Ramblings of an Indonesian Woman

Saya nggak pernah tergoda nyobain Air bnb, tapi karena postingan Febbie yang gak ketemu dimana postingannya, akhirnya saya nyobain Airbnb di Ubud. Ternyata seru, murah dan praktis. Saking praktisnya, villa yang saya tempati kuncinya nyantol di pintu, ownernya sedang tidak di tempat. Hingga keluar kami bahkan tak bertemu ownernya sama sekali. Kunci, lagi-lagi kami tinggalkan di pintu dan kami pun melenggang pulang.

 

Villa yang kami tempati di tengah sawah di Ubud itu bukan satu-satunya villa di Banjar (bahasa Bali untuk desa, sering disingkat Br) Junjungan, ada banyak villa di daerah tersebut. Melihat papan nama ataupun papan petunjuk villa di banjar-banjar Ubud sekarang menjadi hal yang biasa. Dari villa kecil seperti yang kami tempati hingga villa besar yang nampaknya dikelola secara professional tersedia semua di Ubud.

Dari hasil obrolan dengan beberapa orang yang kami temui, pemilik villa tersebut bermacam-macam, dari orang Jakarta hingga orang asing. Secara teori orang asing memang tak boleh memiliki tanah di Bali, tapi bukan berarti mereka tak boleh menyewa sawah-sawah untuk dibangun villa. Konon, mereka bisa menyewa sawah tersebut hingga puluhan tahun, praktis dan tak melanggar hukum.

Saya kemudian menanyakan kembali mengapa sawah-sawah tersebut dialihfungsikan menjadi villa ? Tentunya ada beragam alasan yang mendasari hal tersebut, dari kebutuhan ekonomi, kebutuhan upacara, hingga kalah tajen (metajen: tradisi sabung ayam yang awalnya merupakan bagian dari ritual).

Tingginya kebutuhan dana untuk upacara memang menjadi alasan yang seringkali muncul.  Menggelar upacara-upacara yang indah dan megah di Bali memang tidaklah murah. Upacara megah biasanya disiapkan oleh banyak orang selama berhari-hari. Selama berhari-hari tersebut ribuan dupa dibakar, puluhan babi dipotong. Biasanya, semakin tinggi kasta warna orang yang mengadakan upacara, semakin megah pula upacaranya.

Opsi untuk mengadakan upacara dengan sederhana ataupun secara masal (seperti Ngaben Masal, misalnya), juga telah ada. Tetapi, beberapa orang lebih memilih untuk mengadakannya dengan cara yang lebih spektakular. I could be wrong, tapi nampaknya upacara menjadi ajang gengsi untuk memamerkan kekayaan.

Menurunnya jumlah  sawah juga memunculkan kecemasan lain. Kecemasan akan nasib subak. Subak merupakan manajemen perairan yang telah diakui sebagai UNESCO World Heritage. Rasanya, sistem subak ini hanya ada di Bali saja (silahkan dikoreksi jika saya salah). Berbicara tentang Subak tentunya tak bisa lepas dari dua hal, dari Pura  Subak dan dari Dewi Kesuburan, Dewi Sri.  Lagi-lagi, kepala saya terusik dengan pertanyaan-pertanyaan. Kalau kemudian sawah-sawah tersebut beralih fungsi, bagaimanakan nasib Pura tersebut ? Siapakah yang akan menyiapkan banten setiap harinya ? Siapakah yang akan ngayah saat Piodalan ? Akankan Pura itu teronggok tanpa ada yang mengurusi?

Pertanyaan saya memang tak akan terjawab, bahkan mungkin tak perlu dijawab, karena begitulah dunia berputar. Kebutuhan ekonomi akan terus meningkat seiring dengan pembangunan Bali. Mungkin, orang-orang Bali akan bernasib sama dengan orang-orang Betawi, terpinggirkan dari wilayahnya sendiri. Tapi sejujurnya, saya tak berharap hal seperti itu.

Dalam sebuah diskusi sekitar sepuluh atau bahkan dua belas tahun lalu, Arya Weda pernah mengkoreksi saya, dia berkata bahwa penghasilan terbesar  Bali itu bukanlah dari pariwisata, melainkan dari pertanian. Semenjak hari itu, kepala saya erat mengasosikan hasil pertanian dengan Bali. Kendati Ubud bukan lumbung Bali, jadi hati tetap sedih melihat banyaknya villa.

 

Tentunya tak semua area di Bali dipenuhi dengan villa, hanya area yang diminati investor di wilayah selatan yang padat. Daerah selatan memang lebih popular untuk wisata, sementara daerah utara masih relative tak terjamah. Kalau sudah begini egoiskah jika saya berharap jika daerah Utara tak terjamah?

Ah sudahlah, tyang pamit dumun nggih (saya pamit dulu ya)

Namaste,

Tjetje

24 responses

  1. Ceritaeka Avatar

    Sa, nggak nginep di rumah keluarha kalo di Bali? Aku juba blom nyain Air BNB niiih

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Biasanya ada Best friend Ka yang aku selalu inepin. Tapi kali ini nyoba Airbnb karena berdua sama G.

  2. dani Avatar

    Langsung ikutan resah memikirkan Bali ke depannya Mbak Tjetje. Cuman mikirin aja sih emang gak bisa banyak bantu. 😦
    Tapi tapi tapi kok pengen nyobain Airbnb juga ya. 😛

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Coba deh, seru. Itu ada kode juga buat claim reward untuk pengguna pertama.

