Cerita Dari Ubud

Saya nggak pernah tergoda nyobain Air bnb, tapi karena postingan Febbie yang gak ketemu dimana postingannya, akhirnya saya nyobain Airbnb di Ubud. Ternyata seru, murah dan praktis. Saking praktisnya, villa yang saya tempati kuncinya nyantol di pintu, ownernya sedang tidak di tempat. Hingga keluar kami bahkan tak bertemu ownernya sama sekali. Kunci, lagi-lagi kami tinggalkan di pintu dan kami pun melenggang pulang. Silahkan klik di sini kalau mau nyoba airbnb, lumayan bisa dapat voucher airbnb senilai 295ribu rupiah.

 

Villa yang kami tempati di tengah sawah di Ubud itu bukan satu-satunya villa di Banjar (bahasa Bali untuk desa, sering disingkat Br) Junjungan, ada banyak villa di daerah tersebut. Melihat papan nama ataupun papan petunjuk villa di banjar-banjar Ubud sekarang menjadi hal yang biasa. VDari villa kecil seperti yang kami tempati hingga villa besar yang nampaknya dikelola secara professional tersedia semua di Ubud.

Dari hasil obrolan dengan beberapa orang yang kami temui, pemilik villa tersebut bermacam-macam, dari orang Jakarta hingga orang asing. Secara teori orang asing memang tak boleh memiliki tanah di Bali, tapi bukan berarti mereka tak boleh menyewa sawah-sawah untuk dibangun villa. Konon, mereka bisa menyewa sawah tersebut hingga puluhan tahun, praktis dan tak melanggar hukum.

Saya kemudian menanyakan kembali mengapa sawah-sawah tersebut dialihfungsikan menjadi villa ? Tentunya ada beragam alasan yang mendasari hal tersebut, dari kebutuhan ekonomi, kebutuhan upacara, hingga kalah tajen (metajen: tradisi sabung ayam yang awalnya merupakan bagian dari ritual). Tingginya kebutuhan dana untuk upacara memang menjadi alasan yang seringkali muncul.  Menggelar upacara-upacara yang indah dan megah di Bali memang tidaklah murah. Upacara megah biasanya disiapkan oleh banyak orang selama berhari-hari. Selama berhari-hari tersebut ribuan dupa dibakar, puluhan babi dipotong. Bioassay, semakin tinggi kasta warna orang yang mengadakan upacara, semakin megah pula upacaranya. Opsi untuk mengadakan upacara dengan sederhana ataupun secara masal (seperti Ngaben Masal, misalnya), juga telah ada. Tetapi, beberapa orang lebih memilih untuk mengadakannya dengan cara yang lebih spektakular. I could be wrong, tapi nampaknya upacara menjadi ajang gengsi untuk memamerkan kekayaan.

Menurunnya jumlah  sawah juga memunculkan kecemasan lain. Kecemasan akan nasib subak. Subak merupakan manajemen perairan yang telah diakui sebagai UNESCO World Heritage. Rasanya, sistem subak ini hanya ada di Bali saja (silahkan dikoreksi jika saya salah). Berbicara tentang Subak tentunya tak bisa lepas dari dua hal, dari Pura  Subak dan dari Dewi Kesuburan, Dewi Sri.  Lagi-lagi, kepala saya terusik dengan pertanyaan-pertanyaan. Kalau kemudian sawah-sawah tersebut beralih fungsi, bagaimanakan nasib Pura tersebut ? Siapakah yang akan menyiapkan banten setiap harinya ? Siapakah yang akan ngayah saat Piodalan ? Akankan Pura itu teronggok tanpa ada yang mengurusi?

Pertanyaan saya memang tak akan terjawab, bahkan mungkin tak perlu dijawab, karena begitulah dunia berputar. Kebutuhan ekonomi akan terus meningkat seiring dengan pembangunan Bali. Mungkin, orang-orang Bali akan bernasib sama dengan orang-orang Betawi, terpinggirkan dari wilayahnya sendiri. Tapi sejujurnya, saya tak berharap hal seperti itu.

Dalam sebuah diskusi sekitar sepuluh atau bahkan dua belas tahun lalu, Arya Weda pernah mengkoreksi saya, dia berkata bahwa penghasilan terbesar  Bali itu bukanlah dari pariwisata, melainkan dari pertanian. Semenjak hari itu, kepala saya erat mengasosikan hasil pertanian dengan Bali. Kendati Ubud bukan lumbung Bali, jadi hati tetap sedih melihat banyaknya villa.

 

Tentunya tak semua area di Bali dipenuhi dengan villa, hanya area yang diminati investor di wilayah selatan yang padat. Daerah selatan memang lebih popular untuk wisata, sementara daerah utara masih relative tak terjamah. Kalau sudah begini egoiskah jika saya berharap jika daerah Utara tak terjamah?

Ah sudahlah, tyang pamit dumun nggih (saya pamit dulu ya)

Namaste,

Tjetje

PS: Bloody iPhone does not load the photos!!! I’ll try to post them again tonight (IE time of course).

Advertisements

Nyepi di Bali: Bagaimana dan Ngapain?

