Budaya Malu Bertanya

 

“Malu bertanya sesat di jalan”, begitu kata guru-guru bahasa Indonesia kita serta buku-buku bahasa yang pernah kita pelajari. Peribahasa ini mengajarkan orang untuk selalu berani bertanya supaya bisa tahu kebenaran dan pada akhirnya tidak hilang arah. Secara teori memang kita diajarkan hal ini sejak dini, tapi pada prakteknya masih saja kita malu bertanya, terutama bertanya hal-hal yang substansial.

Saya yakin sebagian besar dari kita pernah mengalami masa dimana hati ingin mengangkat tangan dan bertanya, tapi kepala enggan melakukannya karena ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Atau situasi dimana pertanyaan itu justru tak dilempar kepada ahlinya, tetapi ditanyakan pada orang-orang yang ada di sekitar kita (dan parahnya mereka bukan ahlinya). Situasi kedua ini seringkali saya temui di dalam seminar, workshop, atau bahka pertemuan-pertemuan formal lainnya. Lucunya, jika disarankan untuk bertanya, sang penanya biasanya akan merespons dengan kalimat “kamu aja deh yang nanya, saya malas”.

Di balik kata malas itu sebenarnya ada banyak alasan mengapa orang enggan bertanya. Pertama, orang malas bertanya karena takut. Ketakutan ini bermacam-macam, yang paling sering kita temui di sekolah misalnya, takut dengan guru yang kelihatannya galak atau guru yang kelihatan tak senang jika menerima pertanyaan. Pada pelajaran yang materinya saling berkaitan, seperti matematika atau fisika, kegagalan memahami satu hal akan berdampak pada pemahaman materi selanjutnya. Tapi apa daya, rasa takut dimarahi guru lebih besar ketimbang rasa takut mendapat angka merah di rapor.

Selain takut dimarahin, banyak orang takut bertanya karena malu disangka bodoh. Tak memahami satu hal bukanlah sebuah kebodohan, apalagi kelambatan berpikir. Mungkin saja gagal paham ini karena penjelasan yang terlalu cepat atau karena kurang konsentrasi yang pecah. Tetapi karena adanya “ketakutan disangka bodoh” dan juga label masal di lingkungan kita, orang jadi enggan bertanya.

Budaya juga membawa peran penting dari keengganan ini. Di Bali misalnya ada budaya koh ngomong, alias enggan berbicara atau mengungkapkan pendapat. Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan pun sering dijawab secara singkat dengan kalimat “nak mule keto” sudah dari sononya begitu. Akibatnya, bibit malu dan malas bertanya semakin subur. Ya ngapain capek-capek nanya kalau jawabannya pun seperti itu? Saya rasa tak hanya di Bali saja, budaya malu bertanya juga ada di berbagai tempat di Indonesia serta di negara-negara tetangga kita.

Herannya, kita tak mendorong budaya bertanya tapi justru repot menghina, berbisik-bisik, atau mencela mereka yang bertanya. Entah bertanya hal yang sederhana atau menanyakan hal-hal yang rumit sekalipun. Celaannya macam-macam, tapi yang paling sering saya dengar sih dianggap tak sopan, atau “pertanyaannya kok gitu sih”. Anehnya, pertanyaan “gitu sih” ini biasanya  pertanyaan kritis, cerdas dan teknis. Bukan pertanyaan ecek-ecek.

Lebih aneh lagi pertanyaan basa-basi seperti gaji, status perkawinan, ukuran kemaluan pasangan atau bahkan alasan mengapa tak kunjung punya anak tak dianggap sebagai pertanyaan vulgar atau sopan. Pertanyaan yang jauh dari hal ilmiah ini dianggap sebagai sebuah kewajaran. 

Padahal, mengajukan pertanyaan di luar forum resmi, apalagi jika pembicaraan di antara dua orang, ada seninya. Seni merangkai kata supaya tak terdengar menyerang juga seni membangun hubungan supaya yang ditanya pun nyaman. Baru setelah kedua belah pihak sama-sama nyaman, latar belakang bertanya dijelaskan lalu pertanyaan bisa mulai diajukan. Nah, dalam bertanya pun mata tak boleh lepas mengamati bahasa tubuh, supaya tahu yang ditanya nyaman atau tidak. Ketika yang ditanya mulai tak nyaman, penanya harus mencoba kreatif mengalihkan pertanyaan.

Kebiasaan saya untuk bertanya, baik di forum resmi atau dalam pembicaraan privat  tak datang dalam satu malam. Harus diakui sebagai anak yang tumbuh dan besar di generasi Soeharto, ada dampak kultur pembungkaman secara tak langsung pada diri saya.  Tetapi, kebiasaan ini saya tumbuhkan, karena saya mengharuskan diri untuk haus dengan informasi dan penasaran dengan banyak hal. Selain itu saya juga gerah kalau dalam satu meeting tak ada yang nanya, padahal sang presenter sudah susah-susah menjelaskan. Kok sepertinya tak ada yang berminat atau bahkan tak ada yang paham.

