Nostalgia Anak IPS

Jaman saya sekolah dulu, masih ada system rayon dimana kita daftar ke suatu sekolah, nanti kalau gak keterima otomatis masuk ke sekolah di bawah rayon tersebut yang kualitasnya nggak sebagus sekolah unggulan. Dalam dunia pendidikan, saya dua kali ‘terbuang’, pertama waktu SMP dan yang kedua waktu SMA. Jaman SMP, nilai NEM saya nggak tinggi-tinggi amat. Waktu itu saya sempat ditawarkan untuk BL (Bina Lingkungan/ nyogok), jaman segitu sogokan masuk sekolah unggulan ‘hanya’ 500ribu rupiah saja. Tapi saya menolak karena tak mau menipu diri sendiri dengan masuk sekolah unggulan dan karena malu kalau harus jadi anak BL. Malu ati ini disebabkan seorang teman yang berujar: “Oh ya anak BL itu saudaramu?!”

Masuk SMA, saya dapat sekolah yang gak begitu unggul, karena perbedaan selisih NEM 0,07. Tapi karena NEM saya cukup tinggi, saya masuk ke kelas unggulan yang isinya anak pinter-pinter semua. Salah satu diantaranya, saya yakin sekarang dia udah jadi dokter, punya NEM super tinggi tapi lebih memilih SMA ini. Saya sempet nanya, kenapa dia gak masuk sekolah TOP di kawasan Tugu Malang. Jawabannya sungguh bijak “Bagi saya, semua sekolah itu sama saja”.

Sayangnya, anggapan ini gak berlaku buat Ibu Henny. Guru Fisika di sekolah saya dulu. Konon beliau ini bekas guru di sekolah unggulan yang terpaksa harus mengajar di sekolah biasa-biasa aja. Akibatnya, beliau jadi rajin menganiaya, baik penganiayaan fisik, maupun penganiayaan batin. Mungkin kami yang sudah cukup cerdas ini nggak sesuai dengan kecerdasan beliau dan layak dihukum. Jadilah di dalam kelas kepala kami disundul dengan tangan (saya pernah ngalami yang ini!), beberapa teman juga dipukul dengan penggaris kayu sepanjang satu meter. Pendek kata, pada saat itu kami disiksa verbally dan physically karena kami gak jago fisika. Bahkan, seorang teman bernama Husni (dimana kamu Husni? Semoga kamu sudah jadi orang yg sukses dan bahagia), disindir terus menerus agar pindah ke SMA 1 Kepanjen saja daripada sekolah di SMA 5 Malang. Husni akhirnya mengalah pada teror Ibu Henny dan pindah ke SMA 1 Kepanjen ketika dia belum genap setahun belajar di SMA 5. Saya sendiri, mengalah pada keadaan dan tak pernah protes pada penyiksaan yang dilakukan sang Ibu tapi saya sebel banget sama Ibu ini. Dalam benak saya saat, hidup itu nggak cuma ngitung gerak lurus berubah beraturan ataupun gerak lurus berubah beraturan!  Entah dimana ibu Henny sekarang, semoga aja hidupnya bahagia setelah semua yang ia lakukan pada banyak anak-anak yang gak jago fisika.

Kelas 2 SMA, saya nggak masuk kelas unggulan lagi (fiuh…nggak ketemu bu Henny dan penggaris jahatnya!). Nilai pelajaran IPA saya tetep pas-pasan, tapi setidaknya nggak pernah merah. Nilai saya yang bagus, tentunya bukan kimia, fisika atau biologi, tapi matematika. Rahasianya: ikut les di Bapak Guru. Tiap kali mau ulangan, kami pasti diberikan soal yang mendekati soal ulangan. Jadinya lancar! Di kelas dua ini saya membuat keputusan controversial: masuk kelas IPS dan bukan kelas IPA. Nilai rata-rata pelajaran IPA saya memang lebih dari cukup untuk masuk IPA, tapi saya nggak pernah tertarik belajar tentang tembolok atau mengetahui kecepatan bola jatuh ke tanah. Jatuh ya jatuh aja, ngapain iseng ngukur kecepatannya. Saking mengejutkannya keputusan saya ini, pas pembagian rapport, muka wali kelas saya, Ibu Andar, panik ketika lihat rekomendasi kelas IPS. Rupanya beliau takut salah telah memasukkan saya ke IPS.

