Melihat Lebaran Dari Jauh

Selamat Hari Raya Idulfitri teman-teman. Bagaimanakah Idulfitri kalian? Semoga kiranya lancar dan menyenangkan. Semoga juga lebaran kemarin berlalu tanpa teror pertanyaan tak sopan tentang hal-hal pribadi. Dari Twitter saya melihat ada beberapa orang yang sudah muali berani galak ketika ditanya pertanyaan tak sopan. Pertanyaan yang gak sopan ini pun dibalas dengan reaksi tak sopan juga. Banyak orang beranggapan ini gak sopan, tapi kita semua manusia yang punya emosi dan perasaan. Jadi ngerti bangetlah kalau dongkol banget, apalagi kalau berkaitan dengan hal-hal yang kita tak bisa kontrol. i.e jodoh, kehamilan.

Lebaran kali ini saya perhatikan juga banyak yang nyinyir politik, terutama tentang jalan tol. Yang pendukung Jokowi nyinyirin yang makai jalan tol, sementara yang anti-Jokowi nyinyirin orang-orang kecil di Pantura yang kehilangan penghasilannya karena Pantura sepi. Duh, lihat yang kayak gini ini saya bersyukur. Bersyukur tinggal di Irlandia karena gak harus berurusan dengan komentar-komentar politik panas gitu. Apalagi di saat suasana lebaran yang harusnya pada damai dan tenang.

Persoalan THR masih rame dan seru juga ya. Banyak yang udah mulai kepanasan oleh organisasi liar yang minta-minta duit THR. Mereka ini sungguh menyusahkan. Selama saya kerja, saya tak pernah dapat THR sama sekali. THR satu kali gaji itu mimpi di awang-awang. Paling banter dikasih duit dari bos menjelang lebaran. Jumlahnya gak satu kali gaji sih, tapi kejutan dikasih bonus itu yang luar biasa.

Nah, menjelang lebaran itu bagi saya saat terberat, karena pengeluaran bisa melonjak beberapa kali lipat. Semua elemen berharap THR, dari mulai jasa pengaman di kantor dulu (ini termasuk para petugas keamanan yang dibiayai negara), para satpam dan pekerja kost-kostan, hingga para remaja masjid dari kampung-kampung belakang kost yang saya tak pernah kenal. Tanpa segan mereka mengetuk pintu kos-kosan, tanpa nanya pula, apakah yang dimintai uang ini lebaran atau engga. Berbagi itu memang indah, tapi kalau udah pakai maksa-maksa gini kok jadi gimana ya?

 

Persoalan minta-minta ini juga dialami oleh para bule-bule yang tentunya gak kenal dengan model THR. Di Eropa sini yang model minta-minta uang biasanya buat fundraising untuk kegiatan sosial, bukan untuk kepentingan kantong sendiri. Para bule yang tak kenal budaya THR ini kemudian dimaki-maki pelit, karena tak mau berbagi, padahal digaji ribuan dollar. Padahal, konsep minta-minta ini asing bagi mereka. Beberapa dari mereka bahkan ada yang meminta penjelasan secara mendetail kepada saya kenapa ada budaya seperti ini.

THR juga banyak diberikan buat anak-anak. Uang pecahan baru jadi serbuan masa untuk ditukarkan dan dibagi-bagikan. Saya sendiri biasanya gak repot-repot nyari uang baru, cukup uang lama, yang penting niatannya. Bicara tentang anak-anak, dulu di rumah saya ada segerombolan anak kecil yang entah dari mana asalnya, datang bertamu. Anak-anak ini berpakaian rapi dan baru, keliling kompleks rumah. Rupanya, mereka ini datang untuk merasakan penganan dan juga secara implisit mengharapkan uang lebaran, di Malang, kami menyebutnya galakgampil.  Saya sendiri tak pernah tahu tradisi ini sampai anak-anak itu muncul di depan rumah.

Ramadan di Irlandia sendiri sangat panjang, karena sudah mulai masuk musim panas. Sungguh salut saya melihat teman-teman kerja saya yang kukuh menjalankan ibadahnya, kendati panas menyengat. Panas di Irlandia memang tak seperti daratan Eropa, tak sampai menginjak 20 derajat, tapi tetap panas.