Google memang bisa membantu rasa ingin tahu kita, tapi dalam hal-hal tertentu, bertanya pada manusia secara langsung lebih baik daripada dengan google. Ada elemen lain yang tak ada di google, hubungan antar manusia. Dan satu prinsip yang saya tanamkan pada diri saya sendiri, there’s no such thing as a stupid question. Engga ada pertanyaan bodoh. Yang paling penting, kita sudah tak hidup di jaman  opresif lagi, jadi kebebasan untuk bertanya harus kita gunakan sebaik-baiknya. Mumpung masih ada.

Kamu, malu bertanyakah?

Xx,
Tjetje

 

Advertisements

40 thoughts on “Budaya Malu Bertanya

  1. Pas aku awal-awal di Belanda, aku masih punya kelakuan malu bertanya, apalagi di kelas. Lama-lama, para dosen sering bilang, there’s no stupid questions, jadi lama-lama aku belajar untuk sering nanya (Tapi pertanyaan yang kritis ya). Dan lama-lama jadi terbiasa untuk bertanya. Soalnya ya itu, takut disangka bodoh. Tapi ternyata di Eropa nggak ada tuh judgement bodoh kalau kita nanya pertanyaan yang trivial sekalipun. Karena bahkan banyak orang yang nggak ngerti basic dari sebuah pertanyaan.

    Aku pernah banget punya pengalaman didiemin pas nanya. Waktu itu kelas 3 SMP, lagi kelas persiapan UAN untuk Bahasa Indonesia. Guru BI-ku waktu itu lagi sensi sama kelasku, jadi dia masuk kelasku cuma buat jagain kami ngisi soal doang. Giliran ada yang maju ke depan terus nanya, dia malah nanya balik, “Menurut kamu jawabannya gimana?” Ih kalo diinget punya guru kayak gitu pas sekarang suka sebel sendiri. Dulu kan masih kepikiran guru selalu benar, jadi dulu gak punya pemikiran kritis macam begitu.

    Sekarang aku punya keponakan umur 5 tahun yang lagi sering-seringnya nanya. Semua hal ditanyain. Aku langsung kasih pesen sama kakakku (mamanya si keponakan), aku bilang mending semua pertanyaan dia dijawab aja, jangan mentang-mentang males jawab jadi malah jawabnya ngasal kayak “udah dari sananya”. Nanti lama-lama si anak bakal males nanya karena jawaban kayak gitu malah memupuk kepribadian ‘nrimo’ dan nggak kritis.

    • Aku kurang tahu bagaimana kondisi guru sekarang. Tapi mereka malas ngasih jawaban itu either karena mereka gak tahu atau maunya nyuruh kita baca. Padahal baca kan belum tentu ketemu (Nah ini nyambung lagi sama budaya malas baca).

      • Itu sekitar tahun 2005-2006. Ngeselin banget, aku yakin itu karena si guru lagi sensi sama kelasku karena kami sempet ada salah paham sama si guru. Tapi kan namanya gak profesional ya kalo gitu.

  2. Dalam dunia pendidikan, kelas yang siswanya aktif bertanya dikorelasikan bahwa pengajaran di kelas tersebut berhasil. Paling tidak itu yang saya alami dari dulu, saya bertanya bila ada yang dipahami (guru ngajarnya enak, murid dari awal menyiapkan materi) dan bila diam saja artinya blank karena bingung mau nanya apa. Jadi, mereka yang bertanya itu justru mereka yang ngerti bukan sebaliknya. 😀

  3. Jujur aku baru berani nanya pas kuliah di Inggris Tje. Itu kan S2, berarti aku berhasil lulus 4 tahun kuliah S1 dengan perasaan takut nanya! 😱 parah ya.

    Dulu tuh takut nanya karena malu, malu dianggap sok tau dan sok pintar, malu dianggap cari perhatian, dan berbagai jenis malu lainnya 😦

    Pas S2 baru deh ngerti indahnya kelas yg rame diskusi, banyak pertanyaan, banyak pendapat, makin rame ilmunya!

      • On the other hand, setelah cari tahu ngga ada jawabannya, aku akan tetep tanya walaupun pertanyaannya mungkin terlihat bodoh untuk yang tahu jawabannya. Prinsipku sih Tje, ngga ada pertanyaan bodoh. Yang ada orang yang males cari tahu atau orang beneran ngga tahu.

  4. Jadi keinget waktu seminar pra skripsi dulu. Ceritanya aku nanya, intinya gimana caranya supaya nggak tegang ketika berhubungan dengan dosen pembimbing yg karakternya macem2? Diketawain lah gw sama seisi auditorium. Okelah, emang, pertanyaan ku gak berbobot, tp kalau emang bisa dapet jawaban yg ‘ngena’ kenapa nggak ya?