Di IPS, saya menikmati akuntansi dan belajar antropologi. Jaman itu, guru antropologi kami, Ibu Anoek, terkenal disiplin dan banyak dianggap galak. Saya malah nggak pernah mengganggap beliau galak, mungkin karena mata pelajarannya mengasyikkan. Saking sayangnya sama beliau, di akhir kelulusan saya datang ke rumah beliau membawa tanda mata sepotong kain. Di kelas ini, saya menikmati kehidupan yang indah, nilai ulangan cukup baik, belajar nggak pernah ngoyo dan yang paling penting saya bisa kerja sambilan menuliskan paper hukuman! Paper hukuman itu adalah lembaran-lembaran jawaban ulangan di atas kertas folio yang harus ditulis tangan demi mencapai nilai minimum 60. Jadi ini dikhususkan kepada mereka yang nilainya nggak cukup. Jika hasil ulangan 40, otomatis si anak didik harus menuliskan sebanyak dua puluh kali, pakai tangan! Tangan siapa aja boleh, termasuk tangan saya. Tapi tangan saya saat itu boleh didayagunakan dengan imbalan coklat toblerone.

Definition-of-Math-e1336420731500

Buat sebagian orang, ini bener!

Banyak orang memaksakan diri untuk masuk kelas IPA, supaya orangtuanya bangga. Ada juga yang masuk IPA karena gengsi biar nggak dianggap bego ataupun anak buangan. Sayangnya, orang-orang ini (kadang orang tuanya) tak melihat bagaimana kapasitas otaknya dan minatnya. Yang penting masuk IPA, sogok sana sogok sini, kursus sana kursus sini. Akibatnya, otak jadi kram dan berasap kepanasan karena kelelahan ngitung frekuensi sirene mobil. Tak hanya itu, kursi di kelas IPA juga dianggap sebagai ‘jaminan’ mudah saat seleksi masuk perguruan tinggi. Ketawa ajalah dengan anggapan ini, yang masuk IPA nggak lolos seleksi PTN juga banyak kali!

Anggapan yang mendiskriminasikan anak-anak di kelas IPS membuat banyak anak-anak dengan minat sosial ‘minder’ karena berbagai label negatif yang menghantui. Semoga di masa depan, kita, dan juga banyak orang lainnya berhenti memandang sinis orang-orang yang masuk IPS dan Bahasa, serta berhenti menganggap mereka sebagai orang-orang buangan yang kurang cerdas. Cerdas nggak cuma dihitung dari keahlian ngitung momentum, gaya, daya, ataupun itung-itungan lain yang bikin rambut makin keriting.

Kamu dulu, masuk kelas IPA atau IPS atas kesadaran atau dipaksa?

Advertisements

39 thoughts on “Nostalgia Anak IPS

  1. Toss aku jg anak IPS dengan kesadaran sendiri karena emang dr awal gak tertarik dan gak jago IPA 😀 Semua org (termasuk ortu) juga awalnya sinis pas aku lebih milih masuk IPS. Tapi setelah terbukti bahwa di IPS aku justru bisa dapet beasiswa kul di LN dan ketrima PMDK di UB, akhirnya mereka terbuka juga matanya. Tapi emang sistem pendidikan di Indo ini masih meng-agung2kan ilmu eksak kok mba *sigh*.

    btw dulu SMA 5 Mlg ya mba, aku SMA 1 *sopo sing takon* x))))

  2. hahah, sama dong kita mbak, aku nggak tertarik untuk ngitung kecepatan bola jatuh. jatuh ya jatuh saja 😀 masuk IPS karena kesadaran sendiri. ortuku dan guru2 menentang dulu. tapi ya nurani mengatakan untuk ke IPS 🙂 dan emang iya zamanku dulu banyak murid masuk jurusan IPA gara2 gengsi dan malu masuk IPS gara2 anak IPS dicap pemalas dan bodoh. tentu saja anggapan ini sesat.

