Hidup Tanpa PRT

Sudah hampir dua tahun saya tinggal di Irlandia dan tentunya tanpa pekerja rumah tangga (PRT). Di sini kami tak mau dan tak mampu membayar para pekerja rumah tangga, tukang kebun, apalagi supir. Jauh berbeda dengan  kaum menengah ke atas di nusantara yang dimanjakan dengan layanan PRT murah meriah. Lalu para Ibu-ibu teriak karena gaji PRT yang selalu di bawah UMR dianggap tak murah.

Paska Lebaran ini media sosial saya dipenuhi dengan keluhan para Ibu-ibu yang harus berjuang mengurus rumah dan anak. Foto cucian piring atau setrikaan yang menumpuk mendadak ngetrend. Tumpukan itu untuk menunjukkan tugas rumah tangga yang terpaksa dilakukan karena PRT sedang berlibur.
Duh Ibu-ibu, hidup tanpa PRT itu bisa kok. Ijinkan saya yang selalu dimanja dengan banyak fasilitas di Indonesia berbagi pengalaman saya menjadi anak mandiri.


Cucian setumpuk

Jaman sekarang cuci pakaian itu mudah, masukkan ke dalam mesin cuci, pencet tombol dan tunggu satu atau dua jam. Jemur baju juga relatif mudah, sebentar saja pasti kering karena cuaca Indonesia yang cenderung panas. Jika malas melakukan itu semua, tinggal tunggu laundry kiloan buka setelah lebaran dan masukkan semua ke laundry. Baju habis? Kalau gak mau repot dikit, beli baju lagilah, kan THR belum habis.

Bagaimana dengan setrikaan? Kalau capek ya gak usah disetrika, tinggal dilipat aja. Saya serius ini. Kaos-kaos di rumah kami hanya disetrika kilat tapi sering kali langsung dilipat. Tadinya (dan saya masih sering melakukan) sprei dan bedcover yang seluas samudera itu juga saya setrika. Lama-lama, capek! Hidup mah yang praktis-praktis aja.


Mengatasi Cucian Piring

Saya tak punya mesin pencuci piring di rumah. Dan kendati tinggal berdua saja, cucian piring saya sering menggunung. Cuci piring masuk menjadi tugas saja, walaupun kadang pasangan saya suka ikut nimbrung. Cuci piring di Irlandia itu kilat, piring dimasukkan ke dalam bak berisi air panas mendidih dan sabun, tak dibilas dan langsung di lap. Saya mengadopsi gaya ini, tapi bedanya piring-piring yang saya rendam saya bilas kembali. Geli rasanya melihat piring bersabun tanpa dibilas. Metode ini menghemat waktu cuci piring karena lemak di piring terbilas air panas.
Karena menggunakan air panas dan dibilas di bawah keran dengan air panas, piring-piring ini bisa saya lap dan langsung masuk lemari. Dalam waktu kurang dari 20 menit cucian piring menggunung bisa beres. Mudah kan? Lebih mudah lagi jika pasangan mau nimbrung ikut membantu. Kalau pasangan tak mau, ya berdayakan anak-anak.

Membereskan rumah

Di Indonesia, rumah itu wajib dibersihkan setiap hari, disapu dan juga dipel. Karena sudah terbiasa punya PRT, banyak rumah tangga yang enggan menggunakan vacuum cleaner, alasannya takut rusak atau takut PRT menjadi malas. Ya ampun tolong ya, teknologi itu kan disiapkan untuk menjadikan pekerjaan menjadi efisien. (Argumen yang sama juga digunakan untuk mencuci baju secara manual, ya jangan salahkan kalau PRT jadi gak betah).

Vacuum Cleaner lucu. Apapun yang ada di lantai pasti dibersihkan si puppy!

Jadi yang punya vacuum cleaner silahkan dikeluarkan dari dalam lemari. Sementara yang tak punya bisa bersih-bersih manual. Rumah, menurut saya tak harus dibersihkan setiap hari kok. Sesempatnya saja, yang penting rapi. Btw, saya sendiri tak pernah nyapu ngepel ataupun menggunakan mesin penyedot debut di rumah, semua dilakukan pasangan saya. Coba itu bapak-bapaknya daripada sibuk mainan hp dan nonton TV diberdayakan. Masak perempuan saja yang mengurus rumah.


Soal masak

Masak makanan Indonesia itu ribet, tapi bisa direncanakan. Bumbu jadi banyak dijual, di pasar traditional maupun di swalayan. Jika rajin, bumbu dasar ini bisa dibikin sendiri, lalu dimasukkan ke dalam freezer. Rasanya memang akan sedikit berbeda, tapi yang penting sedikit lebih praktis. Jangan lupa juga merencankan menu selama beberapa hari ke depan, sehingga bahan makanan tak terbuang.
Bagi yang tak bisa masak, buka aplikasi Gojek saja. Tapi sabar ya kalau menunggu makanan. Jangan sampai makanan sedang dimasak, pesanan dibatalkan karena tak sabar.

Penutup

Selama beberapa Lebaran di Jakarta, saya tak pernah pulang kampung dan selalu ngantor. Tugas saya selain menjaga rumah kosong juga menyapu dan mengepel rumah yang sebesar lapangan sepakbola. Butuh hampir satu jam buat saya untuk nyapu dan ngepel.