Warga Indonesia di Irlandia sendiri banyak yang mengadakan open house, konsepnya pot luck. Tamu datang membawa makanan. Tahun kemarin saya bergabung dengan salah satu open house. Orang-orang berkumpul, membawa makanan khas nusantara sambil melepas rindu mengobrol dengan bahasa Ibu. Rasanya mungkin tak sama dengan lebaran di negeri sendiri, apalagi tak ada tante-tante yang memberikan beberapa ratus ribu rupiah sebagai hadiah lebaran, tapi setidaknya mereka bisa merasakan kebersamaan.

Bagaimana liburan lebaran kalian?

Advertisements

[Jelajah Irlandia] Menyusuri Beara Peninsula

Sepanjang mata memandang, terhampar padang rumput hijau yang dihiasi titik-titik putih. Di salah satu sudut, titik-titik putih yang tersebar ini tiba-tiba bergerombol menuju satu sudut. Lalu domba-domba ini berpindah secara cepat menuju sisi kanan. Rupanya anjing sahabat petani sedang menggembala para domba lucu yang baunya tak selucu tubuhnya.

Beruntungnya hari itu kami disuguhi pemandangan indah dan tak sempat berpapasan dengan domba-domba yang membanjiri jalan raya, kalaupun ada, hanya satu dua ekor saja. Jika bertemu dengan segerombolan domba, bisa dipastikan kami harus mematikan mesin kendaraan dan piknik di pinggir jalan, menanti para domba-domba tersebut lewat. #IrlandiaBanget

Menuangkan tempat-tempat yang saya kunjungi ke dalam satu postingan Blog tak akan cukup, karena keindahan Cork yang luar biasa. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk merangkumnya berdasarkan tempat yang saya kunjungi. Jika ada yang berminat mengikuti jejak saya, jangan segan untuk mengirim email ya.

Gougane Barra

Rute perjalanan kami menyusuri Beara Peninsula sedikit tak biasa, karena kami mampir dahulu ke Gougane barra untuk melihat sebuah gereja kecil yang sempat saya muat di Instagram. Gereja kecil yang hanya memiliki 5 deret bangku di sisi kanan dan kiri sangat populer untuk perkawinan karena lokasi dan juga pemandangannya yang cantik. Tak hanya kehidupan percintaan yang dimulai dari titik ini, sungai Lee yang membelah sungai Cork juga memulai perjalanannya dari desa kecil ini.

Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan betapa indah dan romantisnya gereja yang dilatarbelakangi oleh bukit-bukit batu dan juga dikelilingi danau cantik. Tak jauh dari gereja ini saya juga menemukan hamparan rumput hijau yang lagi-lagi dihiasi dengan domba-domba putih. Saya yang m mendekati mereka pun langsung menyesal karena banyak ranjau darat yang bertebaran.

Dunboy Castle 

Reruntuhan castle ini terletak di pinggir Atlantik dengan pemandangan yang lagi-lagi elok. Sayangnya reruntuhan ini tak terawat dan hanya ditemani rumput liar.

Perjuangan demi mendapatkan foto hotel bintang yang terlantar

Castle ini juga berbagi lahan dengan hotel bintang enam yang telah berubah menjadi hotel bintang redup. Konon hotel megah yang dikelilingi dengan pagar tinggi ini pembangunanya harus dihentikan karena keterbatasan biaya. Saya tak puas dengan melihat hotel dari luar dan memilih untuk loncat pagar demi melihat kecantikannya yang memudar. Untung tak ada satpam ataupun anjing penjaga yang menghentikan saya.

Allihies

Desa kecil yang merupakan desa terakhir di Beara Peninsula ini menawarkan pemandangan luar biasa. Dari atas bukit kami disambut dengan pemandangan  pegunungan hijau yang dihiasi dengan bunga-bunga berwarna ungu serta deburan ganasnya laut Atlantik. Hamparan lautan pasir putih juga menambah cantiknya pemandangan. Dari ketinggian ini ada sedikit penyesalan karena saya tak membawa DSLR saya dan hanya bermodalkan iphone, sementara sang iphone tak mampu melakukan tugasnya dengan baik untuk merekam keindahan alam Cork.