Di postingan tentang Aceh kemarin, saya pamer colongan nulis kalau akhir bulan ini mau ke Bali, lagi! Ngomongnya sih mau ke Bali, tapi sampai detik ini saya belum pegang tiket. Masih santai-santai karena kalau Nyepi biasanya tak banyak yang jalan ke Bali dan tiket, biasanya, murah.

Dua tahun belakangan ini saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati Nyepi di Bali, di rumah seorang teman baik. Setelah aktivitas selama 364 hari, rasanya menyisihkan satu hari bagi tubuh untuk ‘istirahat’ itu dibutuhkan. Bagi saya, Nyepi itu seperti lari, bikin ketagihan. Gimana nggak ketagihan jika pikiran serta telinga dijauhkan dari segala kebisingan. Jauh dari social media, jauh dari kegilaan dan hiruk pikuknya Jakarta. Menyepi itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, tak perlu menunggu Neypi, tapi suasanya Nyepi di Bali lah yang membuat saya selalu ‘pulang’ kembali.

Selamat Nyepi!

copyright: Ailtje

Bagi penyuka jalan-jalan, Nyepi juga merupakan momen untuk melihat Bali dari sisi yang berbeda. Rentetan upacara menyambut Nyepi dilakukan jauh sebelum tahun baru ini dilaksanakan dan diakhiri dengan Pawai Ogoh-ogoh. Sebenarnya pawai ini bukan bagian dari agama dan baru dibuat pada sekitar tahun 1970 atau 1980an. Saya tak ingat persisnya. Tapi tradisi ogoh-ogoh ini kemudian berlangsung hingga sekarang. Di Denpasar, tempat pawai ogoh-ogoh yang wajib didatangai berada persis di seberang patung Catur Muka di depan kantor Walikota Denpasar. Dari sekitar pukul 3 sore, beraneka raga ogoh-ogoh dari dilombakan. Ogoh-ogoh sendiri merupakan simbol kenegatifan yang kemudian akan dibakar acara selesai.

 Tiap tahun ada trend ogoh-ogoh yang berbeda, tergantung topik yang lagi ‘hot’. Dua tahun lalu ogoh-ogoh bisa muter-muter sendiri, bahkan dilengkapi LCD di dadanya. Upin-ipin, Mbak Inul  Daratista juga sempat jadi ogoh-ogoh. Jika tak sedang dilombakan, ogoh-ogoh biasanya diarak keliling Banjar, diiringi musik tradisional dan nyala lampu obor. Ogoh-ogoh ini kemudian dibakar di pantai atau di lapangan. Nggak semuanya dibakar, ogoh-ogoh yang berharga mahal dan bagus biasanya dipajang di depan Balai Banjar masing-masing atau bahkan dijual ke Hotel.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh di Catur Muka Denpasar

Ketika pawai ogoh-ogoh dimulai, jangan harap bisa melintasi area di kawasan Bali. Semua area pasti macet-cet-cet! Bandara serta pelabuhan juga ditutup. Saya, bersama seorang rekan photographer (dia photographer; saya tukang foto abal-abal), pernah harus berjalan berkilo-kilometer seusai pawai ogoh-ogoh karena tak ada taksi maupun moda transport lainnya yang bisa melintas. Dari jalan kaki itu saya jadi tahu bahwa convenience store serta bilik ATM jendelanya ditutup dengan plasik hitam supaya lampu dari layar mesin ATM ataupun kulkas tak memancar keluar.

Nyepi dimulai pada pukul 06.00 dan akan berakhir pada pukul 06.00 keesokan harinya. Selama 24 jam pemeluk agama Hindu Nusantara akan melaksanakan Tapa Brata Nyepi yaitu: amati geni, amati karya, amati lelanguan, amati lelungaan. Amati geni artinya tak ada api, untuk memasak atau menyalakan lilin serta tak menghidupkan listrik. Ibu-ibu yang punya anak kecil serta orang sakit juga menapatkan ijin untuk menyalakan lilin atau alat penerang lainnya, tapi mereka harus minta melapor dulu ke Banjar.

Amati karya berarti tak melakukan apapun, tak memasak, atau hanya bersemedi. Sedangkan amati lelanguan artinya tak bersenang-senang, walaupun tak dapat dipungkiri banyak orang-orang yang belum mampu, ataupun belum mau melaksanakan tapa brata Nyepi yang meceki atau bermain kartu (dan berjudi) pada saat Nyepi. Tapa Brata yang terakhir adalah Amati lelunggaan yang artinya tidak bepergian. Bisa ditangkap pecalang (pria-pria penjaga keamanan tradisional) kalau nekat bepergian dari luar rumah. Hanya mereka yang akan melahirkan atau menderita sakit keraslah yang boleh bepergian. Tahun kemarin, Nyepi jatuh pada hari Jumat dan umat Muslim di Bali diperkenankan untuk pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah, tanpa keributan tentunya.

pecalang

pecalang

Ada satu ‘bonus’ tapa yang boleh dilakukan oleh mereka yang sanggup, yaitu Mona Brata alias puasa ngomong. Selain kelima ‘puasa’ tersebut, saat Nyepi, mereka yang bisa serta mau juga dianjurkan tidak makan dan minum selama dua puluh empat jam.

