Cerita Dari Lapangan Parkir

Hubungan kebanyakan orang dengan tukang parkir itu benci dan cinta. Cinta, karena mereka ini sangat membantu jika kita tak pandai memarkir kendaraan. Tak hanya berguna mengarahkan kita untuk memarkir kendaraan di posisi yang tepat, pada saat terdesak, mereka juga bisa memarkirkan kendaraan untuk kita. Ini pernah dialami seorang teman saya yang baru belajar mengendarai mobil.

Tapi hubungan manis ini berubah menjadi benci yang tak terhingga, ketika kendaraan sudah parkir dan tukang parkir tiba-tiba muncul, membunyikan peluitnya dan meminta ongkos parkir. Ketika jasanya dibutuhkan, mereka tak ada, tapi begitu urusannya menagih biaya jasa, mereka langsung sigap. Begitu rata-rata omelan orang yang saya dengar bila berhubungan dengan tukang parkir.

Ongkos parkir yang dibayarkan langsung ke tukang parkir sendiri seringkali tak jelas rimbanya, masuk ke kantong tukang parkir (yang memang tak tebal), atau ke kantong pemerintah daerah. Pengendara kendaraan yang tegas biasanya meminta karcis parkir, tapi tukang parkir juga tak kalah kreatif, mereka memalsukan karcis parkir ini dengan metode sederhana, difotocopi dengan kertas berwarna. Ini pengalaman bertahun-tahun lalu ketika berada di Malang, mungkin sekarang mereka jauh lebih kreatif.

Di Jakarta, biaya parkir dianggap lebih mahal daripada kota-kota lainnya. Kendati dianggap mahal, tempat-tempat parkir di Jakarta, terutama pada akhir pekan masih penuh dengan para penikmat mall yang ingin windows shopping. Untuk membantu para pengendara, pihak mall biasaya menempatkan tukang-tukang parkir yang bertugas membantu menunjukkan tempat parkir dan mengarahkan pengemudi.

Anehnya, orang-orang ini mengenakan seragam dengan tulisan: “NO TIPPING”. Duh padahal seberapa sih gaji mereka ini sampai mereka tak boleh menerima tips sama sekali? Mungkin, mungkin lho ya, budaya memberi tip ini membuat mereka tak mau melayani orang-orang yang tak memberi tip dan menyembunyikan tempat-tempat parkir.

Menariknya, pekerjaan menjadi tukang parkir ini didominasi oleh pria. Saya tak mau berspekulasi alasan dominasi ini, karena sebenarnya perempuan mampu kok menjadi tukang parkir.

Parkir dan Dublin

Di Dublin, parkir merupakan mimpi buruk, karena mahal dan jumlahnya yang terbatas. Parkir di pinggir jalan, terutama di kota besar hanya pada tempat-tempat tertentu dan biayanya tetap mencekik leher. Tak heran kalau kebanyakan orang memilih untuk naik kendaraan umum dan memarkir kendaraannya di lapangan parkir dekat terminal kendaraan.

Biaya parkir sendiri bisa dibayarkan melalui berbagai cara, tapi tak pernah melalui manusia. Pembayaran biasanya dilakukan melalui situs khusus, sms atau mesin parkir. Soal pembayaran yang terakhir ini bisa dilakukan dengan kartu ataupun dengan koin ataupun uang kertas.

Tak ada tukang parkir yang memantau bukan berarti kendaraan bisa bebas merdeka parkir di mana saja. Ada petugas-petugas yang berkeliling kota yang memastikan bahwa kita meletakkan bukti pembayaran parkir di jendela kendaraan. Jika melebihi waktu parkir yang kita bayar, atau bahkan tak membayar parkir, kendaraan kita beresiko untuk diclamping, dipasang alat yang membuat kendaraan tak bisa berjalan. Untuk membuka alat ini, pengemudi harus membayar denda terlebih dahulu. Tapi di beberapa kesempatan saya melihat clamping ini dilepas oleh pemilik kendaraan dan ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Menyewakan tempat parkir yang didapat ketika menyewa apartemen bukanlah sebuah hal yang aneh. Pada saat yang sama, tak punya mobil juga bukan hal yang  aneh. Di sini, mobil bukan tanda kesuksesan dan ukuran kekayaan. Biasanya, tempat parkir ini disewakan untuk satu bulan dengan biaya bervariasi, yang bisa mencapai 100 Euro, atau bahkan lebih.

