Ada beberapa orang yang penasaran bagaimana kehidupan dapur di negeri seberang. Beberapa bahkan bertanya-tanya apakah kemudian saya (dan banyak orang lainnya) berubah selera dan hanya mau makan roti saja.
Saya tentunya tak bisa menjawab selera makan orang lain. Tapi yang jelas begitu pindah ke Dublin, konsumsi menu asing saya jauh lebih rendah ketimbang saat saya tinggal di Jakarta. Di Dublin saya maunya makan makanan Indonesia terus, karena makanan Irlandia rasanya amburadul, tak berbumbu. Irlandia emang gak punya kultur makan seperti di Perancis atau Spanyol. Jadi ya wajar kalau yang amburadul aja laku keras dan dibilang enak.

Mencari bahkan pangan Asia di Dublin tergolong mudah. Toko Asia bisa ditemukan di banyak tempat serta ada toko daring yang siap mengirimkan segala pesanan, selama kantong kuat bayar. Tapi bagi saya ada tiga hal yang penting untuk masakan Indonesia: beras, tempe dan bumbu segar.
Beras
Jika di Jakarta beras basmati sangatlah mahal, sampai orang India sering mengeluh, di Irlandia berat basmati lebih mudah ditemukan dan seringkali lebih murah. Saya sendiri lebih memilih beras Jepang atau beras Thailand.Harga beras sendiri beraneka rupa. Tergantung berapa banyak dan dimana kita membeli. Satu kilo beras biasanya dipatok dengan harga €2. Sementara, di tempat-tempat seperti Tesco bisa mencapai €4.
Saya sendiri punya langganan toko China yang juga importir. Lokasinya di area industri dan target marketnya bukan individu tapi Restaurant. Disana, sepuluh kilo beras dari Kamboja dibandrol €13, sementara beras Jepang untuk Sushi sekitar €15. Jangan dibandingkan dengan di Indonesia ya.
Tempe
Satu hari saya ngobrol dengan pemilik toko Asia tentang tempe. Ia bercanda bahwa orang Indonesia itu tak bisa makan tanpa tempe. Bahkan saking tingginya peminat tempe, 40 bungkus tempenya yang baru datang pernah diborong habis oleh orang Indonesia yang tinggal di luar Dublin.
Tempe disini barang langka yang didatangkan dari Belanda hampir setiap minggu. Sepertiga papan (20 potong) dibandrol dengan harga € 2.40 Euro. Memborong tempe buat saya sangat penting, karena seringkali tempe tak datang.
Supaya awet, tempe harus dimasukkan freezer. Jika ingin masak, tempe tersebut didefrost terlebih dahulu atau dikukus. Rasanya memang tak serenyah tempe segar, tapi ya bagaimana lagi, beggars cannot be choosers.
Aneka bumbu
Jahe, kunyit, Laos, cabe, sereh dan kunci misalnya bisa ditemukan dengan mudah. Bahkan daun jeruk bisa ditemukan dengan harga yang menurut saya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Semudah-mudahnya, saya tak akan nekat bikin sate lilit dengan batang sereh karena harganya tak semurah di Indonesia.

Selain bumbu segar, bumbu instant seperti bumbu bambu juga bisa ditemukan. Bahkan ada rasa-rasa yang tak ditemukan di Indonesia. Tak hanya bumbu Indonesia, saya juga sering menggunakan bumbu Malaysia untuk memasak. Nah Baru-baru ini saya menemukan bumbu sop buntut Malaysia yang akan saya gunakan untuk membuat Soto Banjar. Nah kalau gini rasanya bersyukur banget deh satu rumpun dengan orang Malaysia.
Bumbu-bumbu yang tak bisa ditemukan, seperti kencur dan salam, ataupun bahan pelengkap dengan merek tertentu harus dibawa dari Indonesia. Jadi ya jangan kaget kalau lihat Freezer dan lemari saya penuh dengan kerupuk, Emping, bumbu instant, petis, hingga kecap yang baru akan habis tahun depan.

Oh ya, mie instant disini bisa ditemukan dengan mudahnya. Bahkan bisa beli kardusan. Harganya memang sedikit mahal, 45 sen per bungkus. Tapi setidaknya gak perlu bawa mie dari Indonesia dan bagasi bisa diisi dengan makanan lain.
Kira-kira ada saran makanan apa lagi yang mesti saya timbun dan bawa ke Dublin?
Xx,
Tjetje
Show me love, leave your thought here!