Bicara Bakul

KBBI menjelaskan bahwa bakul /ba·kul/ n adalah wadah atau tempat terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada ukuran bagian mulutnya. Dalam bahasa Jawa, bakul sendiri berarti pedagang, ada yang beranggapan bahwa konotasi bakul sendiri agak negatif. Entahlan, tapi hari ini saya lebih nyaman menggunakan kata bakul sebagai judul postingan ini, karena saya ingin membahas sisi mengesalkan dari sebagian, sebagian lho ya, bakul di media sosial.

Sudah sedari lama saya ini sebel sama kelakukan bakul-bakul di jagat media sosial. Suara hati saya kemudian disuarakan dengan lantang oleh selebtwit yang tentunya membuat jagat media sosial heboh. Orang-orang yang selama ini berdiam seperti saya, perlahan-lahan bersuara keras dalam menyuarakan kerisihan mereka dan berbondong-bondong menunjukkan kata kunci yang dimute. Rupanya, saya tak sendirian.

Capek lihat iklan

Pengguna media sosial itu sudah sangat lelah sekali melihat iklan bertaburan, tak hanya iklan model spam dari para bakul tapi juga iklan berbayar yang bertaburan dimana-mana. Pendeknya, kita ini memang dibombardir dengan iklan dimana-mana. Salah satu hasil survei sebuah perusahaan survey menyatakan bahwa pengguna media sosial ini lelah, karena terlalu banyak iklan di media sosial dan banyak dari iklan ini tak relevan dengan yang mereka cari.

Tak heran kalau kemudian orang-orang berinvestasi (baca: bayar dan gak gratisan) pada ads blocker. Demi pengalaman berselancar di internet yang lebih menyenangkan, bebas iklan.

Repetisi informasi dan Etika

Sorry not sorry, tapi ketidaksukaan ini juga karena adanya mental spammer dari para bakul. Mereka tak ubahnya spammer professional yang menggunakan prinsip promosi: repetisi informasi yang sama, jika perlu hasil copy paste sehingga minim usaha dan tak kreatif. Lakukan berulang kali, setiap hari, dan di mana-mana.

Gratis menjadi kata kunci dalam berpromosi. Tak perlu keluar modal untuk bayar iklan di media sosial.  Cukup bajak postingan dan komentar orang supaya orang tak memiliki pengalaman yang menyenangkan di media sosial. Tak hanya di tweet atau postingan orang, tapi juga di berbagai forum atau grup di media sosial.

Sekali lagi, harus berulang kali, syukur-syukur kalau admin group gak memperhatikan. Posting setiap hari, dimulai dari tiga hari berturut-turut, lalu jadi 7 hari, kemudian 40 hari. Setelah itu non-stop. Kalau ditegur admin, tinggal tuduh adminnya tak suportif saja.

Interupsi

Salah satu argument yang saya baca, mengatakan bahwa para pedagang ini menginterupsi kehidupan kita. Lagi asik-asik ngobrol tentang pandemic, eh tiba-tiba ada yang teriak misi kakak, akun Netflixnya, akun Spotifynya. Dagangan illegal pula. Nah ini persis kayak lagi asyik ngobrol-ngobrol di kereta jurusan Bogor, tiba-tiba diinterupsi oleh tukang tahu. Tahunya kakak, tahu kuning, tahu pong, tahu isi, tahu walik atau tahu gejrot.

Pedagang ini menginterupsi kenyamana pada pengguna media sosial demi keuntungan beberapa rupiah tentunya. Sayangnya, dalam proses menginterupsi itu, tak ada  pemikiran untuk menjadi kreatif dalam menyampaikan pesan, dan tentunya tak ada etika dalam berkomunikasi. Selain itu, kebanyakan pedagang juga tak riset pasar dulu untuk mencari tahu apa yang diperlukan. Pendeknya bagaikan orang haus ditawari akun Spotify.

Ribut-ribut ini kemudian ditambahkan dengan self-entitlement, bahwa sebagai pedagang berhak untuk beriklan. Beriklan itu tentu saja boleh, tapi mbok ya yang etis. Bilang permisi saja tak cukup, harus tahu menempatkan diri. Kalau mau suka-suka sendiri, bayar iklanlah di Twitter, atau Facebook, sewa lapak di pasar atau promosi dagangan di tempat yang memang diperbolehkan pada hari-hari tertentu.

Lagipula, profilmu kenapa gak dipakai buat jualan juga? Coba 40 hari hari berturut-turut promosi dagangan yang sama, daripada bagi-bagi spam di lapak orang kan mendingan dagangan di lapak sendiri?


Ailtje
Sukses mempromosikan sebuah Kios di Belanda se-Irlandia (bahkan sampai Wales), tanpa nyepam. See?