Bulan Agustus lalu saya berada di Indonesia untuk dua perkawinan penting, perkawinan sahabat saya dan perkawinan seorang kerabat. Berhubung Indonesia sedang musim kawin, kami pun mendapatkan beberapa undangan lainnya. Konon bagi sebagian orang, bulan-bulan setelah lebaran dipercaya sebagai bulan baik untuk melangsungkan perkawinan.
Dari banyak perkawinan yang saya hadiri, ada satu pola perilaku yang bagi saya sangat mengganggu, yaitu soal pengambilan foto. Sebetulnya, perilaku ini sudah ada sejak lama, tapi semakin lama kok semakin  parah, sang tamu semakin tak tahu aturan dan menurut saya, tak menghormati empunya hajat. Berikut hasil pengamatan saya:
Akad nikah sudah siap akan dilaksanakan, para hadirin sudah duduk, begitu juga dengan para sesepuh. Salah satu saksi pengantin kebetulan orang penting di negeri ini. Jreng…jreng….di tengah khidmatnya acara tiba-tiba ada satu tamu yang seharusnya duduk manis berdiri dengan membawa kamera poket. Ah masalah!

Benar saja, sang tamu yang nampaknya terobsesi memotret saksi ini tiba-tiba berdiri menghalangi para tetamu demi ambisinya mengambil foto-foto untuk memenuhi koleksi pribadinya, sementara para fotografer yang dibayar secara profesional sibuk berjongkok supaya tak menghalangi para tamu. Tamu ini bukan satu-satunya, sesaat setelah pengantin disahkan dalam ikatan perkawinan, tamu-tamu lainnya tiba-tiba berdiri dan sibuk mengambil foto bermodalkan handphone.
Kejadian di atas merupakan sebuah akad nikah yang tergolong “biasa-biasa” saja, di beberapa perkawinan lainnya, para tamu yang sibuk bersaing dengan fotografer untuk mengabadikan perkawinan jauh lebih ganas. Saking ganasnya, mereka tak segan untuk menutupi fotografer yang sudah bersiap di titik-titik terbaik. Lihat ini saya jadi pengen punya bisnis bodyguard yang bertugas menarik tamu-tamu ini kembali ke kursinya.
Saya melihat, ada beberapa alasan mengapa para tamu ini bukannya sibuk menikmati jalannya  prosesi dan malah sibuk berkompetisi mengambil foto:
- Eksistensi diri
Ingat dengan Mbak-mbak yang membuat heboh dunia Twitter yang sibuk merusak momen perkawinan orang lain dengan handphonenya, sibuk berinstastory dan mengabaikan peringatan dari fotografer? Jaman sekarang eksistensi diri itu begitu penting, membuat kita lupa siapa yang sebenarnya punya hajat dan buntutnya membuat kita lupa tentang tata krama. Hasilnya, ngerusak momen bahagia orang lain. Padahal sang empunya hajat itu sudah menabung darah dan air mata selama hidupnya supaya bisa membuat momen yang tak terlupakan.
Eksistensi diri yang dimau dari tamu juga sebenarnya gak penting sama sekali, cuma untuk update media sosial untuk menunjukkan kalau ia sedang berada di sebuah perkawinan. Hello world, look at me, I am at the wedding and you are not! Pada saat yang sama dunia bisa teriak: kamu segitu kesepiannya ya sampai sibuk dengan diri sendiri di tengah kemeriahan pesta?
- Update teman
Alasan selanjutnya untuk mengupdate teman-teman yang tak datang ke acara perkawinan, jadi berdirilah di barisan terdepan, bersaing dengan fotografer resmi demi mendapatkan foto dan video dengan bermodalkan handphone dan power bank. Setelah itu, semua foto dan video diunggah ke dalam media sosial dan grup chat. Salah?
Engga kok, engga ada yang salah dari berbagi. Tapi sebelum melakukan hal tersebut ada baiknya juga untuk selalu sadar lingkungan ketika mengambil foto-foto tersebut. Para tamu yang sudah berjuang untuk bisa hadir itu layak untuk dihormati, bukan ditutupi dengan punggung dan tangan yang saling berebut untuk berada di atas supaya bisa mengambil foto terbaik.
Lagipula, apa susahnya sih nunggu sang penganten unggah foto sendiri yang lebih oke punya?
Penutup
Momen perkawinan, apalagi upacara keagaaman menjadi momen yang sangat sakral. Bisa berada di dalam acara tersebut, bagi saya adalah sebuah kehormatan, karena biasanya pasangan pengantin membatasi jumlah undangan yang diperkenankan hadir. Di banyak kesempatan saya enggan mengambil foto, karena foto-foto tersebut biasanya berakhir di tong sampah, karena kualitasnya yang kurang baik. Saya lebih suka duduk menikmati momen sakral tersebut, lebih enak ketimbang merusak momennya. Lagipula, saya kan diundang untuk hadir dan menyaksikan, bukan untuk jadi fotografer dadakan.
Kamu sering lihat tamu yang terlalu heboh foto-foto di kawinan orang?
xx,
Tjetje
Tak memperkenankan para tamu mengunggah foto kawinannya di media sosial.Â
Show me love, leave your thought here!