Tak Bisa Masak Bukan Bencana

Suatu pagi belasan tahun lalu, seorang remaja yang baru lulus SMA menawarkan diri kepada seorang teman untuk membantu merebus telur. Telur itu sedianya akan digunakan untuk makan siang, bersama nasi putih dan seiris timun. Menu itu diwajibkan dibawa untuk makan siang mahasiswa baru jurusan teknik Universitas Brawijaya. Sebelum makan para mahasiswa baru ini diwajibkan push-up di atas aspal lalu makan tanpa cuci tangan. Jorok? harap maklum, yang membuat desain program memang tak kenal kata higienis. Lebih miris lagi ada akademisi dengan gelar panjang mengijinkan bullying terjadi di dalam kampus.

Niat baik saya merebus telur berakhir bencana ketika tiba waktu mengkuliti telur. Telurnya masih mentah saudara-saudara. Boro-boro matang sempurna, setengah matang pun tidak. Kemampuan saya memasak memang memprihatinkan dan bertahun-tahun setelahnya, saya masih tak bisa memasak. Jangan Tanya berapa kali eksperimen dapur saya gagal karena kebanyakan garam, terlalu matang, terlalu kering atau bahkan terlalu keras. Rasanya cuma sushi yang bisa saya buat dengan baik dan benar, walaupun kadang salah ngegulung.

Kunci memasak memang ada pada praktek terus menerus. Tapi bagi banyak orang yang tak punya waktu (atau tak mau meluangkan waktu), memasak bukanlah prioritas. Beruntunglah saya, serta banyak orang lain yang tak punya bakat memasak, karena Jakarta, yang selalu dibilang sebagai kota kejam, menawarkan kemudahan yang cukup terjangkau selama dua puluh empat jam.

Tengoklah pagi hari di kota ini, pedagang sarapan mulai menjajakan makanannya, dari nasi uduk, lontong sayur hingga bubur ayam. Pelaku food combining yang malas mengupas buah pun bisa dengan mudahnya membeli rujak atau buah potong. Kalau masih malas keluar, selalu ada  office assistant yang siap membantu dengan tips sepuluh ribu rupiah. Eh tapi ada juga yang masih suka ngasih tip dua ribu hingga tiga ribu rupiah, bisa buat apa coba tips itu?

Di Jakarta, kemanjaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penyedia jasa antar makanan. Rata-rata restaurant cepat saji menyediakan layanan antar 24 jam. Tak hanya restaurant cepat saji, ada beberapa situs jasa yang menawarkan layanan antar aneka rupa makanan, dari klik-eat hingga food panda dengan biaya antar belasan ribu hingga dua puluh ribu rupiah saja. Tak perlu angkat telpon, cukup pencet-pencet di internet. Metode pembayarannya pun mudah, bisa pakai kartu kredit, debit, hingga tunai. Penjaja makanan bahagia karena dagangannya laku, sementara pembeli bahagia karena kenyang. Eh saya gak lagi buzzing website-website itu ya.

image

Menemukan penggorengan di Asia Market, bahagianya luar biasa padahal harganya mahal.

Sayangnya, tak semua tempat mau menawarkan jasa layanan antar. Di dekat kos saya ada warung Padang yang menolak mengantarkan pesanan satu bungkus saja. Alasannya bukan rugi, tapi pengantarnya malas jika hanya satu bungkus. Di saat orang berebut mengeruk keuntungan, ada juga yang masih malas. Eh saya tapi juga malas, malas jalan menuju warung itu, bisanya cuma ngangkat telpon aja.

Jakarta (dan kota besar lainnya di Indonesia) menawarkan kemanjaan luar biasa kepada kita, selama kantong kuat bayarnya. Saking manjanya, mie instan yang idealnya dimasak sendiri selama tiga menit ditawarkan dalam bentuk matang dengan tambahan telur dan kornet (yang lagi-lagi barang instant). Baik banget kan, jadi orang-orang manja (seperti saya) gak perlu repot-repot berpeluh di dapur.

Saya tak lagi berkeluh kesah dengan semua ini, justru saya menikmati kemudahan hidup di negeri ini. Kemudahan ini seringkali tidak kita sadari sampai kita harus meninggalkan semuanya. Ah kalau sudah begini, makin berat hati meninggalkan Indonesia.

Siapa yang seperti saya, hobi pesan antar?

xx,

Tjetje