Di beberapa negara maju, anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa diharapkan tinggal sendiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Harapannya, anak-anak tersebut bisa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Di Indonesia, konsep melepas anak supaya mandiri itu kurang populer. Sebaliknya, anak dimanjakan hingga usia dewasa. Mereka disuapi dengan kemudahan; disediakan pekerja rumah tangga, pengemudi, hingga tabungan serta pekerjaan. Kemanjaan ini tak semerta-merta berhenti begitu memasuki jenjang perkawinan. Ada banyak keluarga muda yang entah terpaksa karena keadaan, atau mungkin dipaksa supaya orang tua tak kesepian, yang tinggal bersama orang tua. Bahkan ketika cucu lahir pun masih bersama orang tua. Menurut orang tua sih supaya dekat dengan cucu dan supaya ada orang terpercaya yang merawat cucu. Di Indonesia kita melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Disini, berusia dewasa, apalagi sudah kawin masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai keanehan.
Bicara tentang anak-anak yang dilepas, saya jadi teringat seorang teman WNA yang harus kembali ke negaranya setelah magang di Indonesia. Saat itu ia panik dan tak nyaman karena harus kembali tinggal dengan orang tuanya selama satu minggu karena belum mendapat tempat tinggal. Tinggal satu minggu dengan orang tua nampaknya dianggap sebagai sebuah siksaan luar biasa. Sungguh sebuah reaksi yang bagi saya menarik (dan berlebihan).
Saya sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal mandiri tanpa keterlibatan orang tua dan tak tahu apakah bisa tinggal satu atap lagi dengan ibunda saya. Ternyata, dikunjungi mama selama hampir tiga bulan saya malah tambah senang. Paling enak tentunya urusan perut, karena makanan nusantara seringkali tersaji. Sering ya, tapi tak selalu. Tentunya ada harga mahal yang harus dibayar, berat badan melonjak.
Tentunya dikunjungi tak sama dengan tinggal bersama. Dalam tinggal bersama ada keputusan-keputusan yang harus dibuat. Dari keputusan sederhana memilih merek sabun cuci hingga memilih penyedia jasa.
Tak heran jika kemudian pasangan-pasangan muda yang menumpang hidup dengan orang tua atau mertuanya seringkali berargumen, dari argumen yang penting hingga yang tak penting.
Yang tua sudah punya pola yang tersusun selama berpuluh tahun dan sudah memiliki pengalaman, sementara yang muda masih ingin mencoba berbagai hal baru atau sudah terbiasa dengan cara yang berbeda. Yang kasihan tentunya sang anak yang harus berada di tengah-tengah, antara orang tua dan pasangan jiwa.
Dalam situasi ini kedua belah pihak harus pintar-pintar menjadi fleksibel. Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak harus berkomitmen untuk memberikan ruang pribadi dan tak terlalu mencampuri urusan pihak yang lain. Komunikasi kemudian menjadi kunci penting. Seperti biasa, teorinya mudah tapi prakteknya tak mudah sama sekali karena bercampur dengan ego.
Kalian pernah kembali tinggal dengan orang tua atau bahkan dengan mertua?
xx,
Tjetje
Show me love, leave your thought here!