Tertimpa Gosip dan Rumor

Lebih dari satu dekade lalu seorang tetangga saya berdiri di depan rumah sambil berteriak-teriak, marah tak jelas. Kendati pendidikannya tinggi dan pekerjaannya menjadi pendidik anak bangsa, sang tetangga satu ini memang terkenal tak bisa mengatur temperamennya dan hobi marah-marah. Di tengah-tengah amarahnya, ia tiba-tiba menghujat saya, anak kuliahan yang baru kenal cinta monyet sebagai perempuan simpanan. Darah muda saya mendidih, apalagi saat itu saya masih jomblo. Sebagai jomblo yang merindukan cinta, bagai pungguk merindukan bulan, kejadian itu saya ibaratkan seperti peribahasa bagaikan jomblo tertimpa tangga. Apes bener. Tetangga itu berakhir diam tak berkutik ketika saya labrak.

Dalam kehidupan, seringkali kita ditimpa gosip ataupun rumor. Artis bukan, motivator juga bukan, tapi ada saja orang yang iri dan dengki lalu membuat gosip dan rumor aneh-aneh. Pada saat yang sama, banyak dari kita yang terlibat baik secara aktif maupun pasif dalam kegiatan pergunjingan. Dari bergunjing sambil ngopi-ngopi dan arisan cantik, hingga bergunjing kelas teri bersama abang tukang sayur ataupun ketika usai ibadah. Lha abis ibadah kok nggosip.

Saya mendefiniskan bergosip sebagai kegiatan membicarakan orang. Yang dibicarakan biasanya fakta tetapi banyak dari informasi ini harusnya disimpan dalam lingkungan terbatas. Kendati hal-hal yang dibicarakan dalam pergosipan adalah fakta, tujuan dari membahas hal-hal ini bukanlah mengulas fakta atau investigasi untuk mengungkap sebuah permasalah. Tujuannya hanya untuk olahraga lidah, mulut dan telinga. Satu hal yang seringkali dilupakan, ada informasi-informasi yang seharusnya disimpan dalam sebuah ruang terbatas yang tiba-tiba dikeluarkan dan diumbar untuk untuk mengatasi kebutuhan membicarakan orang lain. Berbeda dari gosip, rumor merupakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sumbernya tak jelas, dasarnya tak jelas, kebenarannya apalagi.  Rumor menurut saya jauh lebih kejam dari gosip.

Gosip dan rumor tak bisa dilepaskan dari tukang gosip  yang juga berperan sebagai tukang sulut masalah ataupun provokator.  Provokator sekelas RT atau RW yang punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, bukan provokator yang bikin rusuh di depan kantor DPR. Tukang bikin rusuh ini biasanya punya ciri khas tak bisa menyimpan informasi dan hal-hal yang dia dengar dapat dipastikan tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga orang yang dibicarakan.
facebook-gossiping
Menghadapi tukang gosip atau penyebar rumor tidaklah mudah. Tapi yang paling utama, kita tidak boleh terpancing. Baik terpancing ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan informasi ataupun terpancing secara emosi. Pada saat yang sama, semua informasi yang kita dengar, dari siapapun, harus berhenti pada diri sendiri. Segatal-gatalnya mulut jangan sampai mengeluarkan informasi ke tukang gosip, apalagi ke para korbannya. Tak ada gunanya menyampaikan informasi tersebut pada orang lain, karena hanya membuat suasana semakin runyam.
Mereka yang mendengar berita diri digosipkan juga sebaiknya  tak mudah terprovokasi lalu tergoda labrak-melabrak, macam saya ketika masih muda belia. Apalagi jika sumber dari pergosipan ini adalah orang-orang yang memang terkenal sebagai tukang gosip dengan kalimat standar “Katanya si X, kamu begini, katanya si Y suamimu begini; aku dengar dari si Z kemarin begina begitu”. Semua katanya.
Sebuah sumber bacaan saya mengatakan bahwa orang-orang yang bergosip biasanya tak merasa percaya diri, sehingga merasa lebih baik ketika membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain. Pada saat yang sama ada kemarahan ataupun kecemburuan pada sang korban gosip. Nah, orang-orang seperti ini tak selayaknya diberikan panggung untuk menaikkan kepercayaan dirinya. Cuekin saja, anggap angin lalu.
Apakah ini berarti kita tak boleh membicarakan hidup orang lain? Sah-sah saja kok, apalagi jika hal tersebut adalah berita baik yang patut dirayakan. Tapi sudah selayaknya etika dan norma menjadi pembatas, baik pembatasan topik yang layak dibahas, maupun ekslusifitas informasi tersebut (Baca: gak perlu ngember kemana-mana).
Jika dulu saya melabrak-labrak orang, sekarang saya jauh lebih dingin dalam menghadapi gosip. Kadang saya menganggap gosip sebagai sebuah kewajaran, apalagi banyak yang tak cocok  (atau tak paham tapi pura-pura paham) dengan jalan pikiran dan gaya bicara saya. Pada saat bersamaan, saya juga bisa belagak jadi artis kan? Artis tanpa film, tanpa sinetron, tapi tak kalah penuh drama. Tentu saya yang menggosipkan saya tak akan saya beri somasi, apalagi somasi dengan 18 pengacara.
Mengutip kata Dedi Cobuzier, kita itu manusia dan bukan malaikat. Jadi wajar saya jika sebagai manusia yang tak sempurna kita banyak salahnya. Nah ketika manusia tak sempurna, bukan berarti mereka bisa dengan semena-mena dibicarakan dan digosipkan habis-habisan.
Bagaimana dengan kalian, pernah berurusan dengan tukang gosip, tertimpa gosip atau rumor tak sedap? Atau malah menjadi tukang gosip? #Eh
xx,
Tjetje
Ketularan Cerita Eka menjadi penikmat gosip super somasi.