Uang Baru dan Salam Tempel 

Ramadhan sudah hampir usai, THR sudah dibagikan (dan mungkin dihabiskan), baju baru sudah terbeli, begitu juga dengan aneka rupa kue kering di dalam toples cantik. Pendek kata, semua sudah hampir siap.

Eitssss…tunggu dulu, masih ada satu ritual lebaran yang belum dilakukan, menukarkan uang baru. Ritual ini menjadi ritual wajib bagi sebagian, mungkin sebagian besar, keluarga di Indonesia. Anak-anak kecil akan berebutan salam tempel.

Saya sendiri tak tahu bagaimana istilah salam tempel bermula. Yang jelas setiap kali bersalaman dengan yang tua, atau dituakan, akan ada uang yang ditempelkan di tangan. Tradisi ini tak hanya saat lebaran, tapi juga saat kumpul keluarga. Saya yang sudah berusia lebih dari tigapuluh pun masih menggemari diberi salam tempel. Bukan nilai uangnya yang saya suka, tapi elemen kejutan tiba-tiba mendapatkan hadiah. Uang tersebut biasanya saya sembunyikan di dalam dompet untuk keadaan darurat. Darurat sale.

Tradisi salam tempel ini membuat permintaan uang baru menjelang lebaran  melonjak. Sama melonjaknya dengan harga bawang merah, santan, daging serta daun janur. Mereka yang bekerja di institusi perbankan biasanya sering kejatuhan rejeki dititipi uang baru oleh keluarga dan teman-temannya. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya, bukan untuk lebaran, tapi untuk menimbun uang pecahan kecil di dalam brankas. Kadang, mereka yang dititipi tukar uang ini bisa menukarkan hingga puluhan juta rupiah. 

Tahun ini saya tak sempat mengecek apakah bank Indonesia punya tempat penukaran uang, tapi biasanya ada kendaraan khusus BI untuk memfasilitasi melonjaknya permintaan yang baru. Bisa dibayangkan betapa penuhnya tempat penukaran ini.

Karena negara kita penuh dengan wirausaha, para pedagang uang baru juga bermunculan di pusat-pusat kota. Di Jakarta sendiri, mereka biasanya ada di depan Museum Bank Mandiri, di daerah kota tua. Di daerah ini, mereka tak hanya berjualan pada saat menjelang lebaran saja, tapi hampir setiap hari. Mereka duduk  berteduh di pinggir jalan, bertemankan tas pinggang serta tumpukan uang baru.


Pecahan 2000 sebanyak 100 lembar, yang seharusnya bernilai 200.000 seingat saya dijual 5-10 ribu lebih mahal. Untuk ongkos keringat mereka tentunya. Jika uang yang ditukarkan lebih dari itu, silahkan dihitung sendiri berapa keuntungannya. Yang jelas pedagang uang baru bisa lebaran, bayar preman dan pembeli bisa menyenangkan keponakan. Semua orang senang. Beres.

Di Irlandia sendiri tak ada obsesi terhadap uang baru. Anak-anak cenderung diberi hadiah berupa barang ketimbang uang. Natal dapat hadiah, Paskah dapat coklat, ulang tahun menerima hadiah. Satu-satunya momen untuk menerima hadiah uang hanya pada saat first communion (komuni pertama bagi pemeluk agama Katolik), uangnya pun tak perlu baru. Yang penting nilainya bisa membuat mereka tersenyum lebar. Nanti kapan-kapan saya cerita soal perayaan komuni di sini ya.
Kembali lagi pada uang baru dan salam tempel, beberapa tahun lalu saya sempat kaget luar biasa ketika tahu para keponakan-keponakan ini bisa meraup jutaan rupiah dari satu Lebaran. Mereka bahkan punya target untuk memberi barang tertentu dari uang tersebut. Ada yang ingin beli iPad, ada yang ingin beli iPod, dan tentunya ada yang cukup bahagia ketika sudah bisa belanja jajanan di swalayan. Soal yang terakhir ini, saya beberapa kali menjumpainya di swalayan kecil di depan kost saya. Duh tiap kali bertemu mereka, saya rasanya sangat tertampar karena kesederhanaan mereka.

Selamat menjalanakan sisa ibadah Ramadan kawan, semoga tahun ini kalian diberkahi banyak rejeki supaya bisa menempelkan uang baru dalam pecahan yang jauh lebih besar.

xx,

Tjetje

Advertisements

8 thoughts on “Uang Baru dan Salam Tempel 

  1. , semoga tahun ini kalian diberkahi banyak rejeki supaya bisa menempelkan uang baru dalam pecahan yang jauh lebih besar. Amin for this 😀

  2. Hahahaha… Jadi ingat imlek waktu masih single. Bisa jd ladang kumpul duit juga soalnya. Dulu ingatnya udah ada ancang2 kalo dapat segini mau beli apa, tapi pada akhirnya duitnya selalu berakhir di tabung soalnya berasa susahnya nyari duit…harus keliling seharian dari keluarga ke keluarga 😂

  3. “Rasanya sangat tertampar melihat kesederhanaan mereka” iya ya kak, mereka terlalu dini utk paham dengan dunia keuangan.. lack of poverty memang bener2 bisa bikin orang jd acuh terhadap tekanan psikologis, pdhl kejiwaan juga perlu dirawat 🙁

  4. nah..tahun ini kebetulan ada uang cetakan baru Mba..jadi uang baru pun tak cukup. Kalau mau nukar ke bank harus pake bilang gini : “mau tukar uang baru yang cetakan baru yah” .. hehehe..*stelah jadi silent baru komen sekarang. Salam .

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s