Nyepi selalu jatuh pada saat Tilem, atau bulan mati, alhasil, langit-langit di Bali sempurna gelapnya. Yang ada hanya kerlipan bintang yang diiringi gongongan anjing, suara kodok dan juga suara jangkrik. Karena penggunaaan listrik yang turun dalam satu hari, suhu di Bali biasanya juga turun. Nggak akan sedingin Bandung sih, tapi tetep jadi adem.

Satu hari setelah Nyepi, di Banjar Kaja, di Sesetan, ada prosesi Omed-omedan. Saya menyebutnya Festival Cium-cuman bagi anak bajang (lajang) di desa tersebut. Perempuan dan pria ditemukan untuk saling berciuman. Yang sudah lama naksir biasanya saling bercumbu, tapi kalau nggak naksir dari jauh-jauh kepala sudah digeleng dan mulut ditutup tangan dengan rapat. Dua tahun lalu saya berkesempatan mengabadikan festival ini, silahkan menengok postingan saya tentang Omed-omedan ini disini.

omed2an3

kecupan basah

Tahun ini Nyepi akan jatuh pada hari Senin, tanggal 31 Maret. Yang mau menikmati syahdunya Bali & melihat anak-anak manusia saling melumat bibir, silahkan booking pesawatnya dari sekarang. Bagi mereka yang akan merayakan Nyepi, saya ucapkan Selamat Menyambut Tahun Baru Çaka 1936. Semoga tahun ini membawa kedamaian, damai di hati, damai di bumi dan damai selamanya.

Namaste,
Tjetje

[Review] Hotel Westin Nusa Dua Bali, Surga!

Waktu saya mendarat di Bali, saya dalam kondisi dengue positive. Silahkan baca ceritanya dramanya disini. Begitu masuk hotel disambut dua penari dan disambut mbak resepsionis di depan pintu saya sudah dalam kondisi lemas banget. Mas G yang akhirnya urus check-in dan saya duduk manis minum welcome drink sambil membasuh muka dengan handuk dingin yang disediakan hotel. Pas bellboynya tahu saya sakit, saya pun ditawari wheelchair  untuk ke kamar. Ah senangnya, karena saya udah lemes banget.

Singkat cerita saya cuma nginep semalam karena keesokannya harus diantar ke RS pakai ambulans hotel. Tak cuma menikmati ambulans hotel, saya juga sempat diinfus di dalam kamar hotel. Kalau nginep di hotel yang berbintang lima, sebaiknya pastikan hotel punya fasilitas dokter dan klinik. Kita nggak pernah tahu kapan kita sakit. Anyway, waktu saya di ICU manajernya Westin, yang saya nggak pernah ketemu, kirim bunga dan kartu ucapan yang ditulis tangan. Thank you Mr. Manager. Gara-gara kartu ini saya balik lagi ke Westin untuk menikmati fasilitas hotel yang tak sempat saya nikmati.

image

Kembali ke Westin, kami dapat upgrade kamar (lagi) dong.Tiba di kamar kami disambut oleh seekor tupai dan saya pun membagi buah yang diberikan hotel kepada tupai. Ini juga sambil diteriakin mas Gary, awas rabies! Di hotel-hotel di Nusa Dua ada banyak tupai yang berkeliaran. Beberapa dari mereka ramah bahkan bisa dipegang, tapi banyak juga yang galak.

IMG_8334

Harga kamar kami dibandrol kurang dari USD 200  kami mendapat kamar besar dengan living room, dining room, working desk, toilet dan bathroom. Tak hanya handuk yang berlimpah, amenities (body lotion, sabun, shampo, etc) di Westin juga berlimpah. Kalau hotel berbintang lainnya menggunakan L’occitane, Westin punya produk sendiri, namanya Heavenly Spa. Uniknya, selain menyediakan sabun, shampo, mereka juga menyediakan mouthwash. Saking berlimpahnya sabun di Westin, kami sampai bisa bawa pulang enam belas botol amenities. Kamar standard di Westin ukurannya, menurut saya cukup kecil. Jadi pas kami di upgrade rasanya lega banget. Terimakasih Westin! Untuk urusan air minum Westin tidaklah pelit, ada sekitar enam atau 8 botol air putih kemasan yang disediakan oleh hotel dengan pesan “Stay Hydrated”. Jadi kita nggak perlu lagi beli air putih.  Sayangnya, koneksi internet yang gratis cuma di lobby, sementara yang di kamar harus bayar.

IMG_8329

area living room di kamar hotel

Oh ya kasur di Westin ini heavenly banget. Saya nempel di kasur ini langsung teriak bilang ini enak banget. Bantalnya pun empuk banget, tapi berat banget. Entah apa yang ada di dalamnya. Buat yang badannya tinggi, cocok tidur di hotel ini karena kasurnya gede banget. Saya lupa size persisnya tapi pernah cek dan agak lebih panjang dari kasur normal.