    Krn dulu aku trmasuk orang yg sulit memulai pembicaraan, terlebih sama orang yg ‘di atas’ aku. Biar pengalaman tinggal d LN juga mindset hierarki aku blm ilang sampe sekarang -_-“

      • Intinya sih kalau gak salah harus bisa sefriendly mungkin k dosen. Tp kan gak semua dosen mudah didekati, bahkan kita maksudnya baik aja sering terjadi miskom, khususnya k dosen2 senior yg dkenal omongannya pedes.

  5. Maaf. Kalau double post abaikan satunya. Terima kasih. Kalau diacara selalu menyempatkan bertanya. Kecuali semua sdh jelas. Bnyk yang malu bertanya? Nggak juga sih. Tp itu pengalaman sy disini. Sekarang. Kdg tergantung pendekatan kita dan profil audiens. Kl mrk tdk minat dtg terpaksa krn kewajiban saja ya lewat.Bila tertarik bnyk jg yg bertanya. Kalau soal tabu dan aib biasanya pada diem tapi stlh usai baru tanya2 scr pribadi atau via email. Tkt dicela. Entahlah. Pdhl jgnkan bertanya kita menjawab saja jg bisa dicela. Hahaha. Di dunia ini mmg bnyk yg merasa superior. Tapi memikirkan celaan org lain buang2 waktu saja. Toh itu menunjukkan kualitas & kesempitan berpikir mrk bkn kita…hehehe…kuncinys cuma respek.

  6. Hahaha, kalau presentasi dan nggak ada pertanyaan, artinya presentasinya cukup “gagal” 😛 .

    Btw, ada kok pertanyaan “bodoh”, hahahaha 😆 *pengalaman menjawab pertanyaan reviewer paper-ku yang aneh, hahaha 😆 *. Tapi bagaimana pun itu, yang namanya mendapatkan pertanyaan artinya orang yang bertanya itu memiliki keingin-tahuan akan topiknya kan, jadi dalam hal ini tentu positif juga 🙂 . Eh, maksudku topik-topik yang berbobot ya, bukan topik-topik gosip karena kepo nyinyirin hidup orang lain, hahaha 😆

  7. budaya malu bertanya ini memang di asia udah mendarah daging, soalnya emang kalo bertanya itu oleh orang asia dikesankan orang yang tidak memperhatikan, tidak paham.. atau bahkan yg paling parah… dianggap bodoh… semakin sedikit bertanya di budaya asia, semakin bagus. makanya banyak pelajar asia bertanya setelah pelajaran usai. saya sendiri pun pernah bertanya ke teman saya yg presentasi, ternyata teman saya yg lain malah berkomentar buruk (tepatnya apa saya lupa), dosen saya juga berkata “kamu tadi nggak nyimak apa yg dijelaskan teman kamu ya ?” selain karena takut dianggap bodoh, ada lagi alasan kenapa gak mau bertanya : ‘biar cepet selesai’ 😀

  8. Mba Tjetje, Saya takut kalau mau nanya, kayaknya karena kebiasaan dari kecil deh, berangkat dari kultur satu arah kalau belajar di kelas. Kalau mau nanya takut 1) takut dianggap bodoh 2) takut dikira cari muka terhadap guru 3) takut kalau ternyata pertanyaan yang ditanya nggak bisa dijawab guru dan dikira kita mau nantangin lalu dibikin susah lulus matkul tersebut (pernah denger beberapa kejadian ini). Makanya pas kuliah di Landa mati kutu banget liat anaknya aktif-aktif terus dosen enteng aja bilang ‘I don’t know,’ kalau emang beliau ga tau jawabannya.

    Sampe sekarang masih berusaha banget buat ngangkat tangan kalau memang merasa perlu nanya atau ngasih komentar, apalagi kalau audiens-nya besar, rasanya mau pengsan duluan :))))

    • Aku juga kalau mau kasih komentar nervous berat lho. Biasanya aku tulis dan bangun strukturnya dulu. Jadi ketika menyampaikan runut. Merubah kebiasaan itu susah ya?

      Btw, thanks for pointing out tentang cari muka ya. Point penting banget itu.

  9. Halo Mba Ail…aku silent reader dan follow IG mba, tapi blum pernah komentar, salam kenal ya..kebetulan topik ini baruu aja kejadian sama temen aku..minta ijin share di FB yah mba … makasi mbaa..

  10. dulunya sich aku termasuk orang yang malu bertanya apalagi sama orang yang baru dikenal. kayaknya jadi terkesan cerewet dan mau tau hikss.. kalau sekarang sich lagi dalam proses belajar bagaimana cara bertanya dengan cara yang sopan, kayaknya sayang aja kalau ketemu orang baru tapi nga tau apa-apa tentang beliau. hehehe

  11. Di jurusan saya untuk beberapa mata kuliah ada kelas asistensi bareng asdos. Saya dan temen2 justru sangat aktif nanya dan “ketauan begonya” di kelas asistensi sementara di kelas dosen ngangguk2 so ngerti aja. Kenapa ya? Mungkin karena sama asdos terkesan lebih ke sharing ya? Soalnya asdos kan hanya beda beberapa semester aja. Heran juga tapi memang selalu kayak gitu

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s