Selain karena senang menulis, saya memiliki blog karena ingin berbagi informasi dan berbagi hasil pengamatan saya yang tentunya saya harapkan bisa berguna. Ada beberapa postingan di blog ini yang kemudian membuat banyak interaksi,baik melalui komentar, twitter, ataupun melalui email. Beberapa orang bahkan meminta nomor WhatsApp saya supaya lebih cepet nanyanya dan terkadang, saya tak keberatan memberi nomor HP. Tak semua orang tentunya saya beri, karena saya hanya akan memberikan jika yang bersangkutan beretika ketika nanya. Kalau yang bersangkutan lagak-lagaknya udah gak enak di depan, saya jawab pertanyaan aja saya males. Beberapa hal yang kurang beretika saya rangkum di bawah ini:
Minta di follow
Gak kehitung berapa kali orang minta follow balik ke saya karena mau kirim DM dan mau nanya-nanya. Padahal kalau mau nanya, selama gak melibatkan data personal bisa diajukan lewat twit dengan langsung mention ID saya, bisa lewat komentar di bawa postingan (postingan saya gak ada yang komentarnya dikunci kok) dan bisa lewat email. Tak bisa juga beralasan tak tahu alamat email saya, karena alamat email telah saya cantumkan di Blog.
Lagipula, minta difollow itu kok menurut saya so yesterday banget. Following di twitter itu otomatis akan dilakukan kalau sang punya akun merasa tweets di lini tersebut menarik, informatif dan sesuai dengan interest. Jadi rasanya tak perlu minta-minta follow.
Salah manggil
Jika mengirimkan email cari tahu dulu siapa yang punya blog. Blog ini rasanya sudah jelas kalau yang punya perempuan karena alamatnya pakai kata bini. Tapi lho ya yang manggil saya Mas dan Abang ada aja. Kalaupun tak paham apakah bini itu perempuan atau laki-laki, sekali lagi mbok ya di cek dulu di bagian who’s Ailtje.
Btw, silahkan panggi saya dipanggil Ailtje, Tjetje (ini kalau dibaca jadi cece, bukan tije)Jadi jangan panggil saya Mas lagi ya.
Gak baca dulu
Bikin postingan itu butuh beberapa menit, kalau gak beberapa jam. Tergantung risetnya. Jadi sebelum melontarkan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah ada, ada baiknya dibaca dahulu postingan yang sudah susah-susah dibuat. Kalau masih gak ketemu juga jawabannya, coba baca dulu komentar-komentarnya, siapa tahu nyempil. Nah kalau setelah baca gak ketemu juga, baru deh tinggalkan komentar atau tanya via email.
Tanya yang aneh-aneh
Ada beberapa pertanyaan yang meminta saran saya untuk hal-hal yang bertentangan dengan aturan. Salah satu contohnya minta saran kawin di luar negeri menggunakan visa turis. Kalau kawinnya di Hong Kong mah gak papa, karena memang diperbolehkan. Di Irlandia (ketika tulisan ini ditulis) hal tersebut tidak diperbolehkan, di negara Eropa yang lain saya tak tahu, wong saya ini bukan ensiklopedia imigrasi Eropa. Tapi herannya orang itu suka males banget baca, maunya langsung nanya, langsung dikasih tahu rutenya yang bener, tanpa mau usaha baca. Padahal yang dapat benefit dari membaca kan diri sendiri.
Kalaupun sudah baca dan tahu hal tersebut dilarang mbok ya jangan dilakukan. Apalagi kalau urusannya ijin tinggal. Bisa-bisa gak hanya dilarang kawin tapi juga gak boleh balik lagi, alias dideportasi. Catatan buruk seperti ini sedikit banyak  bisa mempengaruhi permohonan visa ke negara lain, jadi jangan pernah dibuat mainan.
Di Indonesia mah pencatatan administrasi emang amburadul, tapi di negara lain terutama di negara maju sudah jauh lebih baik. Jadi yang mau overstay, mau cari kerja pakai visa turis, atau bahkan hal-hal criminal lainnya, monggo silahkan dilakukan dengan resiko sendiri. Tapi jangan repot-repot minta saran saya.
Seperti saya tulis di atas, tujuan saya punya blog untuk berbagi. Jadi, ketika butuh informasi saya akan dengan senang hati membantu, jika saya memang tahu jawabannya. Tapi alangkah eloknya jika bertanya dengan baik, menyapa dengan benar dan tentunya bertanya yang bikin orang lain nyaman.
Xx,
Mbak Tjetje, Bukan Mas, Bang atau Pak.

Show me love, leave your thought here!