  3. hidup anak IPS hehehe. waktu SMA pilih masuk IPS ketimbang IPA karena nilai2 IPA saya memang cuman ‘lumayan’, ada beberapa teman yang saya tahu kemampuan nggak begitu pandai dalam pelajaran-pelajaran IPA entah bagaimana bisa masuk kelas IPA. ketika mendaftar di perguruan tinggi, saya bersama beberapa orang teman bersama-sama ikut mendaftar untuk ikut ujian masuk ke univ tersebut. Teman-teman saya yg ikut mendaftar beberapa diantaranya sering jadi juara olimpiade, tapi dari 10 orang yg mendaftar hanya tiga orang yg diterima, saya salah satu dintara 3 orang itu, dan saya ketrima di fakultas yang harusnya untuk anak-anak IPA, tapi karena masuk dari jalur IPC saya berhasil diterima. Hal itu membuat beberapa orang jadi berkomentar sinis, saya sih senyum-senyum aja. Ini salah satu pembuktian kalo mau IPA atau IPS selagi kita mau berusaha dan belajar semuanya pasti bisa diraih. Toh pelajaran2 IPA dan IPS itu kan sama-sama berguna di kehidupan sehari-hari.

  4. Hahaha..sama, aku juga masih pake sistem rayon2an begitu. Aku masuk SMA tahun 1993, situ tahun berapa? *wanttoknowaja*

    Kebetulan aku termasuk yang “beruntung” bisa masuk SMA yang di nomer satukan, tapi emang sedih klo liat diskriminasi anak IPS dan IPA, padahal kan tiap orang ada jalan dan bakat2nya sendiri2. Udah kebiasaan orang tua di Indonesia pada over achiever, klo anaknya ga jadi dokter, insinyur etc etc kayaknya bisa serangan jantung

  5. aku anak IPA,,,dan emang seneng banget sama matematika sih,,,mangkanya lebih milih masuk IPA mbak Tjetje 😀 . Kalau sekarang sih masih banyak juga yang diskriminasi IPS,, saya pribadi lebih setuju kalau masuk IPA/ IPS karena memang sesuai sama minat dan bakatnya 🙂

  6. Akupun IPS dengan kesadaran sendiri… sadar kalau anak IPS asyik dan anak IPA mukanya kebanyakan beban hidup 😀
    Tapi at that time pengennya punya pacar anak IPA, piye toh?!

  7. Eh buset guru IPS lo abusive banget!!! Laporin ke Kak Seto! Grrr
    Gue dulu masuk IPA… cuma seminggu hahahaha! Terus gue pindah ke IPS dan hidup gue menyenangkan banget di IPS, tiap hari maen2 aja dan pulang cepet terus WHAHAHAH.

  8. NEM-ku dulu waktu SMP kurang untuk masuk SMA favorite, sedikit kecewa karena sebagian besar teman2 sekolah dan teman satu komplek rumah pun bisa masuk SMA favorite, tapi akhirnya saya daftar di SMA Swasta.

    Sewaktu SMA kelas 3, nggak nyangka juga masuk IPA. Katanya dulu kalau masuk IPA, gampang di terima di dunia kerja, katanya .. hihihi…Alhamdulillah perjuangan yang panjang dan berat sewaktu di IPA, bisa selesai juga..

    Nggak tau kenapa kok saya bisa masuk IPA Hehehe tiba2 pas kenaikan kelas trus di informasi kelas dan jurusan di pasang di papan pengumuman. Nggak tau nya nama saya ada di kelas IPA padahal pelajaran Fisika saya nggak begitu suka hihihi …Dulu belum ada Jurusan Bahasa, kalau sudah ada lebih baik saya ambil Kelas Bahasa, karena bagi saya mempelajari bahasa lebih bagus, karena bahasa itu universal 🙂

    hihihi..maaf kepanjangan koment-nya 🙂

    • Dulu di sekolah saya ada jurusan bahasa. Yang masuk anak-anak yang memang memilih jurusan Bahasa. Peminatnya pun jarang, cuma satu kelas.

