Saya mendefinisikan perisakan sebagai perilaku agresif yang dilakukan secara sadar dan terus-menerus untuk mengintimidasi dan meneror orang lain, baik secara fisik ataupun secara psikis. Perisakan tak memandang latar belakang individu dan terjadi dimana-mana, dari mulai di sekolah, sosial media hingga di kantor.
Kantor yang idealnya dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang profesional seringkali menjadi tempat melakukan perisakan dan tak ditangani dengan serius. Saya beruntung pernah bekerja di insitusi yang menganggap perisakan dengan serius, karena perisakan jika tak segera ditangani bisa mengarah pada penurunan kualitas kerja, stress, depresi, bahkan kematian (biasanya karena bunuh diri).
Sebagai orang-orang yang seharusnya dewasa, ada baiknya kita melihat berbagai tipe perisakan yang ada di lingkungan kerja. Selain menghindari terseret menjadi perisak juga supaya kita bisa mengenali tipe-tipe perisakan untuk kemudian menghentikan.
Anak baru
Konsep anak baru dikerjain merupakan sebuah konsep yang dianggap menjadi sebuah kewajaran di Indonesia. Kita semua tak menganggap ini sebagai sebuah hal yang aneh, karena tradisi mengerjai anak baru sudah mengakar di Indonesia, bahkan diajarkan di sekolah pada saat hari pertama.
Di beberapa kantor, ada individu-individu yang arogan dan masih membawa budaya tak sehat ini. Saya sendiri pernah mengalami ketika masih jadi anak baru dan disuruh beli materai di bawah panas dan pengapnya Jakarta. Yang nyuruh sesama pegawai dan bukan penyelia. Saya langsung menolak dan menyarankan ia menyuruh pramu bakti di kantor. Bukan masalah tugasnya yang remeh, tapi karena tujuan menyuruh ini jelas-jelas untuk ngerjain dan merendahkan peran saya sebagai anak baru. Sang penyuruh, bagi saya juga semena-mena dan ingin menunjukkan kekuasaan yang sebenarnya tak ia punyai. Gak usah repot-repot ngebayangin yang begini jadi bos beneran.
Selain diminta melakukan tugas-tugas yang tak seharusnya, anak baru juga sering dimarah-marahin karena tak tahu dengan kalimat sakti: “Gimana sih, gini aja gak tahu”. Padahal dimana-mana yang namanya anak baru itu memang tak tahu sehingga harus dilatih terlebih dahulu. Hal yang terlihat remeh ini saya kategorikan sebagai perisakan ringan di kantor.
Ada juga perisakan dengan cara memberikan tugas yang hampir mustahil dikerjakan. Tugas-tugas susah ini harus diselesaikan dalam tenggat waktu yang tak masuk akal. Akibatnya tugas tak selesai dan performa kerja pun terlihat tak bagus.
Eklusi dalam kehidupan sosial kantor
Urusan kantor tak hanya sebatas datang dan bekerja saja. Ada kehidupan sosial perkantoran seperti makan siang, makan malam, acara kesenian (contohnya karaoke atau menonton pertujuan seni), hingga sekadar nongkrong-nongkrong cantik di warung kopi. Salah satu bentuk perisakan yang sering terjadi dan berkaitan dengan kehidupan sosial perkantoran adalah eklusi.
Yang paling sepele aja, nggak ngajak makan siang bersama sehingga rekan kerja harus makan siang sendirian; atau sebaliknya, jika diajak sang kolega makan siang selalu menolak. Alasannya berbagai macam, tapi yang paling utama memang malas bersosialisasi dengan kolega tersebut yang biasanya berakhir dengan mengisolasi sang kolega dari kegiatan sosial perkantoran. Seaneh apapun kolega kita, isolasi dan eklusi adalah sebuah perisakan yang berat.

source: http://www.seiuwest.ca
Menyindir & bergosip
Perisakan lain yang tak kalah beratnya adalah menyindir dengan pedas untuk memberi tekanan secara terus-menerus dan juga bergosip untuk merusak reputasi rekan kerja. Soal ini tak perlu diberi contoh ya, karena kita pasti sudah pernah melihat (atau bahkan melakukan).
Selain sindiran dan gosip, penggunaan bahasa yang tak layak dalam lingkungan kantor, apalagi jika digunakan secara terus-menerus juga dapat dikategorikan sebagai perisakan. Jika bertemu dengan yang seperti ini, amit-amit, jangan segan untuk melaporkan.
Silent treatment
Mendiamkan orang dengan alasan apapun, tak hanya sebuah kejahatan yang merusak kondisi psikologis orang lain, tapi juga menunjukkan ketidakmatangan pelakunya. Sebagai orang dewasa yang tentunya tahu cara berkomunikasi, masalah-masalah apapun harusnya bisa diselesaikan dengan cara bicara, baik secara langsung ataupun menggunakan perantara. Satu hal yang pasti, mendiamkan orang dalam lingkungan kerja menunjukkan ketidakprofesionalan, apalagi jika hal tersebut menghambat pekerjaan tim.
Penutup
Menyalahkan korban perisakan karena menjadi pihak yang dianggap lemah dan tak bisa melawan juga merupakan hal yang salah dan tak patut dilakukan, karena tidak semua orang memiliki kekuatan untuk melawan, apalagi ketika perisakan dilakukan secara terus-menerus hingga menggerus kepercayaan diri sang korban.
Seperti saya tulis di atas, perisakan yang terdengar remeh ini bisa sangat berbahaya. Pada kasus yang ekstrim, bisa terjadi pengakhiran hidup, alias bunuh diri. Makanya jangan segan untuk mengingatkan pelaku dan juga berbicara pada korbannya. Untuk menyemangati sang korban ya, bukan untuk memperburuk situasi. Penting juga untuk tahu kemana kita bisa melaporkan perisakan.
Pernah mengalami atau melihat perisakan di kantor?
Xx,
Tjetje
Pernah menjadi korban perisakan