar erangan mobil karena salah gigi, baik di kendaraan pribadi yang saya tumpangi, hingga Uber ataupun taksi.

Mal-mal di Jakarta sendiri masih dipenuhi dengan kaum menengah atas yang berdandan cantik dan bergaya, sambil menenteng tas-tas bermerek, entah asli ataupun KW. Rambut mereka sendiri begitu tertata rapi, dengan make up yang membuat penampilan menjadi lebih segar. Sungguh sebuah pemandangan yang bagi saya menarik karena di Dublin, saya terbiasa melihat orang-orang berbalut jaket tebal, pucat tanpa make up dan tentunya dengan rambut yang tak berkibar ibarat gadis shampoo

Bicara shampoo, saya juga jadi kaget melihat shampo khusus hijab yang harganya jauh lebih mahal dari shampoo di Irlandia. Tak hanya shampo, saya juga kaget lihat harga-harga kebutuhan pokok yang meroket. Begitu tingginya kah inflasi di Indonesia? Entahlah, yang jelas malam ini saya akan ngobrol dengan seorang sahabat untuk membahas topik ini. #ObrolanBeratYangTakSayaDapatdiIrlandia

Ekonomi negara ini bergerak cepat, tapi sayangnya, perilaku sebagian orang pada pelayan yang mengantarkan makanan masih tak ramah. Berulangkali saya melihat orang terlalu sibuk dengan gawainya hingga tak mengindahkan tangan-tangan para pelayan yang mengantarkan makanannya. Boro-boro makasih, ingat muka sang pelayan pun saya sangsi. Tapi saya salut, para pelayan disini begitu sigap mengambil foto, dengan cahaya minimal dan dengan sudut yang baik. Mereka mungkin harus beralih profesi menjadi fotografer.

Dalam satu kesempatan saya berkesempatan menaiki transjakarta, dua stop saja, dari Ratu Plaza ke Halte Polda dan dibayari seorang teman yang akan pulang karena saya tak punya kartu. Akibatnya, saya terjebak di halte, tak bisa keluar karena tak punya kartu. Sementara petugas halte ngotot tak bisa membantu mengeluarkan saya karena ia diawasi oleh CCTV (well done Ahok). Akibatnya, saya harus meminjam kartu orang lain untuk keluar. Beberapa orang yang berpenampilan profesional dengan galaknya menolak, tapi satu orang bapak dengan penampilan sangat sederhana berbaik hati meminjamkannya pada saya. Bless him for his kindness. 

Tj mungkin sudah berubah menjadi sedikit lebih nyaman, tapi trotoar Jakarta bagi saya menjadi mimpi buruk. Selain harus berjalan lebih hati-hati untuk menghindari lubang di trotoar, saya juga harus menghindari asap tukang sate yang akan membuat keringat saya bercampur dengan asapnya dan membuat pakaian dan rambut saja jadi aduhai. Pada saat yang sama, mata saya juga harus dijaga, karena butiran debu yang terbawa angin bisa membuat mata saya merah kapan saja. Soal polusi yang menerpa kulit, jangan ditanya lagi. Beberapa hari disini, saya jadi merindukan segarnya udara Irlandia yang membuat saya bisa berjalan dengan nyaman, ketika musim dingin sekalipun.

Tulisan ini tolong jangan dibaca sebagai keluh kesah, atau bahkan sebagai sebuah catatan kesombongan karena tinggal di luar negeri. Saya hanya kaget dan pada saat yang sama bersyukur dengan segala kenyamanan yang saya punya di hidup saya.  Membanding-bandingan sendiri merupakan sebuah kewajaran. Kok orang dewasa, sebagai Ailsa kecil yang kembali pulang dan tinggal di Indonesia saya pernah menolak dengan keras untuk masuk ke kamar mandi Indonesia hanya karena lantainya basah.

Tapi apapun kondisinya, saya masih orang Indonesia, memegang paspor hijau (jadi jangan panggil saya WNA ya) dan masih mencintai Nusantara ini dengan segenap hati saya. Dan dari lubuk hati terdalam saya berdoa, semoga Jakarta dan Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik dan satu hari nanti, saya, kamu dan dia, bisa menyusuri trotoarnya, tanpa perlu merasa tak nyaman dengan polusi atau bahkan lubang, serta genangan airnya.

xx,
Tjetje
Berulang kali hampir tersambar pintu, karena tak laki tak perempuan, tak menahan pintu  *Sigh*