Rahajeng Nyepi

Today, Bali, Prambanan, Malang and few other places in Indonesia are very festive. Thousands of giant effigies (ogoh-ogoh) are being taken around the city for pengrupukan. Later tonight, the giant effigies, which symbolized bad energy, will be burnt. Most of people in the world celebrate New Year with boozes, trumpets and parties, but devout Hindu Dharma in Indonesia celebrate it in different way. They disconnect themselves from the world, meditate, reflect and observe the four principles of Nyepi: amati geni, amati karya, amati lelungan and amati lelanguan.

Amati geni means to refrain from lighting fire and using light. This mean complete darkness and no food will be served as one will not be able to cook. Those who are willing and able, could observe 24 hour fast, while those who are unable to, usually prepare food from few days before. Besides fasting, mona brata or to refrain from speaking is also observed (I love mona brata!). The second principle, amati karya means to refrain from doing any activities; the activity that suggested is sitting still and mediate. Again, this is not mandatory and only for those who are able. Amati lelungan means to refrain from going out of the house and travel should also be observed. In Bali, one will not be able to leave premise unless there is an emergency such as illness or childbirth. The last principle is amati lelanguan, to refrain from  any kind of pleasure, including meceki, the traditional card games. Sadly, many people play meceki, which most of the time involve money, during Nyepi.

Selamat Nyepi!

I experienced my first Nyepi in Bali couple years ago. It was my first and I shall hope not my last Nyepi. Nyepi in Bali, is different from Nyepi in other city, because the whole island is completely quiet and dark. ATMs and convenience stores are covered with dark plastic, people fly out of Bali and those who couldn’t leave Bali, buy a lot of food.  When Nyepi starts, at 6 in the morning, the only thing that I head was birds chirping beautifully. During the evening, I heard nothing but the barks of the dog across the house where I stayed. The roads were deserted because people were staying at home; only pecalang, the traditional Balinese police, seen patrol around the area. The night, for me, was the most memorable.  It was a new moon and the sky was completely dark; so dark that I wasn’t able to gaze the stars.

The last couple year, Bali and Nyepi has proven tolerance. Last year (or maybe a year before), Nyepi observed on Friday. Moslems who live in Bali observed they pray but at the same time still respect the Nyepi. The call for praying at the mosque was not performed using the speaker. This year, Nyepi falls during Lenten and once again, Bali and its people will show their tolerance. If only the whole world could learn tolerance from Bali, the world might be a better place.

To all the devout Hindu Dharma in Indonesia and abroad, Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Çaka 1937. May we are all bless with peace in mind, peace on earth and eternal peace.

Namaste
Tjetje
Read as well:
Advertisements

Nyepi di Bali: Bagaimana dan Ngapain?

Di postingan tentang Aceh kemarin, saya pamer colongan nulis kalau akhir bulan ini mau ke Bali, lagi! Ngomongnya sih mau ke Bali, tapi sampai detik ini saya belum pegang tiket. Masih santai-santai karena kalau Nyepi biasanya tak banyak yang jalan ke Bali dan tiket, biasanya, murah.

Dua tahun belakangan ini saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati Nyepi di Bali, di rumah seorang teman baik. Setelah aktivitas selama 364 hari, rasanya menyisihkan satu hari bagi tubuh untuk ‘istirahat’ itu dibutuhkan. Bagi saya, Nyepi itu seperti lari, bikin ketagihan. Gimana nggak ketagihan jika pikiran serta telinga dijauhkan dari segala kebisingan. Jauh dari social media, jauh dari kegilaan dan hiruk pikuknya Jakarta. Menyepi itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, tak perlu menunggu Neypi, tapi suasanya Nyepi di Bali lah yang membuat saya selalu ‘pulang’ kembali.

Selamat Nyepi!

copyright: Ailtje

Bagi penyuka jalan-jalan, Nyepi juga merupakan momen untuk melihat Bali dari sisi yang berbeda. Rentetan upacara menyambut Nyepi dilakukan jauh sebelum tahun baru ini dilaksanakan dan diakhiri dengan Pawai Ogoh-ogoh. Sebenarnya pawai ini bukan bagian dari agama dan baru dibuat pada sekitar tahun 1970 atau 1980an. Saya tak ingat persisnya. Tapi tradisi ogoh-ogoh ini kemudian berlangsung hingga sekarang. Di Denpasar, tempat pawai ogoh-ogoh yang wajib didatangai berada persis di seberang patung Catur Muka di depan kantor Walikota Denpasar. Dari sekitar pukul 3 sore, beraneka raga ogoh-ogoh dari dilombakan. Ogoh-ogoh sendiri merupakan simbol kenegatifan yang kemudian akan dibakar acara selesai.