Aktivitas Kami di Westin

Biar masih lemes abis dengue, kami langsung sewa sepeda seharga di hotel seharga 40 ribu/jam & bersepeda keliling hotel-hotel di Nusa Dua. Di siang bolong itu mas G dengan pedenya menyapa orang “Selamat malam…selamat malam”. Setelah bersepeda, kami diberi air minuman kemasan (lagi). Kami berdua lalu nyemplung kolam renang. Kolam renangnya beneran lho, untuk anak-anak dalamnya 1.40 sementara untuk orang dewasa 2 meter. Kolam renangnya juga bisa buat bermain, karena disediakan banyak bola untuk volley dan juga basket di dalam kolam. Selesai berenang kami dipijat selama satu jam di balai-balai di pinggir pantai dan aktivitas hari itu ditutup dengan makan gelato seharga 29.000 sambil duduk malas di pinggir pantai. Di belakang bagian hotel terdapat pantai, jadi buat pencinta pantai macam saya nggak perlu jauh-jauh kalau mau berjemur. Oh ya, sore itu sempet ada wedding dan kursi tamunya cuma ada 10 biji, itupun gak penuh. Saya potret sih tapi akhirnya saya hapus untuk menghormati privacy mereka.

Westin Resort Nusa Dua Kiki

Photo courtesy of Ayu R. Amalia

Sarapan pagi disajikan di restaurant yang terletak di samping kolam ikan dan diterpa matahari pagi. Dua hari berturut-turut saya duduk di sini sambil ngasih makan ikan. Selain tupai, kalau pagi di pinggir kolam ini ada burung-burung, termasuk burung pemakan ikan yang besarnya seperti heron. Sayang tak sempat diabadikan. Pas sarapan ini saya disapa banyak staff yang menanyakan bagamana kondisi saya. Bahkan masuk kamar kecil pun ada yang menyapa dan bertanya tentang kondisi saya. Duh suka deh stafnya perhatian sama tamunya.

Makanan

Pilihan sarapan cukup beragam, dari crepe, waffle, aneka macam roti, muffin buah-buahan dan juga makanan berat. Ada station yang khusus sapi kate non halal lho. Oh ya buat yang doyan keju buat sarapan, juga bisa nyemil keju. List makanannya sebenernya lebih panjang lagi, tapi saya nggak sanggup makan banyak karena appetite belum sepenuhnya kembali.

Buat yang doyan makan apel, Hotel Westin menyediakan apel di receptionistnya yang bisa dimakan. Apel cantik berwarna hijau ini saya simpan dari waktu saya check-out hingga saat ini dan ternyata masih awet, masih mulus. Agak mengerikan ya? Tak hanya apel, hotel juga menyediakan minuman di lobby, jadi para tamu yang baru kembali ke hotel dan terterpa panasnya matahari Bali bisa langsung menyegarkan diri.

Untuk yang malas keluar makan siang boleh duduk di pinggir pantai sambil makan. Harga makanannya sendiri standard bintang lima. Sayang pilihannya kurang beragam. Ayo tebak berapa yang saya bayarkan untuk dua buah makanan ini, plus dua bir dan satu juice?

IMG_8340

Saya sempat keliling hotel ini untuk urusan kantor pas menjelang APEC dan hotelnya nggak keliatan rame. Padahal Hotel Westin ini mengelola Bali Nusa Dua Convention Center, jadi banyak delegasi-delegasi yang nginep disini untuk meeting. Perlu di catat, di seluruh Bali yang punya kapasitas untuk meeting dalam skala besar ya cuma di hotel ini. Makanya Miss Universe di Westin, APEC di Westin, WTO di Westin. 

IMG_8326

Bantal dan kasurnya empuk banget!

Hotel Westin Nusa Dua ini bekerja sama dengan UNICEF untuk menggalang dana bagi anak-anak. Para tamu diberi kesempatan untuk menyumbang bagi mereka, bahkan di tagihan ada extra sumbangan untuk UNICEF. Tenang, kalau gak berkenan bisa minta dihapus kok.

Secara keseluruhan hotel ini saya kasih bintang empat setengah dari lima karena bintang lima cuma buat yang sempurna dan tak ada yang sempurna di bumi ini. Gary dan saya tentunya akan kembali lagi ke hotel ini karena dari seluruh hotel yang pernah kami inapi, ini yang terbaik. Worth every Penny. Review ini murni dari hati dan tidak diberi satu rupiah pun, atau bahkan hadiah lain-lain dari Westin untuk menulis layanan mereka.

Gimana ada yang berminat nginap di Westin?

Wedding Exhibition Bikin Bingung

image

Kalau hari ini ga diajak sepupu mungkin saya nggak akan pernah ke wedding exhibition. Pameran ini ternyata menyenangkan buat yang mau kawin. Biarpun pameran di Jakarta, ternyata banyak juga vendor dari Bali. Pas banget, pas pengen tau berapa dan opsi kawinan di Bali. Saya juga lagi di daulat mengurus kawinan teman, jadi sekalian.