Pengalaman saya sendiri dengan parkir bermacam-macam. Jika harus menyetir ke kantor, saya memarkir kendaraan di lapangan parkir yang jaraknya 10-15 menit jalan, ongkosnya 8€ per hari dan kendaraan harus diambil sebelum lapangan parkir tutup pukul 10 pagi. Bagi kolega saya, saya ini termasuk baik hati, karena mau membayar parkir. Kolega saya ada yang tak rela membayar sepeserpun dan rela mencari lokasi parkir yang berjarak 20 menit dari kantor dan gratis. Tentu saja gaya hidup hemat ini beresiko, kaca mobilnya pernah dipecahkan.

Menyetir ke kota sendiri bukan pilihan saya, karena sistem transportasi yang sudah maju. Selain itu saya juga kapok. Alkisah, saya menyetir ke pusat kota untuk bertemu teman-teman sembari makan siang. Saya memutuskan untuk menyetir dan harus mandi keringat karena gedung tempat parkir yang kecil dan menanjak (paling benci deh parkiran sempit gini). Begitu selesai makan, biaya parkir yang harus dibayarkan lebih dari 15€ sendiri. Terus terang saya langsung terhenyak, karena ternyata naik kendaraan umum jauh lebih murah.

Selamat berakhir pekan kawan.
Kamu, punya cerita seru dari dunia perparkiran?

xx,
Tjetje

Advertisements

28 thoughts on “Cerita Dari Lapangan Parkir

  1. Paling kesel sama tukang parkir yang gak keliatan pas lagi susah payah parkir, eh giliran mau pergi tau2 muncul. Dulu saking keselnya pernah pas mau bayar duitnya sengaja aku jatuhin, trus abis itu minta maaf pura2 gak sengaja….jahat ya, tapi kesel sih 😀

  2. Di Blenheim, kalau di city centernya parkir kudu bayar Senin – Jumat. Kalau Sabtu Minggu dimanapun gratis. Jadinya malah kalau Sabtu, di city center rame banget. Biasanya sejam bayar 1.5 NZD. Gak ada tukang parkir pastinya hihi.. Dan parkirnya antara bayar parkir terus ada karcisnya atau yah tiap slot parkir tinggal masukkin koin.. Pernah kena tilang parkir, gara2 lebih 5 menit kalau gak salah, kudu bayar $12, dikasih surat diselipin di kaca, yang mana pasti nomor plat mobil kita dicatat, terus dikasih waktu 30 hari untuk bayarnya..

  3. Kami ga prnh bw Mobil ke dub. Awalnya mgkn manis tp tengah dan akhirnya ud bs ditebak; angkara murka dr bapak J. Knp dia bs ky buto ijo? Krn mmg beliau plg ribet urusan parkiran, merasa mobil sendiri plg sempurna tak ada cacat cela. Org lain ga becus nyetirnya. Misal ke local supermarket nih ya, dipilihlah parkiran plg jauh dr pintu masuk krn pasti sepi trus pantang parkir di sblh mobil yg ada child carseat krn tar buggynya/anaknya “nyolek” mobil kami, pantang pula parkir di sblh mobil yg bnyk baret/penyoknya krn artinya sang supir pasti ugal2an. Kl bs pilih parkir di sblh mbl br dan mehong krn sang supir pasti akan hati2 hahaha, prejudiced bangettttt.

    Lgan murahan ngebis kl itung tol + eflow PP + solar + pusing cr parkir di city centre.