 Tiap tahun ada trend ogoh-ogoh yang berbeda, tergantung topik yang lagi ‘hot’. Dua tahun lalu ogoh-ogoh bisa muter-muter sendiri, bahkan dilengkapi LCD di dadanya. Upin-ipin, Mbak Inul  Daratista juga sempat jadi ogoh-ogoh. Jika tak sedang dilombakan, ogoh-ogoh biasanya diarak keliling Banjar, diiringi musik tradisional dan nyala lampu obor. Ogoh-ogoh ini kemudian dibakar di pantai atau di lapangan. Nggak semuanya dibakar, ogoh-ogoh yang berharga mahal dan bagus biasanya dipajang di depan Balai Banjar masing-masing atau bahkan dijual ke Hotel.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh di Catur Muka Denpasar

Ketika pawai ogoh-ogoh dimulai, jangan harap bisa melintasi area di kawasan Bali. Semua area pasti macet-cet-cet! Bandara serta pelabuhan juga ditutup. Saya, bersama seorang rekan photographer (dia photographer; saya tukang foto abal-abal), pernah harus berjalan berkilo-kilometer seusai pawai ogoh-ogoh karena tak ada taksi maupun moda transport lainnya yang bisa melintas. Dari jalan kaki itu saya jadi tahu bahwa convenience store serta bilik ATM jendelanya ditutup dengan plasik hitam supaya lampu dari layar mesin ATM ataupun kulkas tak memancar keluar.

Nyepi dimulai pada pukul 06.00 dan akan berakhir pada pukul 06.00 keesokan harinya. Selama 24 jam pemeluk agama Hindu Nusantara akan melaksanakan Tapa Brata Nyepi yaitu: amati geni, amati karya, amati lelanguan, amati lelungaan. Amati geni artinya tak ada api, untuk memasak atau menyalakan lilin serta tak menghidupkan listrik. Ibu-ibu yang punya anak kecil serta orang sakit juga menapatkan ijin untuk menyalakan lilin atau alat penerang lainnya, tapi mereka harus minta melapor dulu ke Banjar.

Amati karya berarti tak melakukan apapun, tak memasak, atau hanya bersemedi. Sedangkan amati lelanguan artinya tak bersenang-senang, walaupun tak dapat dipungkiri banyak orang-orang yang belum mampu, ataupun belum mau melaksanakan tapa brata Nyepi yang meceki atau bermain kartu (dan berjudi) pada saat Nyepi. Tapa Brata yang terakhir adalah Amati lelunggaan yang artinya tidak bepergian. Bisa ditangkap pecalang (pria-pria penjaga keamanan tradisional) kalau nekat bepergian dari luar rumah. Hanya mereka yang akan melahirkan atau menderita sakit keraslah yang boleh bepergian. Tahun kemarin, Nyepi jatuh pada hari Jumat dan umat Muslim di Bali diperkenankan untuk pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah, tanpa keributan tentunya.

pecalang

pecalang

Ada satu ‘bonus’ tapa yang boleh dilakukan oleh mereka yang sanggup, yaitu Mona Brata alias puasa ngomong. Selain kelima ‘puasa’ tersebut, saat Nyepi, mereka yang bisa serta mau juga dianjurkan tidak makan dan minum selama dua puluh empat jam.

Nyepi selalu jatuh pada saat Tilem, atau bulan mati, alhasil, langit-langit di Bali sempurna gelapnya. Yang ada hanya kerlipan bintang yang diiringi gongongan anjing, suara kodok dan juga suara jangkrik. Karena penggunaaan listrik yang turun dalam satu hari, suhu di Bali biasanya juga turun. Nggak akan sedingin Bandung sih, tapi tetep jadi adem.

Satu hari setelah Nyepi, di Banjar Kaja, di Sesetan, ada prosesi Omed-omedan. Saya menyebutnya Festival Cium-cuman bagi anak bajang (lajang) di desa tersebut. Perempuan dan pria ditemukan untuk saling berciuman. Yang sudah lama naksir biasanya saling bercumbu, tapi kalau nggak naksir dari jauh-jauh kepala sudah digeleng dan mulut ditutup tangan dengan rapat. Dua tahun lalu saya berkesempatan mengabadikan festival ini, silahkan menengok postingan saya tentang Omed-omedan ini disini.

omed2an3

kecupan basah

Tahun ini Nyepi akan jatuh pada hari Senin, tanggal 31 Maret. Yang mau menikmati syahdunya Bali & melihat anak-anak manusia saling melumat bibir, silahkan booking pesawatnya dari sekarang. Bagi mereka yang akan merayakan Nyepi, saya ucapkan Selamat Menyambut Tahun Baru Çaka 1936. Semoga tahun ini membawa kedamaian, damai di hati, damai di bumi dan damai selamanya.

Namaste,
Tjetje

Omed-omedan: Ciuman Basah a la Warga Sesetan

Omed-omedan..

Saling kedengin, saling gelutin.

Diman-diman….
Omed-omedan ..Besik ngelutin,

ne len ngedengin .

Diman-diman….

Setelah menyepi selama 24 jam, warga banjar Kaja, Sesetan merayakan tahun barunya dengan cara unik: pesta ciuman dan berbasah-basah ria. Omed-omedan, yang berarti tarik-menarik dimulai sekitar jam 3 sore persis di depan balai banjar Kaja. Kendati ini pesta ciuman, para peserta wajib hukumnya menghadap Tuhan dan sembahyang dulu.

