Menonton Drama di Media Sosial

Konon katanya media sosial itu merubah dunia dan memperbanyak drama. Tapi sesungguhnya, media sosial itu hanya media. Kuasa untuk membuat atau menghindari drama ada pada para penggunanya. Yang tak suka drama tak akan terlalu banyak mengumumkan permasalahannya di media sosial, tapi ada juga yang senang melakukan hal tersebut. Semuanya diunggah ke media sosial, dari hal ringan hingga konflik besar.

Nah bicara soal konflik ini, ada beberapa tipe pengumbar konflik yang menarik untuk diamati. Mungkin, sebagaian besar dari kita pernah bertemu dengan tipe-tipe ini:

Tukang sindir

Punya masalah dengan pasangan, teman, kolega, atau keluarga lalu memutuskan  untuk menulis semuanya di status media sosial? Umbar kesalahan-kesalahan atau uneg-uneg supaya dunia tahu. Terkadang mereka tak hanya mengumbar hal-hal yang dianggap salah, tapi juga menyindir karakter orang yang dituju. Untuk memberi sedikit elemen misteri,  mereka tak sebut nama orang yang dituju. Sindirannya pun dibuat dengan kasar, mungkin kalau terlalu halus nanti yang dituju justru tak paham.

Bagaimana kalau kemudian status ini dibaca sasaran?  Berarti misi tercapai dan target bisa kacau hatinya. Tapi kalau salah sasaran, karena ada ribuan teman lainnya yang bisa baca tulis? Oh tak masalah, nanti kalau ada yang nanya seperti ini sih tinggal bilang aja kalau status itu bukan untuk dia, tapi untuk yang lain. Kalimat saktinya, “Ini bukan untuk kamu kok, tapi untuk orang lain.” Kalau lagi baik biasanya ditambahin: “Kamu gak usah keGRan deh.”

Tukang klarifikasi gosip

Namanya manusia pasti pernah diomongin oleh orang lain, atau bahkan sering, kalau banyak yang ngiri. Omongan-omongan seperti ini biasanya ada aja yang iseng menyampaikan kekorban pergosipan.

Nah, tak semua orang tahan mendengarkan hal ini, lalu mau berdiam diri dan membiarkan waktu menunjukkan kebenaran. Lagi-lagi emosi, lalu ngamuk di media sosial, mengklarifikasi gosip tersebut. Koentji terpenting dari klarifikasi ini adalah bagian ngamuknya,kalau gak ngamuk, kita yang baca juga gak semangat. 😆

Keseruan juga terjadi di antara teman-teman sang pengunggah status, karena biasanya timbul rasa penaran untuk mencari tahu pembuat gosip. Ada pula yang mendinginkan suasana dengan meminta pengunggah status  untuk sabar.

Tukang Balas Status

Dari semua pelaku drama, ini saya tempatkan di tempat teratas. Dua manusia dewasa yang memutuskan saling sindir tentang satu hal di status masing-masing. Nah kalau kita berada di dua lingkaran pertemanan ini, langsung ketahuan siapa yang berbalas status. Lucunya, kadang-kadang dua orang yang berselisih ini saling ngeblok, tapi statusnya masih tetep bisa sahut-menyahut. Ternyata, sahut-menyahut ini terjadi karena adanya mata-mata yang menyampaikan status-status terbaru dari dua kubu ini. Nggak cuma negara aja yang perlu mata-mata, tapi pergaulan dunia maya pun juga perlu.

Penutup

Saya bertanya-tanya, mengapa ada yang mau mengumbar permasalahan pribadi  seperti ini di media sosial? Dari membaca banyak artikel saya jadi ngeh kalau ada orang-orang yang memang butuh perhatian, baik yang positif atau yang negatif. Orang-orang seperti ini biasanya disebut sebagai excessive attention seeker. Konon sih memang mereka kesepian atau mungkin masa kecilnya pernah terlantar secara emosional. 

Alhasil, ketika dewasa mereka akan melakukan apa saja untuk mencari perhatian, termasuk mengumbar apa saya yang bisa diumbar dan mendramatisir hal-hal yang tak perlu. Argumen ini masuk akal sih, mengingat mereka yang mengumbar hal-hal seperti ini memang mencari reaksi di media sosial.

