Nostalgia Anak Pramuka 

Tepuk pramuka

Prok…Prok…Prok…
Prok…Prok…Prok….
Praja Muda Karana
Hayo siapa yang masa mudanya pernah dihabiskan menjadi anak pramuka? Saya salah satunya dan saya masih memendam kebanggaan karena menjadi anak Pramuka Indonesia. Indonesia sendiri merupakan negara dengan anggota Pramuka terbesar di dunia, karena semua pelajar wajib jadi anak Pramuka. Walaupun tak wajib ikut kegiatannya setiap minggu.
Perkenalan pertama saya dengan Pramuka bermula saat sekolah dasar. Tapi tentunya saat itu di sekolah swasta saya, pramukanya “priyayi abis”. Tak ada ceritanya bermain pasir, masuk sungai ataupun terekspos dengan perkemahan. Hanya sekedar baris-berbaris dan tali-temali ketika matahari sudah mulai meredup. Kami yang “priyayi” ini tak pernah terpapar teriknya matahari.
Lalu, di masa SMP saya mulai berkenalan dengan pramuka yang sesungguhnya. Pramuka yang mengharuskan kami semua menggunakan sepatu warrior yang murah meriah. Jaman itu saya super kaget ngelihat warrior yang harganya hanya 30 ribu (ini jaman sebelum Pak Harto lengser ya). Saya juga merasakan kemah yang sesungguhnya di saat SMP. Kemah pramuka saya bermula di sebuah kabupaten di Malang. Persis di tanah kosong di belakang SMP 7 Malang. Saat itu, di belakang lahan kemah kami terdapat sungai yang digunakan oleh masyarakat setempat. Ketika pertama kali diberitahu penduduk lokal untuk sikat gigi di sungai tersebut saya hanya mengiyakan, tapi menunggu matahari terbit terlebih dahulu, untuk melihat kondisi sungai. Keputusan yang tepat karena  seperti layaknya sungai di berbagai tempat, segala aktivitas kehidupan dipusatkan disini. Segalanya! Dari mulai buang air, mandi, mencuci piring, hingga mencuci beras. Dan tak seperti di Badui yang mengatur perempuan untuk menggunakan sungai bagian atas (karena mereka yang mencuci beras), di sungai ini tak ada pembagian. Jadi ya jangan heran kalau tiba-tiba melihat bongkahan emas mengembang ketika sedang mandi. Selama masa kemah beberapa hari tersebut, saya sukses tak mandi tapi tetap sikat gigi dengan air kemasan.
Kekagetan saya tak berhenti disitu saja, ketika mengikuti jelajah Malang kota dan desa, kami nyemplung ke dalam sungai untuk menyeberangi sebuah area. Padahal tak jauh dari tempat kami nyemplung ada jembatan yang sudah susah payah dibangun dengan uang para pembayar pajak. Semua yang tergabung dalam regu kami, saya tak ingat lagi naa regunya, saling memegang tongkat kayu panjang yang menjadi senjata wajib anak Pramuka. Di dalam sungai itulah saya terjebak bersama bongkahan emas yang mengambang, lewat dengan tenangnya. Sialnya saya tak bisa langsung mandi tujuh kembang, karena harus melanjutkan perjalanan yang masih beberapa puluh kilometer. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan kepulangan saya ke rumah dengan kaki sekeras batu. Jaman itu cari tukang pijit di malam hari tak dimungkinkan. Tak kekurangan akal, kaki saya pun dipijat dengan botol kaca yang diisi air hangat. Mama saya pintar! 😀
Pramuka tak selamanya soal terpapar matahari hingga kulit kelam, berjalan jauh hingga kaki membatu, menghapalkan morse atau semaphore yang sampai sekarang tak pernah digunakan lagi, tali-temali, memanggul teman yang paling kecil, tapi juga melihat realita kota Malang dan Kabupatennya saat itu. Labelnya mungkin kota, tapi akses air bersih dan sanitasi pada tahun itu begitu buruk. Begitu juga dengan kondisi jalanan. Buat saya yang selalu melihat keindahan kota modern, Pramuka membuka mata saya akan dunia lain, dunia yang belum sepenuhnya terbangun dengan baik dan akhirnya menjadi bagian dari dunia pekerjaan saya. Pramuka juga membuat saya melihat kebaikan orang-orang desa yang menyemangati kami untuk terus melakukan perjalanan. Mereka yang rela memberikan semua air matang yang mereka punya untuk bekal minum kami.
Hubungan saya dengan Pramuka berhenti di tahun ketiga, saat saya harus fokus dengan ujian nasional. Sementara teman-teman saya sibuk ikut Jambore di Cibubur, saya asyik menikmati liburan saya di Jakarta sambil melihat mereka dari televisi (jaman dulu hebohnya luar biasa ketika melihat teman masuk TV).
Dua tahun yang lalu, sebelum saya meninggalkan kantor saya di Jakarta, saya ditugaskan bos besar di kantor untuk menghadiri upacara hari Pramuka dengan koh Ahok. Upacara ini pernah sekilas saya tulis di postingan berbahasa Inggris ini. Penugasan menyenangkan ini menghidupkan kembali banyak kenangan saya tentang Pramuka.
Ternyata setelah lebih dari dua puluh tahun saya masih bisa menyanyikan hymne dan membacakan Dasa Dharma Pramuka. Sang pemimpin upacara, Koh Ahok juga kocak. Beliau rupanya tak pernah jadi anak Pramuka sehingga tak tahu urutan dan protokol upacara. Akibatnya ketika baru memberikan pidato, beliau kembali menuju kursinya. Untung saja beliau segera dihentikan. Seperti diduga, sebelum upacara berakhir pun, hadirin menyeruak ke atas panggung untuk selfie. Ah anak pramuka sekarang tak sama lagi dengan anak pramuka jaman saya dulu. Satu hal yang agak saya sesalkan dari penugasan itu, saya tak bisa bersalaman dengan Ahok, padahal saya mewakili bos besar kantor. Koh Ahok hanya menyalami beberapa pejabat saja Deretan tempat saya duduk, kendati deretan terdepan dan VIP tak disalami. Dalam situasi seperti ini, saya agak baper, karena sebagai perempuan seringkali dianggap invisible dan tak lihat. Mungkin postingan ini harus saya cetak dan saya kirim ke Koh Ahok, supaya semua orang di deretan terdepan disalami oleh beliau.
Anyway, Selamat hari Pramuka! Semoga Pramuka Indonesia makin maju. Kalian, punya kenangan manis dengan Pramuka?
Xx,
Kakak Ailtje