 

babi bangkung 1

foto milik penulis

 

Acara Omed-omedan dimulai dengan tarian tradisional yang melibatkan Barong Bangkung (Barong babi) yang mengalami trance (kerauhan ataupun kemasukan). Tak hanya si barong, beberapa peserta juga tampak ikut kemasukan. Dengan sedikit percikan tirta  serta mantra-mantra suci, mereka yang kerauhan pun segera tersadarkan dan siap untuk memulai pesta menarik ini. Mari berciuman!

Tak lama setelah, sederatan pemuda dan pemudi dibariskan di depan balai banjar beberapa pemuda lainnya mengiringi mereka dengan lagu yang penggalannya saya tuliskan di atas (Maaf kalau salah mengutip, Bahasa Bali saya tak bagus). Pestapun dimulai & para pemuda ini berlari menuju bibir gadis-gadis di seberang mereka. Konon, hanya mereka yang masih single yang boleh ikut acara ini. Beberapa bahkan ada yang menemukan jodohnya karena ciuman di acara ini.

running toward the girls

Untuk lebih menghayati, saya berangkat ke acara ini dengan mengenakan kamen, kain panjang. Ternyata oh ternyata, para fotografer disediakan dek khusus untuk memotret. Jadilah saya yang berkamen ini harus naik ke atas dek tersebut. Entah bagaimana ceritanya, saya sukses naik ke atas dek itu. Tak hanya saya, ada banyak penyuka fotografi yang ikut berdiri bersama saya di atas dek itu. Tak hanya saya, tapi ada juga anak-anak kecil yang bahkan belum genap berusia 7 tahun.

Selain memotret, saya juga menjadi juru teriak, meneriaki orang yang nekat bergelantungan di bawah dek kami. Setiap kali ada orang yang mencoba naik, adik kecil yang duduk di dekat kaki saya akan mencolek kaki saya, lalu menunjuk si pelaku. Meneriaki mereka yang bergelantungan jadi wajib dilakukan demi keselamatan saya dan juga kamera tercinta. Urusan keselamatan sepertinya terlupakan karena selama saya berada di atas dek tersebut, tidak ada satu orang pecalang pun yang mencoba mengatur para fotografer (dan penonton) di atas dek. Semua bebas untuk naik, sementara kekuatan kayu tak bisa diandalkan. Tapi seperti biasa di Indonesia, nunggu ada kecelakaan dulu baru akan ada tindakan preventif. Kalau gak ada kecelakaan, biarkan saja.

 

Dan saya menjadi satu-satunya perempuan

Terdapat tiga dek fotografer dan saya menjadi satu-satunya perempuan. Selama kurang lebih 2 jam, telinga saya mendengarkan berbagai celotehan, dari yang tak senonoh hingga masalah asuransi kamera. Pria-pria ini dengan tak segannya berkomentar tentang kemolekan peserta, teknik berciuman hingga menanyakan speed untuk memotret (lha sudah di atas kok baru kursus kilat tentang speed), tak hanya itu, mereka juga sempat membahas ketiadaan asuransi kamera di Indonesa. Beberapa pria juga berceletuk mengenai FPI, mereka bersyukur karena ketidakadaan FPI di Bali. Jika mereka ada di Bali, alamat omed-omedan akan diharamkan. Nggak sih, jika mereka ada di Bali, maka pecalang harus bersatu mengusir FPI dari Tanah 1000 Pura.

gak mau dicium

Yang gak mau dicium pasti tutup muka begitu melihat lawannya.

Apa yang saya takutkan terjadi. Ketika acara hampir usai, dek yang saya tempati dengan sukses berbunyi kriet…kriet dan kayunya patah. Para peminat fotografi di atas dek itu pun langsung membubarkan diri, termasuk saya. Saya yang bisa naik, kali ini kesulitan turun karena kamen yang melilit bagian bawah tubuh. Alhasil, saya berteriak pada seorang pria: “Bli tolong dong, gendong saya!”. Pria pertama melengos dan untungnya ada pria kedua yang dengan baiknya mengulurkan tangan membantu saya turun, tanpa menggendong tentunya. Fiuh….Semoga bli yang membantu saya turun dimudahkan jodohnya dan dilancarkan rejekinya!

 

omed2an3

Tips untuk yang mau motret Omed-omedan:

  1. Datang lebih awal dan segera cari tempat yang tinggi (kecuali kalau kameranya tahan air)
  2. Bungkus kamera dengan plastik. Biarpun sudah di atas, peluang kesemprot masih tinggi karena air disiramkan melalui selang dan ember.
  3. Bawa baju ganti karena bakalan basah.
  4. Pakai sunblock dan kacamata hitam, karena posisi dek ada di sisi timur.
  5. Tinggalkan tripod karena tempat di dek sangat terbatas
  6. Kalau punya uang lebih, silahkan cari asuransi kamera!

 Jadi gimana, berminat untuk melihat pesta ciuman akbar nan basah ini?

…Muach…