Operasi Plastik

Tidak, saya tidak sedang membahas kebiasaan kita ketika acara makan-makan usai (yang kadang dilakukan sebelum acara usai), dimana para undangan sibuk mengambil kantong-kantong plastik kosong untuk diisi dengan sisa makanan. Operasi plastik yang saya bahas adalah tindakan perbaikan ataupun perubahan anggota tubuh dengan alasan kosmetik (bukan medis) dengan segala kontroversi yang mengiringinya.

Bicara tentang operasi plastik, kepala saya langsung memikirkan tentang prosedur untuk membesarkan ataupun mengecilkan payudara, memancungkan hidung, membuat pipi lebih tirus, lebih tembem, melancipkan dagu, membelah dagu, membuat garis mata (supaya tak terlalu sipit), hingga operasi sedot lemak yang bisa membuat badan lebih kurus dalam sekejap. Tak hanya itu, prosedur operasi plastik juga bisa menghilangkan tahi lalat, termasuk tahi lalat yang berbahaya. Pendek kata, apa yang ingin dirubah bisa dilakukan, selama kondisi kesehatan fisik dan kantong memadai.

Operasi plastik identik dengan mahal, karena harga jasa dokter bedah plastik memang tak murah. Kendati dianggap mahal, operasi plastik tak hanya diminati oleh mereka yang berada, mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi juga tak segan menabung untuk bisa berada di meja operasi. Bahkan, seseorang yang saya kenal pernah mleakukan liposuction dengan metode pembayaran cicilan. Proses penyedotannya sendiri dilakukan bertahap, karena ukuran badannya yang relatif besar.

Keterbatasan dana tak menghentikan orang-orang berhenti untuk membeli perubahan fisik. Alternatif dengan biaya yang dianggap lebih murah dicari dengan cara melakukan suntik silikon. Para penggemar suntik silikon alternatif ini kemudian banyak dikenal sebagai KHJ, korban Haji Jeje. Biasanya, hasil kreasi jarum suntik ini tak terlalu indah dan para ‘korbannya’ memiliki karakteristik muka yang hampir sama. Bibir penuh berisi cenderung bengkak, hidung juga tak kalah berisi, begitu pula dengan dagu, semuanya berisilah. Hasil karya suntik silikon ini kemudian banyak dicela karena kualitasnya yang dianggap kurang ciamik serta cetakannya yang kurang rapi, cenderung berisi. Ingin tahu contohnya? tengok saja salah satu bekas penjabat provinsi sebelah yang terkenal dengan mega korupsinya. Owalah bu..bu…korupsi segitu kok gak bisa operasi di Korea.

Korea Selatan sendiri dijuluki sebagai ibu kota dunia untuk urusan operasi plastik, karena tindakan operasi plastik perkapitanya sangat tinggi. Operasi paling standar disana adalah operasi kelopak mata supaya mata tak terlihat lelah karena bentuk mata yang monolid. Sementara operasi untuk merubah bentuk wajah dari yang kotak hingga oval pun tak segan dilakukan orang-orang sana. Tak hanya perempuan saja, pria-pria Korea pun tak enggan melakukan operasi plastik.

Mengapa operasi plastik tak begitu populer di Indonesia? Selain karena soal harga, juga karena kondisi sosial di masyarakat yang menghukum secara sosial orang-orang yang melakukan operasi plastik. Jauh berbeda dengan di Korea, dimana orang “berlomba-lomba” mempermak mukanya. Di Indonesia, perlombaan itu tak bisa dilakukan, karena masyarakat kita cukup pedas dalam membicarakan kecantikan hasil dari sayatan pisau dokter. Selain itu, operasi plastik juga kerap dianggap sebagai hal yang tabu, karena anggapan bahwa mereka yang melakukannya tak bersyukur terhadap hadiah dari Tuhan. Kendati begitu, artis-artis serta kaum menengah ke atas di Indonesia tak segan untuk melakukan operasi dan kemudian berbohong dengan mengatakan tak pernah operasi. Hanya beberapa artis, seperti Krisdayanti dan Titi DJ saja yang berani blak-blakan.

Situasi di masyarakat kita yang tak jelas ini sebenarnya sungguh membuat serba salah. Mereka yang berhidung pesek misalnya, seringkali dihina karena dianggap memiliki hidung yang tidak sempurna. Sementara ketika hidung dioperasi, orang-orang pun tak akan berhenti menghujat. Jadi sebenarnya, hidung itu harus bagaimana? pesek salah mancung pun salah. Saya sendiri tak ambil pusing dengan tindakan-tindakan medis yang diambil orang untuk memperbaiki kondisi fisik mereka. Tentu saja selama tindakan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kualifikasi. Jangan sampai hanya gara-gara ingin wajah yang lebih cantik berakhir di liang kubur.

Bicara tentang hidung, satu hari saya berada di dokter kulit langganan saya untuk melakukan perawatan wajah. Suster yang membersikan wajah saya kemudian bertanya, apakah hidung saya, yang dianggap mancung untuk ukuran Indonesia, asli atau merupakan hasil operasi. Saya pun menjawab, hidung saya asli. Tak puas, suster itu pun mencolek-colek hidung saya beberapa kali sambil berkata “Oh..hidungnya emang beneran mancung ya, bukan hasil operasi.” Dalam hati saya cuma bisa bisa mengumpat tak karuan.

Kamu, setujukah dengan operasi plastik?

xx,
Tjetje

Advertisements