Saya terkecoh oleh butiran-butiran pasir-pasir putih yang menghampar di desa ini. Rupanya, pasir-pasir tersebut bukanlah pasir asli dari pantai, tapi hasil buangan dari penambangan tembaga. Pada tahun 1812, terdapat pertambangan tembaga di desa ini, karena desa ini memiliki tembaga terbesar di Irlandia. Pertambangan ini sendiri ditutup di tahun 1844, karena deposit tembaga yang menurun.

Sekembalinya dari desa ini, kami melewati batu misa (mass rock). Batu ini menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah Inggris yang melarang umat Katolik di Irlandia untuk beribadah. Pada saat itu, mereka yang beragama Katolik terancam dihukum jika melakukan ibadah. Akibatnya, mereka harus beribadah di daerah terpencil, di balik bukit-bukit.

Eyeries Village

Saya menyebutnya desa Instagramable, karena desa kecil yang rapi dan bersih ini berwarna-warni dan sangat ceria. Kendati berwarna cerah dan ceria, Eyeries menawarkan hal yang tak dimiliki tempat-tempat lain: kesunyian, kesenyapan dan kesederhanaan. Di desa ini, saya hanya berpapasan dengan sapi dan juga anjing. Entah dimana para manusianya.

Dursey Island Cable Car

Pulau kecil tak berpenduduk ini dipisahkan dari pulau utama Irlandia oleh lautan kecil yang disebut sebagai Dursey Sound. Satu-satunya cara mengunjungi pulau ini hanya dengan menaiki kereta gantung tua yang penampilannya saja tak meyakinkan. Kereta gantung reyot ini juga memegang posisi penting karena merupakan satu-satunya kereta gantung di Irlandia. #NdesoBangetThoYo

Jalanan menuju area ini sendiri berliku-liku dan sangat kecil. Tak heran jika kemudian area ini sangat sepi, karena bis-bis pariwisata tak akan pernah bisa mampir ke tempat ini. Menyetir sendiri juga mengerikan, karena orang-orang di pedesaan memiliki kemampuan menyetir dengan kecepatan tinggi, tanpa takut dengan jurang terjal yang langsung menuju Atlantik. Kemampuan menyetir secara cepat ini akan berubah menjadi tak berguna ketika kendaraan berpapasan dengan traktor-traktor pertanian besar, karena tak ada ruang untuk menyalip.

MacCarty’s Pub @ Castletownbere

Melengkapi perjalanan panjang ini, kami pun mampir ke pub terkenal yang pernah dibukukan oleh Pete McCarthy. Bukunya cukup lucu dan saya rekomendasikan. Pub terbaik di tahun 2016 tak seperti pub pada umumnya. Bagian depannya toko kelontong dan bagian belakangnya pub. Rupanya pub ini sedikit berbeda karena banyaknya nelayan yang bersandar di Castletownbere dan memerlukan barang-barang kelontong.


Selain terkenal karena buku di atas, pub ini juga menjadi terkenal karena sang ayah dari pemiliknya, Dr Aidan MacCarthy. Sang dokter merupakan salah satu orang yang selamat pada saat bom atom dijatuhkan di Jepang. Dokter yang pernah dibawa pasukan Jepang ke Bandung ini membawa pulang samurai sebagai hadiah dari seorang komandan Jepang di akhir perang dunia kedua. Samurai inilah yang kemudian membawa anak-anaknya mencari tahu sang pemiliknya di Jepang sana. Tak hanya itu, samurah ini juga membuat hidup sang ayah dibukukan dan difilmkan.

Bagi saya, nilai tambah pub ini ada pada pintunya yang terbuka untuk para anjing. Anjing-anjing bebas duduk dan masuk ke dalam pub, karena sang pemilik merupakan pencinta pug. Dari begitu banyak pub yang saya kunjungi di Irlandia, baru ini saya mengenal pub yang dog friendly.

Sore itu, sekelompok orang Irlandia duduk-duduk ditemani gelas-gelas bir dan juga alat musik. Seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumur kemudian bernyanyi dengan bahasa yang begitu asing di telinga saya, bahasa Irlandia. Dan saya pun duduk diam mendengarkan alunan musik tersebut, sambil menyesap dalam-dalam secangkir teh Irlandia yang saya pesan.

Ah tak heran jika banyak yang menyebut Cork sebagai daerah tercantik di Irlandia. Tak hanya alamnya saja yang cantik, orang-orangnya pun begitu menyenangkan dan ramah. Pada orang asing sekalipun.

xx,
Tjetje