Fotografer Murah Meriah

Baru-baru ini, salah satu rekan saya, seorang fotografer (dia fotografer beneran, kalau saya bukan, saya cuma suka foto) membuat survey tentang berapa harga fotografer yang orang bersedia bayar. Hasilnya mencengangkan!

Mayoritas orang yang mengisi polling twitter itu tak mau bayar mahal untuk fotografer. Padahal, harga fotografer yang ditawarkan di atas termasuk murah meriah. Saya pun bertanya-tanya, kenapa banyak yang enggan membayar mahal fotografer? Mungkin karena motret itu dianggap kerjaan remeh? Mungkin karena foto gak dianggap sebagai hal yang terlalu penting? Atau mungkin karena HP dan aplikasinya membuat kita berpikiran motret itu gampang?

Sebagai orang yang menyukai foto (tapi saya bukan fotografer ya), saya paham betapa susahnya mengambil sebuah foto dalam sebuah acara. Ngambil foto mesti cepet, kalau gak cepet momennya hilang. Kalau momennya hilang juga gak mungkin bilang sama para orang tua untuk balik lagi ngulang lamarannya. Atau nyuruh para mbak-mbak pengicar buket di bawah ini untuk balik foto lagi. Wah bisa berantem tuh yang udah dapat bunga.

Makanya fotografer itu sebaiknya berombongan banyak supaya beberapa orang bisa merekam momen dari berbagai sudut. Fotografer-fotografer seperti ini tak bisa dibandingkan dengan fotografer yang bermodalkan lensa kits. Kudu modal lensa yang okay punya, kalau gak ya modyaaar.

Pada saat yang sama, fotografer itu juga harus melalukan proses edit terhadap foto. Pekerjaan mereka tak hanya pada saat hari H saja; ada pencahayaan yang harus dikoreksi, foto bomb yang harus dihilangkan, atau detail-detail lain yang mengganggu kecantikan sebuah foto. Pekerjaan mengedit ini jauh lebih lama daripada mengambil gambar-gambar perkawinan. Biasanya butuh beberapa minggu atau bahkan bulan.

Fotografer-fotografer kawinan saya bahkan super hebat. Dalam kondisi super teler karena kena DBD, mereka bisa mengambil gambar-gambar saya tanpa kelihatan kalau saya sebenarnya udah harus masuk ICU karena nyamuk keparat. Ini kalau fotografernya ecek-ecek ya lupakan aja.

Resiko memilih fotografer murah

Seseorang yang saya kenal menggunakan fotografer yang tak seberapa mahal untuk perkawinannya. Ketika kemudian hasil foto perkawinan selesai dan dicetak di dalam album, SELURUH foto keluarga ujung-ujungnya ngeblur dan tak jelas saudara-saudara.

Ketika melihat foto-foto tersebut saya langsung ngeh kalau sang fotografer salah mengatur setting kamera. Katanya, sang fotografer menggunakan kamera baru. Bah ini pun bukan alasan, karena sebelum mengaku menjadi fotografer, ilmu dasar bukaan dan kecepatan harus sudah dikuasai. Tapi apa daya, momennya sudah lewat dan tak bisa diulang lagi. Kalau sudah begini cuma bisa menyesal.

Foto yang “rusak” bukan satu-satunya risiko yang harus dihadapi ketika memilih fotografer yang tidak tepat. Kualitas pengambilan sudut gambar yang buruk juga membuat foto jadi terlihat kurang menarik, kaku dan tak hidup sama sekali. Sedih banget kalau lihat foto yang kayak gini.

Beberapa tips untuk memilih fotografer:

  • Profesional. Tahu cara memotret dan cara mengedit foto. Baca review dan cari rekomendasi juga. Pastikan juga mereka tahu runutan acara dan tiba-tiba tak hilang (ini saya pernah kejadian lho di sebuah acara penting; akibatnya saya harus lari-lari keliling gedung mencari sang fotografer)
  • Punya pengalaman segudang. Pengalaman itu yang menempa seseorang menjadi lebih baik, jadi lihat portfolio sang fotografer.
  • Gayanya cocok dengan kita.Β Bisa diajak kerja sama dan nyambung. Beberapa fotografer ada yang keras kepala dan gak bisa diajak kerjasama. Pada saat yang sama, kalau gayanya gak sesuai dengan selera kita jangan dipaksain juga. Masih banyak fotografer bagus kok.
  • Minta diskon boleh, tapi jangan sadis-sadis. Inget, kerjaan fotografer itu gak gampang!

Biaya fotografer itu memang mahal, karena merekam momen penting foto itu susah. Tapi untuk momen yang penting dan tak bisa diulang, wajib untuk memilih fotografer yang berkualitas. Kecuali kalau memang foto menjadi elemen yang tak begitu penting dalam prosesi tersebut. Pada saat yang sama, fotografer jaman sekarang kerjanya susah, mesti bersaing dengan tamu yang terobsesi memotret kawinan orang.Β 

Jadi, kamu mau atau mikir-mikir kalau harus bayar biaya tinggi untuk fotografer?

xx,
Tjetje
Membawa Inpairsphoto dari Malang ke Bali.