Jadi, bermodalkan 20ribu rupiah, saya pun menjelajah satu persatu booth Hotel di Bali. Yang pertama dijelajah: Plataran Ubud Bali. Harga yang dibandrol 100juta untuk 50 pax. Ternyata yang di Bali baru akan dibuka September ini. Si mbak langsung bersemangat, katanya bisa jadi wedding pertama. Mbak marketing dulu sekolahnya dimana? Mana ada orang yang mau dijadikan bahan percobaan?

image


Ayana Resort and Spa

Siapa sih yang ga pingin kawin terus lanjut dengan wedding party di Rock Bar. Boothnya pun keren, pakai bartender yang sibuk shaking drink (buat gaya doang, tapi ga nawarin). Saya disambut oleh mas-mas bagian room yang berusaha menerangkan walaupun  itu bukan tugas dia. Kuddos untuk komitmen dia. Eh tapi begitu Salesnya datang, nunjukin foto venue aja nggak. Mbak sales cuma nawarin special paket 125juta untuk 50 orang. Termasuk after party di Rock Bar. Udah gitu doang, senyum enggak, ngasih selamat atas engagement saya enggak, nanya kapan kawinnya enggak apalagi nanya konsep kawinnya. Kayaknya emang marketing Ayanna nggak perlu pasang senyum ya, orang tetep cari walaupun marketingnya kampret. Kartu nama? Weleh sales kitnya aja lebih ngeri dari film horor kok kartu nama. Mau tahu bentuk flyernya:

image

What a flyer!

Weddingnya 125 juta tapi flyernya kertas fotocopyan doang. Minta price list untuk meals nggak ada. Ditanya ini itu nggak semangat banget. Sampai saya mikir, si mbak ini nggak bersemangat apa karena penampilan saya yang nggak glamor sama sekali (buat yang kenal saya, kalau weekend saya biasanya tanpa make up, pakai jeans dan kaos aja. Biar gak glamor, tas tetep bermerek dan nggak bajakan ya #pamcol).

Saya awalnya masih ngoceh menceritakan konsep perkawinan idaman, tapi si mbak nggak minat banget. Lama-lama saya pun jadi males. Kalau dari awal aja dia nggak menunjukkan semangat dan interest, gimana saya bisa mempercayakan perkawinan kami di tangan dia?

Among all the potential vendors, Ayana sales and marketing, for me, was the worst. Walaupun paketnya menggiurkan, venuenya juga cantik (kami sempat lihat wedding disini) hotel ini terpaksa kami coret karena marketingnya yang nggak bersemangat & karena flyernya yang nggak niat sama sekali. Bisa-bisa daftar menu buat tamu kami nanti fotocopyan. Scary!

Conrad Bali

Sudah sempat minta quotation conrad beberapa waktu karena ini venue yang temen saya mau. Tapi saya iseng-iseng nanya lagi, siapa tahu ada promo khusus pameran. Sayangnya di pameran nggak ada harga special, tetep sama 98++. Marketingnya super ramah dan memberikan banyak alternatif. Kalau kau kawin di Infinity chapel conrad yang terkenal itu alokasikan minimal 3500 dollar, ini plus-plus dan exclude meal ya. Apalagi lepas balon dan burung pigeons.

Saya terus terang gak dapat feeling nya. Chapelnya emang cantik, tapi kurang greget.

image

Flyernya niat dong!


Royal Santrian Bali

Royal Santrian ini Villa dengan hanya 20 unit villa saja. Marketingnya ramah dan flyernya cakep. Flyer, buat saya, does matter. Bow wedding itu bisnis cantik-cantikan, jadi semua harus tampak indah dari awal.

Saya duduk selama kurang lebih 20 menit untuk berdiskusi detail dan melihat opsi yang mereka tawarkan. Sayangnya untuk DJ/band dibandrol usd 1600/ 2 jam. Buat saya itu kemahalan banget. Dengan jumlah segitu sudah bisa geret tamu & bikin mereka mabuk (minta ditayub Uni). Si mbak juga dengan telatennya nunjukin peta villa ini dan ngejelasin satu-satu. Jadi kita punya bayangan, dari ceremony pindah kemana.

Kalau mau bawa vendors dari tempat lain, kita kena flat charge 10 juta-15 juta. Kalau mau bawa alkohol lagi kena Corkage fee usd 25++. Harga Bayleysnya 12 dollar, corkage feenya malah lebih mahal.

St Regis Bali

image

Lihatlah package dari St. Regis ini. Beda banget kan sama Ayana Resort and Spa. Ada CDnya pula. Harga yang ditawarkan usd 130nett. Ini buffet, kalau mau four-course set menu harganya 135. Mau yang lima course bisa, 150 dollar saja. Tapi abis itu pingsan kekenyangan. Yang saya senang hotel ini kasih harga nett jadi otak gak perlu pusing nambah 21%. Sayangnya lokasi hotel ini di Nusa Dua, biasanya angin pada musim hujan akan kencang karena angin datang Timur. Salah mengira angin, tamu kami bisa berakhir minum antangin. Ribet kan?

Setelah berdiskusi panjang lebar, saya diberi satu kotak macaroon bikinan Chefnya. Berhubung mau kawin (kawinnya 2014, diet kapan) si macaroon pun berakhir di tangan sepupu.


