Pada satu sore, dalam perjalanan pulang dari kantor saya membaca Thread viral yang ditujukan untuk ibu-ibu. Thread itu mengajak ngobrol apa yang akan ibu-ibu ini beli jika mereka diberi uang seratus ribu rupiah, tapi harus beli untuk diri sendiri, bukan untuk suami ataupun untuk anak. Jawabannya beraneka ragam, dari mulai martabak, daster, hingga pakaian dalam karena pakaian dalam yang sudah berjamur (atau bahkan sudah enam belas tahun tak beli pakaian dalam).
Bagi saya, Thread itu sangat humbling dan saat itu saya menyadari betapa banyak privilege saya. Dari muda, saya gak pernah pakai baju dalaman jelek. Mama saya selalu berusaha membelikan yang terbaik dan Wacoal selalu menjadi merek pilihan di rumah kami.
Lalu saya pun terketuk untuk menghubungi beberapa perempuan untuk saya belikan pakaian dalam. Spesifik pakaian dalam dan yang saya tawarkan Wacoal. Perlu dicatat, digarisbawahi dan dicetak tebal: ini pertama kalinya saya belanjain orang tak dikenal. Random banget.
Ada dua perempuan yang membalas. Satu orang tak enak disuruh memilih Wacoal dan memilih merek yang lebih murah. Mbak ini, sebut saja Melati, sangat menyenangkan saat diberi hadiah dan ia selalu mengirim pesan ketika belanjaan sudah datang. Tipe-tipe yang sangat bersyukur, walaupun hadiahnya tak seberapa.

Mbak Mawar
Satu orang lagi memilih satu set pakaian dalam dari Wacoal di Tokopedia. Saya pun menambahkan beberapa pakaian dala ketika check out. Lalu pada satu siang barang itu dikirimkan, tapi saya tak mendengar konfirmasi barang sudah diterima. Jauh berbeda dengan Mbak Melati di atas.
Dia beralasan sedang berada di RS dan barang ini diterima oleh anak lakinya. Kemudian foto seorang anak berbaring di tempat tidur rumah sakit dia kirimkan sebagai bukti. Begitu lihat foto model begini saya sudah nggak nyaman, gak mau tahu dan tak tertarik. Belakangan, waktu saya cek Tokped, ada catatan bahwa barang ini diterima oleh yang bersangkutan. Ih boong bener sih di RS.
Transaksi selesai, si Mbak Mawar juga mengucapkan terima kasih, sementara saya berujar semoga anaknya cepat sembuh.
Pinjam Uang
Esoknya, tak sampai dua puluh empat jam, di pagi hari waktu Jakarta, si Mbak Mawar mengirimkan pesan pinjam uang lima puluh ribu rupiah. Konon, ayahnya meninggal dunia di Sukabumi, sementara posisi dia di Jakarta. Tak cukup itu, dikirimkan beberapa foto seorang bapak di rumah sakit, layar tangkap video call si mbak dengan bapaknya, dan tentunya foto jenazah. Lalu, ia menawarkan KTP sebagai jaminan. Katanya, saya boleh viralkan kalau dia tak bayar.
Pesan itu saya baca di sore hari waktu Jakarta, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Irlandia. Saya pun geleng-geleng kepala. This is where she crossed the line. Saya gak kenal sama dia, dan dia berani menjual cerita sedih, entah cerita itu benar atau tidak, supaya dia bisa mendapatkan pinjaman uang. Pesan itu saya blokir.
Penutup
Saya gak marah dan menyesal dengan hadiah yang saya berikan. It’s only a small gesture, really. Yang bikin saya sebel: dia gak kenal saya, tapi nekat pinjam uang sambil mengirim foto-foto orang lain dalam keadaan rentan; dari foto orang sakit, bahkan jenazah. Apa dia benar-benar berduka atau tidak, saya gak tahu, dan itu bukan urusan saya.Hanya karena saya iseng beliin hadiah kecil, gak otomatis kemudian saya bisa jadi tempat pinjam uang.
Yang lebih melelahkan, tabrak-tabrak boundary gini sering terjadi di kultur kita. Dan ketika kita berani drawing a boundary, sering kali kita yang dibilang galak, lebay, sampai akhirnya malah kita yang disalahkan. Atau di kasus saya dibilang sebarin fitnah. Gaslighting much eh?
Anyway, pelajarannya satu: gak usah ngasih hadiah ke orang yang tak dikenal, cukup kasih ke lingkar terdekat. Kalau tak ada keluarga yang memerlukan, beli buat diri sendiri aja.
Kalau gak ada noda gak belajar kan?
xx,
Tjetje