Soal Sentimen Pada Imigran

Seperti banyak kita tahu, Eropa beberapa bulan, mungkin lebih tepatnya tahun, belakangan ini, sedang dibanjiri oleh imigran, pencari suaka, dan pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang. Sebagian dari mereka melarikan diri dari peperangan yang sudah berkecamuk sekian lama dan mengikuti proses menjadi pengungsi dengan mencari suaka terlebih dahulu, sedangkan sebagian lainnya lari dari kemiskinan (kemudian sering disebut sebagai economic migrant)

Imigran (pengungsi serta pencari suaka) banyak tidak disukai karena berbagai problematika yang dianggap muncul akibat kehadiran mereka. Ambil contoh yang paling gampang saja seperti Inggris yang kepanasan menghadapi imigran, hingga kemudian memutuskan #Brexit. Jauh berbeda dengan Canada yang adem ayem padahal negaranya berisi imigran semua.

Hal pertama yang diidentikan dengan imigran adalah pencuri pekerjaan. Yang lokal merasa terancam karena banyaknya pekerja dari luar yang mendapatkan pekerjaan. Ini di mana-mana, termasuk di Irlandia. Dulu, anak muda Irlandia lebih mudah menemukan pekerjaan di pub lokal, sementara sekarang posisi-posisi tersebut sudah digantikan dengan wajah-wajah serta aksen dari timur benua Eropa yang terkenal pekerja keras. Selain terkenal pekerja keras, mereka terkenal sebagai orang yang pandai menyimpan uang (untuk dikirim ke kampung halamannya). Ini juga yang kemudian bikin banyak orang kesel, karena duitnya didapatkan dari satu negara, tapi dihabiskan untuk membangun negara lain.

Selain itu, imigran juga diidentikkan dengan masalah sosial yang mungkin disebabkan kegagalan integrasi. Saya tulis mungkin, karena ini bukan tulisan ilmiah. Masalah-masalah sosial yang muncul beraneka rupa, dari mulai diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan, hingga stigma kuat yang muncul dan melekat akibat beberapa gelintir orang. Stigma-stigma tersebut termasuk malas, tak mau bekerja keras dan hanya mau memeras jaminan sosial saja. Ada sih yang begitu, saya pernah ketemu yang tukang sedot jaminan sosial, tapi gak semuanya seperti itu. Yang pekerja keras banyak.

Kecenderungan imigran untuk tinggal di satu area khusus, bercampur dengan orang-orang serumpunnya juga menjadikan proses integrasi semakin sulit. Tapi sejujurnya, ini sudah terjadi dimana-mana dan sejak lama di berbagai belahan dunia. Ambil contoh embong Arab, pecinan atau Chinatown, bahkan kampung keling (yang terdengar sangat derogatif) seperti di Medan.

Lucunya, saya melihat sentimen yang sama dari orang-orang Indonesia, baik yang tinggal di Indonesia, apalagi yang tinggal di luar negeri. Di luar negeri lebih parah, bahkan banyak yang sinis luar biasa ketika melihat para imigran (pencari suaka ataupun pengungs)i. Padahal, dirinya sendiri sama-sama imigran (tapi seringan ngaku expat, atau pura-pura lupa kalau imigran, padahal gak punya kualifikasi untuk jadi expat). Meminjam bahasa di Twitter, saya memanggil mereka sebagai kaum menengah ngehek. Terus makin ngehek dan gondok ketika tahu sebagai para imigran dan pencari suaka ini orang kaya.

Lha halo, bantuan itu kan hak mereka, tak peduli kaya atau miskin. Lagipula, untuk melarikan diri dari peperangan itu diperlukan biaya yang tak sedikit, jadi tak heran kalau yang kaya lari duluan, sementara yang miskin harus berjuang setengah mati mengumpulkan modal.

Kadang saya pengen banget nyentil yang sinis ini dengan pertanyaan: lha situ mau dipaksa pindah dari satu negara karena keadaan politik sehingga harus tercerai berai dari keluarga? Terus tentunya saya pinjamin kaca besar yang ada tulisannya: emang elu expat? Emang lu disini karena pekerjaan dan dapat visa dari kantor? Duh kualifikasi jadi expat aja kagak ada dan sesama migran ini kan, gak usah reseh deh. 

Nah, jika ada kelompok menengah yang ngehek, maka ada pula kelompok yang tak kalah ngeheknya. Kelompok ini memiliki kecintaan mendalam pada kelompok migran, terutama migran-migran dari timur tengah yang gagah, berparas tampan dan masih muda. Mereka banyak memburu para migran-migran ganteng ini untuk menghangatkan ranjang yang sudah mulai mendingin. Siapa mereka? Tante-tante di Jakarta.  Tante-tante ini juga tak segan memanjakan para pencari suaka ini dengan hadiah-hadiah. Tak hanya hadiah berharga, mereka juga seringkali diberikan hadiah tak berharga, penyakit menular seksual. Duhh….tante!!!!