Alila Villas Soori

Ini mas bule yang menemukan dan sempat minta saya untuk cari tahu lebih lanjut. Saya pikir dari hotel bisa memandangi tanah lot, karena beberapa foto tanah lot di sales kit mereka. Ternyata lokasinya 20 menit dari sana. Makanannya relatif lebih mahal dari tempat lain, 115++. Venuenya pun harus sewa usd 5000. Jatuhnya malah lebih mahal dari tempat lain. Ini belum termasuk alkohol, entertainment apalagi babi guling.

image

Pasti mahal deh!

Alila juga punya venue di Uluwatu. Harganya tentu beda dengan Alila soori. Yang menarik hati saya malah Alila Purnama, kapal phinisi ini. Jangan-jangan ini sama mahalnya dengan kapal yang dinaiki mbak Gywneth waktu ke pulau komodo kemarin. Kapal mbak G kemaren 72 ribu Poundsterling untuk seminggu.

Oh ya di atas meja ada lip balm dan hand cream/body lotion. Saya pikir bakalan jadi souvenir macam di st. Regis, ternyata nggak. Padahal sepupu udah ngarep.

Westin Resort

Ini satu-satunya hotel yang ngasih harga rupiah. Saya hargai ini! Harga makanan yang ditawarkan dibawah 100 dollar dan sudah termasuk dekorasi, bonus menginap, bonus cake dan spa. Sama dengan St. Regis, mbak salesnya mengundang saya untuk lihat venue. Buat yang mau undang banyak orang, mereka juga punya tawaran 400ribu  termasuk bonus ini itu.

Mereka juga bisa menyediakan stand khusus untuk babi guling yang dipisahkan dengan makanan lain. Satu babi guling harganya 2,5 juta. Sepupu berjilbab yang kasih saya ide ini, tapi mas bule ga mau karena sebagian tamu kami akan muslim. DJ dibandrol 7 juta sementara band untuk 3×45 menit dibandrol 10juta, kalau mau romantis dikit bisa juga sewa quartet string. Ipod doc nggak disediakan. Untuk outdoor wedding, venuenya selemparan batu aja dari pantai.

Di akhir diskusi, saya dan sepupu juga menerima souvenir bolpen. Kata Mbaknya biar selalu ingat Westin. Nggak lupa deh dengan service yang baik gini.

Karma Kandara

Masuk stand, disambut dua orang perempuan warga negara asing, kalau kata kita bule. Saya dilayani langsung dengan event managernya. Diantara semua yang saya datangi ini yang paling bagus dan paling detail. Jempol dua buat layanannya.

Makanan dibandrol 70++, tapi ga termasuk dekorasi. Dan dekorasi Ya dihitung printilan. Penjor dihitung satu-satu, center piece, bahkan lampion pun dihitung satu persatu. DJ nya cuma 150 dollar. Ini saya sampai kaget, apa ga salah ngasih quotation ya? Soal bawa vendor nggak ada extra charge lagi. Apalagi bayar venue.

Si mbak ini juga satu-satunya yang ngasih saya ucapan selamat. Selama 30 menit di booth itu kami berdiskusi panjang lebar, dia bahkan membuat saya melek bahwa ternyata wedding itu gak simple. Sampai warna pita pun saya mesti milih. Pusing. Dia juga ngajak saya membayangkan gimana weddingnya. Detail banget. Jawaban saya pun lebih banyak no idea. Saking efisien dan detail, saat itu juga saya dibikinkan email dengan detail wedding yang kami diskusikan. Udah nanya-nanya alamat email saya apa. Tapi abis itu nggak ada respons sama sekali.

Begitu di follow up, alasannya email masuk junk folder dan si Marketing janji mau respon. Tnggu punya tunggu tak muncul. Email lagi, dibales orang lain yang bilang kalau si Marketing udah resign. Jadi saya ditanya lagi dari awal, maunya gimana. Lha, itu 30 menit ngoceh nggak dicatat sama sekali?

Fotografer

Biarpun hobi foto, saya ga suka jalan-jalan ke tempat fotografer di pameran ini. Dari dua yang saya datangi, mereka semua terkesan memaksa kita untuk langsung seal the deal hari itu juga.

Yang paling lucu saya nemu fotografer dengan tulisannya Bali dan Jakarta. Tapi kalau di Bali nambah lagi 3 juta karena di luar Jakarta. Lha, katanya buka di Bali kok harga dibedain? Sepanjang penjelasan saya juga dipanggil Cik. Buyut saya emang Cina, tapi percayalah kalau lihat muka saya nggak bakal tahu kalau saya ada keturunan Cina. Tapi nggak harus jadi Cina kan untuk dipanggil Cik? Sama aja kayak dipanggil Kakak di Medan dan Mbok di Bali.

Ada lagi yang lucu, saya ditunjukkan video perkawinan adat Jawa. Tapi pas dilihat itu adat Sunda. Terus Mbaknya bilang, itu ponakannya Yapto, Pemuda Pancasila. Hubungannya sama saya? Hmmm orang Indonesia emang hobi banget dropping nama ya?!