    Oh iya selain urusan parkir, bapak J jg kagok kl hrs nyupir di kota (org dusun ciinnn haha) krn (mnrt dia) kamera dmn2 dan d hrs nyimak kecepatan nyetir dia. Trus bnyk exits, puteran yg bikin bingung.
    Heran ya, pdhal dulu tinggal di UK ya sami aja bnyk speed cameras jg, kelamaan tinggal di countryside ya gini jdnya, nyetir semaunya ga ada speed camera. Tp nyetir ke county lain sampe Kerry/Cork seneng2 aja tuh d. Mmg ga suka dublin sih kynya :p

    Prnh waktu ke Clontarf, ya aku pikir ga hrs lewatin city centre, tol lgsg Clontarf, ya cblah bw mobil, ehhh aku sang navigator salah ngasih tau exit!!! Jreng jrenggg, kita jdnya hrs lewat CC, ngamuk lah dia. Yo wis, mmg waktu itu salahku, gue sabar2innn deh dgr ocehannya!

  4. Aku dan R nggak mau punya mobil ya karena ini nih. Kalau di Delft, apalagi pusat kotanya, hampir bisa dipastikan nggak ada tempat parkir gratis. Adanya tempat parkir untuk orang yang tinggal disitu atau pemilik toko. Mesin parkir berbayar adanya di tempat2 melipir sedikit dari pusat kota, yang perlu jalan dulu untuk ke pusat kotanya. Di kotaku ini, ada juga beberapa daerah yang ada free parking (seperti lingkungan rumahku). Biasanya, pemilik mobil mendaftarkan plat mobil mereka di situs city hall dan beli abonemen waktu, jadi mereka bisa parkir dimana saja. Kakaknya R punya abonemen waktu 1000 menit, contohnya. Kalau mereka parkir, tinggal pergi ke website tersebut, ngabarin parkir di daerah mana, dan dari jam berapa sampai jam berapa.

      • Iya, menarik emang. Aku nggak tahu di kota lain gimana, tapi di Delft emang gitu. Untungnya rumahku nggak ada batasan parkir, jadi kalo ngadain acara orang bisa bebas parkir disini deh, hehehe. Dulu pernah tinggal lebih deket ke pusat kota, Duh susah banget kalo ada temen dateng bawa mobil dan cari parkir.

  5. Dulu waktu baru bisa bawa motor, pernah parkir dipasar dan dicuekin tukang parkir, akhirnya karna gak pinter parkir sempit2, aku gak sengaja menjatuhkan sederet motor yg parkir disebelahku.
    Tukang parkirnya diem tak berkata2.
    😄😄😄😄😄

  6. Terakhir ke Bali, pengen tau club yg lagi booming sekitaran Seminyak, bawa mobil dari rumah temen, parkir dibelakang Supermarket kecil dan tukang parkir minta Rp.25ribu. Terus weekend berikutnya kesana lagi, parkir ditempat sama dan dengan tukang parkir yang sama minta Rp.50ribu. Aku tanya kenapa beda-beda harga begitu? Jawabnya karena lagi ramai dan parkiran tempat lain sudah penuh. Gila ya… Kalau dipikir-pikir cuma numpang parkir dan nih tukang parkir ga ngapa-ngapain bisa dapet duit banyak, sedangkan banyak orang yang kerja uda banting tulang sana sini tapi penghasilan belum tentu sampai Rp.50ribu per-hari.

  7. Beberapa hari lalu mulai pergi jauh menggunakan motor. Nah, aku jadi tahu sistem parkir permotoran sekarang.

    Jadi, walau sudah dipasang meteran parkir kayak di mall, bapak parkir tetap sigap di sana. Mencabut semua kertas dari mesin, dan membagikan kertas parkir secara manual seperti biasa 😂😂

  8. Kemaren aku komen, tapi kayanya internet lagi pas error… Di Jakarta, beberapa waktu lalu ada rencana kalo punya mobil harus punya lahan parkir juga. Langsung banyak yang protes 😀

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s