Skandal Kesusteran Irlandia

Mayoritas orang Irlandia itu Katolik dan gereja punya peran besar dalam kehidupan masyarakatnya sedari dulu. Layaknya di Indonesia, masyarakatnya di jaman dulu juga mengecam perempuan-perempuan yang hamil di luar perkawinan. Mereka dianggap sebagai aib hingga kemudian diasingkan. Aborsi sendiri bukanlah sebagai opsi, karena sampai hari ini negara ini tak memberikan akses aborsi yang aman.

Magdalene Laundries 

Saya pernah sekilas membahas Philomena di postingan ini

Pernah nonton Philomena? Perempuan yang hamil di luar perkawinan dan terpaksa bekerja mengurus laundry di sebuah kesusteran untuk membalas kebaikan kesusteran yang mau menampung dia dan menyembunyikan dia dari bahan gosip. Philomena dan banyak perempuan lain harus bekerja di dalam kondisi hamil karena kehamilan di luar perkawinan adalah hal yang tabu. Setelah melahirkan, mereka hanya diberi akses terbatas untuk berhubungan dengan anaknya.

Anak-anak ini kemudian diserahkan untuk adopsi pada pasangan-pasangan di luar Irlandia, seperti Amerika ataupun Inggris. Seringkali anak-anak ini diserahkan untuk diadopsi tanpa persetujuan ibu-ibunya. Anak Philomena sendiri mencoba mencari Ibunya, tapi lagi-lagi, kesusteran ini menolak untuk memberi informasi tentang si Ibu. Si anak akhirnya meninggal tanpa tahu siapa Ibunya. Segitu jahatnya mereka!

Institusi yang namanya terinspirasi dari Mary Magdalene, pekerja seksual, ini beroperasi di banyak tempat di Europa dan Amerika. Dan kesusteran yang mestinya memberi perlindungan pada perempuan-perempuan ini justru memperlakukan mereka dengan tak baik, karena mereka dianggap pendosa. Tentunya hanya perempuan yang dianggap pendosa, laki-laki kebal dari dosa. Di Irlandia sendiri, Magdalene laundry baru ditutup tahun 1996 saudara-saudara. Baru kemaren dulu! Dan setidaknya ada 60.000 bayi yang “dijual” pada orang-orang kaya untuk diadopsi.

Bagaimana dengan para ibu-ibu yang anak-anaknya diadopsi? Banyak dari mereka dipaksa bekerja di laundry hingga puluhan tahun, selain untuk membayar “kebaikan” kesusteran juga untuk “membayar dosa” mereka karena punya anak di luar perkawinan. Banyak dari mereka juga tak diterima kembali ke keluarganya, karena pada jaman itu norma mendikte perempuan-perempuan ini harus dibuang dari keluarga. Kejam.

Bayi-bayi Tuam

Tuam, sebuah kota kecil di barat Irlandia yang berjarak sekitar 30 km dari Galway. Di kota kecil ini ditemukan tulang-tulang dari anak-anak dan bayi-bayi kecil yang dibuang dalam 20 ruang terpisah di septitank. Seorang sejarahwan lokal, Catherine Corless, kemudian melakukan investigasi tentang bayi-bayi ini selama enam tahun. Awalnya, sang sejahrawan mengira hanya akan menemukan belasan atau puluhan bayi saya, tapi ternyata ada hampir 800 bayi yang dibuang di tempat tersebut.

Tadinya, ada spekulasi bahwa bayi-bayi ini dikuburkan di sana ketika masa kelaparan di Irlandia, pada tahun 1800 an. Tapi investigasi dari pemerintah menunjukkan bahwa bayi-bayi ini memang dikubur pada saat kesusteran ini masih aktif. Penyebab kematian para bayi ini sendiri beraneka rupa, termasuk sakit dan kurang gizi. 796 nama bayi ini sendiri dapat ditemukan di postingan sebuah media Irlandia di sini.

Sama seperti ibu-ibu di atas, bayi-bayi yang lahir di luar perkawinan dilihat sebelah mata dan tak dianggap setara seperti manusia pada umumnya. Terdengar familiar kan, karena bisik-bisik ini di Indonesia juga ada. Sang sejahrawan sendiri hanya ingin satu hal untuk para bayi-bayi ini, dignity, supaya anak-anak yang telah berpulang ini diperlakukan dengan layak.

Kesusteran Bon Secours yang ditutup pada tahun 1961 ini sampai sekarang belum meminta maaf dan pembahasan panjang tentang bayi-bayi ini masih akan terus berlanjut.

Penutup

Masih ada skandal yang melibatkan kesusteran di Irlandia, termasuk soal kekerasan pada anak yang dilakukan Sister of Mercy. Saya sendiri enggan melakukan riset lebih lanjut, karena semakin banyak saya membaca sejarah kelam ini, semakin sedih lihatnya.

Sekarang saya sedikit memahami, kenapa banyak orang yang kehilangan kepercayaan pada insitusi keagamaan dan mengapa gereja-gereja di sini lebih banyak di isi muka orang-orang asing yang masih muda, ketimbang muka anak-anak muda Irlandia. Sejarah masa lalu mereka, terlalu kelam.

xx,
Tjetje

 

Advertisements