Kenangan Manis Masa Kecil

Sambil menyetir ke kantor pagi tadi, si penyiar radio bercerita bahwa dia bertemu dengan ayahnya. Mereka sudah beberapa bulan ini tidak ketemu, karena selama musim panas ini sama-sama sibuk. Si Ayah ketika bertemu memberikan kartu ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah bulan Juni lalu. Tapi di Irlandia, tradisi memberi kartu itu tradisi penting. Ketika dibuka, kartu itu diisi uang sebagai hadiah ulang tahun. Si penyiar bercerita bagaimana pengalaman itu membawa banyak kenangan masa kecil. Btw, penyiar ini udah bapak-bapak beranak dua.

Cerita itu membawa saya kembali ke Indonesia, ke masa kecil saya, ketika keluarga kami mendapat kunjungan dari sanak-saudara atau teman-teman orang tua saya. Di akhir kunjungan, biasanya mereka menyelipkan sedikit uang ketika kami mencium tangan mereka. Nilainya bagi saya saat itu, berarapapun, berasa banyak sekali. Maklum sebagai anak-anak, saya belum teracuni kerakuasan dan tak begitu mengerti nilai uang. Tentunya sekarang sudah jauh beda 😉

Beberapa tahun lalu, ketika saya bekerja di Jakarta & mudik ke Malang, saya mengunjungi seorang tetangga. Ketika saya hendak pulang, beliau mewanti-wanti bahwa ia akan memberi saya uang tapi saya tak boleh melihat dari nilainya, tapi dari perhatian dan niatnya. Jangan ditanya rasanya, saya riang gembira tak terkira. Uangnya sendiri saya simpan di dalam dompet sebagai token, token perhatian pada saya. Yang jelas lebih indah daripada ketika menerima gaji ataupun bonus. Mungkin, karena elemen kejutannya yang membuat hadiah uang jadi lebih manis.

Tidur Siang

Selain urusan uang, kenangan manis masa kecil yang sangat saya hargai adalah kesempatan untuk bisa tidur siang. Ketika anak-anak disuruh tidur siang rasanya susah sekali & saya merasa itu sebagai sebuah hukuman. Apalagi sebagai anak-anak, saya maunya main di luar dan bermain sepeda hingga kulit kelam (hingga kemudian dikatain tetangga karena kulit kelam & betis besar). Satu kali, saya pernah nekat keluar dari jendela rumah tante saya di Surabaya, lalu memanjat pagar rumah untuk keluar. Nasib apes, pucuk pagar yang sedang saya pegang patah dan saya sukses perlahan-lahan (tapi pasti), masuk ke dalam selokan Surabaya yang warna dan baunya aduhai.

Sebagai orang dewasa, tidur siang menjadi sebuah kemewahan luar biasa, karena selama hari kerja saya tak punya kesempatan tidur siang. Begitu pula ketika akhir pekan, apalagi di musim panas seperti ini. Maunya keluar terus untuk menikmati cuaca. Begitu teler dan punya kesempatan untuk tidur siang, rasanya menyenangkan sekali.

Berbagi Kue

Kenangan manis yang tak lagi saya lakukan adalah soal membagi kue menjadi beberapa potong, tergantung penghuni rumah. Eyang putri  dan mama saya jika pergi ke arisan selalu membawa pulang satu kotak yang berisi makanan. Buah tangan arisan ini biasanya diisi dengan perpaduan kue yang manis juga kue yang asin. Sebagai anak-anak, tentunya ingin mencoba semua kue yang ada di dalam kotak tersebut.

Di keluarga kami, kue-kue tersebut harus dibagi-bagi. Biasanya dipotong sama rata menjadi empat, sesuai penghuni rumah pada saat itu. Semua orang ikut merasakan, walaupun hanya secuil. Rasanya juga jadi lebih menyenangkan, tak terlalu kenyang.

Prinsip berbagi sekarang berubah, bukan lagi karena ingin icip-icip, tapi karena tak ingin merasa terlalu berdosa dengan kalori dan kenikmatan kue-kue tersebut. Nikmat di mulut hanya sekejap, tapi harus dibakar di gym selama berjam-jam.

Bagaimana dengan kalian, punya kenangan manis masa kecil?

xx,
Ailtje
Diingetin WP, udah 8 tahun ngeblog

 

Advertisements