Mendadak Semua Jadi Dokter

Cedera punggung saya masih belum sembuh dan saya masih berjalan tertatih-tatih seperti nenek-nenek. Berusia muda dan berjalan tertatih-tatih tentunya mengundang mata orang untuk melihat. Tak menyenangkan memang, tapi kalau urusan dilihatin saja, saya bisa melotot balik. Sayangnya, orang tak sekedar melihat, banyak yang bertanya saya sakit apa. Pertanyaan ini biasanya saya jawab baik-baik dengan kata ‘kecetit’.

Bisa ditebak, pembicaraan setelah kata kecetit menjadi lebih panjang, lama dan bikin capek. Saya sebenanrya tak keberatan sharing panjang tentang kondisi punggung saya, karena ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain supaya hati-hati ketika masih muda. Sharing ini tapi dengan catatan selama yang ngedengerin gak sok-sokan jadi dokter ya. Tapi kayaknya ini cuma mimpi, karena di Indonesia banyak orang bercita-cita jadi dokter dan cita-cita ini nggak segera dikubur ketika gagal masuk fakultas kedokteran.

Kemana saya melangkah, berinteraksi dengan orang, bisa dipastikan saya menerima nasihat makan ini, minum ini, coba metode ini, pengobatan itu, kunjungi dukun ini atau dokter itu. Pengemudi taksi yang membawa saya beberapa waktu yang lalu melakukan hal tersebut. Si pengemudi menjelaskan dahulu bahwa latar belakang etnisnya adalah Tionghoa-Jawa. Bapaknya Tionghoa, ibunya orang Jawa. Lalu dia menjelaskan bahwa bagi orang Tionghoa, pengobatan paling mujarab untuk masalah punggung adalah bulus yang dimasak pi oh. Menurut pengemudi taksi tersebut, bulus terkenal mengandung banyak minyak sehingga kalau saya makan bulus, kandungan minyaknya bisa meminyaki punggung saya.

Disc-Problems

Aneka rupa masalah punggung

Menurut bapak pengemudi, pi oh yang enak, yang isinya daging semua bukan di daerah Glodok, tapi ada di jembatan tiga. Nah seperti layaknya orang Indonesia lainnya, saya tak diberi alamat, melainkan diberi patokan jalan, kanan, kiri, putar balik, lurus, perempatan ini itu. Selamat deh hanya yang niat yang bisa nyari warung pi oh yang katanya jam enam buka, jam sembilan sudah habis. Iseng-iseng saya google tentang bulus yang dimasak pi oh dipercaya menyembuhkan rematik, mengencangkan anggota tubuh, mengobati diri dari guna-guna, diare, asma, awet muda, hingga menambah stamina pria. Tak heran kalau hewan kalau hewan kecil ini kini statusnya terancam.

Selain merekomendasikan bulus, si bapak juga merekomendasikan Sinshe di wilayah Rawamangun dekat Arion. Lagi-lagi tak ada alamat, hanya patokan untuk mencari tempat ramai di sekitar Rawamangun. Sishe hebat ini katanya sudah berhasil mengobati banyak orang, termasuk orang yang tak bisa jalan karena stroke.Si sinshe juga tak mematok harga untuk jasanya, cukup donasi seiklasnya ke dalam laci.

Pengemudi tersebut bukanlah satu-satunya orang tak dikenal yang memberi saya saran berobat. Di sebuah toko saya sempat bertemu Oom-oom yang merekomendasikan obat merek A, B, C untuk dengkul saya.  Halo…halo..yang sakit punggung saya kok dengkul saya dibawa-bawa? Ini Oom-oom ngeyel banget, katanya punggung dan dengkul itu berhubungan (ga salah) dan banyak kasus dengkul kekurangan pelumas. Daripada capek dengernya, saya pun cuma senyum-senyum saja sama membatin, situ dokter?

Tanpa ditanya orang memang suka memberi rekomendasi obat-obatan kimia, herbal, hingga alternatif Niatnya mulia, pengen membantu orang. Tapi tak selamanya orang berniat membantu teman yang sakit. Ada saja teman lama (atau tetangga) yang lama tak menyapa tiba-tiba hadir ketika kita sakit. Layaknya penyelamat, Sang teman lama ini datang tanpa sekeranjang buah-buahan, apalagi majalah untuk teman istirahat. Ia datang membawa katalog multi-level marketing yang penuh obat-obatan yang diklaim sebagai yang paling mujarab. Nggak gratis tentunya, karena teman ini tak benar-benar ingin membantu, ia hanya ingin jualan dagangannya dengan kedok membantu orang sakit. Oh sungguh kalau sudah begini rasanya pengen asah-asah benda tajam deh!