Hidup tanpa PRT itu memungkinkan kok, sangat memungkinkan, kuncinya tak boleh alergi pada pekerjaan rumah tangga selain itu semua orang harus ikut serta melakukan tugas rumah tangga, jangan hanya dibebankan pada Ibu, istri atau perempuan saja. Lagipula, lontong, opor ayam dan rendang yang duduk manis di dalam perut kan juga perlu dibakar supaya tak jadi lemak.

Selain itu kerjanya juga harus fokus dan tak repot mengunggah foto di media sosial. Bukan tak boleh, tapi kalau terlalu sibuk menanti like di media sosial kapan selesainya?

Selamat Idul Fitri bagi kalian semua yang merayakan. Semoga masa liburan bersama keluarga menyenangkan.

xx,
Tjetje

Uang Baru dan Salam Tempel 

Ramadhan sudah hampir usai, THR sudah dibagikan (dan mungkin dihabiskan), baju baru sudah terbeli, begitu juga dengan aneka rupa kue kering di dalam toples cantik. Pendek kata, semua sudah hampir siap.

Eitssss…tunggu dulu, masih ada satu ritual lebaran yang belum dilakukan, menukarkan uang baru. Ritual ini menjadi ritual wajib bagi sebagian, mungkin sebagian besar, keluarga di Indonesia. Anak-anak kecil akan berebutan salam tempel.

Saya sendiri tak tahu bagaimana istilah salam tempel bermula. Yang jelas setiap kali bersalaman dengan yang tua, atau dituakan, akan ada uang yang ditempelkan di tangan. Tradisi ini tak hanya saat lebaran, tapi juga saat kumpul keluarga. Saya yang sudah berusia lebih dari tigapuluh pun masih menggemari diberi salam tempel. Bukan nilai uangnya yang saya suka, tapi elemen kejutan tiba-tiba mendapatkan hadiah. Uang tersebut biasanya saya sembunyikan di dalam dompet untuk keadaan darurat. Darurat sale.

Tradisi salam tempel ini membuat permintaan uang baru menjelang lebaran  melonjak. Sama melonjaknya dengan harga bawang merah, santan, daging serta daun janur. Mereka yang bekerja di institusi perbankan biasanya sering kejatuhan rejeki dititipi uang baru oleh keluarga dan teman-temannya. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya, bukan untuk lebaran, tapi untuk menimbun uang pecahan kecil di dalam brankas. Kadang, mereka yang dititipi tukar uang ini bisa menukarkan hingga puluhan juta rupiah.

Tahun ini saya tak sempat mengecek apakah bank Indonesia punya tempat penukaran uang, tapi biasanya ada kendaraan khusus BI untuk memfasilitasi melonjaknya permintaan yang baru. Bisa dibayangkan betapa penuhnya tempat penukaran ini.

Karena negara kita penuh dengan wirausaha, para pedagang uang baru juga bermunculan di pusat-pusat kota. Di Jakarta sendiri, mereka biasanya ada di depan Museum Bank Mandiri, di daerah kota tua. Di daerah ini, mereka tak hanya berjualan pada saat menjelang lebaran saja, tapi hampir setiap hari. Mereka duduk  berteduh di pinggir jalan, bertemankan tas pinggang serta tumpukan uang baru.

Pecahan 2000 sebanyak 100 lembar, yang seharusnya bernilai 200.000 seingat saya dijual 5-10 ribu lebih mahal. Untuk ongkos keringat mereka tentunya. Jika uang yang ditukarkan lebih dari itu, silahkan dihitung sendiri berapa keuntungannya. Yang jelas pedagang uang baru bisa lebaran, bayar preman dan pembeli bisa menyenangkan keponakan. Semua orang senang. Beres.

Di Irlandia sendiri tak ada obsesi terhadap uang baru. Anak-anak cenderung diberi hadiah berupa barang ketimbang uang. Natal dapat hadiah, Paskah dapat coklat, ulang tahun menerima hadiah. Satu-satunya momen untuk menerima hadiah uang hanya pada saat first communion (komuni pertama bagi pemeluk agama Katolik), uangnya pun tak perlu baru. Yang penting nilainya bisa membuat mereka tersenyum lebar. Nanti kapan-kapan saya cerita soal perayaan komuni di sini ya.
Kembali lagi pada uang baru dan salam tempel, beberapa tahun lalu saya sempat kaget luar biasa ketika tahu para keponakan-keponakan ini bisa meraup jutaan rupiah dari satu Lebaran. Mereka bahkan punya target untuk memberi barang tertentu dari uang tersebut. Ada yang ingin beli iPad, ada yang ingin beli iPod, dan tentunya ada yang cukup bahagia ketika sudah bisa belanja jajanan di swalayan. Soal yang terakhir ini, saya beberapa kali menjumpainya di swalayan kecil di depan kost saya. Duh tiap kali bertemu mereka, saya rasanya sangat tertampar karena kesederhanaan mereka.

Selamat menjalanakan sisa ibadah Ramadan kawan, semoga tahun ini kalian diberkahi banyak rejeki supaya bisa menempelkan uang baru dalam pecahan yang jauh lebih besar.

xx,

Tjetje