      Padahal, bahasa membuka koneksi dengan dunia lain.

  9. Aduh jadi inget dulu kelas 2 SMA ada psikotes buat ngukur IQ ama buat liat kecocokan kelas yg dituju, IPA sama Bahasaku tinggi banget tapi IPAku rendah banget tapi ngotot pengen masuk IPA soalnya pengen belajar IT. Ehh…terbukti kan waktu Ujian Nasional nilai2 eksak-ku kayak matematika, biologi, fisika jeblok, nilai bahasa inggris ama sejarah paling tinggi satu angkatan. Ga jelas banget, emang.

    Btw, aku lulus SMA tahun 2002 lho mbak! Ternyata kita seumuran! 😀

  10. Sy anak IPA penikmat mata pelajaran Biologi tp lebih tertarik dgn dunia bahasa, politik dan sejarah.. hehehe. Klo penempatan kelas di sekolah ditentukan oleh guru.. ya ngikut aja!!!

  11. Hihihi…nggak nahan pengen komentar. Kalau dulu angkatanku jurusannya masih yang fisika,biologi,sosial dan bahasa. Milih fisika karena dipaksa orang tua…,mana otak pas pasan kan dan apesnya masuk kelas unggulan lagi ….ya udah deh seringnya dapet rangking 35 dari 40 siswa….bhahaha..btw dulu temenku maen banyak yg dari SMA 5, dulu ‘lemparan ‘dari SMA tiga yang ngehitz itu bukan sik ? salammm kenal ya….

  12. Saya juga jurusan IPS mbak, dan saya baru masuk SMA tahun ini, hehe. Awalnya saya keterima di IPA karna nilai IPA nya mencukupi. Selama seminggu saya setengah hati belajar disitu. Karna memang gak tertarik ipa dari awal, saya pun pindah ips. Beruntung ortu gak protes sama sekali, malah mendukung aja. Tapi guru guru saya gak mendukung. Saya malah dibilangin gak bersyukur udah keterima di ipa eh malah minta pindah ips. Anak ips masih dianggap anak buangan, nakal, bodoh, dll. Diskriminasi nya pokoknya kuat bgt. Anak ipa keliatan lebih diperhatikan dan ya begitulah:( tapi saya di ips karena minat belajar bukan gara2 gengsi hehee

  13. wah saya jurusan ipa dan baru 1 semester di sma mbak hehe, gak tahan pengen comment jugaa. kalau menurut saya sih ipa ips itu sama saja cuma memang bebannya aja yang berbeda, jujur aja menurut saya ipa memang pelajarannya berat banget dan terus dapet tekanan darimana mana, apalagi dari guru, katany anak ipa harus lebih rajinlah unggullah. tapi… karna emang saya udah niat banget di ipa, jadinya ya dijalanin aja walaupun menurut saya ya emang susahhhhh bangetttt, apalagi ngeliat anak ips yang belajarnya juga keliatan santai aja jadi agak iri 😦

  14. Waktu psikotes kelas 1 katanya cocoknya ke IPA tapi ga suka IPA sama sekali dan emang sejak smp pengen IPS. Ortu dukung 100% ke IPS eh malah temen dan guru yang keheranan gara2 rangking cukup bagus. Di sekolahku ipa ips sama2 menderita gara2 tugasnya yg bejibun sih, tapi di IPS lebih seru baik temen2nya, pelajarannya, dan kegiatan2nya. Diskriminasi masih ada tp sepertinya ga separah dulu deh kayanya. Bahagia banget pokoknya di IPS, waktu lulus sampe sedih banget 😦 btw aku lulus thn 2014 🙂

  15. anak ipa belum tentu nguasain mapel Ekonomi,Geografi,sosio, dan sejarah,
    buktinya saya, pel akuntansi bikin rambut saya kriting,
    oh ya saya generasi jurusan ipa kurikulm2013, jadi ada pelajaran lintas jurusan ips ( saya pilih ekonomi), ada trus sampe kls 12

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s