Advertisements

27 thoughts on “Fotografer Murah Meriah

  1. Budaya kita nggak menghargai sesuatu yang berhubungan dengan art / seni biarpun
    sebagai profesi pun, menggampangkan juga makanya orang2 ga mau bayar mahal untuk beginian. Also one of the reasons parents tell their children to study to become engineers / doctors, karena mau jadi apa kalau jadi pelukis/fotografer etc etc

  2. Nikahan kami, memang sengaja cari bagian dokumentasi yang bagus. Sempat cari di Surabaya, tapi kok agak ribet karena musti sedia transport dan penginapan karena acara di lain kota. Eh langsung keingat fotografer yg dipakai adikku yg nikah setahun sebelumnya. Lihat2 hasilnya kok ok banget dan dari cerita adikku, dia dan timnya professional. Sudah nongkrong di rumah dari subuh karena akad kan pagi. Akhirnya pakai fotografer ini sekaligus untuk memvideokan. Meskipun harganya mahal untuk ukuran kota kecil ya, tapi aku ga nawar sama sekali. Rejeki kami, dapat diskon (harga dan beberapa printilan lainnya) karena dia tahu adikku pernah pakai setahun sebelumnya plus ternyata muridnya Ibuku (karena dia ke rumah untuk survey). Kami ga nawar sama sekali, malah dapat diskon. Hasilnya sangat memuaskan. Dapat banget momen2nya, terutama pas akad dan bagian keluarga.

  3. Kalau saya, cari yang tengah aja deh, harga miring tp kualitas jangan miring. Hhehe.
    Tp saya mengakui kok, pekerjaan fotografer amat sangat tidak mudah, persis betul yg dibilang Tante Tje. Apapun kameranya, kalau yg megang fotografer pro pasti hasilnya amazing. Saya dari dulu suka ngamatin foto, tapi kalau diminta ambil foto, angkat tangan, pasti hasilnya biasa saja, tidak istimewa

  4. Iya emang Ai, fotografer nikahan itu salah satu budget pesta nikah yang menurutku mahal dan biasanya digabung sama pembuatan video nya juga kan ya. Selain make up pengantin, menurutku yang crucial di acara nikahan emang fotografer sih, karena hasil foto nikah bakal dilihat seumur hidup.

    Untuk fotografer aku nyarinya lama banget padahal as you know banyak pilihan kan tuh ya di Bali, lihat portfolionya sampe liat filter tone yang biasa dipake. Seneng sih akhirnya dapet yang cocok dan emang gak ngecewain.

  5. Ada harga ada rupa ya. Kalau maunya murah dan pokoknya harus paling murah banget, ya jangan berharap dapat kualitas, haha πŸ˜† . You pay peanuts you get monkeys kan πŸ˜› .

  6. Setuju banget.. Diluar kadang ada yang mungkin bener2 budgetnya ga ada ya..
    Yang paling parah kadang kalau yang paketan sama bridal, trus di hari nikah seindonesia, ruame banget kan, alhasil comot sana sini fotographernya, belum lagi, gua pernah lhoooo nemu fotographer baru foto pertama kaliiiii, waduhhh keselnya udah diubun2 deh.. Karena ujung2nya apa2 nanya ke gua.. Gua benarnya gak terlalu masalah kalau lagi senggang, tapi kalau lagi kudu kesana kesini, kan malesin dehhh..

      • Suer deh kesel banget, ini nikahan orang gitu lhooo.. maksudnya kalau udah mentok stok fotographernya, yah udah lah jualan bridal aja, gak usah maksa.. Dodolnya lagi fotographernya ngaku pula.. *sighhhh*

      • Btw, banyak sih di Jakarta sebenarnya main comot fotographer sana sini ( WO pun banyak yang gitu, jadi gua bisa juga bantu sana sini ), tapi yah kalau yang sudah ternama, rata2 memang juga yg dicomot gak sembarangan, kan jual brand mereka juga.. Kalau yang gua nemu, kayak paketan bridal gitu, Bridalnya aja sehari bisa antara 15-30 pengantin ( gelo dehhh 30 itu beneran lhooo, nanti kpn2 ditulis ke blog deh ), jadi kalau paketan, yah include ada foto videonya juga.. Nah jadinya musti disediain 30 fotographer dan 30 videographer.. gokillll dehh..

  7. Ini nih setujuu banget mbak, apalagi di malang deh. Tapi makin kesini harga foto juga makin bagus menurut saya karena orang udah ke brainwash sama foto-foto instagram yang ala ala gituuu dan kalo mereka tanya PLnya super mahal2. Di malang udah banyak yang main di angka 20+ dan banyak juga yang pakai, tapi yagituu sih segment tertentu haha.

    Kebetulan gerak dibidang ini juga, suka gamesssh kalo orang ngelihatnya kayak pekerjaaan mudah padahal kan kalo nikahan kita kudu stay cukup lama di lokasi dengan tetap siaga, karena bener banget tadi katanya, momentnya kalo udah lewat ga mungkin di ulang lagi..

  8. Topik menarik. Dulu sblm era kamera digital fotografer dihargai lebih. Tapi sekarang semua org bisa memfoto lebih mudah tanpa harus takut bayar roll film. Kemudian banyak kasus fotografer2(biasanya baru) yang tdk terlalu peduli harga pokoknya dapet job, biasanya kerjaan sampingan, jadi ya merusak harga pasaran. Bhkan bkn tdk ada yg tertarik tdk dibayar asal bisa jln2 gratis ke LN. Kemudian ini keluhan umum tdk spt di Amerika tdk ada asosiasi yg bnr2 melindungi profesi ini scr hukum. Tp yg sdh paham tahu harga dan rupa, kok.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s