Pulang Kampung 

Tradisi pulang kampung biasanya dilakukan menjelang hari-hari khusus, baik itu perayaan keagamaan maupun perayaan tahun baru. Di Indonesia, lebaran menjadi ajang pulang kampung terbesar, karena mayoritas penduduk  mudik bersama. Menjelang lebaran  jutaan orang berebut pulang, demi menikmati beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga terdekatnya. Jalanan yang diledaki dengan pemudik dan juga kendaraan pun tak menghentikan niatan untuk bergabung dengan keluarga. Tak hanya lebaran, menjelang Natal, Imlek, bahkan Nyepi, banyak juga dari kita yang mudik. Tentunya jumlah mereka tak sebanyak pemudik lebaran.

Pulang kampung, kendati pendek, menjadi sebuah ritual yang wajib dilakukan bagi yang mampu. Sederetan aktivitas dan kegiatan direncanakan untuk melepas rindu dan bernostalgia. Urutan pertama tentunya menghabiskan waktu dengan keluarga. Baik keluarga yang masih hidup ataupun yang sudah dikebumikan. Bagi mereka yang berstatus jomblo, kegiatan ini seringkali menjadi siksaan karena serangan pertanyaan-pertanyaan dari para tante dan oom. Jangan salah lho, tak cuma orang Indonesia yang suka bertanya blak-blakan. Beberapa teman saya yang bukan orang Indonesia banyak tersiksa dengan pertanyaan serupa.
Starbike

Halo Abang Starbike!

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan keluarga, dari mulai menghabiskan waktu di atas meja makan hingga piknik bersama ke tempat-tempat wisata. Tak heran jika pada saat liburan area wisata dipenuhi lautan manusia yang pergi beramai-ramai dengan keluarganya. Tempat wisata murah meriah, seperti Ragunan atau TMII misalnya, dipadati dengan pengunjung. Kendati setiap tahun masuk berita karena pengunjung yang luar biasa banyaknya, orang-orang masih tetap bersemangat. Semuanya demi momen indah bersama keluarga.
Selain urusan bertemu keluarga, pulang kampung juga berarti bertemu teman-teman. Baik teman sekolah maupun teman masa kecil. Menyambung kembali pembicaraan atau mengenang masa lalu. Bagi sebagian orang, bertemu teman masa lalu itu terkadang menjadi momen canggung, karena seringkali   pembicaraan sudah tak nyambung lagi.  Belum lagi adanya ketidakcocokan pemikiran. Yang satu mendadak jadi ekstrem dan rajin menyisipkan ayat  suci di setiap pembicaraan, sementara yang lain merasionalisasi dan bertanya tentang banyak hal. Biasanya, yang merantau merasa terbuka dan menganggap yang tak merantau tak modern; sementara yang tak merantau merasa temannya sudah terlalu banyak berubah dan terkena racun pergaulan ibu kota. Tapi tentunya tak sedikit yang masih bisa nyambung dengan teman-teman lamanya dan kemudian rajin meminjam uang #eh.
Sebagai negara yang memiliki kekayaan kuliner, urusan perut juga merupakan agenda penting dalam perjalanan pulang. Tumbuh dan besar dengan rasa-rasa makanan tertentu membuat lidah merindu untuk digoda dengan kelezatan rempah. Rempah-rempah yang mungkin ditemukan di sudut bumi lain, tapi pengolahan serta suasanya membuat rasanya jauh berbeda. Kegiatan makan-makan ini tentunya sedikit berbahaya, berbahaya bagi kantong karena harus terus-menerus jajan di luar dan tentunya berbahaya untuk kesehatan. Timbangan bisa melonjak, sementara bagi yang punya masalah kesehatan, kolesterol, asam urat, kadar gula bisa ikut meroket setinggi langit.

Urusan pulang kampung tak lengkap jika tak melibatkan belanja, dari mulai sekedar belanja barang-barang khas, seperti kain-kain tradisional di pasar atau pengrajin lokal hingga membeli aneka rupa buah tangan paling mutakhir dan paling gaul di toko oleh-oleh. Tahu sendiri bagaimana doyannya orang Indonesia berbelanja. Yang dibelanjakan satu kampung dan seringkali kalap, semuanya ingin dibeli. Tapi kebiasaan inilah yang menggerakkan ekonomi negara kita. Membuat para pengrajin-pengrajin kecil di berbagai sudut negara meraup pundi-pundi untuk penghidupan banyak orang.
Sebagai seorang migran, saya migran ya, bukan expat, yang tinggal di negeri jauh, mudik pun menjadi ritual yang diagendakan secara rutin. Tahun ini sebenarnya saya tak ingin pulang, inginnya jalan-jalan ke negara lain, tapi apa daya, kesempatan untuk menyesap harumnya aroma teh tubruk sembari menyesap kembali nikmatnya rempah yang menari-nari di lidah datang. Jadi siapa yang bisa menolak, apalagi jika kulit yang mulai terang ini rindu dibakar teriknya matahari khatulistiwa. Eh tapi kalaupun tak ada matahari, saya rela kaki terendam kotornya banjir yang menggenangi Jakarta, karena sesungguhnya, menjejak di rumah itu sebuah kemewahan dan obat rindu yang mujarab.
Kamu, kalau pulang kampung ngapain aja?
Xx,
Tjetje
Punya daftar makanan panjang dan tak tahu apakah akan mampu melahap semuanya dalam waktu dua minggu. Ikuti perjalanan berburu makanan di IG @binibule (bukan @ailsadempsey ya, karena itu work account)
Advertisements

21 thoughts on “Pulang Kampung 

  1. sy tak pulang kampung mbk tjetje,krn tiap hr krjny y drmh,,dan oh y sy juga kurang suka acara kumpul2 dgn kluarga/tmn2 krn y itulah suka trsiksa dgn prtnyaan “kapan nikah?” 😦

  2. Mbak Ai kapan pulang kampung? Sekarang ini lagi ada bazaar kuliner Nusantara di ICE BSD smp 6 Nov 2016. Klo pulang kampungnya sekarang pas banget deh ke situ karena ada berbagai macam makanan Nusantara, mulai dari dodol Betawi, lumpia Semarang Toko Oen, Gudeg Luminten, Bebek Kaleyo, mie kocok, dll. Duh jadi lapar! 😛

      • Oalah udah di jalan nih Mbak, pantesan kemaren ada foto pojok kejujuran ya di bandara itu ya. Hehe.. Aku sudah ke sana Selasa kemarin. Mending ke sana pas weekday Mbak karena jauh lbh sepi (dan HTM lbh murah) jd bs menikmati suasananya. Pas di sana aku sempat nyobain Pastellia, lumpia Semarang Toko Oen sm Bebek Kaleyo, hehe..

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s