Pada saat yang sama, saya melihat kegagalan untuk komunikasi. Kalau ada masalah, ya ngomong aja ke orangnya. Teorinya emang gampang, prakteknya ada yang enggan karena gak berani (mungkin ini kultur kita), atau memang ada yang tak mau karena merasa tak ada yang perlu dibicarakan, karena memang tak ada masalah. Soal yang satu ini menarik, karena keengganan ini muncul demi memghindari timbulnya masalah-masalah baru.

Apapun alasannya, mereka ini yang membuat media sosial jadi berwarna-warni dan seru untuk dilihat. Drama-drama ini mempermudah kita dalam menilai karakter seseorang.

Kamu, sering baca drama di media sosial?

xx,
Tjetje

Suka menonton drama gratisan 🤣

Advertisements

36 thoughts on “Menonton Drama di Media Sosial

  1. Aku ngerasa hidupku tuh kurang drama jadi senengnya nontonin dramanya orang lain 😂

    Enaknya karena klo udah berlebihan tinggal tutup browser atau chat app. Ga usah terlalu baper sama masalah orang lain lol

  2. Pernah.. Ada teman cewek di IG yg suaminya selingkuh (katanya), trus dia posting kutipan, kata bijak, dan sejenisnya yg intinya menyatakan bahwa dia ‘korban’, dan the other woman itu ‘orang jahat’, sementara suaminya dianggap ‘tak berdosa’ karena dia ‘digoda’ katanya . Kata-katanya itu “penggalangan opini publik” banget.., emosional, dramatis.., buka aib total deh.. Yang bikin heran, di dunia nyata, ini orang tampilannya sangat kalem dan relijius, bertolak belakang dengan karakter di dunia maya. Aku kirim message ke dia, apa dia sadar lagi buka aib sendiri.. Gak dibalas, tapi besoknya akun IG dia menghilang😐

  3. Demen buanget lah Ailsa :p. Ini ga hanya gender perempuan krn suamiku jg secara berkala suka buka2 fesbukku hehe.
    Balik lg ke drama, tulisanmu fakta adanya. Aku paling ogah mosting model gituan tp prnh blm lama ini keki berat krn tnyt ada org yg ga pny fesbuk misuh2 krn ga senang sama postinganku (yg ngmgin diriku sendiriiii pdhal) lah tau drmn kan, ujung2nya ngeh diinfo oleh kroni2nya yg ada di friend list gue. Langsung esmosi posting omelan selama stgh jam biar kroni2nya baca, intinya menyatakan kesian deh lu pgn tau kehidupan gue tp ga pny fesbuk hrs diksh tau ama minion2 lu.
    Stgh jm berlalu, lgsg g tendang minion2nya dr list gue, postingan jg g apus.
    Mmg ky anak kecil dan hny akan memperkeruh suasana tp urgensi mau nyindir balik lbh besar pd saat itu. Gelisah bgt gue selama stgh jam itu krn bukan g bangettt mosting model gituan tp I had to make sure it served its purpose.

  4. Aku dah nulis panjang2 kok ga nongol ya haha. Dah lah intinya tulisanmu mmg fakta adanya Ailsa and I too love reading, watching it. Kdg diksh tau org trus ditunjukkin krn syukur, g ga kenal bnyk ama yg suka dramatisir :p
    Btw, apa pula itu ceritanya ada dua cetatus yg sama? G blm diksh pencerahan soal yg itu hahaha

  5. Ehm, hobi mantau drama nih Mba Tjetje, apalagi sejak ada infotwitwor *ngaku*, sebenarnya nggak jarang isinya drama-drama receh ga penting, tapi mungkin karena kehidupan nyata kadang ketemu masalah yang lumayan dan secara umum kondisi dunia lagi rusuh dan depressing, nengokin drama di sosial media justru jadi pelarian sementara dan hiburan tersendiri :))))