Penutup

Buat cewek-cewek yang masih single ataupun sedang berpacaran. Jalan-jalanlah ke wedding exhibition karena ternyata menyenangkan. At least bisa dapat inspirasi. Ini ternyata penting biar ga panik.

Kalau lapar, bisa test flood, bisa test cake juga. Bagian catering menurut saya kayak pasar malam, ramai banget dengan orang-orang yang sibuk mengenyangkan diri. Saya ga coba makanan, karena takut sakit perut. Wedding exhibition juga menawarkan banyak hadiah kecil-kecil gak guna, macam cotton candy dan pop corn. Tapi diakhiri dengan kepusingan. Ga percaya? Lihat aja kasur saya dengan brosur yang berlimpah. Udahlah aku kawin di Irlandia aja lah..

image

[Review] Sri Bungalow Ubud

Postingan ini pernah saya tulis di almarhum multiply dalam Bahasa Inggris yang setelah saya lihat lagi, cukup hancur. Sekarang saya post ulang, karena multiply akan ditutup mulai ditutup per 1 Desember 2012.

Where: jl. Monkey Forest, Ubud.
Website: http://www.sribungalowsubud.com
Ambiance: traditional balinese

Saya menginap untuk pertama kalinya di bungalow ini bulan July 2009. Lokasi bungalow ini cukup strategis, 10 menit jalan dari monkey forest atau sekitar 15 menit jalan dari Pasar Ubud. Perlu dicatat, kaki saya tidaklah panjang, jadi semakin tinggi anda, semakin pendek waktu tempuh.

Kamar di bungalow ini dilengkapi dengan fan dan AC, TV, shower dan bathub. Tapi hawa di Ubud yang adem membuat AC tidak diperlukan. Di bagian belakang, terdapat kolam renang dengan pemandangan bebek dan sawah. Buat saya, kolam renangnya tergolong kecil jadi kalau ingin membakar lemak perlu bolak balik 500 kali.

https://i1.wp.com/baliwww.com/imagesgallery/ubud/sri_bungalows/overview.jpg
Foto ini dipinjam dari google.

Kali kedua menginap, saya mengambil kamar di bagian belakang dengan pemandangan sawah. Harganya lebih mahal daripada kamar pertama dan nyamuknya juga lebih banyak. Tapi pemandangan sawah, barisan bebek dan berisiknya suara mereka di pagi hari sungguh berharga. Harap maklum, saya memang cinta berat sama bebek, saking cintanya, saya tak mau makan bebek karena kasihan.

Setiap sore disajikan satu pot teh untuk dinikmati di beranda kamar.  Sore-sore minum teh sambil memandangi bebek yang sedang baris-berbaris memang sungguh nikmat, saya jadi berasa seperti Ratu Inggris yang sedang memandangi corginya. *minta dijitak*  Sayangnya ya, teh ini gak ditemani pisang goreng ataupun camilan-camilan gorengan tak sehat lainnya. Jadi agak kurang sempurna, eh tapi kan tak ada yang sempurna di dunia ini.

Menu sarapan pagi cukup terbatas pilihannya, hanya ada buah, roti, omelet didampingi teh dan kopi. Karena kebanyakan tamunya orang asing, ya jangan harap ada sepiring nasi goreng, nasi uduk atau bahkan nasi rawon untuk mengisi perut yang kosong di pagi. Meja-meja sarapan juga sangat terbatas, sehingga seringkali harus menunggu untuk sarapan. Tapi kalau kepepet kelaparan dan gak mau nunggu, ada alternatif restauran-restauran lain di sekitaran Ubud.

Beberapa hal penting, tak seperti di tempat lain, air mineral tak disediakan gratis. Tapi dijual dengan harga yang cukup murah, lebih murah dari harga aqua di perempatan lampu merah Jakarta. Apalagi air mineral di hotel berbintang di Jakarta yang mencapai 80ribu per botol *curhat*. Sabun mandi juga tadinya tidak disediakan di bungalow yang terletak di depan, tapi di kamar yang menghadap sawah, ada dispenser sabun dan sampo. Buat yang hobi ngambil hotel amenities (duh segitunya sih!) tak ada harapan untuk bungkus-bungkus sabun dan sampo.

Bungalow ini menyenangkan buat saya karena stafnya yang ramah. Saking ramahnya mereka bahkan ingat kalau saya pernah tinggal disitu. Satu hal yang membuat saya makin suka dengan bungalow ini ini adalah lokasinya yang berseberangan dengan Cafe Wayan, pastrynya boleh dicoba, tapi abis itu jangan tengok timbangan 😉

For reservation, drop an email or call

Wayan Basten in: sribungalows@hotmail.com
phone: 062 0361 975394
mobile: 081338581934

Omed-omedan: Ciuman Basah a la Warga Sesetan

Omed-omedan..

Saling kedengin, saling gelutin.

Diman-diman….
Omed-omedan ..Besik ngelutin,

ne len ngedengin .

Diman-diman….

Setelah menyepi selama 24 jam, warga banjar Kaja, Sesetan merayakan tahun barunya dengan cara unik: pesta ciuman dan berbasah-basah ria. Omed-omedan, yang berarti tarik-menarik dimulai sekitar jam 3 sore persis di depan balai banjar Kaja. Kendati ini pesta ciuman, para peserta wajib hukumnya menghadap Tuhan dan sembahyang dulu.