Xx,
Ailtje
Imigran, bukan expat, yang sedang mencari kehangatan di Tenerife

Baca juga tentang migrant vs refugee di sini

 

Advertisements

30 thoughts on “Soal Sentimen Pada Imigran

  1. Ini emang topik yang amat sangat pelit. Di satu sisi emang imigran menyulitkan pemerintahan (harus menyiapkan dana / bujet ekstra u/ housing mereka, uang saku, makan dst) dan banyaknya kriminalitas yang dilakukan oleh mereka2 ini (yang mulai dari pencurian, perampokan sampe perkosaan). Ya susah krn mereka ini PTSD, mau dikunci di bangunan terus juga ga bisa, mau dilepas juga susah klo kena culture clash, sementara dilain sisi ada kewajiban untuk membantu. Bener2 dilema.

    Soal banyak orang kita yang ngehe itu emang ya, jangankan sama imigran negara lain, sm orang2 kita yang kerja jadi aupair juga gitu, dulu aku pernah tulis posting soal social strata dan kenapa bangsa kita itu kental banget soal ini, memperlakukan mereka yang social stratanya lebih rendah dengan sewenang2….

    Jujur aja, ini salah satu alasan kenapa aku jauh2 dari orang kita di perantauan. Males bo, yang waktu dulu tinggal di Indonesia aja pilih2 teman, moso disini nggak? Klo pas ditanyain kenapa ga gaul sama orang Indonesia disini

    • Aku setuju soal pilih-pilih teman Va. Emang mentalitas masih mental penjajah, diskriminatif pada yang berpenghasilan rendah.

      Btw, aku kelupaan ngebahas soal perlakuan pada perempuan. Pengalamanku naik taksi di sini, kalau supirnya imigran, pasti diperlakukan tak baik. Aku pernah dibentak bahkan dilihatin dari atas ke bawah (sambil nyalain lampu taksi dulu). Akhirnya aku males naik taksi yang supirnya imigran dari benua tertentu. Harus orang Irlandia asli.

  2. Waktu S1 dulu aku pernah bikin skripsi tentang imigran Cina di Amerika Serikat gelombang pertama. Rupanya sepertinya sekarang lagi ada tren yang sama dengan tren di Amerika Serikat pada akhir abad 19 lalu. Dulu orang-orang Cina ini juga datang ke kota-kota besar Amerika Serikat dan banyak yang cepat dapat pekerjaan karena mereka sifatnya gigih dan jago nyimpen duit. Akhirnya pemerintah AS gerah dan ngeluarin undang-undang yang melarang orang Cina datang ke Amerika Serikat sampe sekitar tahun 1950.

    Emang bener ya yang namanya sejarah memang selalu terulang, sekarang terulang di Eropa. Aku sebagai imigran yang bekas pelajar dan sekarang mencari pekerjaan, berasa banget lho dampaknya. Sekarang sulit banget kalo mau nyari pekerjaan tapi nggak bisa salah satu bahasa dari Mainland Eropa. Kalaupun dapat kesempatan interview, biasanya dapat interview di perusahaan multinasional atau start-up yang banyak pegawai dari luar negeri juga.

  3. Aduh pas banget baca post ini, aku lagi dalam proses jadi imigran di Australia😄 Untungnya aku “imigran cinta” (pinjam istilah dari Lorraine: love migrant), bukan pencari suaka atau pengungsi atau sejenisnya.. Australia udah gak terima imigran kategori yang terakhir itu..

  4. Soal imigran Tionghoa dan sesama imigran yang ngehe, kayaknya pernah kejadian di Indonesia yang menyebabkan kejadian tak menyenangkan di Batavia tahun 1740… hehe. Tapi yang saya nggak habis pikir itu adalah masih saja ada orang yang nyinyir soal nasib orang, haha. Ya biarin aja sik, selama nggak merugikan secara pribadi ya dibiarin aja orang lainnya mencari rezeki. Merasa ada sifat yang kurang dari diri namun ada dalam diri mereka? Ya tingkatkan kemampuan. Mereka pintar menabung, kita juga harus bisa lebih menabung lagi. Memang kultur budaya menentukan kecenderungan sifat seseorang tapi kalau kita mau, kita pun bisa punya sifat-sifat baik dari mereka #edisioptimis.

  5. Kata suamiku sih begitu.. Pencari suaka/pengungsi yg udah kadung nyampe teras rumahnya Australia aja pada ditahan dulu di pulau-pulau kecil sekitar, dan gak masuk mainland dulu.. Jadi ingat cerita kemarin waktu bawa anakku imunisasi, aku dan anakku dikira pengungsi sama petugas klinik karena suamiku bilang kami baru pindahan dari Indonesia😄 Rupanya kota tempat kami tinggal lagi sibuk terima pengungsi yg udah lulus dari pusat penampungan sementara, utk disebarkan di seluruh penjuru kota, terutama wilayah yg masih sepi penduduk..