  6. Aku dulu pernah kirim pesan langsung ke temenku yg nulis status2 ttg ketidakbahagiaannya dalam berumah tangga. Padahal suaminya ya ada di FB nya itu. Aku bilang kenapa kok harus nulis status seperti itu di ranah maya, apa tidak lebih baik dibicarakan secara baik2 tanpa harus membuka aib di muka umum gitu. Trus dijawab, emang dia lagi cari perhatian khalayak ramai. Males ngomong sama suaminya. Aku langsung kicep. Ya mau gimana lagi, dianya sadar melakukan itu. Yg pengamat gini yg risih jadinya. Tapi setelahnya aku berpikir, memang benar rasanya kalau salah satu faktor yg menyebabkan seseorang memasang status2 “kontroversial” itu ya karena cari perhatian, cari dukungan. Karena mereka tidak mendapatkannya di dunia nyata, tidak terpenuhi, makanya nyarinya di media sosial. Tapi, kadang2 seru juga jadi pengamat drama media sosial ini (loh😅). Buat cermin diri sendiri supaya ga seperti mereka.

  7. aku dulu waktu msh alay *skr juga masih sik* sering banget curhat di sosmed…rata2 masalah kejombloan gitu, secara lagi caper menjaring ikan gitu ya ceritanya hihihi trus skr kalo baca memory yg ada di FB ya ampun malu banget…pengen diapus2 semua rasanya 😦

  8. Betul tuh Tje…Kalau ada unek2 mbok ya ketemu ngobrol bareng saling maap-maap an kalau ada salah bukan makin membara di fb apalagi ditambah kompor meleduk..makin dehhh…Drama queen emang ada di mana-mana..Salam dingin Tje, uda makin sejuk di sini.

  9. Aku di medsos paling anti sama beginian, sama yang ngumbar hal2 ga jelas terus pun update status mulut comberan ( see twitter ) soalnya nanti yang muncul di kolom komen juga sama panasnya. Orang2 kaya gini either aku unfriend atau hide, jadi yang nampak di timeline cuman yang hepi2 saja hahaha

  10. Di FB-ku ada yang kerjanya ngeluuuuuuuuuh terus… dan pas aku bales suatu hari kalo keluhannya ga masuk akal (nyetir di sini kebanyakan aturan jadi lebih banyak kecelakaan dr Jakarta wtf argumen apa nih, sama statistik aja udah salah) aku di unfriend hahaha.

  11. Setiap hari gak afdol kalo gak memulia hari dgn baca status di fb. Sunggub beraneka rupa dan warna. Kalo di timeline fb aku, beberapa org jadi sok bijak dan religius.

    Foto org lagi solat dimasjid mall dan kasih status yg “Alhamdulillah masjid masih ramai dikunjungi” pengen komentar tapi tahan tahan ajah. Gak enak temen sendiri.

    Semoga org lain gak berpikirian seperti saya mikirin status orang 😂

  12. ngalah ngalahin drama korea:D duh ini salah satu alasan saya menutup akun facebook lama, walo aslinya sayang banget krn banyak teman lama, nah teman2 baru terutama para perantau diturki yang banyak ngedrama di sosmed, saling sindir,banding3in kultur dua negara, kubu2an temen, apalagi pas kasus kudeta turki tahun lalu, ampun beranda facebook saya ikutan panas kayak politik turki, lah yang bales2an komen padahal orang indonesia ,teman2 turki atau kerabat turki saya malah ga nulis status aneh2 tentang situasi bangsanya, ini yang panasan malah orang indonesia ,saling share artikel bela2in presiden nya ..LOL disuruh pindah wn turki aja alesannya ogah,tp kyk cinta mati, ikut2an menghujat pelaku kudeta-.-‘ duh ampunnn sampe puyeng baca nya, blm drama temen yg doyan nyindir, saya pernah mba disindir gara2 share artikel tentang kecantikan alami tanpa make up, lah ada yang kesindiri krn dia doyan dandan, bhsnya kasar banget dan itu ditujuin ke saya, hahah mau share artikel yang menurut saya bermnafaat aja dşsalahartikan dikira nyindır orang..ampun dehh. akhirnya sya lelah nonton drama mamak mamak sensian di FB..saya putuskan tutup akun aja..:D rada fresh..main sosmed yg lain aja

  13. Dulu pelaku drama juga mba, sekarang insaf dan semoga nggak lagi. Malu sih kalau ingat. Tapi terakhir lihat fb juga jadi mumet karena memang isinya sudah terlalu banyak yang nggak ngerti.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s