  3. Gara Avatar
    Gara

    Saya juga berharap Bali Utara tidak terjamah dan tetap seperti ini :hehe. Syukurlah di desa saya (Sangsit, Buleleng) kakek masih punya lahan sawah dan sistem subak di sana masih berjalan dengan baik. Kalau di luar Bali juga ada sistem yang mirip, di Lombok juga ada namanya pekasih dan mirip-mirip dengan persubakan, cuma tentu tanpa Pura Subak atau Dewi Sri.
    Kalau menurut saya yang pegang peranan sekarang malah pemerintah ya Mbak, melalui penataan ruang dan perbaikan nasib petani. Iya, Bali memang sudah mekilit dengan agrarianya, soalnya napas pertanian itu ada di setiap acara budaya yang ada di Bali. Tapi kalau sekarang balik ke soal ekonomi lagi, yah… jadi ikutan bingung juga :haha *kemudian jalan-jalan lagi ke Ulun Danu Batur*.

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Kayaknya sebelum ada Airport di Buleleng sih aman nok *Buleleng style*. Tapi di Airbnb juga udah mulai ada villa untuk disewakan. Indeed ini ekonomi banget Gara, tapi kalau pura tergusur karena ekonomi, pedalem sajan Betarane.

      1. Gara Avatar
        Gara

        Wahaha betul banget, selama belum ada bandara :hihi.
        Soal Betara yang pedalem dan semua-muanya itu, saya sekarang hanya melakukan apa yang saya bisa untuk mencegahnya. Kalau ternyata Tuhan sudah berkehendak lain, yah maka biarlah semua terjadi sebagaimana seharusnya (pasrah mode: on).

  4. Lorraine Avatar

    Perkembangan wisata memang cepat ya Tje di Bali. Ada beberapa gerakan menolak spekulan tanah di Ubud (Gianyar dan sekitarnya). Moga-moga Bali Utara nasibnya beda dengan Bali Selatan.

    Btw, Air BnB memang ok. Aku sering pake ini. Travel like a local. Aku suka akomodasinya super host yang bikin aku betah karena tipsnya. Ada juga clonenya Air BnB, Wimdu.

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Wah coba aku cek Wimdu ya. Btw airbnb illegal gak mbak di Londo? Aku mau ke Perancis batal pakai airbnb, takut visa gak di approve, karena illegal.

      1. Lorraine Avatar

        Air BnB legal di Belanda walaupun banyak yang menentang waktu awal masuk sini, terutama didaerah Amsterdam situ Tje. Yang ilegal di Belanda itu Uber.

        Btw, Kalo jadi sowan rame-rame ke NL tahun depan sama si Eva & Anggi, kita golek’i AirBnB yuk? Aku ikutan nginep disitu. Pasti seru 😉

      2. Binibule.com [Tjetje] Avatar

        Ah boleh boleh Mbak. Mau banget aku. Suami harus ditinggal kalau gitu 🙂

      3. Lorraine Avatar

        Halah, kalo mau ajak suamimu ya silahkan. Maaf aku yang lancang, mungkin kalian mau berdua 🙂

      4. Binibule.com [Tjetje] Avatar

        Ndak papa aku emang pengen travelling sendiri. Lha tak pikir2 Mbak kapan lagi aku bisa merencanakan pergi sendiri?

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Bukan di Tjampuhan, masih 15 menitan dari Campuhan.

  5. zilko Avatar

    Masalah perekonomian ya. Tetapi memang segala sesuatu itu kan dinamis dan tidak statis. Mau tidak mau pasti akan ada perubahan. Tinggal bagaimana pihak-pihak yang terkait mengelola perubahan itu dan tentunya harus memikirkan masa depan 🙂 . Bangun villa terus kalau sampai titik dimana sawah habis kan bikin berabe juga…

  6. nenknunu Avatar
    nenknunu

    iya mba ail,waktu dulu tinggal di tabanan sempet ngehadirin Upacara Ngaben ibunya tetangga konon katanya upacara itu menghabiskan dana 60 juta saja,dan itu katanya masih termasuk yang ‘biasa’ aja. . .

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Bayangin aja kalau keluarga besar, terus meninggalnya terkena musibah jadi dalam jumlah banyak. Amit-amit.

  7. nyonyasepatu Avatar

    Selalu masalahnya ekonomi ya Ai 😰 sedih bgt

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar
  8. alrisblog Avatar
    alrisblog

    UU tata ruang mungkin sudah bagus. Tapi duitlah yang berkuasa. Itu karena aparat pemda leman iman, tiba-tiba loyo kalo liat duit.

  9. Felicity Avatar
    Felicity

    Baca postingan ini jadi pengen coba air bnb suatu hari nanti…masih rada skeptis soalnya khususnya dari segi kenyamanan dan keamanan. Sayang banget ya kisah sawah2x di Ubud yang berubah jadi villa…moga2x tradisi dan nilai2x tradisional di sana ngga makin tergerus oleh tuntutan ekonomi dan desakan modal.

  10. Firman Avatar

    Kalo postingan tentang ginian saya malah gampang kegoda, ini aja pengen nyobain.

    1. Binibule.com [Tjetje] Avatar

      Waaah selamat mencoba ya, boleh dicoba juga itu linknya. Lumayan diskonan.

Show me love, leave your thought here!