 

babi bangkung 1

foto milik penulis

 

Acara Omed-omedan dimulai dengan tarian tradisional yang melibatkan Barong Bangkung (Barong babi) yang mengalami trance (kerauhan ataupun kemasukan). Tak hanya si barong, beberapa peserta juga tampak ikut kemasukan. Dengan sedikit percikan tirta  serta mantra-mantra suci, mereka yang kerauhan pun segera tersadarkan dan siap untuk memulai pesta menarik ini. Mari berciuman!

Tak lama setelah, sederatan pemuda dan pemudi dibariskan di depan balai banjar beberapa pemuda lainnya mengiringi mereka dengan lagu yang penggalannya saya tuliskan di atas (Maaf kalau salah mengutip, Bahasa Bali saya tak bagus). Pestapun dimulai & para pemuda ini berlari menuju bibir gadis-gadis di seberang mereka. Konon, hanya mereka yang masih single yang boleh ikut acara ini. Beberapa bahkan ada yang menemukan jodohnya karena ciuman di acara ini.

running toward the girls

Untuk lebih menghayati, saya berangkat ke acara ini dengan mengenakan kamen, kain panjang. Ternyata oh ternyata, para fotografer disediakan dek khusus untuk memotret. Jadilah saya yang berkamen ini harus naik ke atas dek tersebut. Entah bagaimana ceritanya, saya sukses naik ke atas dek itu. Tak hanya saya, ada banyak penyuka fotografi yang ikut berdiri bersama saya di atas dek itu. Tak hanya saya, tapi ada juga anak-anak kecil yang bahkan belum genap berusia 7 tahun.

Selain memotret, saya juga menjadi juru teriak, meneriaki orang yang nekat bergelantungan di bawah dek kami. Setiap kali ada orang yang mencoba naik, adik kecil yang duduk di dekat kaki saya akan mencolek kaki saya, lalu menunjuk si pelaku. Meneriaki mereka yang bergelantungan jadi wajib dilakukan demi keselamatan saya dan juga kamera tercinta. Urusan keselamatan sepertinya terlupakan karena selama saya berada di atas dek tersebut, tidak ada satu orang pecalang pun yang mencoba mengatur para fotografer (dan penonton) di atas dek. Semua bebas untuk naik, sementara kekuatan kayu tak bisa diandalkan. Tapi seperti biasa di Indonesia, nunggu ada kecelakaan dulu baru akan ada tindakan preventif. Kalau gak ada kecelakaan, biarkan saja.

 

Dan saya menjadi satu-satunya perempuan

Terdapat tiga dek fotografer dan saya menjadi satu-satunya perempuan. Selama kurang lebih 2 jam, telinga saya mendengarkan berbagai celotehan, dari yang tak senonoh hingga masalah asuransi kamera. Pria-pria ini dengan tak segannya berkomentar tentang kemolekan peserta, teknik berciuman hingga menanyakan speed untuk memotret (lha sudah di atas kok baru kursus kilat tentang speed), tak hanya itu, mereka juga sempat membahas ketiadaan asuransi kamera di Indonesa. Beberapa pria juga berceletuk mengenai FPI, mereka bersyukur karena ketidakadaan FPI di Bali. Jika mereka ada di Bali, alamat omed-omedan akan diharamkan. Nggak sih, jika mereka ada di Bali, maka pecalang harus bersatu mengusir FPI dari Tanah 1000 Pura.

gak mau dicium

Yang gak mau dicium pasti tutup muka begitu melihat lawannya.

Apa yang saya takutkan terjadi. Ketika acara hampir usai, dek yang saya tempati dengan sukses berbunyi kriet…kriet dan kayunya patah. Para peminat fotografi di atas dek itu pun langsung membubarkan diri, termasuk saya. Saya yang bisa naik, kali ini kesulitan turun karena kamen yang melilit bagian bawah tubuh. Alhasil, saya berteriak pada seorang pria: “Bli tolong dong, gendong saya!”. Pria pertama melengos dan untungnya ada pria kedua yang dengan baiknya mengulurkan tangan membantu saya turun, tanpa menggendong tentunya. Fiuh….Semoga bli yang membantu saya turun dimudahkan jodohnya dan dilancarkan rejekinya!

 

omed2an3

Tips untuk yang mau motret Omed-omedan:

  1. Datang lebih awal dan segera cari tempat yang tinggi (kecuali kalau kameranya tahan air)
  2. Bungkus kamera dengan plastik. Biarpun sudah di atas, peluang kesemprot masih tinggi karena air disiramkan melalui selang dan ember.
  3. Bawa baju ganti karena bakalan basah.
  4. Pakai sunblock dan kacamata hitam, karena posisi dek ada di sisi timur.
  5. Tinggalkan tripod karena tempat di dek sangat terbatas
  6. Kalau punya uang lebih, silahkan cari asuransi kamera!

 Jadi gimana, berminat untuk melihat pesta ciuman akbar nan basah ini?

…Muach…