  6. Di Indonesia kasusnya juga sama mbak, udah beberapa tahun ini orang2 lokal sibuk ngoceh ttg expat2 yang masuk ke Indonesia tiap tahun. Makin heboh pas tau mereka digaji lebih gede drpd pegawai lokal dan diwajibkan bisa bahasa Indonesia.

    Aku sendiri punya temen orang India kerja di Kuningan udah beberapa tahun, kenal dia dari tahun 2014, well, gak merasa inferior dan insecure karena kehadirannya sih. Ada juga orang India yang buka toko kain, toko karpet di Bali, biasa aja tuh. Punya mantan bos orang Perancis? Biasa aja. Aku anggep aja nambah ilmu dan broading mind from other perspective (di luar pemikiran orang Indonesia).

  7. Setuju tuh kata Mbak Emmy, beberapa kali denger cerita dari temen2 imigran cinta (pinjem juga istilah mbak Yo), biayanya muahaalllll boookk.. dan lama 😂. Btw kalo pengalamanku disini, orang2 pendatang yang sudah menetap di Melbourne yang malah lebih “rese”, kalo locals malah asik2 aja.. pernah ke sebuah kantor pelayanan, petugasnya –i assume dari wajah dan logat, bukan locals.. aduh duuuh judesnyaaaa ampun2an dan seolah menganggap remeh gitu. Beda banget kalo pegawainya locals, friendly bgt. Ahhh apa mungkin aku hanya menjustifikasi hiihihihi.. cm sharing pengalaman yg aku alami sendiri aja ya mbak Tje2 😉

    • yes yang bulenya jauh lebih friendly …… dan nyaman banget bergaul ama mereka lenih open ama yang asia kok mereka kadang suka gimana gitu padahal ya sama2 orang asia gitu , ya mestinye kan kita bersatu. hmmm but ya gtu lah shit happens haahha

  8. Di Sydney dulu, aku tinggal di kayak kecamatan gitu….((((KECAMATAN)))) 😂😂 namanya KINGSFORD. Keren bgt kan namanya? Bule bgt kan? Kenyataannya? Beuh sejauh mata memandang, isinya orang Asiaaaaaa, hahaha. Pelayan byk toko jg org Indonesia. Inimah namanya kampung Asia, hehehe. Makanya klo pas pergi ke city, ngeliat bule tuh rasanya ya kayak ngeliat emas. Berbinar-binar.

    • Buset kalo Kingsford aja kecamatan apa kabar Wollongong yah..desa hahhaha..iya di Kingsford emang banyak orang Asia apa karena deket uni ya? Kayaknya itu uni juga mostly orang Asia deh studentnya

      • Wollongong ya kecamatan juga Mbak. Sebuah kecamatan di New South Wales 😀 yo kan guyonannya, UNSW itu = Universitas Negeri Solo Wetan, lol. Dan memang mostly Asian kayaknya? Pokoknya kami2 di Kingsford ini defisit bule lah. Makanya begitu liat bule, suka norak, hahaha. #gwAjaKelles

  9. OMFG
    hahahhahaha kaum sosial menengah ngehe LOL sumpah ngakak guling2 ,
    iya di Batam sini juga banyak migran dari negara konflik timur tengah, temen ku bahkan ada yang kenalan di online dating trus maunya aja lagi jalan bareng “(gue mah serem lah mba bukan rasis tapi kalo refugee mending enggak usah lah meskipun ya jodoh tetep siapa yang tau)

    soal orang Eropa bagian timur itu pekerja keras setuju banget mba cowo ku orang Croatia dan dia migran ke Czech for better life with strong skill sampe orang lokalnya sana juga ya agak takut kesaing juga, soalnya kata cowo ku di Eropa timur kerjaan yang beneran bagus itu emang persaingannya ketat istilahnya bekerja ama orang best semua jadi mesti jadi best of the best kalo mau bersaing di negara mereka,

    keep writing mba Ai

    xoxo ♥

    NikeCrystalia

  10. Wah kupikir saya aja yang terlalu sensi sama topik ini. Maaf, engga bermaksud ngebahas politik, tapi teman (lebih tepatnya “acquaintance” sih) saya di US, mba-mba Indonesia yang kawin dgn laki US, support sekali dengan Tr*mp dgn alasan-alasan yang berbau rasis dan diskriminatif terhadap imigran. Batin saya… si mba ini engga nyadar kalau dianya sendiri juga imigran yang dibenci-benci sama konservatif radikal. Udah dateng dari negara “Muslim majority” (malah #1 penduduk Muslim lagi), bahasa Inggris seadanya, dan kumpul-kumpulnya juga lebih cenderung ke sesama warga Indonesia. Duit pun ngandalin penghasilan suami. Apa bedanya sama imigran pengangguran mbaaa… -_-

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s